
Pagi menjelang dan sang mentari mulai memberikan pantulan cahaya untuk membangunkan para insan, bagi mereka yang masih terlelap akan buaian mimpi.
Dia yang sudah bangun dari mulai jam lima tadi, setelah menjalankan shalat lalu dirinya turun dan menuju ke dapur. Untuk memasak masakan yang akan di buat sarapan bersama suaminya.
Menu pilihannya sekarang adalah.
Pecel, dan lauknya jatuh pada bakwan jagung serta telor mata sapi. Semua di lakukan dengan tangan yang cekatan serta begitu lihai, selama setok sayur mayur tersedia dan beraneka bumbu ada.
"Ah akhirnya selesai juga." Dia sudah menyelesaikan acara masak memasaknya dan kini gilirannya untuk bersih-bersih, karena untuk bagian mencuci baju itu semua tugas Adi. Mereka berdua akan berbagi tugas, karena menurutnya jika kalau di kerjakan sendiri itu tidak adil. Rumah yang cukup luas belum halaman belakang ada taman, di depan pun pelatarannya juga luas, jika dirinya saja yang mengerjakan. Bisa di pastika setengah hari baru kelar.
Sedangkan di lantai dua, Adi yang sudah rapi, melihat Dia, diam-diam tersenyum.
Rambut yang di cepol ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya, serta kaus dengan ukuran jumbo dan tak lupa celana pendek selutut. Membuat Adi diam-diam memujanya.
Dengan tangan yang sudah memegang tongkat ajaib, ya itu sapu. Dia bersenandung mengikuti lirik yang ada di benda menutupi telinganya.
Elemen: Rahasia hati.
Waktu terus berlalu tanpa ku sadari yang ada hanya aku dan kenangan...
Masih teringat jelas, senyum terakhir yang kau beri untuk ku...
Tak pernah aku mencoba, dan tak ingin mengisi hatiku dengan cinta yang lain...
Kan ku biarkan ruang hampa di dalam hidupku..
Bila aku harus mencintai..
Dan berbagi hati..
Itu hanya untukmu...
Namun bila ku harus tanpamu, akan tetap ku arungi tanpa bercinta...
Adi, tanpa terasa meneteskan buliran bening yang lolos begitu saja. Karena lagu itu, lagu yang di nyanyikan Dia, adalah lagu kesukaan mendiang istrinya. Itu yang membuatnya menangis karena teringat akan masa-masa saat dirinya bersama sang istri. Belum sempat merasakan kebahagiaan tetapi, tuhan sudah mengambilnya lebih dulu. Karena sakit yang di deritanya.
Tak ingin terus menerus dihantui oleh bayang-bayang, akhirnya dirinya pun mendekati Dia. Dan mencoba melupakan tentang masa lalunya, karena sekarang dirinya sudah mempunyai tanggung jawab lagi.
"De, tumben semangat amat." Adi menyapa Dia, yang memang terlihat bahagia.
"Memangnya aku pernah sedih, aku mah bukan,Om. Yang gampang mewek." Dia menimpali tapi dengan tangan serta mata yang terfokus di lantai.
"Kapan aku mewek." Adi sedikit takut, kalau-kalau Dia melihat Adi yang sempat menangis. Tapi itu kan manusiawi menurutnya.
"Alah gitu saja berkelit, tampang sangar badan di beri kepala macan, eh hati hello Kity."
Adi tak berkutik, saat Dia dengan gamblang membuka kartunya, karena apa yang di katakan Dia. Itu semua adalah benar.
Dengan muka yang sudah merah, serta tangan yang mengepal. Dirinya pergi meninggalkan istri kecilnya itu.
__ADS_1
Bukan marah, melainkan malu dengan pernyataan Dia.
Apa Dia punya Ilmu telepati.
Apa Dia punya Ilmu kebatinan.
Dan apa Dia bisa melihat seseorang hanya dengan tatapannya saja.
Semua menari-nari di atas kepalanya, tapi.. Bukan kah ini dunia nyata bukan dunia halu, betapa bodohnya Adi sampai-sampai berpikir jika Dia itu seorang paranormal yang menyamar menjadi gadis biasa, sehingga apa yang di suka dan tidak di sukai nya tahu, dan bisa menebak semua karakter orang lain, termasuk dirinya.
Kenapa itu orang, main pergi saja, batin Dia bertanya-tanya.
Eh, kirain marah. Gak taunya lagi ngisi perut. Batin Dia lagi.
"Eh ada istrinya Om suami, mau sarapan bareng gak." Adi menawari Dia, yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Om duluan deh, aku mau mau mandi, udah jam tujuh ini." Dia menolak ajakan suami nya untuk sarapan bersama.
"Ya sudah, Om suami duluan ya. Sarapannya." Ucap Adi.
Lalu Dia membentuk jemari dengan huruf O.
Beberapa saat kemudian kedua anak manusia itu, kini sudah siap dengan tas masing-masing.
Ada yang ingin di katakan pada Dia, sedikit ragu tapi. Berusaha untuk mengatakannya.
"Eum. Om," panggil Dia.
"Om, berangkat sendiri ya, bawa mobil," ucapan Dia sontak membuat langkahnya terhenti.
"Kenapa?" Adi bertanya.
"Anu, itu. Indah mau ngajakin jalan-jalan sore nanti. Jadi bolehkan aku bawa ucup buat berangkat."
Dalam benaknya semoga Adi memberi izin untuk dirinya berangkat sendiri.
Adi diam sejenak, mendengarkan permintaan istri kecilnya itu. Jika di ijinkan bisa di pastikan istrinya akan lupa waku, tapi jika dirinya tak memberi ijin Adi takut kalau Dia marah dan mengabaikannya, dan itu bisa terjadi berhari-hari.
"Eum, baik lah. Karena suamimu yang tampan ini sedang berbaik hati, maka akan mengizinkan kamu untuk bermain."
"Yeah." Dia meloncat-loncat saking girangnya.
Heli, guk..guk..kemari.. Ayo lari-lari.. Nah mirip kan, dasar bocah. Adi terkikik geli pasalnya melihat Dia yang melompat-lompat dan membayangkan anjing yang di beri nama heli, karena hampir mirip.
"Ets, tapi ingat. Pulangnya jangan malam-malam." Adi memperingati Dia, agar kejadian minggu lalu tidak di ulangi lagi.
"Tenang saja Om, paling pulangnya pagi." Jawab Dia, sembari mengeluarkan ucup dari dalam garasi.
"Dasar bocah tengil."
__ADS_1
Cup.
Adi ternganga, kala melihat kelakuan Dia, karena selama menikah baru kali ini pipinya di cium oleh istri kecilnya itu.
"Apa aku sedang bermimpi, pagi-pagi udah di cium istri."
"Kagak Om, ini nyata."
Ahay.
"Asik dapat ciuman pertama." Adi berteriak layaknya orang yang mendapatkan lotre,
Ahay..
"Makasih kesayangannya Om duda, istrinya Om suami..Ih jadi tambah sayang deh ah."
Saking senangnya, karena mendapatkan kecupan dari Dia. Dan Dia pun sedikit Kesal karena Adi berteriak tak jelas.
"Lho, kemana kesayangan ku. Kok ilang." Setelah lelah berlaku seperti anak kecil. Adi celingukan mencari istri kecil nya tersebut.
Lalu pandangannya menyusuri garasi, dan melihat kalau ucup tidak ada.
Ucup ilang, itu berarti mereka uda jalan dong, menyebalkan bisa-bisa pergi enggak pahit.
"Udah lah mending berangkat kerja juga." Gumam Dia.
.
.
.
.
.
.
.
.
SEDANGKAN DI RESTO.
Akhirnya sampai juga, gumam Dia di dalam hatinya.
"Eh De, jadi kan nanti sore?" jadi dong. Karena Dia sudah menyanggupi, akhirnya setelah pulang kerja nanti dirinya akan jalan-jalan dengan Indah. Apa lagi ini kan tanggal di mana waktu mereka gajian.
"Ya udah yuk masuk." Ajak Indah pada Dia.
__ADS_1
"Yuk." Dia pun langsung berjalan untuk menuju ke dapur