Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 26. Orang itu Ternyata Om Duda.


__ADS_3

"Apakah calon suami kamu mirip dengan saya,"


Adi perlahan membuka helm serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


"Om, duda."


Dia terkejut bukan main, pasalnya jemputan yang ia tunggu-tunggu nyatanya sudah berada di hadapannya.


"Apa ada yang kamu tunggu selain saya, hem."


"A-ada," dengan suara sedikit gemetar Dia menjawab.


"Kamu bilang kan lagi nungguin calon suami, berarti itu saya dong." Dengan gaya cool nya, serta kepedean yang sudah berada di atas awan, dirinya berucap dengan mengedipkan satu matanya.


Dasar PD, tingkat dewa. Batin Dia, dengan memajukan bibirnya, dan itu membuat Adi bertambah gemas.


"Apa mau kamu saya cium."


"Enak saja!" teriak Dia.


"Terus ngapain pakai itu bibir di monyongin segala,"


"Serah saya dong bibir, bibir punya saya. Bukan punya tetangga."


"Dasar mulut cabe, moga aja entar kalau punya anak gak mirip Emaknya."


"Apa Bapak bilang, siapa yang Bapak maksud."


"Eh, bukan siapa-siapa kok, udah yuk jalan. Om udah kagak tahan nih."


Hayo, gak tahan apaan nih, jangan bikin pembaca jadi galfok alias gagal fokus lho ya.🤓🤓🤓.


"Idih, udah pas jadi pria penggoda tante-tante."


Ck..ck..


"Dasar bocah tengil." Gerutu nya.


"Udah buruan naik, apa kamu mau saya pecat!"


Mendengar ucapan bos nya, Dia segera pamit dengan Emaknya.


"Makkk! Berangkat Assalamualaikum." Teriak Dia, dari luar pintu.


Belum sempat Emak nya menyahuti tapi Dia, dan Adi keburu jalan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, dasar pasangan somplak." Ujar Emak Ita.


Kedua pasangan somplak itu sudah berada di jalan, dan memecah jalanan yang di penuhi oleh padatnya pengendara.


"Hye Om duda, bisa kah anda membawa motor dengan benar." Suara keras dari milik Dia, tak hiraukan, tetapi netra Adi mencari tempat untuk melepaskan sesuatu yang sedari tadi di tahannya.


"Om, bisa gak bawa motor gak sambil oleng, lama-lama otak saya ikutan oleng tau gak." Dia yang kesal terus saja mengumpat, di tambah bosnya yang pura-pura tidak dengar atau memang di sengaja, hingga Dia pun diam. Karena merasa tenggorokannya sakit akibat berteriak, namun yang ada malah di kacangin.


Aduh, mana lagi pom nya, belum keliatan pula, gak ngerti udah gak tahan apa. Adi sedari tadi tak menghiraukan Dia, yang berteriak terus menerus, tapi dirinya lebih fokus pada dirinya sendiri. Sesuatu yang di tahan-tahan, lama-lama membuatnya seperti cacing ke siram air panas, membuatnya harus kuat menahan, sesuatu untuk segera di keluarkannya.


Saat dirinya melihat pom bensin, hatinya pun berbunga-bunga, dengan segera ia membelokkan ke arah kiri jalan dan menepikan si Ucup di pom.


"Motor sport tapi bensin kagak ada, sama saja sama bohong." Sindir Dia.


"Jangan menyindir, udah lah saya gak mau berdebat dengan kamu lebih jauh lagi. Mending kamu diam di sini sama Ucup."


Dia langsung mengangkat kepalanya agar sejajar dengan Adi, dan dengan tampang culunnya, dirinya hanya celingukan tanpa bertanya Ucup siapa yang ia maksud.


"Om duda mau ngapain,"


"Apa kamu ingin ikut, kebetulan Om, udah gak tahan rasanya udah di ubun-ubun."


"Hii, ogah."


Adi tertawa terbahak sambil berjalan ke arah toilet, dan Dia, pasti berpikir yang tidak-tidak.


"Apa Om duda tadi sedang arisan, makanya ke toilet."


Peletak.


"Auh, sakit! Dasar Om-om resek." keluh Dia, sambil memegangi keningnya yang baru saja mendapat jitakan dari bosnya.


"Dasar mesum, saya gak tahan karena kebelet pipis, emang yang ada di otak kamu apa," Bisa-bisanya nuduh saya arisan, dasar bocah memangnya saya habis nonton tom jery apa! dasar. Adi mengumpat, karena kesal di tuduh arisan, apa sekecil itu otaknya, keluh Adi dalam hatinya.


Hehehe.


"Kirain."


"Kamu kira saya sedang bernafsu apa, jangan-jangan kamu ya yang pengen, dan tak tahan. Ayo ngaku." Goda Adi pada Dia.


"Ih, apaan sih," Dia yang salah mengartikan dan sempat menuduh sedang mengadakan arisan, kini dirinya menjadi salah tingkah.


"Nikah dulu, baru boleh mikir 46,46." Adi semakin senang menggodanya, karena kini mukanya sudah seperti kepiting rebus.


"Udah Ah, jalan. Nanti telat saya juga yang di salain," ucap Dia.

__ADS_1


"Apalagi kalau kamu mau jadi penampung bakal kecebong saya, gak ada tuh main pecat atau potong gaji, nanti yang ada kamu jadi nona bos. Di semua usahaku."


"Di kira saya kodok apa! lagian akuin saja kenapa sih, kalau memang Om duda kagak laku, dan sudah kadaluarsa." Sanggah Dia, yang sudah mulai kesal, dengan tingkah gilanya itu.


"Buset, apa kamu pikir saya makanan."


"Sepertinya begitu, yuk ah. Mas Duda sayang, buruan jalan!" Akhir dari berteriak, mengundang para pembeli yang ada di pom.


Ah, sial. Kan jadi pusat perhatian. Batin Dia, dengan perasaan yang dongkol.


"Ah, baik lah sayang, yuk jalan." Dengan senyuman yang di buat-buat Adi lagi-lagi menggoda Dia.


"Keduanya sudah memakai helm, dan dengan segera Adi menancap gas, lalu.


Wor..Wor..


Suara motor di nyalakan.


...----------------...


Tak berapa lama sampai lah mereka di resto, dan Dia pun, setelah ini akan menerima sambutan dari teman-temannya.


Aish, akhirnya ketahuan juga. Batin Dia. Karena semua temannya riuh saat temannya melihat Dia, yang baru saja turun dari motor gede, niat hati ingin menggoda tama teman Dia, malah di kejutkan oleh sesuatu yang tak di sangka-sangka nya. Ternyata bos nya yang tengah membonceng Dia hingga semua ternganga melihat fakta yang begitu mengejutkan.


"Bisa kah kalian pergi, dan tak melihat dengan tatapan seperti itu." Adi berucap dengan penuh penekanan, hingga karyawan pun bubar.


"Maaf Pak." ucap karyawan itu.


Lalu mereka bertiga pergi ke belakang, lantas kini hanya menyisakan mereka berdua di parkiran.


"Ya sudah nanti saya jemput, biar nanti orang saya yang mengantarkan bebek kamu pulang."


Bebek, katanya. Bener-bener suka bener dah Adi, kalau ngomong.🤭


"Tapi Pak..."


"Tak ada penolakan, dan saya pergi dulu. Masih ada yang saya kerjaan, selain mengejar anak singa."


Belum sempat Dia, melanjutkan protes nya, tapi Adi sudah memotongnya.


Adi pun menghilang dari pandangan nya, dan hilang dengan sekejap.


"Eh, ada penggoda lewat."


"Apaan sih elu, kagak jelas. Minggir!" bentak Dia, pada temannya yang suka nyinyir.

__ADS_1


"De, elu utang penjelasan sama gue." Ucap Indah sambil dirinya menaruh tas loker, tempat penyimpanan barang.


"Duh kok jadi rumit gini sih, kan nyangkanya gue ada main sama si Om duda sialan itu." Keluh nya, karena pasti semua orang menganggap jika dirinya adalah perempuan gatel.


__ADS_2