Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 73. Selepas pulang kerja, Dan Hari yang (konyol)


__ADS_3

Om suami, kenapa? apa kalian sehabis mabuk. Sehingga teler," setelah membuka pintu Dia melihat dua orang lelaki seperti orang sehabis mabuk.


Ucapan Dia, mampu membuat Haikal mendelikkan mata lebar-lebar.


"Apa terlihat seseorang yang sedang mabuk kita, Mbak." Ujar Haikal.


"Siapa yang kau panggil Mbak, sejak kapan gue nikah sama mas elu." Jawab Dia dengan suara dongkol.


"Dasar mulut cabe!" seru Haikal.


Di saat mereka berdua adu mulut, Adi langsung membentak orang-orang yang terlalu banyak omong.


"Bisa diam tidak!" bentak Adi.


Seketika Dia dan Haikal terdiam, karena mendapat bentakan dari Adi.


Sedetik Adi pun ikut terdiam, dan mengatur nafasnya sebelum menimpali ucapan sang istri.


"Sayang, aku tadi habis makan nasi goreng. Setelah makan aku memuntahkannya hingga membuatku jadi begini," suara lemah Adi membuat Dia sedikit iba.


Sedangkan Haikal melihat drama yang dibuat oleh Adi, membuatnya sedikit muak, lalu memalingkan wajahnya.


"Kok bisa, apa Om suami keracunan?" Dia bertanya pada suaminya, namun bukan sang suami yang menjawab melainkan Haikal.


"Sepertinya tidak, saya meraโ€ฆ."


"Gue tidak bertanya sama elu." Dia memotong ucapan Haikal yang belum selesai.


Seketika Haikal terdiam dan tidak akan berbicara lagi pada mulut cabe, sebutan yang di berikan oleh Haikal.


"Kal, makasih ya. Sekarang kamu sudah boleh pulang." Ucap Adi, karena sudah bersedia untuk mengantarnya pulang.


"Ya sudah aku pulang dulu, cepatlah istirahat." Jawab Haikal, lalu melepaskan rangkulannya pada Adi.


Sedangkan Adi melangkah kan kaki untuk meraih tubuh istrinya, dan mengajaknya masuk.


Mobil milik Adi di bawah oleh Haikal selepas mengantar bos nya itu.


Sedangkan Adi dan Dia, sudah menutup pintu dan segera menuju ke kamar mereka yang terletak di lantai dua.


Saat hendak melangkahkan kaki untuk melewati anak tangga, namun sebuah suara membuat sepasang pasutri itu berhenti untuk melangkah.


"De, Adi." Mak Ita yang kebetulan lewat untuk mengambil minum. Melihat Dia merangkul tubuh Adi karena terlihat sedang terjadi sesuatu, akhirnya mengurungkan niatnya.


"Iya Mak, suami De, teler habis jadi orang hamil." Mendengar jawaban dari Dia, membuat Mak Ita menghela nafas. Memang beliau sedikit melihat perubahan pada menantunya itu.


"Ya sudah bawa ke kamar, biar Mak buatin teh hangat,"


"Baik Mak." Jawab Dia. Lalu dirinya dan suami melanjutkan langkahnya hingga sekarang sampai di dalam kamar.

__ADS_1


"Om suami jangan mandi, nanti tambah masuk angin." Ucap Dia.


"Wah, ada yang mulai perhatian nih." Kata Adi sembari melepaskan jaket yang melekat di tubuh nya.


Sedangkan Dia mencabikkan bibirnya, sampai-sampai membuat Adi semakin gemas. Gemas karena melihat tubuh istrinya ada perubahan sedikit.


Tidak berapa lama, terlihat Mak Ita membawa gelas yang berisikan teh hangat untuk menantu nya, dan memberikannya pada Adi.


"Minumlah mumpung masih hangat," ucap Mak Ita.


"Iya Mak, makasih." Jawab Adi.


"Ya sudah kalau begitu, Mak tinggal dulu ya." Sebelum melangkah keluar, Mak ita berpamitan.


"Iya, Mak. Mak istirahat karena ini sudah larut malam," sahut Dia.


"Eum." Setelah itu Mak Ita hilang dari pandangan Adi dan Dia.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Malam telah lenyap dan sang surya pun hadir menyapa semua insan.


Pagi yang cerah secerah hati Dia, yang tengah menyiapkan menu sarapan pagi bersama emak nya tersayang.


PUKUL 06:00 PAGI.


"Mak, mau masak apa?" tanya Dia dengan wajah sedikit merona.


Setelah semua bahan sudah siap,dan tinggal mengolahnya. Dia meninggalkan Mak Ita yang berada di dapur untuk melihat suami dewasanya itu.


"Saat De hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba Edo meman


" De," sapa Edo.


"Iya kenapa?" Dia menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Tumben suami elu belum bangun?" Edo balik bertanya pada Dia, mengenai suami dari adiknya yang belum terbangun.


"Iya, tadi malam habis teler." Ucapan Dia membuat pikiran Edo sedikit mengarah ke minuman beralkohol.


"Jangan mikir yang tidak-tidak elu, suami gue teler habis makan nasih goreng." Setelah mendengar Dia berucap, itu semua membuat Edo berpikir kalau Adi sedang keracunan.


"Apa keracunan," tukas Edo.


"Jika keracunan mungkin temannya yang satu akan ikut merasakannya juga." Jelas Dia.


"Mungkin masuk angin," ujar Edo.


"Bisa jadi." Jawab Dia.

__ADS_1


"Ya sudah gue mau kasih makan temen-temen elu." Uca Edo.


Sedangkan Dia mengerutkan keningnya. Teman, sepertinya Abangnya salah ucap. Di rumah ini Dia tidak ada teman, lantas siapa yang di maksud oleh Edo, kakak dari Dia.


"Siapa temen gue?" rasa penasaran yang besar hingga membuat Dia memilih untuk bertanya.


"Ikan lohan di belakang." Ucap Edo dengan di iringi suara tawa.


"Dasar sialan, kakak gak ada akhlak lu ya." Dia marah karena sudah di samakan oleh ikan peliharaan suaminya.


Edo berlalu meninggalkan tawa yang nyaring, sedangkan Dia yang berada di tangga mengumpat abangnya, karena sangat kesal.


Melupakan sejenak dengan kejadian barusan, dan memilih untuk masuk ke dalam kamar.


Ceklek.


Pintu sudah terbuka, dan kini manik Dia menangkap seseorang dengan hanya bertelanjang dada, sedang berbaring di atas kasur empuk. Terlihat jelas dengan perut mirip cetakan tahu, dan terasa nikmat bak roti sobek.


Setelah memastikan jika suaminya masih dengan keadaan terlelap Dia pun, keluar lagi dan menutup pintunya secara perlahan.


DI DAPUR.


"De, itu tolong masukin bumbu-bumbunya. Gula, garam dan penyedap rasa.


" Iya Mak.


Dia sudah menjalankan perintah yang di suruh Emak nya, dan kini dirinya mengaduk-aduk sayur lodeh yang ada di dalam panci.


"De, ada yang lupa." Ucap Mak Ita.


"Apa Mak?" tanya Dia.


"Salam nya."


"Selamat pagi,"


"De, bukan salam itu! duh gusti." Mak Ita menepuk jidatnya karena kelakuan anak nya yang sangat konyol. Sampai-sampai ingin rasanya ia melemparnya ke kamar mandi, agar otak nya segar.


"Kan, tadi Mak bilang suruh kasih salam." Ujar Dia.


"Tapi bukan salam itu, salam ini lho." Mak Ita mengambil daun salam dan menunjukkannya pada Dia.


"Mak Bilang kasih salam, bukan di kasih daun salam." Jawab Dia menjelaskan dan tidak mau di anggap salah juga oleh Emak nya.


"Masa iya, sayur di panci kamu beri ucapan selamat pagi emang apaan, terus kira-kira itu panci bisa jawab 'selamat pagi juga' seperti itu." Mak Ita tidak habis pikir, bukannya sembuh dari kebodohannya setelah menikah, yang ada bertambah parah.


"Siapa tahu kan Mak, itu panci bisa ngomong setelah ku beri salam." Dia berkata dengan di iringi tawa.


"Makin gila yang ada kamu!" seru Mak Ita.

__ADS_1


"Gak papa, yang penting udah ngerasain punya suami kaya." Timpal Dia, dan seketika Mak Ita melotot seakan-akan matanya ingin sekali salto dari dari tempatnya.


__ADS_2