Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 88. KETIKA KASTA JADI PENGHALANG


__ADS_3

Pertemuan di antara keduanya menimbulkan perasaan yang membuat hati mereka berdekup kencang saat bertemu.


Semakin akrab dan bisa di bilang tidak seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada pertengkaran hanya ada rasa nyaman yang di rasakan oleh mereka berdua.


Sejauh ini hubungan mereka semakin dekat, akan tetapi setiap kali Haikal mengutarakan perasaannya terhadap Indah, Indah selalu menolak dengan alasan jika dirinya tidak pantas bersanding dengannya, dan itu membuat Haikal menyerah dan pergi tanpa kabar.


Saat Ini Indah sedang bersama dengan Dia, Indah meminta bertemu dan jadilah mereka sekarang berada di taman.


"Elu ada apa tiba-tiba minta ketemuan?" tanya Dia dengan perut yang sudah besar, tinggal menunggu waktu untuk kelahiran calon anak Dia dan Adi.


"Gue galau De," ucap Indah.


"lha elu bisa galau juga." Dia menjawab dengan alis yang terangkat.


"Emang elu kira gue gak punya hati sama perasaan apa!" seru Indah.


"Kali aja elu kagak punya." Jawab Dia dengan santai.


"De, gue mau curhat dikit." kini tatapan itu berubah menjadi serius dan Dia pun menyimak serta mendengarkan curhatan oleh sahabatnya itu.


"Cerita saja. Gue siap dengerin," ucap Dia dengan memegang salah satu jemari Indah.


"Asisten suami elu ... Apa gue terlalu jahat sama dia," ucap Indah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maksud elu ... Jangan bilang kalau si kodok itu suka sama elu, dan elu nolak."


Dia menatap nanar ke arah Indah, untuk mencari sebuah jawaban.


Indah pun hanya tertunduk saat sebuah pertanyaan melayang kepadanya.


"Kenapa gue bisa kecolongan, dan sejak kapan kalian saling dekat?" tanya Dia dengan raut wajah yang serius.


"Se--semenjak acara empat bulan di rumah elu." Jawab Indah dengan suara terbata.


Kini mereka berdua saling berdiam dengan pikiran masing-masing.


Sepertinya gue harus minta bantuan sama suami gue yang tampan itu, supaya Indah dan si kodok itu bisa bersatu sama Indah, gumam dia dalam hati.


Jujur gue udah mulai ada perasaan sama Haikal, namun satu hal yang ngebuat gue harus mundur, Indah merasa kalau dirinya tida pantas karena


Keadaan keduanya sangat berbalik.


"Ndah," panggil Dia.


"Iya." Jawab Indah.

__ADS_1


"Apa elu juga cinta sama Haikal?" tanya Dia.


"Entah mengapa perasan nyaman itu tiba-tiba datang, tadinya gue menyangkal kalau untuk jatuh cinta sama itu orang tidak akan mungkin. Nyatanya semua berbalik dengan apa yang gue ucapin, gue nolak cinta Haikal karena gue ngerasa gak pantes sama dia saja De, lagian dia orang berkasta sedangkan gue ... Gue hanya seorang yatim piatu dan seorang yang miskin." Dengan suara gemetar Indah berkata.


"Ndah, apa menurut elu gue orang berpunya, tidak Ndah! Gue seorang miskin. Terus apa bedanya elu sama gue! yang membedakan gue punya emak, selebihnya nasib kita sama."


Indah tertunduk lesu kala Dia mengatakan kalau dirinya juga berasal dari orang tak punya, hanya saja keberuntungan tengah berpihak kepadanya. Memiliki suami dan mertua yang sangat menyayanginya, tak pernah terbesit di pikirannya. Yang Dia tahu seperti yang sudah di ceritakan di novel-novel kalau mertua itu jahat dan suka menindas. Nyatanya Dia memiliki banyak keberuntungan saat menikahi duda somplak seperti suaminya, Adi.


"Maaf, bukan sengaja gue...."


"Sudah lah Ndah, elu juga bakal kek gue nanti." Sela Dia.


"Sebelum Haikal pergi jauh, dan meninggalkan luka yang elu buat sendiri. Mending sekarang elu coba untuk menerima dan menjalaninya lebih dulu," ucap Dia dengan netra yang terus saja menatap ke arah Indah.


"Apa dia bakal mau nerima gue lagi, setelah beberapa kali gue nolak dia." Indah tidak yakin kalau Haikal mau menerimanya kembali, setelah di buat hancur hatinya oleh Indah.


"Elu belum coba kan," ujar Dia.


Sedangkan Indah hanya menggelengkan kepala.


"Ternyata di tinggalkan di saat, kita sudah mulai menyadari itu sakit ya."


"Bukannya itu kata yang pernah elu ucapkan ke gue dulu kan," ujar Dia mendengus kesal.


"Eh, iya." Indah tak jadi sedih saat dirinya teringat akan wejangan yang pernah di berikan pada sahabatnya dulu, nyatanya sekarang malah dirinya sendiri yang merasakan.


Mereka berdua masih asik berbincang di taman sekaligus melepas rindu, karena semenjak hamil Dia sudah jarang keluar dan tak pernah bertemu dengan sahabatnya.


...****************...


SEDANGKAN DI TEMPAT LAIN.


Terdapat dua lelaki sedang duduk sembari mengobrol, hingga Haikal mengatakan akan perasaannya yang sedang tidak karuan.


"Di," panggil Haikal pada Adi.


"Apa kamu dulu pernah kesusahan saat mendapatkan hati istri kamu?" tanya Haikal dengan mimik muka yang serius.


Sejenak Adi memandangi wajah teman yang telah menemaninya dari nol dalam membangun usaha.


"Apa kamu sedang mengalaminya," ujar Adi.


"Iya." Jawab Haikal dengan wajah lesu.


"Jadi beberapa minggu ini kamu tidak fokus karena patah tulang, eh maksudnya patah hati." Jelas Adi pada Haikal.

__ADS_1


Ck.


Ck.


Haikal berdecak karena kesal, karena Adi meski banyak masalah tak pernah melupakan kegilaannya.


"Kamu ya sesekali serius kenapa sih," sungut Haikal menimpali.


"Lagian kamu seperti perempuan saja, terlalu lebay tau tidak."


"Kamu itu seperti tidak pernah merasakan saja," ujar Haikal menyahuti ucapan Adi.


"Lagian kalau kamu suka kenapa gak di ungkapin, semakin kamu tahan semakin gampang kamu mati lho." Perkataan Adi seketika membuat Haikal menatapnya.


"Apa maksudnya."


"Semakin elu tahan semakin hati kamu sakit, nah kalau udah sakit mati kamu." Adi berkata sembari menyesap kopi yang berada di tangannya.


"Kamu ya, kapan seriusnya kalau bercanda mulu," dengus Haikal pada Adi.


"Lagian kamu, tinggal ungkapin kenapa!"


"Sayang nya sudah di tolak duluan sama itu perempuan." Jawab Haikal dengan perasaan berat.


"Memangnya apa kurang kamu sampai-sampai cewek itu nolak kamu?" tanya Adi yang mulai penasaran dengan nasib percintaan Haikal tentang perempuan yang di ceritakan barusan.


"Merasa orang miskin dan dia juga, seorang yatim piatu." Jawab Haikal dengan wajah tidak bersahabat.


"Cinta mengalahkan segalanya, karena kebersamaan itu simpel."


"Nyatanya udah ke-empat kalinya aku di tolak dengan alasan yang sama." Terang Haikal pada Dia.


"Lantas sekarang mau kamu bagaimana," ujar Adi.


"Aku sangat mencintainya namun takut untuk di tolak lagi." Jawab Haikal.


"Kalau kamu serius, maka teruslah mengejar sampai kamu dapatkan, namun kembali lagi ke hati masing-masing.


" Indah, nama panggilannya adalah Indah, Di." Ketika Haikal mengatakan nama Indah, sontak Adi langsung menoleh.


"Karyawan kamu," beber Haikal.


"Jadi Indah sahabat istriku?" tanya Adi memastikan.


"Astaga, kenapa aku bisa kecolongan oleh kalian sih."

__ADS_1


Adi tidak menyangka kalau haikal akan mencintainya Karyawannya itu.


__ADS_2