Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
89. RENCANA ADI DAN DIA


__ADS_3

Sedangkan Haikal hanya tersenyum seperti orang yang tak memiliki dosa.


"Jadi, aku harus apa?" tanya Haikal pada Adi.


"Pergi dari masalah tidak akan membuat semua akan selesai, yang ada kamu makin terluka." Jawaban yang di berikan oleh Adi membuat Haikal sedikit berpikir, jika itu benar.


"Selesaikan dengan baik, jika kamu benar-benar mencintainya segera nikahi dia, untuk bukti keseriusan kamu." Tambah Adi lagi.


Sedangkan Haikal hanya mangut-mangut, dan mengiyakan apa yang di katakan oleh Adi.


"Aku serius dan ingin menjadikannya istri, Di. Namun Indah selalu menolak dengan alasan yang sama," ujar Haikal menjelaskan.


"Tinggal di yakinin kan. Semoga perjuangan kamu tidak akan sia-sia," ucap Adi sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


...----------------...


Di rumah megah milik Adi.


Sepasang suami istri pun telah merencanakan sesuatu untuk para sahabat mereka.


"By, apa kamu ada rencana untuk mempertemukan mereka." Di kamar sepasang pasutri itu tengah baringan dan kini sedang membahas antara Indah dan Haikal.


"Ada sih, tapi apa mereka bakal mau." Jawab Adi.


"Apa memang rencananya By?" tanya Dia.


"Ajak ketemuan di cafe." Jawab Adi.


Setelah mendengarkan rencana suaminya, Dia pun setuju dengan usul yang di berikan. Besok tugas Adi adalah mengajak Haikal untuk bertemu begitu pula dengan Indah.


"Baik aku setuju By," ucap Dia dengan senyuman yang mengembang.


"Sayang," panggil Adi.


"Kenapa."


"Aku mau nengok si adik boleh gak ya?" tanya Adi pada Dia dengan memainkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Boleh dong, kebetulan bunda nya adik lagi pingin juga." Jawab Dia dengan suara manjanya.


"Wahhh bunda baik banget deh, Ayah makin sayang bunda."


Lalu Adi mengajak bermain petak umpet di bawah selimut, setelah itu. Hanya Adi dan Dia yang tahu mereka sedang melanjutkan permainan apa.


Malam yang dingin membuat mereka menghangatkan tubuh dengan cara penyatuan, hingga satu jam lamanya.


Keesokan paginya, Dia mencari sosok suami tercintanya yang hilang entah kemana, karena sudah tak ada di dalam kamar sejah pukul lima tadi.


Dengan perut buncitnya yang tidak di ketahui kelaminnya, karena pasangan pasutri itu sengaja untuk tidak ingin tahu bentuk kelamin dari bayi yang di kandung oleh Dia. Secara perlahan Dia menuruni anak tangga guna mencari keberadaan sang suami.


Saat sudah di lantai dasar bau harum menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, sehingga membuat Dia mengendus-endus aroma tersebut.


"Hem, pasti ini kerjaan suami tersayang ku. Ah makin sayang deh ah kalau kek gini," gumam Dia dengan wajah menggemaskan.


Setelah tau di mana keberadaan Adi, secepat kilat Dia menuju ke dapur untuk melihat suaminya berperang dengan alat masak.


Dengan perlahan Dia memeluk suaminya dari belakang dan itu membuat Adi sedikit terkejut.


"Maaf." Dia bukannya melepaskan pelukan itu namun malah merekatkan pelukannya bak perangko yang tak mau di lepas.


"Tumben istri kesayangan ku pagi-pagi sudah manja, hum. Kenapa," ucap Adi lalu memutar tubuhnya agar bisa menetap sang istri.


"Gak ada apa-apa, memangnya enggak boleh." Dia menatap wajah tampan suaminya dengan lekat, begitu juga dengan Adi. Sekarang mereka berdua saling bertatapan, tanpa komando pria dewasa itu menyerang bibir ranum milik Dia.


Pagi yang cerah suana dapur bertambah panas sepanas wajan yang mengepul, karena mereka asik saling menikmati bibir yang di satukan, dan tanpa mereka sadari kepulan asap memenuhi ruangan.


Sejenak mereka melepaskan pagutan yang mereka rengkuh karena asap semakin tebal.


"By, ini asap dari mana?" tanya Dia yang memang tidak tahu asal kepulan tersebut.


"Astaga sayang, aku lupa." Dengan wajah gugupnya, Adi langsung mematikan kompor yang berada di belakangnya.


"By, kok bisa sih kamu itu! benar-benar ceroboh." Dia pun akhirnya memarahinya, karena Adi melupakan sesuatu yang berada di belakangnya.


"Habisnya kamu bermanja-manja kan jadinya kelepasan," ucap Adi dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


"Kamu kok jadi nyalahin aku By!" seru Dia yang tidak terima jika karena ulahnya sampai-sampai membuat dapur hampir kebakaran.


"Ya kan kalau kamu gak jadi kucing manis di saat suamimu ini masak, aku gak bakal lupa kalau ada kompor di belakang kita." Jawab Adi dengan menggaruk kepalanya.


Sedangkan Dia mencabik kan bibirnya karena sudah di salahkan atas semua ini.


"Ya sudah aku gak bakal meluk kamu lagi," ucap Dia sembari berjalan dengan menghentakkan kakinya.


"Sayang, sayang! tunggu dong. Masa gitu saja udah marah sih, sayang." Adi terus memanggil-manggil Dia karena saat ini istrinya sedang merajuk.


Sedangkan Adi mengusap kasar rambutnya karena ternyata ia baru sadar, orang hamil itu sangat sensitif.


Sedangkan Dia berlari ke arah taman, dan duduk di kolam yang di penuhi oleh ikan.


"Dasar suami nyebelin, gemes gue jadinya punya laki kek itu orang." Dia menggerutu di tepian kolam sembari melempari kolam dengan batu kecil.


"Ah, ngerjain Indah kek nya seru nih." Lalu Dia merogoh saku dasternya untuk mengambil benda pipih tersebut guna memberi kabar, kalau dirinya akan membuat rencana pertemuannya.


Kalau gini gue gak jadi marah sama suami gue, secara kita udah sepakat untuk merencanakan sesuatu. Hem baik lah kali ini gue ngalah, gumam Dia di dalam hatinya. Sekarang mencoba untuk menurunkan egonya, agar rencana berjalan dengan lancar dan mulus semulus pipi glowing.


Saat Dia hendak berdiri namun Adi sudah lebih dulu menghampirinya, dan meminta maaf akan kejadian di dapur tadi.


"Sayang, maaf ya. Tadi sudah membuat kamu marah," ucap Adi dengan memegang jemari Dia.


"Ya lagian kamu, kamu yang nyalain kompor, eh aku nya yang di salain." Suara ketus Dia membuat Adi menghela nafas kasar.


Ia takut kalau sampai istrinya marah, maka urusan ranjang pun bakal hangus untuk beberapa hari ke depan, dan bisa-bisa dirinya juga harus tidur dengan cara mengungsi jika si macan tutul kadung kepalang marah.


"Iya kan aku udah minta maaf ke kamu sayang," tukas Adi kemudian ia ikut duduk di sebelah Dia.


"By, kamu sudah menghubungi Haikal untuk melancarkan rencana kita?" tanya Dia pada suaminya.


"Oh iya, sebentar aku kirim pesan dulu ya." Jawab Adi pada istrinya.


Adi pun berdiri untuk mengambil ponsel yang berada di dapur untuk menghubungi Haikal, karena dirinya bersama sang istri telah membuat rencana agar sahabat dari Dia maupun Adi, bisa bertemu dan menyelesaikan urusan hati yang sempat tertunda itu.


Semoga rencana ini berhasil dan mereka berdua bisa bersatu, dalam hati Adi sangat berharap kalau rencananya akan membuahkan hasil.

__ADS_1


__ADS_2