
Sebenarnya saya dan mama kamu berteman dulu, namun kita sudah lama tidak berjumpa." Jawab Riki pada Cahaya.
"Jadi benar kalau kalian sudah saling kenal dan berpura-pura tidak pernah mengenal, benar begitu kan."
"Lantas saat kita berdemu di warung depan toko roti mama, sebenarnya Om juga sudah tau kalau pemilik toko roti itu adalah mamaku juga kan, Om sengaja menyembunyikannya dariku." Cahaya berceloteh panjang lebar dan Riki dengan setia mendengarkannya.
"Iya, saat kamu menyebutkan kalau kamu adalah pemilik toko roti itu tersebut, dulu ruko itu milikku dan aku menjualnya kepada mama kamu dan sahabat…."
"Tante Indah." Cahaya langsung memotong ucapan Riki karena ia tahu, sahabat mamanya hanya satu, yaitu tante 'Indah' tapi sekarang mamanya sudah tidak punya teman lagi.
"Iya, Indah namanya." Jawab Riki.
"Makanya aku merencanakan ini semua hanya ingin mempertemukan Om, dengan mama dan sengaja aku berbohong kalau mama tidak sedang ada di sini, padahal mama sedari tadi sudah datang dan berada di ruangannya." Cahaya akhirnya berterus terang akan kebohongan yang ia kakukan, itu semua karena semata-mata hanya ingin mempertemukan sosok lelaki yang berada di depannya dengan sang mama.
"Dasar gadis licik, bisa-bisa kamu berbuat seperti itu padaku!" seru Riki pada Cahaya, ia tidak menyangka kalau bocah yang berada di depannya bisa berbuat demikian.
"Maaf," ucap Cahaya karena memang dirinya mengaku salah.
#############
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Dia.
Dia terus uring-uringan tidak jelas karena kejadian sore tadi di resorannya.
"Argh, sial kenapa bisa. Cahaya suka sama Riki," gerutu Dia yang sedang berada di ruang keluarga.
"Tidak mungkin aku merestui mereka! masa Iya Riki jadi menantuku, benar-benar gila." Dia terus saja mengumpat tanpa menyadari jika dirinya sedang dipantau, oleh suaminya yang sedari tadi sudah pulang. Melihat sang istri yang tengah marah-marah, Adi memilih menjauh daripada dirinya harus ikut merasakan amukan dari macan tutulnya.
Adi mendengar apa saja yang di ucapkan oleh istrinya, awalnya ia sangat marah karena telah menyebut laki-laki lain selain dirinya, namu ia mencoba untuk lebih mendengarkannya lagi. Terdengar sosok nama 'Riki' lelaki yang pernah berteman dengan istrinya dulu, yang berkata jika dirinya tidak mau menjadikannya menantu. Membuat Adi semakin penasaran, hanya saja karena macan tutul sedang bangun jadi dirinya tidak berani untuk mengganggunya.
Hampir setengah jam Adi menunggu macan tutul kembali tertidur, baru dirinya berani untuk menghampirj istrinya yang sudah berhenti menjadi burung kutilang.
"Sayang," panggil Adi pura-pura tidak tahu mendengar apapun itu.
__ADS_1
"By, baru pulang?"
"Iya." Hanya tiga huruf yang terucap dari bibir Adi.
"Tumben kamu sudah pulang jam segini?" tanya Adi karena memang tidak biasanya Dia pulang jam tiga.
"Iya By, lagi gak enak badan makanya pulang." Dia sengaja berbohong dan tidak mungkin dirinya langsung membicarakan tentang anaknya.
Mau kopi," tawar Dia pada Adi.
"Boleh." Jawab Adi dengan di iringi anggukan. Lalu Dia berdiri dari duduknya dan pergi ke dapur, untuk membuat secangkir kopi.
Tidak berapa lama Dia sudah membuatkan kopi suami. "Sayang ini kopinya," ucap Dia pada suaminya lalu meletakkanmya di meja.
"Iya terimakasih sayang." Jawab Adi dengen senyuman yang mengembang.
"De, boleh aku boleh bicara serius?" jika Adi memaanggilnya dengan sebutan nama maka itu bertanda, kalau Adi sedang mengajak bicara sang istri dengan serius.
"Mau bicara apa," ucap Dia dan sepertinya selama ini dirinya tidak pernah berbuat salah, pada suaminya ataupun sedang melakukan kesalahan.
"Apa suamiku ini mengetahu semua?" dalam hati Dia bertanya-tanya.
"Sebenarnya kamu sudah pulang dari tadi kan." Ucapan Dia membuat Adi langsung mengangguk.
"Baik lah sekarang aku akan bertanya padamu, jika putrimu mencintai pria dewasa apa jawaban kamu." Dia sengaja mengatakan itu agar tahu bagaimana respon suaminya.
"Semua tidak ada yang salah. Jadi, menurutku tidak ada yang perlu di jawab." Dia tertegun dengan ucapan sang suami, ia juga tidak menyangka kalau Adi bisa menanggapi dengan santai.
"Apa itu artinya kamu tidak keberatan anak kamu, menikah dengan usia seumuranku?"
"Tidak, toh kita dulu menikah dengan usia yang terpaut jauh bukan."
"Jawaban macam apa itu By, dulu kita menikah karena adanya tragedi! jika bukan karena itu mana mungkin sekarang aku menjadi istri dari lelaki duda somplak, seperti kamu." Dia masih ingat akan kejadian yang sudah bertahun-tahun silam. Jika bukan dirinya yang ti duduh mesum mungkin saat ini dirinya tidak akan menikah denga seseorang yang menjadi suaminya.
__ADS_1
"Apa kamu menyesal," ucap Adi dengan mata memandang.
"Iya dulu, tapi tidak untuk seterusnya karena aku menjadi kaya setelah menikah denganmu." Jawab Dia enteng.
"Dasar, tetap saja tidak berubah." Adi mengacak-acak rambut sang istri karena saking gemasnya.
"Memang siapa laki-laki yang di cintai oleh puti kita?" tanya Adi dengan penasaran.
"Kamu ingat Riki kan, teman ku waktu masih muda." Adi mencoba mengingat-ingat karena sudah lama dirinya tidak tahu soal sosok yang bernama Riki lagi.
"Aku lupa karena sudah lama tidak bertemu," tukas Adi lagi yang memang sudah sekitar hampir 20 tahun tidak berjumpa.
"Temanku yang bernama Riki masih membujang dan belum menikah," ujar Dia.
"Pertanyaannya bagaimana putri kita bisa mengenal teman kamu yang bernama Riki itu," kata Adi menjelaskan perihal pertemuan antar keduanya hingga sampai, memutuskan untuk membuat hubungan yang lebih serius lagi.
Akhirnya Dia bercerita tentang anaknya yang sedang mencintai lelaki dewasa, yang tak lain adalah temannya sendiri. bukan karena apa, Dia tidak mau jika Riki bakal menjadi menantunya.
Rasanya sangat aneh jika Dia menjadikannya seorang menantu.
"Jadi begitu By. Ceritanya," ucap Dia setelah menceritakan semuanya pada sang suami.
"Cahaya yang akan menjalani sayang, kita hanya memberikan yang menurutnya nyaman untuknya." Adi mencoba memahami dengan istrinya, tetapi ia juga harus memikirkan perasaan putrinya juga.
"Jadi kamu merestuinya," ucap Dia dengan menatap wajah lelaki yang sudah bertahun-tahun menemaninya.
"Mau bagaimana lagi." Dia seketika terdiam dengan penuturan sang suami.
Kisah cinta sang anak membuatnya ikut pusing.
"Jangan memikirkan tentang apa yang seharusnya kamu pikirkan karena itu semu, akan membuat kepala kamu bertambah sakit." Adi berkata lagi dan mengingatkan sang istri agar tidak memikirkan, sang anak yang sudah mulai mengenal apa itu cinta.
"Kamu ini selalu begitu," sungut Dia pada Adi.
__ADS_1
Dia tidak habis pikir dengan suaminya yang malah memberi lampu hijau untuk anaknya.