
"Ah, sudahlah yuk turun.” Riki mengajak Cahaya untuk turun.
Akhirnya mereka berdua turun dari mobil dan langsung berjalan ke arah taman. Di mana semua orang menikmati semilirnya angin sore yang kian membuat kedamaian.
Entah mengapa Riki tidak bosan-bosannya memandangi anak-anak yang sedang bermain dan berlari, terasa bahagia saja saat mata Riki melihatnya.
Cahaya yang melihat Riki pun terasa aneh akan dirinya yang tersenyum sendiri, pada akhirnya Cahaya bertanya.
“Om, Om kenapa sudah mirip kek orang gila saja! senyum-senyum tidak jelas,” ujar Cahaya seraya menatap di mana mata Riki memandang.
“Lihat lah anak-anak itu sangat lucu bukan,” ucap Riki pada Cahaya dengan telunjuk yang mengarah di mana anak-anak berada.
Seketika Cahaya mengikuti arah telunjuk Riki dan ada, perasan nyeri yang di rasakan oleh cahaya sekarang.
“Iya sangat lucu.” Jawab Cahaya lirih dan hampir Riki tidak dapat mendengar.
“Apa kamu sedang mengatakan sesuatu?” tanya Riki pada Cahaya.
“Tidak.” Jawab Cahaya lagi.
Merasa ada yang aneh sedetik Riki menyusuri wajah cantik kekasihnya itu, entah mengapa ia merasa jika Cahaya sedang sedih.
“Jika ada yang ingin kamu katakan maka katakanlah, saya siap untuk mendengarkannya.” Riki sengaja berkata seperti itu, setidaknya ia sudah berusaha untuk bisa menjadi tembok yang kokoh, jika disandari tembok tersebut tidak akan runtuh.
“Aku ingin sekali mempunyai saudara, aku kesepian aku … Aku merasa sendiri meski ada orang tuaku yang sangat mencintai serta menyayangiku dengan, penuh kasih sayang.
Sekarang Riki baru mengerti saat dirinya berkata kalau anak kecil itu menggemaskan, tanpa sengaja Riki telah melukai hati Cahaya.
“Maaf.” Riki yang merasa bersalah akhirnya meminta maaf.
“Apa Om sedang berbuat kesalahan,” ujar Cahaya
“Karena saya, kamu jadi sedih.” Jawab Riki pada cahaya yang benar-benar merasa sangat dengan hal ini
“sudah lah aku tidak apa-apa meski aku bersedih semua itu tidak akan membuahkan hasil,” timpal Cahaya pada Riki.
__ADS_1
“Memangnya kenapa kamu tidak memiliki saudara?” tanya Riki penasaran, bukan kah orang tua Cahaya terbilang masih muda, mempunyai ayah yang sangat tampan, serta mama yang teramat cantik dan masih muda juga.
"Ayah melarang mama untuk mengandung lagi karena dulu ayah pernah pingsan saat melihat aku di lahir kan. Ayah tidak tega jika mama merasa kesakitan. Jadi, dari situlah kedua orang tuaku memutuskan hanya akan mempunyai satu orang anak."
Riki yang mendengar kenapa setiap kata yang keluar dari bibir Cahaya, membuatnya ikut merasakan kesedihan. Bagaimana tidak! nyatanya apa yang dialami oleh Cahaya, Riki juga mengalaminya.
"Kita senasib. Jadi, kalau kita nanti menikah dan mempunyai anak kita banyakin yah." Riki mencoba menghibur Cahaya agar tidak bersedih dan larut dalam impian yang tidak nyata.
"Apa Om, akan membuat mimpiku menjadi kenyataan dan akan mempunyai banyak anak?" mata Cahaya menatap lekat ke arah cinta pertamanya dan akan menjadikannya cinta terakhirnya.
"Tentu, mengapa tidak! dengan begitu hari-hari kita akan menjadi ramai dan kita akan, menjadi keluarga bahagia dengan anak-anak kita kelak." Mendengar jawaban yang baru saja di dengarnya, membuat Cahaya yakin jika semua adalah takdir dari yang Esa.
Mereka jauh hari, jauh bulan dan jauh waktu, sudah merencanakan akan mimpi mereka yang ingin menikah dan, mempunyai banyak anak anak.
Riki tidak menyangka bahwa gadis berusia (18) itu, mampu membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya setelah Dia. Nyatanya tembok pertahanan yang ia jaga runtuh juga, yang dulunya akan setia pada satu nama tetapi kini. Nama Dia, tergantikan oleh nama Cahaya yang tidak lain adalah anak dari Dia.
Begitu juga dengan Aya, yang tidak menyangka kalau ia sangat tergila-gila pada Riki yang usianya jauh di atasnya. Cahaya tidak menyerah untuk mendapatkan hati pria dewasa tersebut hingga pada akhirnya Riki, membalas cintanya.
"Om, yuk pulang takut kena omel mama soalnya." Cahaya mengajak pulang Riki karena hari sudah mulai gelap dan awan, sudah menjadi kelabu.
Akhirnya keduanya sudah berada di mobil dan akan mobil akan membawanya ke kediaman Cahaya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sedangkan di sisi lain tepatnya di rumah Adi.
Di taman belakang Dia duduk di gazebo di temani sang suami.
"Sayang apa kita akan membiarkan mereka menikah," ucap Dia pada suaminya.
"Memangnya kalau sampai menikah kenapa? jika itu sudah menjadi keputusan kenapa tidak," ujar Adi menimpali.
"Tapi aku belum siap kalau menjadi mertua dari pria dewasa?"
Adi tahu akan hal itu mungkin yang di maksud Adi istrinya merasa aneh jika nanti, seorang tiba-tiba mendadak jadi mantu. Terdengar aneh tapi semua itu demi kebahagiaan sang putri, maka dari itu Adi mencoba menurunkan ego nya dengan tidak, menyakiti hati Cahaya.
__ADS_1
"Pelan-pelan nanti juga bisa." Jawab Adi dengan sikap yang masih tenang.
"Dasar kadal, gak kena gue malah anak gue yang diembat." Dia mengumpat kesal di dalam hatinya, lalu kenapa juga harus Riki yang di cintai oleh anaknya.
"Sayang masuk yuk, udara mulai terasa dingin. Tidak baik bagi kesehatan tubuh kita," ujar Adi mengingatkan sang istri.
"Iya nanti saja." Jawab Dia dengan nada malas.
"Mau jalan sendiri atau ku gendong terus masuk ke kamar," kata-kata dari sang suami membuat Dia seketika merinding.
"Ah sayang, jalan kaki itu membuat kaki kita semakin bertambah sehat. Jadi, aku memilih untuk berjalan saja." Jawab Dia dengan suara yang terdengar manja. Dia merasa trauma pasalnya pernah seperti ini dan ujungnya berakhir di atas ranjang. Jadi, setelah Adi menggendong lalu membawanya langsung masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya dan, disitulah Adi berubah singa kelaparan.
"Ya sudah, ayo jalan."
Akhirnya mereka berdua masuk dan menunggu kepulangan sang anak.
Dia membuatkan kopi untuk suami tercintanya, agar tidak merasa jenuh.
Dua cangkir minuman hangat sudah tersaji di meja, ruang keluarga.
“Sayang anak kamu sampai jam segini kok belum ada pulang?” Adi cemas karena Cahaya belum juga pulang karena ini, bru pertama kalinya sang anak keluar dengan teman pria.
“Iya, padahal tadi pamitnya cuma makan saja kan,” respon Dia pada sang suami.
Sesaat mereka diam kala mendengar suara deru mobil dari arah depan, mereka menerka-nerka jika itu anaknya. Cahaya dengan Riki karena suaranya nampak jelas berada di pelataran rumah.
“Apa itu mereka?”
“Sepertinya.” dia menyahut.
“Yuk lihat.” Adi mengajak sang istri untuk melihat dan memastikan jika itu benar anaknya.
Akhirnya mereka keluar untuk memastikan, benar atau tidak.
Ceklek.
__ADS_1
Dia membuka pintu dan terlihat mobil yang sedang parkir di jalan dekat gerbang miliknya.