
Dengan kasar Dia menarik tangan Adi.
"Apa-apaan sih kamu itu, lepas gak!" Gertak Adi pada Dia.
"Lha kan Bapak sendiri yang bilang saya suruh lihat jamnya," ucap Dia pada Adi.
"Tapi kan saya minta buat lihat jamnya kamu sendiri bocah tengil," jawab Adi dengan raut wajah yang kesal.
"Tapi saya kagak punya jam," ucap Dia enteng.
Ya tuhan ingin sekali aku mengacak-ngacak ini bocah, sumpah geleng saya, batin Adi dengan sesekali mengumpat.
Adi yang terus saja menggerutu dalam hati, karena tak habis pikir oleh kelakuan bocah yang berada di depannya, sambil mengacak kasar rambutnya, Adi pun di buat geleng.
"Biar saya saja yang melihat, kamu jangan pegang-pegang, hus, sana!" Dengan tatapan jijik, Adi menyuruh menjauh dari hadapannya.
Dikira gue hama apa! Dasar duda edan. Udah duda sok lagi.
Dengan hati yang dongkol, sesekali menghentakkan kakinya dan sedikit menjauh, entah mengapa membuat Adi merasa gemas.
Eh, kenapa saya ngebayangin ini bocah ya, dasar otak! Inget dia itu masih bocah, lagian mana Dia mau sama kamu Adi. Adi menghela nafas dalam-dalam dan tak mau otaknya terisi oleh bocah yang berada di depannya sekarang.
"Sekarang siapkan saya makan karena saya sangat lapar," titah Adi, kepada Anin. Namun yang disuruhnya bukan malah menjawab malah memonyongkan bibirnya.
Apa di kira gue pembantu, ucapnya pada dirinya sendiri.
"Lekas lah masuk, dan jangan mengumpat ku." Suara lantang terdengar dari Adi.
Dengan hati yang dongkol Dia pun masuk melewati pagar. Namun Dia teringat akan sesuatu hingga berhenti tepat di tengah pintu masuk.
Aish kenapa gue main nyelonong saja ini kan bukan rumah gue, dasar Dia ogeb, rutuknya dalam hati. Karena tanpa memperdulikan empunya, malah dirinya sengaja melewatinya, tanpa tau itu pintu beneran atau pintu ajaib. Kali saja seperti doraemon yang mempunyai kantong ajaib, kalau beneran ada keinginan untuk Dia memasukkan Adi ke dalamnya dan melemparkan ke tengah laut.
Aduh kenapa gue halu banget sih, ini kan kehidupan nyata bukannya yang ada di cerita-cerita itu, batin dia lagi.
__ADS_1
Tanpa di sadari Seseorang tengah tersenyum kecil, karena melihat pemandangan yang menurutnya sangat lucu, karena di tengah pintu berdiri sosok bocah yang lagi asik tengah berkelana di dunia khayal, sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
"Apa kau akan berdiri hingga sore menjelang," suara Adi membuat Dia, langsung terhenyak karena memang dirinya benar-benar tak sadar sedang di kediaman siapa sekarang.
Sedang Dia, yang mendapat teguran, langsung buru-buru berjalan untuk menghampiri duda somplak itu lagi.
"Apa Bapak sengaja menyuruh saya masuk, sedang kan ini bukan rumah saya," ucap Dia, dengan wajah yang imut sudah mirip seperti anak yang sedang marah.
"Lha salah sendiri, main nyelonong padahal yang punya pun belum masuk,"jawab Adi.
Setelah perdebatan akhirnya mereka masuk dan Dia, mengikuti langkah Adi menuju ke dapur.
Setalah mereka sudah berada di dapur, dan Adi sudah menunggu di meja makan. Menanti hidangan yang akan di makannya. Tak perlu waktu lama, Dia pun sudah menyajikan menu makan siang untuk Adi. Tumis kangkung, ayam goreng, udang krispi, tak lupa juga sambal dan kerupuk.
" Apa ini enak," ucap Adi sambil mengambil secentong nasi untuk di letakkan di piringnya.
"Jika tak enak maka Bapak bisa membuangnya," suara ketus Dia, membuat Adi sedikit salah tingkah.
"Ok. Tapi jika tak enak maka siap-siap angkat kaki dari resto ku." Dia tak menjawab karena percuma saja jika di ladeni.
Di kira cuma dia apa yang bisa ngancem, gue juga bisa kali. Sungutnya dalam hati, dan kini hatinya sedang berbunga-bunga karena melihat wajah lelaki itu sedikit memucat akibat ancamannya yang tak sungguh, dan mana mungkin Dia berbuat seperti itu.
"Kamu becanda kan," ucap Adi pada Dia.
"Memang ada tampang saya yang lagi bohong."
Glek..
Terdengar suara Adi yang berusaha untuk menelan ludah, karena wajah Dia yang sebelumya terlihat manis dan lucu, tetapi kini mirip seperti gonggongan anjing yang siap untuk mengejar.
Ha..Ha..Ha..Ha..
Suara gelak tawa memenuhi ruangan dapur, karena Dia yang tak tahan melihat raut wajah Adi yang sudah di penuhi oleh peluh, karena takut akan ucapan yang di lontarkan oleh Dia. Membuat Adi hanya memandangi makanan tanpa menyentuhnya. Jadilah Dia tertawa karena sukses membuat Adi ketakutan kalau memang benar makanan yang di sajikan mengandung racun.
__ADS_1
"Kau..." Adi yang merasa benar-kesal dengan menggenggam erat sendok di tangannya, kini dirinya sudah mirip seperti anak TK.
Aku yang memang sangat kesal karena di suruh-suruh yang mirip pembantunya saja, jadi ide jail pun muncul di otakku untuk mengerjainya, dan sukses karena Pak Adi benar-benar ketakutan saat aku berkata kalau makanan yang aku bawa aku beri bumbu yang bisa mematikan.
"Udah marahnya di tunda dulu dan segeralah makan, karena aku tak mau Bapak mati dengan predikat duda,"
Uhuk.
Uhuk.
Ucapan Dia yang hanya asal ngomong, seketika membuat Adi tersedak oleh air yang di minumnya, dan menyemburkannya dengan asal.
"Ih, Bapak jorok,"
"Diam! Semua ini kan gara-gara kamu."
Bentakan Adi, seketika membuat Dia terdiam. Dan dirinya melangkahkan kaki untuk menuju pintu, entah itu pintu menuju ruangan mana. Karena penasaran Akhirnya Dia pun melanjutkan langkahnya dan meninggal kan si duda itu yang sedang menikmati makan siangnya dengan penuh hikmat.
Sesampainya Dia di halaman belakang, membuat matanya berseri-seri dan langsung terpesona pada tempat yang saat ini ia berada.
Taman yang di penuhi berbagai bunga, serta terdapat kolam ikan yang begitu indah, seakan-akan Dia terhipnotis oleh taman yang berada di halaman belakang.
Sambil menunggu bos nya selesai makan, Dia menyerat selang untuk menyirami taman yang ada di sekitarnya. Dengan bersenandung lirih Dia menyirami semua tanaman agar terasa segar dan bertambah cantik dan enak pandang.
Dooor..
"Hye kau gila ya," lalu selang yang semula berada di tangan Dia kini berpindah di tangan Adi, dan.
"Rasain nih, makan tuh air, di kira saya pohon apa."
"Bapak! awas ya, nih rasain makan tuh air, situ yang salah malah saya juga yang harus nerima."
"Eh bocah tengil, lepas gak selang itu, baju saya basah semua bodoh,"
__ADS_1
"Apa Bapak juga buta, nih lihat! saya gak ada baju lagi, tapi Bapak malah menyemprot saya."