
"Aku tidak mengenalnya, dan jangan bawa-bawa orang lain dalam masalah ini!" ucapnya tegas.
"Wah wah, Lukas Lamino kau sungguh biadab. Kau menganggap Istrimu sendiri sebagai orang lain" balas Viona sambil menyebut nama asli Tuan King.
Dia makin terkejut dan sedikit tampak khawatir, tapi seketika dia merubah raut wajahnya setenang mungkin. "Jadi apa yang kau inginkan?"
Viona malah emosi mendengar pertanyaan itu, kenapa Tuan King tidak pekah dengan perasaannya? "Apalagi jika bukan membunuhmu, itupun belum sebanding apa yang sudah kau lakukan selama ini."
Braaakk
Tuan King melempar tongkat besi yang berada di tangannya. "Apa katamu ha? Tidak sebanding? Jadi aku harus diam saja, jika aku mengetahui siapa yang sudah membunuh Ibuku!"
"Ya, Kakekku memang yang membunuh Ibumu, tapi kau juga sudah membunuh Ibuku Laras dengan memperdaya si Mira dengan Sadow, iming-iming harta yang berlimpah."
"Apa itu belum cukup ha? Sampai kau melukai semua anggota keluargaku, menghantuinya setiap hari, sampai mereka tidak bisa hidup dengan tenang" balas Viona menggebuh-menggebuh.
"Itu belum cukup, jika aku belum puas, hahaha" ujarnya tidak bersalah sedikitpun.
Tuan King terlihat memberi kode, dan seketika itu juga Anak buahnya masuk dari berbagai arah memenuhi aula itu dengan senjata yang sudah siap siaga.
Viona tidak takut sama sekali, karena dia sudah berpengalaman berada di posisi seperti itu, menghabiskan puluhan musuh dengan sendirinya. Tapi kali ini dia tidak boleh gegabah, karena nasib keluarganya berada di tangan Sadow.
Viona bukannya tidak memberi penjagaan ke pada keluarganya di pagi itu sebelum semuanya meninggalkan menssion. Tapi dia memang sengaja membiarkan para Anak buahnya kalah, agar mereka bisa melihat langsung dalang dari akar permasalahan.
Terlihat Tuan King mendekat ke pada keluarga Viona, hanya sekali tepuk semua terbangun, penutup mata dan mulut juga sudah terbuka.
Semuanya terkejut melihat banyak orang yang berbaris rapi dengan masing-masing senjata, makin terkejutlah ke dua orang tua Viona saat melihat dirinya. Tapi mereka tidak mengenali saat melihat Tuan King.
"Nak apa yang terjadi? Kenapa kita berada di tempat seperti ini. Dan siapa mereka semua?" tanya Momy Jeny.
"Apa kamu terluka Nak?" Tuan Jack juga bertanya.
"Mom, Dad, tenang saja! Jangan khawatir! Aku akan membebaskan kalian dari sini" balasnya merasa sedikit legah, karena keluarganya semuanya masih hidup.
"Tapi siapa mereka Nak?" tanyanya lagi.
"Hahahah apa kamu sudah melupakanku Jeny?" sela Tuan King bertanya sambil tertawa.
Jeny menatap Tuan King, karena matanya tertutup sebelah dia tidak bisa melihatnya dan mengingatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Padahal sampai sekarang aku masih mengingatmu, mengingat semua kenangan manis dan pahit saat kita bersama, bahkan sampai sekarang perasaan itu masih ada!"
Deg
Momy Jeny terkejut, hanya klu seperti itu dia sudah tau siapa orang itu. Karena dia hanya memiliki satu kenangan bersama lelaki sebelum dia bersama Jack.
"Lucas!" sahutnya.
"Waahhh, akhirnya kamu mengingatku. Aku sangat merasa bahagia bisa melihatmu lagi hahahaha"
"Apa yang kau inginkan ha? Oh atau jangan-jangan kamu yang menculik dan menyandra kami seperti ini? Dasar pengecut!" ucap Momy Jeny berkata kasar. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan orang masa lalunya.
Tuan King tidak terima mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut Momy Jeny. Dia jalan mendekat dan mencengkramnya kuat. "Jaga ucapanmu jika Anakmu ingin selamat!"
Viona marah dan langsung berlari melihat tindakan Tuan King yang seenaknya menyentuh Momynya.
Buuggghh
Satu tendangan mendarat di bokongnya, sampai terjatuh ke lantai. "Jangan pernah menyentuh Momyku lagi dengan tangan kotormu itu!"
"Brengsek! Kau akan menyesal" balasnya sambil berusaha berdiri dan diam-diam mengambil suntikan di dalam saku baju besarnya.
Viona terlambat menghentikannya, "Kurang ajar, apa yang kau lakukan ha?" tanyanya marah dan sekali lagi dia memberikan tendangan maut di wajah Tuan King sampai penutup matahnya terlepas.
Tuan King sangat marah, karena dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang cacat itu, di mana dia hanya memiliki satu bola mata. Dia mengambil sapu tangannya dan menutup matanya.
"Hahaha kenapa? Apa kau malu jika semua Anak buahmu melihat kekuranganmu itu? Apa kau takut jika mereka tidak ingin memiliki Tuan besar yang cacat?" tanya Viona yang sudah tau alasannya kenapa Tuan King selalu menutup matanya.
Tuan King tidak peduli dengan ucapan Viona, yang berusaha mempropoksainya. "Kau akan mati sekarang juga!" pintanya sambil memberi kode ke pada Anak buahnya untuk menyerang Viona.
Satu kali petikan jari, para pengawal Viona juga keluar, bahkan melebihi jumlah Anak buah Tuan King, mereka langsung bertarung di dalam aula itu.
Prang prang dorrr doorrr prang prang. Suara pedang dan tembakan menggema dalam ruangan itu.
Tuan King sangat bingung, dari mana mereka semua berasal yang tiba-tiba saja muncul seperti hantu dan tenaganya tiga kali lipat dari tenaga manusia.
"Jangan senang dulu! Karena aku akan memberikanmu kejutan lagi. Dan untuk keluargamu akan mati dalam satu jam kedepan jika tidak meminum penawarnya"
Viona emosi melihat keluarganya seperti barang mainan saja, yang seenaknya di sakiti dan diperlakukan seperti itu pada orang lain.
__ADS_1
Tuan King kembali memberi kode. Di mana beberapa orang dari lantai dua langsung menodongkan senjata snipernya tepat di kepala Viona.
Viona tersenyum kecil, tak gentar sama sekali. Dia terlihat santai Seakan-akan dia memiliki banyak cadangan nyawa. "Hee kau pikir aku takut?" gumamnya.
Melihat reaksi Viona seperti itu, membuatnya makin emosi, apalagi Anak buahnya sudah tumbang semua yang ada di dalam aula itu, dan herannya pengawal Viona juga tiba-tiba ikut menghilang.
Dari arah pintu datanglah Sadow yang dibuntuti oleh Bora, Mira dan Sisil. "Mereka akan menjadi bahan cobaan"
"Sebelum kau melakukannya kau yang akan menjadi butiran abu terlebih dahulu" balas Viona sengit.
Tuan King memberi perintah agar mereka menembak Bora dan Mira. Dia berharap Viona meminta ampun dan bersujud di hadapannya.
Tapi tiba-tiba di dalam aula itu wujud Mira dan Bora menjadi lebih banyak, yang mana membuat penembak bingung mana yang asli.
"Apa yang terjadi? Dari mana mereka berasal?" guamam Tuan King sedikit ketakutan dan badannya bergetar.
Tuan King murka melihat senyum manis Viona. Dia melemparkan belati ke pada Viona saat dia melihat ada sedikit cela. Dan Viona terkena tusukan di bagian perutnya.
"Arrgh!" rintihnya. "Brengsek!" ucapnya sambil menahan darah yang mengalir menggunakan tangannya.
"Kau tidak bisa melawanku, kau hanya anak ingusan yang tiba-tiba ingin menjadi pahlawan."
Semua yang melihat itu ingin membalas Tuan King, tapi di urungkannya saat Viona memberi kode untuk tidak bertindak.
Sadow sudah tidak sadarkan diri, karena dia sangat terkejut melihat ada banyak wajah yang sama.
Tuan King menyalakan sebuah layar lebar, di mana terlihat sebuah foto dan sedikit Vidio penyiksaan.
"Kau! Apa yang kau lakukan ke pada Kak Leo dan Ibunya? Dasar licik. Ternyata kau sendiri yang membawa orang lain dalam masalah ini."
"Hahaha dalam pertarungan, kau harus berhati-hati memilih lawan! Dan jangan pernah percaya omongan orang lain, meskipun itu orang terdekatmu" balasnya so bijak.
"Ya, makasih atas peringatannya" sahut Viona sambil menahan sakit di perutnya, karena dia mencabut belati itu.
...----------------...
Di dalam sebuah ruangan, terlihat ada Zoya dan Aiden yang menemani seorang wanita yang mungkin masih seumuran dengan Momu Jeny.
Dia menangis melihat di layar kaca, dia sangat kecewa karena selama ini dia merasa dibohongi. "Hiks hiks, Kenapa kamu membohongiku lucas, kamu bahkan terlihat seperti psikopat."
__ADS_1