
Tidak berapa lama kemudian mereka sudah berada di tempat perawatan, yaitu salon.
Ya, Dia memutuskan untuk pergi ke salon agar otaknya bisa jauh lebih fresh.
"Tumben Mama ke salon? Biasanya juga gak pernah," ucap Cahaya karena memang selama ini dirinya tidak pernah melihat sang mama ke salon.
"Sebentar lagi akan ada acara besar. Jadi, Mama harus tampil lebih segar dong." Jawab Dia dengan senyuman yang tersungging.
"Eh iya, kenapa aku jadi lupa gini ya." Cahaya menepuk jidatnya karena dirinya benar-benar melupakan akan hal itu.
"Dasar, kamu sama saja seperti ayah kamu. Sama-sama pelupa," tukas Dia pada Cahaya.
Untuk sesaat ibu dan anak itu menikmati setiap sentuhan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mereka berdua sangat menikmati akan aktifitas sore ini.
Salon pilihan yang tepat untuk meredamkan kekesalannya pada suami serta calon menantunya.
"Ay, apa kamu nanti akan ikut pulang ke rumah suami kamu?" tanya Dia karena inilah waktu yang tepat untuk dirinya bertanya.
"Belum terpikirkan akan pulang ke mana, Ma."Jawab Cahaya dengan suara entengnya.
"Memangnya kalian belum membicarakan akan masalah ini pada Riki," kata Dia pada Cahaya. Padahal Dia berharap jika Cahaya sudah mengambil keputusan, yang akan pulang ke mana nantinya.
"Belum Ma, Mas Riki dari kemarin masih sibuk dengan undangan jadi belum sempat kami, berbincang-bincang lebih lama." Cahaya pun menjelaskan agar sang mama tidak salah paham.
"Ya sudah jika ada waktu luang segera bicarakan karena, lebih cepat lebih baik." Ucapan sang mama mendapat anggukan oleh Cahaya.
Hampir dua jam lamanya, akhirnya mereka berdua sudah tampil lebih segar daripada, saat waktu berada di rumah tadi.
"Bagaimana tubuh kamu saat ini?" tanya Dia pada Cahaya.
"Lebih seger Ma," ucap Cahaya bersemangat.
"Setelah ini apa kita akan langsung pulang?"
__ADS_1
"Tidak, kita akan mencari makan karena Mama benar-benar lapar. Saat di rumah mood makan hilang seketika," ujar sang mama karena teringat akan kelakuan kedua pria yang tak pernah bisa akur. Walau sebentar lagi akan menjadi mertua dan menantu. Namun, kelakuan mereka tetap saja tidak berubah dan itu membuat Dia teramat kesal.
"Ya sudah yuk. Terus kira-kira ayah sama mas Riki sedang apa ya sekarang? Apa mereka masih bertengkar seperti sebelum kita pergi?" Cahaya terus kepikiran dengan para lelaki. Berharap jika memang mereka sudah menyudahi pertengkaran antara ayah dan calon suaminya
"Semoga saya mereka sudah sadar dan menjadi laki-laki normal." Akhirnya kedua tertawa dan sejenak melupakan akan hal-hal yang membuat mereka sakit gigi.
Keduanya sudah berada di jalan untuk menuju ke rumah makan karena Dia begitu sangat lapar. Hampir seharian perutnya belum terisi hanya saja tadi pagi dirinya memakan, dua buah pisang goreng dan segelas teh hangat.
Tidak terasa setengah jam sudah berlalu dan kini mereka sudah berada di rumah makan.
"Ay, yuk turun. Kita makan di sini saja," kata Dia dan setelah itu mereka turun bersamaan dan segera masuk, untuk memesan menu yang akan mereka makan sekarang.
Di dalam mereka duduk dengan cara berhadapan. Menurut Dia inilah momen-momen terakhirnya bisa keluar bersama Cahaya dan menghabiskan waktu bersama, dengan putri satu-satunya.
Dia yakin jika Cahaya sudah memiliki kehidupan baru maka kebersamaan mereka hanya sebatas kenangan. Jadi, Dia memang sengaja untuk menghabiskan waktu yang ada bersama sang putri.
Mereka berdua sedang menikmati momen untuk saat ini. Momen yang tidak akan selalu di temui oleh ibu dengan satu orang anak tersebut.
...----------------...
Sedangkan di rumah Adi. Keduanya sama-sama mengumpat karena sudah terlalu lelah untuk mengerjakan tugas rumah.
"Ayah mertua, mengapa kau tidak menyewa asisten rumah tangga saja." Ucapan itu sontak membuat Adi menoleh ke arah Riki yang yang sedang mengepel.
Adi diam sejenak untuk mengatur nafasnya. Sebetulnya dirinya ingin sekali memakai jasa asisten rumah tangga. Sayangnya istrinya menolak dengan alasan semuanya masih bisa di kerjakan dengan sendiri, asal mereka saling berbagi tugas maka pekerjaan akan terasa ringan dan selesai dengan, di kerjakan dengan bersama-sama. Kala itu, saat Adi mengusulkan untuk mencari asisten rumah tangga.
"Mama mertua kamu tidak suka memakai asisten rumah tangga. Jadi, semuanya di kerjakan sendiri. Padahal semuanya sudah mengusulkan." Adi benar-benar bangga pada sosok istrinya.
"Kamu memang dari dulu tidak pernah berubah De, sejak kita mengenal satu sama lain terlihat jika kamu adalah sosok yang mandiri." Diam-diam Riki membatin mengingat akan kejadian di waktu silam. Di mana mereka masih sama-sama muda.
Entah mengapa Riki bisa memikirkan sosok Dia, yang jelas-jelas sebentar lagi akan menjadi seorang mertua untuknya.
Ekhem.
Ekhem.
__ADS_1
Sampai Adi harus berdehem untuk yang kedua kalinya. Barulah Riki sadar dengan lamunannya.
"Maaf."
Setelah mengucapkan kalimat maaf, Riki pun melanjutkan acara mengepelnya. Agar cepat selesai dan dirinya juga bisa segera beristirahat.
"Kamu tahu...."
"Tidak."
"Aku belum selesai bicara kenapa kau sudah memotongnya, dasar menantu bodoh!" seru Adi pada Riki yang tengah kesal dengan Riki.
"Salah ya, lantas aku harus berkata apa?" Riki pun di buat kesal lagi oleh mertua lelakinya. Belum jadi menantu beneran sudah seperti itu, bagaimana jika sudah. Sepertinya Riki akan dijadikan perkedel oleh mertua lelakinya dan ia akan di gantung oleh mertua perempuannya.
"Sepertinya kamu perlu di pecat jadi menantu saya," ujar Adi dengan memegang gagang sapu yang sewaktu-waktu bisa saja, di lempar ke arah Riki.
"Kenapa kau suka sekali mengancamku dengan kalimat seperti itu." Riki mendengus kesal karena setiap sang mertua salah dalam perdebatan, maka jurus terampuhnya adalah sebuah ucapan. Pemecatan calon suami.
"Karena memang itu jurus yang paling ampuh," ucap Adi dengan senyuman mengejek.
"Sudah lah. Kenapa kita jadi berantem lagi, mending sekarang kita selesaikan ini semua karena sebentar lagi pasti mama mertua akan pulang." Riki tidak mau perdebatan semakin panjang karena, ia tidak mau jika terkena semburan oleh mertuanya lagi.
"Ya, ya. Kamu benar, lebih baik kita fokus mengerjakan semua ini! Jika semua pekerjaan belum selesai maka macan tutul siap menelan kita mentah-mentah." Akhirnya mereka berdua menyelesaikan pekerjaan dengan berbagi tugas, antara Adi dan calon menantunya yaitu Riki.
Tidak berapa lama. Semua pekerjaan sudah terselesaikan dan semua sudah rapi seperti semula.
Mereka sekarang bisa bernafas lega dan tinggal rasa lelah yang mereka berdua rasakan.
Saat Riki sedang mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba dering gawai berbunyi.
Dengan merogoh sakunya untuk mengambil dan mengecek, siapa yang sudah mengirimkan pesan singkat kepadanya.
"Cahaya." Riki bergumam sembari membaca isi pesan tersebut.
"Ada apa?" Adi yang melihat wajah Riki berubah masam buru-buru bertanya karena ia sempat mendengar nama Cahaya.
__ADS_1
"Cahaya mengirim pesan, apa semua pekerjaan sudah selesai apa belum karena, sebentar lagi para wanita itu akan sampai di rumah." Riki pun memberitahu calon ayah mertuanya jika yang mengirim pesan itu adalah anaknya.
"Syukur semua telah selesai dan rapi, dengan begitu kita tidak akan mendapat hukuman lagi karena saat ini tulang-tulangku, rasanya sudah mau patah." Adi memang sedari tadi mengeluh pinggangnya, namun semua itu tidak di hiraukan oleh Riki.