KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
Salahpaham


__ADS_3


Di kediaman Aditya, mama Gina senang akhirnya hari-hari sibuk mereka akan segera tiba, yaitu menyiapkan hari pertunangan anaknya yang semata wayang ini. “ceeee, yang mau tunangan,” ledek Reza yang menaik turunkan alisnya. “Apaan sih Lo,” ketus Aditya dengan sedikit tidak suka kalau dirinya di jadikan lelucon.


“Reza apa yang kamu lakukan di sana, cepat bantuin bunda ke sini.” Teriak Gina dari arah dapur yang lagi sibuk menyiapkan makanan.


“Siap bunnn,” jawab Reza yang langsung berlari menuju bunda Gina, Reza langsung memeluk tubuh bunda Gina dari belakang. “Bunda kapan Kaka ipar ke sini?” tanya Reza yang ingin melihat wajah Neta kembali.


“Nanti malam dia akan ke sini beserta keluarganya, kamu siap-siap ke kantor dulu geh, ingat pulang sore yah. Bunda gak mau tau pokoknya.”


“Seriusan? Oke Bun, kalau begitu aku mandi dulu,” Reza mencium pipi Gina setelah itu dia pergi tanpa membantu Gina sama sekali.


“Ini anak bukannya tadi mau bantuin malah pergi,” kata mama Gina geleng-geleng kepala dengan kelakuan anaknya yang satu itu.


Aditya berjalan ke dapur hendak mengambil air putih. “Dit, kamu jemput Neta yah,” ucap Gina yang sibuk bikin adonan. “Hemmmm,” jawab Aditya yang malas, setelah dia minum Aditya langsung pergi ke kamar hendak mandi.


“Punya anak dua cowok, satu dinginnya kek kulkas satunya seperti musim panas,” gumam Gina, para pelayan yang mendengar perkataan sang majikan pun tertawa mendengar itu. “Kalian lanjutkan saya pengin ke atas dulu,” kata Gina yang membersihkan tangannya.


“Baik nyonya,” jawab serempak pelayan.


Setelah Aditya selesai mandi, dan berpakaian rapi layaknya seorang guru, dia langsung pergi ke rumah Neta, Neta yang sedari tadi nungguin di depan rumah terus melihat jam di tangannya. “Lama banget sih,” gumam Neta yang takut telat.

__ADS_1


Jino yang baru saja keluar dari rumah, melihat sang adik gusar langsung duduk di samping Neta. “Sama Kaka aja yuk, biar gak telat,” ajak Jino dengan nada lembut, sebelum Neta mau menjawab tiba-tiba Aditya datang.


“Nanti kak, toh supirnya sudah datang, aku pergi duluan yah.” Kata Neta mencium pipi kanan Jino dan berlari ke arah mobil Aditya. Aditya yang ingin keluar pun di larang oleh Neta. “Buruan Weh, telat kan jadinya aku,” kata Neta sambil ngomel-ngomel gak jelas karena takut telat, sedangkan Aditya hanya memberi salam ke arah Jino dengan mengangguk kepalanya. Jino membalas dengan senyuman tanda dia menerima sapaan Aditya.


“Lama banget sih, ngapain aja?” tanya Neta dengan wajah judesnya. “Galak banget sih, Pms yah?” ledek Aditya tanpa memperdulikan tatapan Neta. “gak usah di tatap ntar jatuh cinta,” kata Aditya melirik Neta.


“Udah cinta pun,” gumam Neta memalingkan wajahnya keluar jendela. Aditya menggelengkan kepalanya dan fokus menyetir, di sepanjang jalan mereka berdua hanya diam, tidak ada yang mau memulai pembicaraan, sampai mereka tiba di sekolah.


Neta buru-buru keluar dari mobil Aditya dan pergi meninggalkan Aditya sendirian di parkiran. “Wah itu bocah malah pergi tanpa bilang makasih,” ucap Aditya dengan nada sedikit tercengang.


Neta berlari di koridor sekolah dan beruntung bel sekolah baru bunyi, “telat kamu net?” tanya Viola yang baru saja duduk di kursinya. “Hampir yah, bukan telat.” Jawab Neta gos-gosan.


“Net, gue mau bicara sama Lo,” kata Ferly yang kini berdiri di samping Neta, “Apa?” tanya Neta yang menatap wajah Ferly. “Mau ngomong apa lagi Lo hah? Mau cari ribut Lo?” sahut Viola yang kebawa emosi.


“Kok kamu mau sih Net?” tanya meta dengan nada kesel. “Iya Net kamu kok mau sih?” ucap Viola yang tidak suka jika Neta mau di ajak bicara oleh Ferly.


“Keknya penting,” jawab Neta dengan berbisik karena guru yang masuk adalah guru killer, semua siswa takut sama ini guru, karena apa-apa ancamannya adalah nilai C.


Ferly membawa Neta kebelakang sekolah, “Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Neta tanpa basa basi. Ferly memperhatikan sekeliling takutnya ada yang mengikuti mereka. “Net, Lo tau gak sekarang Petra kemana?” tanya Ferly dengan wajah cemasnya, Neta mengernyit kan jidatnya tanda dia tidak paham apa yang Ferly tanyakan.


“Kenapa Lo tanya gue?”

__ADS_1


“Sejak kejadian itu, dia tidak pulang ke rumahnya bahkan nenek bingung cari ke mana,” gusar Ferly, Neta menghela nafas. “Ferly gue gak tau ke mana Petra pergi, Lo tau sendiri sejak kejadian itu gue juga sekarang gak bisa bebas ke mana-mana, malah di kawal sama bodyguard Kaka gue.” Imbuh Neta yang jujur dengan keadaan dirinya.


Ferly menangis sambil berlutut dan memohon kepada Neta sambil memegang kaki Neta. “Gue gak tau harus tanya ke siapa lagi Neta, hikss..” tutur Ferly yang terus menangis.


“NETA!!”


Tiba-tiba suara yang begitu familiar dari belakang memanggil Neta. Tubuh Neta tiba-tiba mematung dia tidak tau seperti apa kondisi mereka saat ini. “Apa yang kamu lakukan heh?!” tanya orang itu dengan nada membentak.


Deg..


Seketika hati Neta hancur, ada bagian yang gak bisa Neta ceritakan, betapa sakit hatinya saat ini, di bentak oleh orang yang dia suka.


“saya tidak menyangka kalau kamu akan berbuat seperti ini!!” ucapnya dengan nada dingin Neta menatap mata lelaki itu yang penuh kebencian.


“Apa kamu gak papa?” tanya Aditya kepada Ferly, Ferly mengangguk dan ingin menjelaskan kepada Aditya kalau itu salah paham. “Pak ini tidak seperti yang bapak bayangkan,” kata Ferly yang ingin menjelaskan agar Neta tidak di marahi.


“Saya tau apa yang harus saya lakukan, kamu kembali lah ke dalam kelas, dan kamu Neta ikuti saya,” kata Aditya dengan penuh penekanan, Neta hanya tersenyum nanar. Ferly memegang tangan Neta agar tidak pergi tapi Neta menepisnya dan langsung pergi dan di ikuti oleh Aditya.


Sesampai di ruangan Neta hanya duduk sambil menatap wajah Aditya. “Apa kamu tau apa kesalahan yang kamu perbuat?” tanya Aditya dengan nada dingin. “TIDAK,” jawab Neta dengan tegas. “Apa kamu ingin menjadi seorang preman?!!” teriak Aditya tapi tidak membuat Neta merasa tertekan.


Neta tertawa dan tanpa sadar air matanya mengalir. Neta langsung menghapus air mata itu. “Saya tidak akan menjelaskan apa pun ke bapak, karena bapak sudah berasumsi kalau saya sedang membully dia bukan?” teriak Neta dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


Aditya langsung terdiam baru kali ini dia melihat Neta begitu marah, dan dengan nada begitu dingin. Neta langsung pergi meninggalkan Aditya sendirian di dalam ruangan.


“Sialan”


__ADS_2