
Mak hanya takut De, semoga memang benar apa yang kamu katakan itu." Ucap Mak ita.
"Kemarin De, juga sama Mak. Rasa takut itu ada, tapi setelah suami De menyakinkan untuk tidak berpikir yang macam-macam." De mencoba memberi tahu pada Mak nya agar tidak perlu yang dikuatirkan. Meski sedikit ragu namun ia berusaha harus bisa percaya dengan suaminya itu.
"Iya De, maaf ya. Sebelumnya Emak udah berburuk sangka sama Adi," tukas Mak Ita pada Dia.
"Ada satu pertanyaan lagi jadi kamu harus menjawabnya dengan jujur." Ucap Mak Ita lagi.
"Apa yang mau Mak tanyakan lagi," Dia mengerutkan keningnya, tentang pertanyaan yang akan Mak nya berikan padanya.
"Bagaimana tentang perasaan kamu terhadap Adi sekarang," ujar Mak Ita.
"Apa itu penting Mak." Jawaban Dia mampu membuat Mak Ita menepuk jidatnya.
"Jawaban macam apa itu De," sungut Mak Ita.
"Entah lah Mak, selama ini De belum bisa memberikan hati De untuk Adi. Walau usia pernikahan kami sudah menginjak satu tahun, tapi ada kalanya kalau saat bersamanya rasa nyaman itu ada." Dia mencoba berterus terang tentang apa yang dirasakan selama ini, tentang perasaanya pada suami nya itu.
"Apakah kamu bahagia," ucapan Mak Ita langsung membuat Dia mengangkat kepalanya dan menatap orang yang sudah melahirkannya itu.
"Bahagia tentu saja Mak. Adi perhatian, pengertian, selalu berusaha menjadi sosok suami yang baik, apa yang De inginkan Adi selalu menurutinya."
"Kalau begitu seharusnya kamu juga bisa dong, memberi sedikit ruang di hati kamu untuknya. Jangan menjadi perempuan egois," sela Mak Ita.
Sedangkan Dia hanya tertunduk dan sudah salah telak, tidak mampu untuk berkata lagi. Jika apa yang dikatakan oleh Mak nya adalah benar kalau dirinya sudah menjadi wanita egois.
"Tapi Mak … De belum bisa di tahap itu, De juga harus belajar untuk bisa benar-benar bisa mencintai suami De." Tegas Dia pada Emak nya, sedangkan Emak nya hanya menatap datar wajah seorang anak yang sudah di lahirkannya itu.
"Mak harap kamu bisa mencintai suami kamu, dengan kehadiran seorang anak nantinya." Mak Ita berkata dengan wajah serius serta datar menandakan orang itu sedang tidak lagi bercanda.
"Iya Mak, De berharapnya bisa menjadi seorang istri sepenuhnya." Jawaban membuat Mak Ita menyunggingkan senyuman.
"Ya sudah, kita masak. Ini sudah jam delapan tapi …."
__ADS_1
"Apa Mak," sahut Dia.
"Gak ada yang mau dimasak, karena stok makanan di kulkas hanya ada ayam sama udang doang." Ujar Mak Ita menjelaskan.
"Ya sudah nanti kita ke pasar Mak, untuk membeli bahan-bahan apa saja yang habis." Kata Dia pada Mak Ita, lalu dijawab anggukan oleh Mak nya.
"Ya sudah. De siap-siap dulu," ucap Dia.
"Iya, kalau begitu Mak juga akan siap-siap." Jawab Mak Ita pada Dia.
Mereka sudah masuk ke dalam kamar untuk siap-siap.
Sedangkan De, memikirkan tentang ucapan Mak nya yang baru saja di bahas.
Sepertinya memang gue harus bisa menerima takdir yang sudah di berikan oleh Tuhan. Menerima kenyataan kalau gue harus bisa mencintai suami gue, serta patuh padanya. Tuhan jika ini takdir yang harus hamba jalani, hamba ikhlas untuk menjalani rumah tangga ini. Meski rasa cinta itu belum sepenuh nya tumbuh.
Setelah puas mencurahkan isi hati nya, De langsung bergegas mengambil pakaian yang ingin di gunakannya.
Ceklek.
"Iya Mak," setelah membuka pintu Dia menyahuti dengan suara.
"Kamu belum ganti baju?" tanya Mak Ita dengan tatapan sinisnya.
"Belum Mak, tadi ke kamar mandi dulu karena alam sedang memanggil." Ujar Dia berbohong, kalau tidak seperti itu maka siap-siap saja De bakal di lahap habis oleh Emak nya.
"Ya sudah buruan cepat ganti, mau jam berapa kita belanjanya. Ini sudah siang," Sergah Mak Ita yang tidak sabaran.
"Iya Mak." Setelah berucap Dia melengos masuk ke dalam kamar lagi untuk mengganti pakaiannya yang ia letakkan di tempat tidur.
Tidak berapa lama mereka berdua sudah siap untuk berangkat, dan Dia memilih taksi online sebagai transportasi.
Tidak lama kemudian ada mobil berhenti tepat di hadapan Dia dan Emak nya, dan itu sepertinya taksi yang di pesannya barusan.
__ADS_1
"Atas nama Mbak Dia ya," ucap driver tersebut sambil membuka kaca mobil.
"Iya Pak." Jawab Dia, lalu mengajak Mak nya untuk masuk.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Mereka berdua sudah selesai dengan belanjaannya, dan kini Mereka sedang menunggu taksi yang dipesan oleh Dia lagi, tapi sebelum itu dirinya berpamitan untuk ke minimarket yang tidak jauh dari pasar tradisional. Untuk membeli minuman serta beberapa snack.
"Mak De, mau beli jajan dulu ya." Pamit De pada Mak nya, dengan segera Mak Ita menimpali.
"Kamu tuh ya emang, gak bisa lepas sama yang namanya jajan." Ucap Mak Ita.
"Udah lak, tanpa jajan ada yang kurang di hidup De." Jawab Dia, lalu dengan segera ia meninggalkan Mak nya di pinggir trotoar, karena tidak mungkin untuk De mengajak serta Mak nya. Barang belanjaannya tiga kresek besar maka dari itu De berjalan sendiri ke minimarket.
Jika Dia sedang berada dalam minimarket dan memilih snack serta minuman. Lain halnya di mana Dia meninggalkan Mak nya tadi di trotoar.
"Duh lama banget si De, gak tau apa ini sudah mulau panas. Lagian beli apa saja sampai lama sekali, terus di sini sampai kapan menunggu." Mak Ita terus saja menggerutu, karena Mak Ita adalah tipe orang yang tidak suka menunggu.
Dengan mengibas-ibaskan tangannya, berharap rasa sejuk di dapatkannya. Namun lama kelamaan Mak Ita nendesis karena tangannya mulai merasakan kram.
Duh, Dia ini memang kebiasaan kalau udah di tempat belanjaan musti bikin orang naik darah. Gerutu Mak Ita dalam hati.
Mungkin sekitar tiga puluh menit Dia datang dan menghampiri Mak nya, dan menenteng dua buah kantong kresek berukuran besar.
"Nah ini nih orangnya! kamu tadi ketiduran apa lupa jalan sih," sungut Mak Ita dengan wahah kesalnya.
"Mak yang di beli itu banyak, makanya De lama." Ucapan Dia langsung membuat Mak Ita menghela nafas berat.
"Ya sudah buruan panggil tuh taxsi online. Mak cape jadi pajangan di trotoar," ucapan Mak Ita seketika membuat Dia tertawa terbahak-bahak. Meski Emak nya dengqn keadaan kesal, sifat humornya tidak bisa di hilangkan.
"Iya Mak ini mau di panggilin." jawab Dia.
Sambil menunggu pesanan taksi online datang, Dia mengambil roti dan sebotol minuman karena tiba-tiba saja kalau perutnya meminta hak nya.
__ADS_1