
Sesampainya di rumah, Dia langsung melemparkan dua kantung kresek yang berukuran lumayan besar, di lempar begitu saja karena jari-jarinya terasa sakit akibat yang memegang kantong kresek tersebut.
Puf..
Sembari duduk Dia menghela nafas. Dan terlihat Adi menuju ke arah dapur, dan tak berselang lama, ia mengambilkan satu gelas jus alpukat kesukaan sang istri.
"Makasih, Om."
"Eum." Adi menjawab dengan tiga huruf.
"Tau tadi bawa mobil, kenapa Om gak bilang kalau sekalian belanja," Seru Dia pada Adi.
"Iya mana ku tahu, orang kepikiran pas di taman tadi juga." Sungut Adi.
Nyatanya sewaktu di rumah Dia menolak untuk tidak mengendarai mobil. Dan memilih Ucup sebagai teman perjalanan di hari liburnya.
Setelah puas marah-marah Dia tiba-tiba saja menghilang dan pergi ke pulau kapuk, dan Adi hanya menggeleng melihat tingkah istrinya karena sehabis memarahinya lalu tertidur.
"De, semoga kamu bisa menerima aku sebagai suami mu dan mencintai aku tentunya." Gumam Adi sembari membelai lembut rambutnya, serta menyisihkan poni.
Jika melihat mu seperti ini saya tambah gemes tau gak sama kamu. Batin Adi.
SORE MENJELANG.
"Eh, kesayangannya Om duda, istrinya Om suami, baru bangun ya?" Tanya Adi.
"Enggak." Lalu Adi mengerutkan alisnya.
"Bukannya kamu baru bangun ya," dengan menggaruk kepalanya Adi bertanya lagi.
"Baru melek Om. Kalau bangun tidur tapi matanya enggak melek terus gimana ceritanya." Tanpa ekspresi Dia berkata, sambil memakan cemilan yang di belinya tadi
Sedangkan Adi sedikit berpikir tentang yang baru saja di ucapkan Dia.
Eh iya, ya. Kenapa saya jadi bodoh begini sih.
Rutuk Adi pada dirinya sendiri.
"Om duda lagi ngapain?" Dia bertanya sembari tangannya mengambil kue yang berada di toples.
"Lagi main masak-masakan, apa kamu mau ikut," ajaknya pada istri kecilnya itu.
"Ogah, karena masa kecil ku udah bahagia. Jadi enggak perlu mengulang lagi." Adi melotot ke arah Dia, dirinya sedang masak apakah Dia tak melihat itu. Ah iya lupa Dia kan baru Melek, dari tidurnya dan bangun dari mimpinya, makanya matanya masih di penuhin oleh belek. Diam-diam Adi membayangkan betapa jijiknya dan bergidik.
Dasar otak, enggak beres, pasti lagi bayangin sesuatu nih, kalau gak gitu ngapain sampai bergidik. Gumam Dia dalam hatinya, dan ia bertanya-tanya kira-kira Adi sedang membayangkan apa?.
__ADS_1
"Halo, Om. Om duda." Dia yang memanggil-manggil namun belum juga di respon.
"Ommm!" terpaksa Dia berteriak tepat di telinganya, dengan begitu suami dewasanya itu akan sadar.
"Aaaaaa, dasar bocah! Sakit tau kuping saya."
Kini berganti Adi yang berteriak karena telinganya sampai berdengung, akibat teriakan dari Dia.
"Makanya jangan ngelamun, ganti di teriaki marah-marah." Sergah Dia. Yang merasa kesal. Karena bukan bukan menyadari kesalahannya malah ganti memarahi istri kecilnya itu.
Seketika Adi diam.
Dan tak begitu lama, Adi memanggil istrinya yang terlihat lesu, sambil memandangi gawai nya.
"Kesayangannya Om duda, istrinya Om suami. Coba tebak ini apa hayo."
Dengan melebarkan senyuman, Adi memberikan sebuah kotak kecil pada Dia.
"Ini kan kotak, apa Om buta," ucap Dia dengan wajah melas.
"Tau itu kotak sayang, yang om suami maksud itu. Tau kah kamu dalam nya ini apa?" Adi memberikan pertanyaan lagi untuk Dia, agar di pecah kan.
Kek anak SD ya, mereka main matematika..hahaha.. Sementara biarkan Othor jadi gila sedikit dari kewarasan untuk menghibur kalian😘😘...
"Kalau saya beritahu kamu, namanya bukan kejutan dong." Dengan senyuman yang di buat semanis mungkin Adi berkata.
"Kalung."
"No sayang."
"Gelang alit."
"Apaan itu." Adi baru dengar dengan kata alit.
"Cincin maksudnya." Dia menjelaskan arti kata yang di ucapkan nya.
"Salah."
"Terus apa dong." Dia kesal karena tak kunjung tahu isi yang berada di dalam kotak tersebut.
Lalu Adi memberikan kotak itu pada Dia.
Dia yang melihat merek dari kotak tersebut membuatnya sedikit dag..dig..dug..
"Ini kan..."
__ADS_1
"Iya sayang." Adi mengangguk dan membenarkan apa yang akan di katakan olehnya, namun dirinya keburu memotong ucapan tersebut.
"Ini buat aku Om," Dia yang masih ragu akhirnya mengulang lagi pertanyaan itu, untuk memastikan.
"Iya, simpan lah. Itu harganya sangat mahal." Ujar Adi.
Kini Sore telah lewat, dan malam pun datang. Lampu-lampu yang memberi terang pada jalan tersebut, membuat Dia berharap jika hidupnya akan seperti jalan. Yang akan terus terang oleh pantulan cahaya dari lampu.
Dia berdiri di balkon menikmati semilirnya angin, dan dinginnya malam, serta matanya memandangi lampu-lampu yang sangat indah . Membayangkan saja dirinya sudah tak sanggup apalagi menjalaninya.
Berumah tangga dengan lelaki dewasa, menurutnya tak mungkin, dan tidak akan mungkin di dalam kamusnya. Nyatanya semua hanya permainan.
Tiba-tiba dirinya merasa hangat, akan sesuatu yang di letakkan di badannya. Seperti jaket tapi bukan! Saat melirik untuk melihat, ternyata selimut.
"Hawanya dingin, jangan sampai sakit dan besok tak bisa bekerja." Dia mengerti apa yang di maksud oleh suaminya.
"Tidak akan, aku kan bukan Om, yang kerap menampung sakit." Ujar Dia dengan bangga, meledek Adi.
"Kapan aku pernah sakit," Adi langung mengerutkan keningnya.
"Nah kan sakitnya kambuh," Dia mendengus karena kesal.
"Itu mah beda bodoh, yang sakit kan otak saya bukan badan badan saya." Dengan bangga Adi berkata kata jika otak nya sedang sakit.. Wah salut lelaki yang benar-benar jujur.
"Oh gitu ya."
"Eum.. bocah, apa ada lelaki yang kamu suka." Dia terhenyak kala mendengarkan apa yang baru saja di ucapkan oleh Adi.
"Kenapa?" Lalu Dia membalikkan badan dan duduk, lalu Adi pun mengekori Dia dari belakang dan ikut serta duduk dengannya, untuk mendengarkan ungkapan hati Dia.
"Tinggal jawab kenapa susah sih."
Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum mengatakan yang sebenarnya.
"Aku belum pernah berpacaran Om, jadi di dalam otak ku belum ada nama yang aku suka," Ujar Dia, sambil memainkan bajunya yang di plintir-plintir untuk menghilangkan kegusarannya.
"Jadi selama ini kamu belum pernah merasakan pacaran.. Utu..utu..utu..Kasian banget."
"Menyebalkan, kalau om hanya ingin membuli ku mending kagak usah nanya." Lagi-lagi Dia mendengus karena di ejek oleh Adi, karena dirinya memang belum pernah merasakan pacaran atau pun jatuh cinta. Hidupnya terlalu sibuk mencari uang, jadi Dia tak mementingkan soal pacar.
"Jadi saya dong yang pertama." Dengan hati yang di penuhi oleh bunga-bunga impian Adi berkata dan di iringi senyum.
"Eh." Dia langsung menutup mulutnya.
Asek, akhirnya aku yang pertama. Dalam hati Adi bersorak bahagia.
__ADS_1