Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 61. Pertemuan Dia Dan Riki


__ADS_3

Tidak terasa usia pernikahan mereka sudah menginjak satu tahun.


Adi semakin mencintai Dia, karena ternyata cinta tulus yang ia berikan tidak sia-sia.


DI MINIMARKET.


Dia masih memilih barang apa saja yang di butuhkan untuk setok di rumah. Saat dirinya hendak mengambil minuman yang ada di cealer atau ( lemari pendingin) tiba-tiba saja ada tangan lain, mengambil barang yang sama dengan yang di pegang oleh Dia.


"Maaf." Ujar pria tersebut.


"Iya." Dia menimpali.


"Ya sudah silahkan ambil duluan," sergah pria itu.


Dia tidak menjawab dan bersikap acuh, karena memang itu tidak lah penting baginya.


Namun saat Dia berjalan untuk mengambil yang lain tiba-tiba saja lelaki itu memanggilnya.


"Tunggu!" teriak Lelaki itu.


"Iya, ada apa ya?" tanya Dia, karena masih belum menyadari lelaki tersebut itu siapa.


"De, apa kamu lupa denganku." Ternyata dugaan pria itu benar bahwa perempuan yang ada di sebelahnya adalah Dia.


"Elu." Dia cukup terkejut pasalnya sudah hampir satu tahun lebih dirinya tidak melihat lelaki yang menegurnya barusan.


"Iya ini saya." Ujar pria itu.


"Bagaimana kabar kamu? lama kita tidak berjumpa?" Pria itu berkata dengan tatapan yang tidak bisa di artikan lagi, semacam perasaan rindu ingin memeluk seseorang yang ada di dekatnya untuk melepaskan sesuatu yang ia tahan selama satu tahun ini.


"Seperti yang elu lihat." Jawab Dia dengan nada cuek, namun itu semua tidak menjadikan pria itu pergi.


"De, lama tidak berjumpa. Kamu bertambah cantik saja," puji pria itu. Pria yang bernama Riki tersebut kini sudah berubah menjadi sosok pria yang lebih maco dari sebelum satu tahun lalu.


"Apa elu sedang memujiku?" Dia menaruh satu jemarinya dan di letakkan di dagunya.


"Memangnya tidak boleh ya?" tanya balik Riki.


"Bukan begitu, gue cantik sudah dari sononya." Jawab Dia tanpa memperlihatkan senyuman sedikit pun.

__ADS_1


"Iya saya tahu itu, tapi setelah lama saya tidak melihat kamu. Kamu semakin bertambah cantik." Lagi-lagi Riki memuji Dia, sedangkan yang di puji hanya bisa diam, tidak ingin menimpali.


"Apa sudah selesai dengan pujian yang elu berikan barusan," ucap Dia. Memang banyak yang berubah dari tubuh seorang Dia, semenjak menikah dengan seseorang yang kaya. Gaya hidup, fasilitas, wajah, dan semuanya. Sudah ia dapatkan dari suaminya namun itu semua tidak menjadikan Dia seseorang yang lupa akan asal usulnya dulu.


"Saya ingin mengajak kamu minum di depan, apa kamu mau?" dalam hati Riki membatin berharap Dia mau.


De, semoga kamu meluangkan waktumu untuk saya sebentar. Ucap Riki dalam hati.


Setelah Dia menimang-nimang tawaran Riki, lalu ia setuju dan mengangguk. Merasa tidak enak karena di antara dirinya dan Riki tidak pernah bertemu maupun berkomunikasi lewat telepon atau jejaring sosial.


Riki tersenyum manis karena Dia, mau menemaninya untuk mengobrol.


Di depan teras minimarket terdapat cafe kecil untuk mereka yang ingin singgah sebentar. Dia dan Riki sudah duduk, namun hanya suara orang yang terdengar. Mereka masih menikmati kopi cup yang ia pesan, sehingga hanya ada keheningan yang tercipta di tengah-tengah mereka berdua.


Kenapa saya menjadi gugup begini ya? saat berdekatan dengan De, batin Riki.


Jika Riki sedang berperang dengan perasaannya. Lain halnya dengan Dia yang lebih banyak diam.


"De," panggil Riki


"Hem." timpal Dia, dengan tangan yang masih memegang cup yang berisi coklat hangat.


"Kriteria lelaki yang kamu inginkan seperti apa!" Imbuh Riki lagi, dan menatap dengan penuh harap.


"Yang paling utama bertanggung jawab, bisa ngelindungin gue dari semuanya tentunya." Jawab De, namun netra nya sama sekali tidak menatap lawan bicaranya.


Berarti masih ada harapan, buat saya mendekati kamu De, batin Riki.


Mereka mengobrol hampir satu jam, dan itu membuat Dia memutuskan untuk pulang karena takut, jika nanti suaminya akan mencarinya.


"Rik, gue pulang ya." Dia mencoba berpamitan pada Riki.


"Eum. Iya sudah hati-hati ya," ucap Riki.


Setelah berpamitan Dia langsung berjalan ke arah mobilnya untuk segera pulang. Sedang Riki penasaran di mana Dia tinggal akhirnya memilih membuntuti Dia dari belakang.


...----------------...


Dia sudah berada di halaman rumah, dan langsung memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Sedangkan Riki yang sudah susah paya membuntuti kini mengepalkan kedua tangannya saat dirinya melihat Dia. Tengah di sambut oleh sosok pria dewasa.


"Kenapa di kau tega kepadaku De, sakit hati ini sakit. Saat engkau lebih memilih orang kaya itu," Riki mirip bak orang gila di jalanan, frustasi dengan apa yang di lihatnya.


Ternyata Dia tak sebaik yang ia kira. Itu mengapa Riki menangis di depan rumah suami Dia.


"Ku kira madu yang engkau berikan, tapi ternyata racun yang engkau tuangkan. Kenapa nasibku malang sekali, niat memperjuangkan cinta eh yang ada hati ini terluka lagi." Riki berkata pada dirinya sendiri, sembari menatap pilu ke arah rumah tersebut.


Tak ingin bertambah sedih akhirnya Riki memilih pergi dari tempat di mana dirinya berada sekarang.


......................


*Kita tidak pernah tahu bahwa kelak akan berjodoh dengan siapa. Meski dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal sekalipun.


Jika cinta hadir membawa luka, maka pergilah sejauh mungkin. Agar mata serta hati tidak lagi merasa sakit.


Akan tetapi jika yang engkau berikan cinta yang nantinya akan membawa kebahagiaan maka, bawah kemari untuk aku kemas dengan rapi lalu ku simpan di hati. Dan biarkan menjadi abadi. Di sini di hati ini.


KEESOKAN PAGINYA*.


Jika sang embun menyapa dedaunan lalu memberikan sedikit tetesan air, maka Dia di sambut penuh cinta oleh Adi. Bagaimana tidak! saat Dia baru saja membuka kelopak mata namun sudah di suguhi oleh rasa haru.


Adi membangunkan Dia, dan membawakan segelas susu dan roti bakar untuknya.


Baper nih thor, boleh kali ya minta satu doang mirip kek Adi.


Sepertinya yang membuat cerita tingkat halu nya udah di tingkat level.


Ah sudah lah thor. Cus lanjut.


"Kesayangan suami, buruan bangun terus sarapan." Titah Adi pada Dia.


"Bentar lagi ya, Om suami." Meski Dia sudah membuka mata namun tetap saja dirinya merasakan malas yang luar binasa, aish. Maksudnya luar biasa.


Entah mengapa beberapa hari ini Dia merasakan tidak nyaman di bagian perut. Apalagi kalau pagi menjelang rasa tidak nyaman itu selalu hadir.


"Om suami kenapa aku ingin sekali makan bubur ayam ya, sama cilok." Dia berkata dengan mimik wajah yang memelas.


"Memangnya kamu akan menghabiskan itu semua jika suamimu ini membelikannya?" tanya Adi dengan mengangkat kedua alis tebalnya itu.

__ADS_1


"Tentu."


__ADS_2