Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
112. KEKUATIRAN DIA


__ADS_3

setelah mengatakan itu semua Dia langsung pergi dan meninggalkan Adi yang sedang berada di ruang keluarga. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan membela sang anak.


"bisa-bisanya itu orang malah membela Cahaya daripada istrinya sendiri," gerutu Dia yang sekarang berada di kamar.


pada akhirnya Dia memilih untuk mandi agar otaknya bisa kembali normal.


sesampainya di kamar mandi Dia langsung menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin yang berada di shower.


"lumayan membantu untuk menyegarkan isi yang ada di dalam kepalaku," gumam Dia.


Tidak membutuhkan waktu lama Dia sudah keluar dari dalam kamar mandi, terasa segar dan sedikit membuat otaknya bisa berpikir lagi.


Tidak terasa jam yang berputar begitu cepat karena sekarang sudah di pukul lima sore. Seperti biasa Dia harus memulai sorenya dengan berkutat di dapur dan berperang, dengan alat-alat dapur.


Sedangkan Adi yang melihat sang istri yang sudah rapi dan wangi, menghampirinya di dapur.


“Tumben sudah wangi kamu?” tanya Adi pada sang istri.


“Memangnya kenapa kalau sudah wangi.” Jawab Dia pada Adi.


“Ya tidak apa-apa sih, memangnya tidak boleh ya.” Adi berkata sambil meletakkan bokongnya di kursi.


“By, anak kamu belum pulang?” tanya Dia pada Adi.


“Sepertinya belum.” jawab Adi pada Dia.


“Coba kamu telepon ini sudah jam lima, sebentar lagi akan masuk maghrib. Jadi, buruan telepon,” ujar Dia memberitahu suaminya.


“ya udah bentar lagi aku akan menghubunginya.” Jawab Adi. Setelah itu Adi berjalan keluar dari dapur untuk mengambil gawai.


Belum sempat Adi mengambil apa yang dibutuhkan , ternyata dari arah luar terdengar suara mobil, Adi yakin kalau itu adalah suara dari arah di garasinya.


Lantas Adi memutuskan untuk melihat, lalu dirinya berjalan keluar halaman.


“Kemana jam segini baru pulang?” tanya Adi pada Cahaya karena tidak seperti biasa anaknya pulang sore.


“Ma-af Yah, tadi ban bocor jadi terpaksa ke bengkel dulu.” Jawab Cahaya.


“Mana buktinya kalau kamu habis dari bengkel!" seru Adi pada sang anak.


Lalu Cahaya kembali ke mobil untuk mengambil sesuatu, benar saja Cahaya memberikan nota pada ayahnya.


Setelah melihat isi yang ada dalam nota tersebut, Adi menyuruh Cahaya untuk masuk.

__ADS_1


“Ya sudah kamu boleh masuk,” ujar Adi.


Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam.


“Ay, boleh Ayah bicara,”


“Ayah mau bicara apa,” ucap Cahaya yang sedikit penasaran dengan apa yang sebetulnya terhadap sang putri.


“Apa benar lelaki yang kamu sukai itu seumuran dengan mama kamu?” tanya Adi pada Cahaya.


“Apa mama yang bilang,” ujar Cahaya yang tak menyangka kalau sang mama bisa mengatakannya pada ayahnya.


“Iya mama yang mengatakannya,” ujar Adi.


“Apa Ayah akan seperti mama yang tidak memberi restu pada kami,” ucap Cahaya tertunduk karena ia takut kalau sang ayah seperti mamanya.


Ternyata benar kalau yang dibilang oleh istrinya adalah benar. Adi mengira kalau istrinya hanya melihat dari sudut pandang saja, akhirnya sang putri mengakui jika, sedang menyukai lelaki dewasa.


“Apa kamu benar-benar mencintainya?” tanya sang ayah karena memang Adi sengaja untuk memastikan.


“Entah mengapa sejak pertemuan pertama aku sudah merasa nyaman dengannya.”Jawaban Cahaya pada Adi membuatnya langsung menoleh ke arah Cahaya.


“Jika ia seorang lelaki yang baik, maka kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu.” Adi tidak menyangka kalau kisah percintaan anaknya sama dengannya.


“Aku yakin kalau dia sosok lelaki yang baik, bukannya mama lebih tau soal ini.” Jawab Cahaya.


“Iya Yah.” Jawab Cahaya pada sang ayah.


Setelah itu mereka pergi ke dapur untuk menghampiri perempuan yang berkutat di dapur.


“Ma,” sapa Cahaya pada sang mama.


“Hum,” timpal Dia pada putrinya.


“Maaf pulang telat,” uap Cahaya meminta maaf.


“Kenapa bisa telat,” ujar sang mama pada Cahaya.


“Bannya bocor sayang jadi anak kita ke bengkel dulu, ada nota nya kok kalau kamu tidak percaya.” Adi berkata sembari memperlihatkan nota tersebut.


“Buruan mandi ini sudah sore.” Dia menyuruh Cahaya untuk segera mandi.


“Iya, Ma.” Jawab Cahaya tidak menolak dan langsung pergi ke kamarnya untuk segera bersih-bersih.

__ADS_1


*****************


Malam pun datang datang dan inilah waktu yang tepat untuk membahas soal Cahaya dan Riki, menurutnya lebih cepat lebih baik.


Setelah acara makan malam, Dia sengaja meminta Cahaya untuk menemuinya di ruang tengah.


“Ada apa Mama memintaku untuk menghadap?” tanya Cahaya pura-pura tidak mengerti padahal ia sangat tahu, kalau ini pasti soal dirinya.


“Duduklah,” ujar Dia.


Setelah itu Cahaya duduk di samping Adi.


“Apa tidak ada laki-laki yang lebih muda dari Riki,” ujar Dia siap tahu dengan begitu anaknya mempunyai pandangan lain.


“Meski ada aku tidak mau, Ma.” Jawab Cahaya dengan tegas.


“Kenapa?”


“Karena sudah nyaman.” Jawaban singkat yang diberikan oleh Cahaya membuat Dia dan Adi hana bisa mengelus dada.


“Lagipula aku yakin kalau Om Riki itu sebetulnya orang baik dan Mama tahu akan hal itu. benarkan apa yang aku katakan,” tukas Cahaya lagi.


Dia hanya bisa diam karena apa yang dikatakan anaknya adalah benar, hanya saja Dia terlalu gengsi untuk menjadikan Riki sebagai menantunya.


ada beberapa juga yang membuatnya sedikit tidak nyaman, mungkin karena dulu dirinya sering menolak Riki berulang kali dan membuat Riki juga pergi dari kota ini.


“Meskipun dia lelaki baik bukan berarti aku merestui kalian kan,” ucap Dia dengan nada sedikit lesu.


Adi yang sedari tadi hanya diam dan sesekali menyimak, ia pun merasa kasihan pada sang putri.


“Sayang berikan waktu untuk mereka menyakinkan hati masing-masing,” sahut Adi pada sang istri.


“Tapi By, harusnya kan Cahaya sekolah yang benar baru boleh mengambil langkah selanjutnya.” Jawab Dia tidak terima dengan usul yang diberikan pada sang anak.


“Jangan terlalu menekan karena itu tidak baik." Adi mencoba memperingati sang istri agar tidak terlalu keras pada Cahaya.


Sedangkan Cahaya hanya bisa diam tanpa menyela ucapan kedua orang tuanya sedikit pun.


Pada Akhirnya Dia mengalah, namun untuk menerima Riki sebagai menantunya ia masih berpikir dua kali.


"Ya sudah kamu boleh naik ke atas karena ini sudah malam," ucap Dia pada Cahaya.


Cahaya tidak menjawab melainkan langsung pergi untuk naik ke lantai dua dan, segera tidur.

__ADS_1


"Sepertinya lelaki yang bernama Riki itu bukan hanya sekedar teman dulunya," suara Adi tiba-tiba membuat Dia gugup.


"Apa maksud kamu, By."


__ADS_2