Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 65. Pekerjaan misterius


__ADS_3

Aaaaaa.


"Sayang kamu beneran gunting, eh maksudnya bunting."


"Memangnya enggak lihat ya, itu kan ada garis dua." Ujar Dia dengan wajah malasnya.


"Akhirnya saya bakal jadi Bapak dong," ucap Adi dengan perasaan bercampur aduk antara terharu, bahagia dan tentunya sangat bersyukur. Ternyata doanya selama ini telah di jabah oleh sang pemilik hidup.


Sedangkan Dia hanya diam karena melihat tingkah konyol suami nya itu.


"Eh, mau apa kamu." Dia berkata dengan wajah bingung, karena tubuhnya kini sekarang berada di gendongan Adi.


"Turunin kagak," Dia meronta meminta untuk di turunkan karena sekarang dirinya merasa ingin muntah.


HOREEEE..


"Akhirnya saya jadi Bapak." Adi berteriak kegirangan karena dulu saat menikah dengan istri pertama selama lima tahun, dirinya belum di karuniai anak. Sekarang pun harus menunggu selama satu tahun untuk bisa mendapatkan predikat calon ayah.


Adi membawa Dia dalam gendongannya dan dirinya berputar-putar karena saking bahagianya..


"Turunin kagak, jangan salahin kalau kena muntahan ku ya." Dia mencoba memperingati suaminya karena memang sekarang perutnya terasa di kocok-kocok. Berasa mual sekali.


Seketika Adi tidak lagi bersuara, dan langsung menurunkan istrinya. Merasa kali ini istrinya benar-benar serius dengan ucapannya.


Huekkk..


Huekkk..


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Adi karena ia sangat kuatir terhadap istri kecilnya itu.


Dia yang berada di wastafel merasakan sedikit lemas di tubuhnya, akibat dirinya terus muntah-muntah.


Adi merasa kasihan sehingga ia memijat-mijat tengkuk leher istrinya.


"Sayang ku buatin teh hangat ya." Adi mencoba menawari minuman hangat agar perutnya terasa lebih enakan.


Dia pun mengangguk.


Tidak membutuhkan waktu lama, Adi sudah membawa secangkir teh hangat untuk istrinya itu. Lalu dirinya meninggalkan Dia untuk sebentar saja, karena ada yang akan di hubungi olehnya.

__ADS_1


Sekitar 10 menitan, Adi sudah berada di samping istrinya karena ada yang ingin di sampaikan.


"Istrinya Om suami. Tadi saya telepon Mak,7 buat kesini." Ujar Adi memberi tahu.


Seketika Dia menoleh dan menatap suaminya itu dalam-dalam.


"Om serius." Jawab Dia.


"Memangnya saya sedang bercanda," sungut Adi kesal, bukannya mengucap terimakasih malah istrinya tidak percaya dengan ucapannya itu, sungguh menyebalkan bukan.


"Kali saja, Om isengen aku lagi." Kata Dia.


"Gak dong kesayangannya Om suami." Adi tersenyum pada sang istri.


"Ya sudah yuk makan, kamu tadi minta sate ayam. Noh sudah saya belikan," seru Adi pada Dia, katena saking asiknya mengobrol tanpa sadar sekarang sudah pukul setengah tujuh malam.


"Satenya buat kamu, jangan lupa habiskan." Ucap Dia, lalu dirinya beranjak dari kursi dan meninggalkan dapur, untuk menuju ke kamar.


"Kok jadi saya lagi yang ngabisin? bener-bener istri kagak ada akhlak," sungut Adi, karena ujung-ujungnya dia lagi yang harus menghabiskan makanan yang di belinya tadi.


...----------------...


KEESOKAN PAGINYA.


Yah, Dia. sejak pukul empat setelah menjalankan shalat dirinya tidak bisa tidur lagi, dan memilih turun ke dapur. Dengan masih mengenakan piama, dan rambut di cepol dengan asal dirinya memulai aksinya berperang dengan peralatan tabur.


Puf.


Dia menyeka pelipisnya akibat keringat, akhir-akhir ini ia merasa sangat kepanasan meski cuaca tidak sedang panas. Merasa sangat tidak nyaman saat tidur walau AC, sudah di nyalakan.


"Hemmm ... Harum sekali, pasti enak di makan sambil minum coklat hangat."Gumam Dia, lalu mengirup cemilan berbahan dasar pisang dan di olah menjadi pisang panggang keju dan susu itu. Namun saat hendak menaruh piring di meja, sebuah pelukan dari belakang membuatnya sangat nyaman. Bukan nyaman oleh pelukan tetapi aroma tubuh suaminya membuat hatinya terasa tenang.Sudah lah, sekarang Om suami duduk lah. Ini cemilan kesukaan kamu, dan istrimu ini sudah membuatkan kopi juga." Ucap Dia sambil memperlihatkan hasil kreasinya pada sang suami.


"Makasih sayang."


Cup.


Adi mencium Dia, sebelum memutuskan untuk duduk dan menikmati cemilan buatan Dia.


Setelah selesai dengan cemilannya, Dia ikut bergabung dengan suaminya. Namun setelah di teliti ada yang berbeda dengan penampilan suaminya itu.

__ADS_1


"Om suami, tumben pagi-pagi buta udah main rapi saja. Mau kemana?" Dia yang penasaran akhirnya bertanya.


"Iya pagi ini ada yang mau saya urus." Jawab Adi datar sambil memasukkan potongan pisang panggang itu ke dalam mulutnya.


"Urusan pekerjaan." Ujar Dia.


"Iya."


Lalu mereka berdua tak lagi berbicara, dua-duanya begitu menikmati cemilan paginya.


Tidak lama kemudian Adi berpamitan untuk pergi, dan meminta di bawakan cemilan untuk bekal di perjalanan.


"Sayang, mungkin suamimu ini pulang malam, dan hari ini Emak akan datang. Jadi kamu sama Emak ya di rumah," tukas Adi memberi tahu istrinya.


"Terus Mak naik apa?" tanya Dia perihal Mak nya.


"Travel sudah saya pesankan kemarin." Jawab Adi sambil membenarkan sepatunya.


"Om. Boleh tanya," ucap Dia sedikit ragu. Namun itu harus di lakukan untuk mengetahui semua.


"Apa," timpal Adi.


"Sebenernya, Om suami kerja apa." Dia menunggu jawaban suaminya dengan posisi menopang kan dagunya di kedua tangannya.


Dia berpikir kalau suaminya itu bukan lah pekerja kantoran, karena penampilannya bukan seperti karyawan kantor, bisa di bilang seperti orang sedang main menurutnya.


Celana jins, baju sebagai dalaman dan di lengkapi dengan jaket bermerek tentunya. Tidak lupa dengan sepatu merek adidas yang harganya lumayan menguras kantong bagi Dia.


"Pokoknya pekerjaan halal." Jawab Adi dengan wajah datarnya, namun tidak mengurangi ketampanannya.


"Bukan itu jawaban yang ku mau," tukas Dia dengan wajah cemberut.


"Tidak perlu kamu tahu, yang terpenting saya memberikan uang bulanan lebih dari lima juta dan itu tidak termasuk uang jajan kamu." Tegas Adi.


"Jadi jangan bertanya tentang pekerjaan saya, dan restoran itu milik Ibu sebenarnya, karena beliau ada pekerjaan lain makanya Ibu memberikan resto untuk saya, tetapi sekarang tidak lagi. Restoran itu sudah menjadi milik kamu jadi saya memilih pekerjaan saya yang sebelumya." Saat Adi menjelaskan Dia terperangah menatap wajah suaminya dengan perasan tidak menentu. Sebegitu mudahnya suaminya memberikan restoran itu untuknya dan sebegitu percayanya suaminya itu padanya.


"Aku hanya ingin tahu Om, lantas mengapa tiba-tiba restoran itu menjadi milik saya?" tanya Dia yang masih penasaran.


"Nanti kita bahas lagi ya, sekarang sudah jam setengah tujuh. Takut kalau teman kerja Om suami nunggu."

__ADS_1


"Ya sudah." Ucap Dia pasrah.


Setelah Adi berpamitan, Dia terus memikirkan tentang pekerjaan suaminya, kenapa juga Adi harus merahasiakan dari Dia, dan membuat Dia bertanya-tanya.


__ADS_2