
Dirasa sudah tidak ada yang dikatakan Dia dengan segera membayar ruko yang dijual oleh Riki.
"Kita deal," ucap Dia.
"Deal." Jawab Riki.
Akhirnya pembayaran pun lunas, dan Dia segera berpamitan pada Riki karena ia tidak mau jika ada orang melihat, bukan masalah itu. Lebih tepatnya dirinya tidak mau nanti ada fitna hingga akhirnya membuat rumah tangganya retak.
"De," panggil Riki sebelum seseorang itu pergi menjauh darinya.
"Iya." Dia pun menoleh.
"Bisakah kita makan siang bersama." Riki mencoba memberanikan diri berharap jika Dia mau.
"Maaf, bukan maksud gue nolak tapi. Gue takut kalau akan menimbulkan fitnah secara kita semua sudah bersuami," ujar Dia menjelaskan.
"Baiklah, aku mengerti. Ya sudah kalian hati-hatilah di jalan," ucap Riki pada Dia.
"Iya, terimakasih." Jawab Dia, lalu ia berjalan ke arah motornya berada.
Setelah kepergian sosok yang pernah kagumi selama bertahun-tahun hingga sekarang pun Riki masih tetap mengagumi perempuan yang sudah bersuami.
"Apa aku salah mencintai dan tetap menyimpan rasa ini," gumam Riki dalam hati.
Riki masih diam mematung, pikirannya masih terpenuhi oleh nama Dia.
Sekitar setengah jam. Akhirnya Riki pergi meninggalkan tempat di mana ia bertemu dengan Dia.
Sedangkan di sisi lain. Dia diam setelah bertemu dengan Riki.
"De, kamu ada masalah?" Indah yang tak tahan akhirnya bertanya.
Dia masih diam. Dalam benaknya mengapa dirinya harus dipertemukan dengan lelaki yang pernah mencintainya.
"De," tegur Indah lagi.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Dia.
"Ceritalah, siapa tahu dengan begitu kamu merasa lega." Indah mencoba memberi tempat untuk Dia bercerita, melihat sahabatnya seperti itu membuat Indah sedih.
"Namanya Riki, jauh sebelum gue nikah sama suami gue. Riki sudah hadir lebih dulu," ujar Dia.
"Jadi…."
"Iya, berulang kali gue nolak dia karena waktu itu Riki menyatakan cinta tepat setelah gue resmi menyandang, seorang istri." Jelas Dia.
"Tapi kamu sebetulnya punya perasaan juga kan sama dia?" tanya Indah yang masih penasaran dengan masa remajanya.
Saat Indah bertanya Dia hanya, dan belum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Indah.
"Itu hanya masa lalu, sekarang kehidupan gue dah berubah." Jawab Dia.
"Iya seharusnya kamu memang punya pikiran seperti itu. Jangan menoleh kebelakang kalau di depan mata yang jauh lebih segalanya," ucap Indah.
__ADS_1
Dia hanya mengangguk dan tidak ingin menyahuti lagi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dirasa sudah sedikit lega, Dia pun berdiri dan hendak mengecek pekerja yang berada di belakang.
"Mau ke mana?" Indah menghentikan Dia yang sedang berjalan.
"Mau ngecek anak-anak di belakang." Jawab Dia.
"Lu duduk saja! biar gue yang lihat," ucap Indah.
"Terserah." Akhirnya Dia pasrah dan kembali duduk.
Hampir seharian berkutat di depan komputer, tanpa disadari hari pun sudah menjelang sore.
"Ndah, pulang." Dia memanggil Indah untuk diajaknya pulang karena sekarang sudah pukul empat sore.
"Eum, lu duluan. Gue masih nunggu laki gue jemput," ucap Indah menolak karena dirinya akan pulang bersama sang suami.
"Yaudah gue duluan ya." Dia berjalan keluar sambil melambaikan tangan.
Tidak membutuhkan waktu lama, Dia sudah berada di rumah.
"Kok sepi, apa Cahaya belum pulang dari main." Dia berkata lirih sembari masuk ke dalam rumah.
Ternyata dugaannya salah, ternyata sang putri berdada di ruang TV.
"Gak Ma, tapi bentar lagi mau pergi. Bolehkan," ucap putri semata wayangnya itu.
"Boleh, tapi ingat! sebelum magrib kamu sudah berada di rumah." Jawab Dia, Dia tidak pernah mengekang Cahaya selama ia bisa mentaati peraturan yang di buatnya.
"Siap Mamaku sayang," ucap Cahaya sambil tersenyum.
"Ya sudah Mama mau ke atas dulu, lalu masak buat kita makan malam. Setelah berucap Dia pun naik ke atas untuk berganti pakaian.
Kini Dia sudah berada di dapur dan mulai berperang dengan alat masak, terdengar suara dari arah depan teriakan Cahaya yang selalu seperti itu.
" Cahaya, apa kamu tidak bisa datang ke dapur lalu berpamitan dengan benar!" seru Dia pada sang putri yang pada akhirnya Dia menghampiri Cahaya, yang sedang berpamitan dengan cara berteriak.
"Maaf Ma, lain kali tidak akan di ulangi lagi." Jawab Cahaya sambil cengengesan.
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit keluar sama temen-temen." Setelah mencium tangan sang mama Cahaya keluar dan mengeluarkan motor bersejarah milik orang tuanya.
Bersamaan dengan Cahaya, deru mobil milik Adi baru saja terparkir dan segera menyapa anaknya.
"Ay, kamu mau kemana?" tanya Adi pada putrinya.
"Mau keluar Yah bentar, soalnya udah janji sama temen." Jawab Cahaya.
"Mau main di mana?" tanya Adi lagi.
"Mau ke cafe Yah, temen ada yang ultah jadi kita mau rayain."
__ADS_1
"Oh iya, minta uang dong. Takut kurang," Imbuh Cahaya lagi.
"Berapa?"
"Seikhlasnya," ujar Cahaya.
Sesaat Adi membuka dompet dan memberikan uang pada cahaya, bukannya berterimakasih yang ada Cahaya malah marah.
"Ayah! apa Ayah pikir aku mau bayar parkir," ucap Cahaya dengan wajah kesalnya.
"Kamu sendiri kan yang bilang kalau seikhlasnya," ujar Adi menimpali.
"Ya gak lima ribu juga kali, Yah." Jawab Cahaya dengan memonyongkan bibirnya.
"Makanya kalau ngomong itu yang benar, giliran dikasih dikit protes!" seru Adi sembari menggelengkan kepala.
"Jadi mau berapa?"
"Dua ratus saja, buat jaga-jaga." Jawab Cahaya yang kini wajahnya berubah menjadi sumringah.
Akhirnya Adi mengambil uang pecahan lima puluh dan diberikan pada Cahaya.
"Makasih, yah."
Setelah itu Cahaya pamit tidak lupa mengcup tangan sang ayah.
Huf.
Adi masuk ke dalam rumah dengan suara hembusan nafas berat.
"Dasar anak muda jaman sekarang, minta uang seperti minta lollipop saja." Adi menggerutu di sepanjang pintu masuk hingga sang istri menegurnya.
"Sudah mirip orang gak waras kamu itu, ngomong sendiri." Ucapan Dia sontak membuat Adi menoleh.
"Anak kamu! minta uang kek minta permen." Jawaban Adi membuat Dia melotot.
"Bukannya itu anak baru saja minta dua ratus ribu, kok sekarang minta lagi," batin Dia dengan meletakkan satu jarinya di dagu.
"Jangan bilang kalau Cahaya tadi sudah minta uang sama kamu," ucap Adi lagi.
"Emang iya." Jawab Dia.
"Dasar itu anak," umpat Adi.
Sejenak Adi melupakan akan anaknya karena tiba-tiba saja perutnya merasa lapar.
"Sayang, aku lapar." Adi berkata dengan cara menghadap istrinya dan tidak lupa memegang perutnya juga.
"Tumben jam segini kamu lapar, By?" tanya Dia yang merasa heran.
"Aku melupakan makan siangku tadi," terang Adi.
"Kenapa tidak makan di luar saja." Jawab Dia yang merasa aneh, kenapa suaminya tidak makan di rumah makan saja malah membawa perut laparnya pulang.
__ADS_1