KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
78. Dokter Gus


__ADS_3

Viona melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia melewati jalan yang tidak terlalu padat, karena menunjukkan jam makan siang jalan utama sangat macet.


Dia sangat khawatir, setelah mendapat kabar dari Leo. Jika Raka masuk Rumah Sakit, yang katanya tiba-tiba pingsan saat dia baru saja sampai di Restoran Seafood milik Viona.


Kebetulan Leo sudah menunggunya di kedai kopi, dan masih sempat keduanya saling sapa jadi dia langsung membawanya ke Rumah Sakit dengan bantuan Sopir. Leo juga khawatir sampai lupa mengabari siapa-siapa, dia baru menelpon Viona setelah Dokter selesai melakukan pemeriksaan.


Tiba di rumah sakit, Viona segera mencari ruangan di mana Raka dirawat. Dia berjalan sedikit cepat dan melihat Leo yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Kak apa yang terjadi? Bagaimana kondisi Kak Raka? Apa dia baik-baik saja?" tanya Viona beruntun saat dia tiba di depan Leo.


"Li kamu tenang dulu!" balas Raka menenangkan Viona yang terlihat sangat cemas dan menarik tangan Viona duduk di sampingnya. "Bang Raka baik-baik saja, kata Dokter dia hanya kecapean" lanjutnya.


Viona menghela nafas panjang, tapi tiba-tiba dia merasa bersalah. Pasti Raka kecapean mengurus Perusahaan pikirnya. "Apa Kak Raka sudah sadar?"


"Hmm, sudah kok, saat ini dia sedang tidur!" Makanya aku duduk di luar, takut mengganggu istirahatnya" balas Leo jujur.


"Kalau begitu, biarkan saja Kak Raka istirahat! Nanti aku masuk setelah dia bangun" ujarnya sama, tidak ingin mengganggu. "Oh iya Kak, aku ke sana dulu mau urus Administrasinya. Kak Leo bisakan di sini dulu?"


"Kamu tenang saja Li! Aku akan berjaga dan menunggumu di sini" Dia akan menamani Viona menajaga Raka.


"Terima kasih Kak!" ucapnya sambil beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Leo tanpa menunggu balasan.


Viona berjalan menuju ruang Administrasi, dia sudah tau letaknya, entah sudah berapa kali dia ada di Rumah sakit itu.


"Eh nona yang waktu itu kan?" tanya Dokter sambil melihat Viona yang sedang mengurus pembayaran.


Viona menoleh melihat Dokter, dia mengingat wajah Dokter yang menyapanya itu. "Ehh Dok! Iya nih kita berjumpa lagi, ternyata Anda masih mengingat saya heheh" balas Viona canggung. Dia bingung harus bilang apa.


"Kan belum lama waktu itu, jadi saya masih mengingat wajah nona" balas Dokter dengan ramah. Dia memang terkenal di Rumah Sakit itu sebagai Dokter yang paling baik sampai di juluki Dokter ramah. Padahal namanya Dokter Gus.


"Kalau boleh tau siapa yang sakit? Ohh astaga saya lupa, kan saya yang menengani Kakak kamu kemarin. Tapi bukannya dia sudah pulang tadi pagi ya? Bersama temannya" tanya Dokter.


Viona makin bingung mendengar hal itu. Kemarin? Bukankah Raka baru saja masuk Rumah Sakit dua jam yang lalu. "Iya Dok Kakak saya lagi sakit. Tapi dia baru saja masuk Rumah Sakit, bukan kemarin" jelas Viona.


Kali ini sang Dokter yang bingung. Jelas-jelas dirinya yang menengani pria yang sama waktu itu di mana Viona mendonorkan darahnya. "Loh, jadi yang kemarin siapa?"


"Mungkin Dokter salah liat kali. Ya sudah Dok aku pamit ke kantin dulu ya mau beli makanan" kata Viona berpamitan. Karena dia yakin Leo dan Raka belum makan sama sekali.

__ADS_1


Sang Dokter mempersilahkan, karena dia juga ingin melanjutkan pekerjaannya. Tapi dia masih memikirkan pemuda yang dia tangani kemarin siang.


"Dok ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu petugas Administrasi yang melihat Dokter hanya melamun melihat kepergian Viona.


Dokter Gus sedikit terkejut. "Hmm kalau boleh tau siapa nama pasien saudara dari wanita yang tadi?" tanya Dokter balik.


"Nama Kakaknya Raka Prayoga Dok!" jawabnya sambil melihat kembali nama pasien.


"Oh yasudah terima kasih" Dokter langsung pergi ke ruangannya. Mungkin wanita itu memiliki saudara laki-laki yang lain pikirnya.


...----------------...


"Bagaimana apa tugas kalian berjalan dengan lancar?" tanya pada anggotanya.


"Lancar Bos, sesuai perintah!" balasnya dengan menunduk. Entah kenapa dia sangat takut jika berhadapan dengan Bosnya.


"Tapi kalian tidak membuatnya celaka sampai mati kan?"tanyanya lagi.


"Tidak Bos, hanya lecet sedikit!" ulangnya. Padahal tadi dia sudah bilang sesuai perintah.


...----------------...


"Huff akhirnya keluar juga dari Rumah Sakit!" kata Rian sambil duduk di Sofa setelah tiba di Apartemennya.


"Semoga tidak ada yang ketiga kalinya" gumam Tomi pelan tapi masih kedengaran sampai di telinga Rian.


"Eh Tom, ini bukan aku yang mau ya! Namanya juga musibah mana ada yang tau" sahutnya jengkel.


"Hehehe sori hanya bercanda. Tapi masalahnya apa yang harus kita katakan kepada Tuan, jika dia Vidio Call dan melihat jidatmu yang ada kain kasanya itu. Apa kita harus berkata jujur?"


"Janganlah, bisa-bisa kita di suruh pulang hari ini juga. Tapi tumben mereka tidak menelpon kemarin, hanya mengirim pesan."


"Baguslah, jadi kita tidak perlu berpikir mencari alasan yang tepat" kata Tomi


"Iya juga sih. Tapi, tidak biasanyakan. Jika hari ini tidak menelpon lagi. Besok aku yang akan menelponnya takut terjadi sesuatu di sana."


Tomi menganggukan kepalanya. Dia sependapat dengan Rian. Sekitika dia menjadi khwatir jika benar terjadi sesuatu.

__ADS_1


...----------------...


"Kak apa ada yang sakit?" tanya Viona pada Raka setelah mereka makan siang bersama.


"Tidak ada Dek, kan Dokter bilang cuman kecapean" balasnya sambil mengusap kepala Viona yang duduk di samping brankarnya.


"Maaf" sahutnya lagi sambil menunduk. Viona benar-benar merasa bersalah. "Ini semua salahku, membebani Kak Raka dengan pekerjaan yang banyak!"


"Jangan bilang seperti itu. Itulah tugas seorang Kakak. Lebih baik aku yang kecapean, dan banting tulang. Daripada aku melihatmu seperti itu."


"Tapi tetap saja!" bela Viona yang masih menyalahkan dirinya.


"Ehh jangan gitu dong. Ini bukan salah kamu kok. Sebenarnya Kakak yang salah tidak memperhatikan kesehatan, hanya kerja dan kerja sampai lupa waktu" jelasnya agar Viona tidak lagi menyelahkan dirinya.


"Kalau begitu, aku akan mencarikan Asisten pribadi buat Kakak!" kata Viona dengan serius.


"Untuk apa Dek? Kan sudah ada Aldi, dan juga orang-orang kepercayaan di kantor" tanya Raka bingung, untuk apa seorang Asisten lagi.


"Ya Kak! aku tau, tapi mereka hanya membantu Kakak di Perusahaan atau masalah pekerjaan. Yang aku mau Asisten pribadi. Dia yang mengurus semua keperluan Kak Raka, mulai dari pakaian, makan dan yang lainnya. Dia juga yang akan menjadi alarm di manapun Kak Raka berada."


"Astaga Dek, jangan terlalu berlebihan. Kakak masih mampu kok untuk melakukan semua itu. Lagipun mana ada orang yang mau jadi budak 24 jam seperti itu."


Viona hanya tersenyum. Entah apa arti dari senyumnya itu, hanya Tuhan dan dia yang tau. "Kak Raka tenang saja, aku sudah ada kandidatnya. Setelah Kak Raka sembuh nanti dia langsung bekerja dan menjadi Asisten Kak Raka."


"Hmm terserah kamu Dek! Kakak akan menurut jika itu membuatmu senang dan bahagia."


Viona memeluk Raka dan berkata. "Cepat sembuh, jangan membuatku Khawatir lagi!"


Raka membalas pelukan Viona. "Hehehe baik Adikku sayang. Oh iya jangan sampai Nora tau hal ini." ucapnya setelah melepas pelukannya.


Viona mengerti maksud Raka. Dia tidak ingin membuat Nora juga bersedih, Nora paling tidak bisa melihat orang sakit dia akan menangis sejadi-jadinya. "Kakak tenang saja! Semuanya aman."


Leo yang duduk di sofa hanya menjadi pendengar setia. Dia sangat kagum melihat keduanya. Mereka saling sayang melebihi saudara kandung.


#Jangan lupa mampir di Novel kedua Outhor.


#GADIS DESA

__ADS_1


__ADS_2