
Acara yang di nanti-nanti telah di slenggarakan. Suami istri itu tampak gagah dan cantik dengan balutan warna baju yang senada.
Di kamar mereka berdua masih bersiap-siap untuk menyempurnakan penampilannya.
Adi tak henti-hentinya memandangi sang istri dan memberikan sanjungan karena ia merasa beruntung, karena bisa menikahi bocah delapan belas tahun itu.
"Sayang, kamu semakin cantik dengan penutup kepala ini." Adi mengatakan sembari memainkan sebelah matanya.
"Memangnya aku tidak cantik sebelumnya?" tanya Dia dengan mengerutkan keningnya.
"Maksudku, kamu semakin cantik."
"Oh." Dua huruf yang terlontar dari mulut De.
"Hanya itu," ucap Adi.
"Memangnya aku harus apa!" sungut De.
"Setidaknya bilang makasih gitu. Setelah mendapatkan pujian dariku," tukas Adi.
"Lho. Aku kan gak minta di puji," ucapan Dia seketika membuat Adi terdiam.
Dasar, di puji di sanjung. Bukan senang malah biasa saja, dasar perempuan aneh. Dalam hati Adi bergumam.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, By?" tanya Dia.
"Tidak, kok. Aku hanya terpesona dengan kecantikan istriku saja," ujar Adi dengan tersenyum simpul.
"Gak usah merayu." Setelah berkata Dia keluar dari kamarnya dan akan turun menemui orang-orang terdekatnya.
Sesampainya di bawah, ternyata semua orang sudah datang termasuk sahabatnya, Indah.
"Indah," panggil Dia di tengah-tengah anak tangga.
Indah yang merasa di panggil pun akhirnya menoleh.
"Ya ampun elu beneran temen gue yang rada-rada itukan," timpal Indah dengan tersenyum yang mengembang, dan berjalan mendekati anak tangga tersebut.
Sedangkan Dia mengerucutkan bibirnya karena kesal pada sahabatnya itu.
"Kukira elu gak bakalan datang," ucap Dia yang sudah berada di bawah.
"Iya masa gue gak datang ke acara sahabat gue," ujar Indah menjelaskan.
"De, gue ambil minum dulu ya, haus." De hanya mengangguk.
Saat Indah mengambil minum namun tanpa sengaja menabrak seseorang.
BRUK.
"Auw," pekik Indah kesakitan.
"Ish, apa kamu buta tidak bisa melihat." Maki lelaki itu pada De.
"Hye, namanya juga kecelakaan. Mengapa kau marah!" sungut Indah kesal.
__ADS_1
"Yang harusnya marah kan saya, kenapa jadi kamu yang memarahi saya."
Namun belum sempat Indah menjawab, Ada Dia yang tiba-tiba datang.
"Kalian saling kenal?" tanya Dia pada mereka berdua.
"Cewek ini itu sangat menyebalkan," ujar Lelaki itu yang tak lain adalah Haikal.
"Itu cowok sangat menjengkelkan De, dan sering ngebuat gue setrup." Kata Indah menjelaskan.
"Hye mulut beo. Setruk kali bukan setrup," ucap Haikal meralat ulang.
"Terserah saya dong, orang mulut, mulut gue!" sungut Indah dengan raut wajah tidak suka.
"Dasar, cewek bar-bar."
"Dasar cowok resek."
"Dasar mulut bawang seperti mulut ca...."
"Ca ... apa! apa yang kamu maksud mulut cabe," ucap Adi tiba-tiba.
"Iya, ini cewek sama mulut cabe sebelas dua belas tau gak." Haikal tidak tahu dirinya sedang berbicara dengan siapa.
"Apa seperti istri Adi," ujar Adi.
"Iya Di...." Haikal langung membenarkan ucapan Adi.
"Apa!" Adi berkacak pinggang dirinya tidak terima kalau istrinya di panggil si mulut cabe.
"Tidak Di, aku tidak mengatai istrimu." Sedangkan Dia sudah memberikan tatapan nyalang kepada Haikal.
"Sepertinya kalian memang harus di nikahkan."
"Tidak!" ucap mereka berdua bersamaan.
"Tuh kan bareng."
"Dasar bos somplak." Lagi-lagi mereka berkata ucapan yang sama.
"By, nikah kan saja mereka berdua. Sebentar lagi Pak. Ustadz kan datang," ucap Dia menyahuti suaminya.
"Ah iya, kamu betul sayang."
Jika Adi dan Dia, tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Indah dan Haikal mendengus kesal dan saling mengumpat.
"Puaskan saja kalian tertawanya, karena kalian itu sama-sama pasangan somplak." Setelah berkata Haikal berlalu pergi meninggal pasangan fenomenal menurutnya.
"By asisten mu kenapa?" tanya Dia pada suaminya.
"Lagi sensi sayang, ya sudah sebentar lagi acara di mulai, yuk ke depan." Ajak Adi karena acara akan segera di buka. Anak panti beserta tetangga sudah berkumpul.
"Ya sudah yuk." Dia menimpali ajakan suaminya.
"Tunggu sebentar sayang," ucap Dia mengajak suaminya untuk berhenti sebentar.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Adi.
"Ada yang ketinggalan." Jawab Dia.
"Siapa," kata Adi.
"Noh." Dia menunjuk ke arah sahabatnya, Indah.
Lalu Dia menghampiri Indah, dan mengajaknya untuk ke ruang tamu bergabung bersama yang lain.
Acara empat bulanan berjalan dengan sangat hikmat, dan begitu sangat mengesankan.
Ada 25 anak panti yang di undang dan beberapa tetangga yang ikut menghadiri acara tasyakuran.
Pukul tujuh malam acara telah selesai dan Adi maupun Dia, telah memberikan santunan serta beberapa nasi kotak untuk para undangan.
Beberapa saat kemudian, di rumah hanya tertinggal kerabat serta keluarga besar saja karena para undangan juga sudah pulang masing-masing.
"Alhamdulillah ya, akhirnya acara berjalan dengan lancar." Adi mengajak Dia berbicara sembari memeluk sanga istri.
Sedangkan, Edo, Indah, Haikal, dan yang lain menatap jengah pada pasangan bucin tersebut.
"Ekhem ... Apa kalian sengaja memamerkan kemesraan kalian di hadapan kami," ucap Indah dengan wajah kesal. Mungkin dalam hatinya bisa jadi ia mengumpat karena telah membuatnya iri.
"Makanya buruan nikah." Jawab Dia dengan enteng.
"Memangnya orang nikah itu gak butuh modal, gak butuh biaya hidup dan ... Pasangan," sahut Haikal ikut menimpali.
Pada akhirnya semua orang tertawa, karena selama ini Haikal juga masih jomblo sejati.
"Hye bodoh, sebelah kamu kan ada perempuan embat sono." Edo juga ikut menyerang Haikal.
"Hye Bang memangnya layangan apa diembat," ucap Adi dengan senyuman yang tersungging hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kalau gak keburu diembat kedahuluan orang bodoh!" sungut Edo.
"Oh, iya ya." Jawab Adi pada Abang iparnya.
Sedangkan Indah menahan malu karena dirinya terus saja di jodoh-jodohkan bersama Haikal.
"Sudahlah, doakan saja Haikal dan Indah berjodoh." Dia menengahi ucapan di antara ketiga pria tersebut karena merasa kasihan pada Indah.
Setelah itu netra Dia beralih menatap Abang satu-satunya itu.
"Untuk elu Bang, buruan nikah! udah bangkotan juga masih saja anak orang di angrakin." Dia mencoba menasehati Abangnya itu, karena sudah setahun berpacaran tetapi belum juga di resmikan.
"Nah kena mental gak kamu Bang," ucap Adi ikut menimpali ucapan istrinya.
"Diam By!" bentak Dia, dan saat itu juga Adi terdiam.
Sedangkan ketiga orang tersebut menahan tawa akibat Adi yang teramat takut terhadap istrinya, Dia.
"Sudahlah De, gue mau pulang ini sudah malam. Untuk undangannya terimakasih ya," ucap Indah pada Dia yang ingin berpamitan untuk pulang.
"Kamu tidak menginap?" tanya Dia.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seorang yang tidak memiliki rumah," sungut Indah.