KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*Diary Neta*


__ADS_3

happy reading..


Neta yang sedari tadi ketiduran langsung kaget mendengar suara benda jatuh.


BRUKKK...


"Hemm ada apa kok ribut banget sih?" Ucap Neta dengan mata yang masih menutup, dan langsung duduk, meskipun sekarang ini dia masih belum sadar dengan penampilannya.


"Maaf nona, kami hanya ingin membuang benda yang sudah lama tidak di pakai," sahut kepala pelayan dengan nada hati-hati.


Neta berusaha mengumpulkan nyawa nya. "Benda apa?" Tanya Neta duduk di tepi ranjang, dan melihat-lihat barang tersebut.


"Ini nona buku-buku yang sudah lama tidak di pakai, dan juga buku diary yang biasa non gunakan sepulang sekolah," Memperlihatkan kepada Neta, Neta mengambil buku itu dan mengamatinya. "Diary?" Neta masih belum paham. "Iya nona buku diary, biasanya nona menulis abis pulang sekolah," Jawab pelayan itu dengan nada heran.


Neta hanya manggut-manggut seolah mengerti apa yang di katakan pelayan tadi .."Kaya ya aku bisa mencari alasan kenapa dia bisa di bully dan meninggal," batin Neta.


"Ya sudah buku ini tinggalkan saja, yang lain bawa keluar," kata Neta membuka-buka buku diary itu.


"Baik nona," jawab kepala pelayan mereka kembali, melakukan kegiatan mereka.


"Gue penasaran apa aja di dalam buku ini," Neta membuka buku diary, dia sangat terkejut apa yang dia lihat.


"A... a... apa... apaan ini!!" menutup mulutnya karena terkejut, setelah dia membaca di awal kalimat.


Der diary.


Aku sangat senang pulang sekolah, karena aku bisa bebas dari mereka yang membully ku. Tapi aku salah, malah penderitaan ku baru di mulai saat pulang sekolah itu.


Aku di seret ke gudang belakang sekolah, aku di pukuli yang tidak tau ke salahan apa yang aku perbuat. Di tendang tubuhku sampai aku terhantam dinding, kadang aku di kurung 2 jam di gudang sebelum akhirnya aku di bebaskan. Aku takut, aku ingin minta tolong, tapi tidak ada yang bisa menolong ku.

__ADS_1


Aku diam saat mereka bilang anak miskin, karena aku tidak ingin mereka tau siapa aku sebenarnya. Cupu dan norak cara aku berpakaian, mereka juga menulis di meja dengan tulisan yang tidak pantas, merobek buku ku di depan teman sekelas. Bahkan mereka mereka sering mengotori bajuku, kadang buku mereka sobek di hadapan teman-teman sekelas.


Mereka sering mengeluarkan kata-kata menjijikkan, yang tidak pantas mereka ucapankan dan di dengar. Aku hanya berdiam diri saja, percuma selama ini aku belajar bela diri, tapi aku tidak bisa melawan mereka berempat.


"Tunggu kok berempat, yang satunya siapa? Apa aku harus mencari tahu," Gumam Neta, dan melanjutkan membawa diary tersebut.


Aku ingin bilang sama keluarga, tapi aku takut, aku takut mereka akan berbuat olah. Aku tidak ingin orang lain tau siapa diriku yang sebenarnya, aku tersiksa setiap hari harus di bully, aku lelah rasanya aku tidak ingin hidup lagi.


Bagiku satu detik menghabiskan waktu sekolah, sama saja 1 tahun aku di siksa sama mereka.


Setelah mereka selesai mengurung ku, Mereka menampar ku, bahkan aku di lelepkan di wastafel yang di isi dengan air bekas pel. Aku tidak bisa bernafas, pusing, dan aku hanya bisa menangis dan meminta maaf ke mereka.


Itu yang tiap hari aku lakukan atau lebih tepatnya sebagai rutinitas mereka untuk membully diriku.


Aku pikir, kalau aku diam, mereka akan berhenti dengan sendirinya. Tapi aku salah, malah mereka semakin parah menyiksa ku,


setiap pulang ke rumah aku selalu menunduk, dan tidak berani menatap orang rumah.


"Bodoh, kenapa kamu tidak katakan saja," Ucap Neta dalam Isak tangisnya.


Aku menghindari pandangan orang-orang di rumah. Tentang masalah ku dan aku mengurungkan diri di kamar, aku ingin bebas, aku ingin mengakhiri nya tapi aku takut mati, takut membuat keluarga malu, marah, dan membuat mereka kecewa padaku. Aku sayang dengan mereka.


Aku ingin menjaga mereka, sebagaimana mereka menjagaku dan mencintai ku, tapi aku tidak berani bergaul dengan keluarga, aku takut mereka tau masalah ku.


Aku ingin membalas dendam kepada mereka kelak, tapi apa yang bisa aku buat aku, hanya seorang diri sedangkan mereka banyak.


aku takut siapa pun tolong aku.


Februari ..23 ..

__ADS_1


"Sampai di sini dulu, besok akan aku lanjutkan lagi bacanya, sekarang aku harus mencari awal mulanya dia di bully," Ucap Neta menghapus air matanya.


"sungguh kejam mereka, tapi tenang saja Neta, semua akan baik-baik saja, karena aku tidak akan membiarkan di sentuh oleh mereka. Coba aja kalo berani, aku cincang mereka seperti cacing pengal," kata Neta berapi - api menahan amarah, kalo ada yang melihat mungkin akan lari terbirit-birit.


Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu dari pelayan.


"Masuk," teriak Neta, dia segera menghapus air matanya, dan menepuk-nepuk Pipinya.


"Maaf nona, anda mau mandi apa mau makan terlebih dahulu?" tanya pelayan itu yang sekarang berada di hadapan Neta.


"Mandi aja," Kata Neta yang sudah bersiap-siap ingin mandi.


"Baik nona," berlalu memasuki kamar mandi.


"Sudah nona, mau kami mandikan?" Tanya pelayan. "Tidak usah, aku bisa sendiri." Jawab Neta dengan tersenyum. "Baiklah nona kalau begitu kami permisi," membungkukkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka, yaitu membersihkan kamar Neta.


"Hemm.." Jawab Neta yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.


"Kenapa kamu masih bertanya itu, sudah pasti kita di tolak," Ucap pelayan wanita yang sudah lama mengurus rumah Neta.


Neta menempelkan telinganya di balik pintu. "Aku tau itu, sejak nona masuk SMP sikap nona berubah, lebih pendiam, dan biasanya dia dengan senang hati kita mandikan, tapi sekarang," Ucap pelayan itu dengan nada sedih.


"Iya juga sih," Ujarnya mengiyakan apa kata pelayan itu.


Neta menghela nafas dan menatap dirinya di cermin.


"Mau mandi saja di siapkan, bahkan ingin di mandikan di kira aku anak kecil apa. Ih tunggu, kalau aku aja begini apa lagi Kaka gue yang lain, Oh my God!!" Mata Neta terbelalak memikirkan itu semua dan langsung menggeleng kepalanya agar pikiran mesumnya hilang.


"Beruntung sekali para pelayan itu," Kata Neta lagi, dan mengambil sikat gigi.

__ADS_1


Saat Neta membuka handuk, betapa terkejutnya dia, melihat tubuhnya di penuhi luka lembam. "Pantesan Neta tidak ingin di mandikan, dia tidak ingin orang lain tau luka di tubuhnya ini. " Gumam Neta menatap dirinya di cermin begitu banyak luka di depan dan di belakang tubuhnya.


"Akan aku balas kalian, tunggu saja." Batin Neta memandang dirinya di cermin dengan mata yang penuh kebencian.


__ADS_2