KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*SADARNYA NETA*


__ADS_3

Setelah Neta di pindahkan tidak lama Meta sadar. Meta menatap ruangan yang serba putih. “Uhukkk... Hemmm,” pandangan meta masih tidak terlalu jelas. “Sayang kamu sudah sadar, Mas, cepat panggil dokter,” Ucap Sintia tersenyum senang. Alifin bergegas keluar dan memanggil dokter.


Meta bangun dari tempat tidurnya dan ingin turun dari ranjang. “Kamu ngapain sayang, kamu baru sadar, mau ke mana kamu?” Tanya Sintia Panik, meta tidak memperdulikannya dia berusaha melepaskan infus yang ada di tangannya.


“Sayang kamu mau ke mana? kamu baru sadar sayang, hikss..”


Meta turun dari ranjang tanpa menjawab pertanyaan Sintia. “Mas!!” Teriak Sintia mencari sang suami, dia tau kalau Meta tidak akan mendengarkan perkataan dia.


BRUKKK..


“Ah.. hiks.. hiks...” Tubuh Meta jatuh, Sintia yang mendengar seseorang jatuh, langsung masuk ke dalam. “Meta!!” Teriak Sintia ingin membantu Meta, tapi meta menepis tangan ibunya.


Meta berusaha bangun, meskipun tubuhnya tidak berdaya dan juga penglihatannya yang tidak jelas karena pengaruh obat bius. “Sayang mama bantu yah?” Meta menggelengkan kepalanya. Meta berusaha bangun dengan berpegangan di meja samping tubuhnya.


“Ah...”


Sintia menangis dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau meta sendiri ingin melakukannya tanpa mau bantuan orang lain. “Hiks... Hiks... Aku mohon... Hiks... “ Meta memukul-mukul kakinya. “Sayang kamu mau ke mana?”


“Mah, aku ingin bertemu Neta!!” Teriak meta sambil menangis tersedu-sedu. “Meta!!” Teriak Alifin, dan dokter yang ada di sampingnya kaget melihat meta duduk di lantai. “Mau ke mana kamu sayang?” Tanya Alifin yang ingin mengendong Meta. “Aku ingin bertemu Neta pah,” ucap meta dalam tangisannya. Dokter dan suster yang melihat kejadian itu sangat terharu, jarang ada dalam kondisinya sekarang ingin bertemu orang lain. sungguh persahabatan yang dalam, pikir dokter dan suster itu melihat Meta sekarang.


“Baiklah, papah akan bawa kamu ke sana, tapi kamu di periksa dulu, oke?” membujuk Meta. “Tapi aku maunya sekarang Pah!!” Alifin menarik nafas, dia harus bisa memutar otak, agar meta mau di periksa dulu. “Sayang, kalau Neta melihat kamu seperti ini apa dia senang, tidak kan? Jadi kamu periksa dulu, baru kita ke sana,” Akhirnya meta setuju dengan bujukan papahnya, papah meta mengangkat tubuh meta dan menaruhnya ke ranjang. Dokter itu langsung memeriksa keadaan Meta, sedangkan suster itu memasang infus yang berisi darah.


“Bentar sayang, tunggu suster ambil kursi roda dulu,” Ucap Alifin, tapi meta tidak sabar menunggu, dia turun dari ranjang dan merangkak agar bisa keluar. Dia tidak ingin di gendong, dia lebih memilih dengan usaha dia sendiri.


“Tunggu aku Neta,” Gumam meta, berusaha keras keluar dari ruangannya.


Alifin tidak ada pilihan lain, langsung mengangkat tubuh Meta, dan meletakkannya di kursi roda yang baru saja suster itu serahkan.


Tok... Tok... Tok...


Meta langsung membuka pintu kamar Neta. “Meta kamu sudah sadar sayang,” Ucap Rika memeluk Meta, meta menangis tersedu-sedu melihat keadaan Neta sekarang. Dia tidak tau kalau perbuatan bodohnya itu, akan membahayakan nyawa orang lain. “Maafkan aku mam, kalau saja aku tidak melakukan itu, pasti Neta tidak akan begini,” ucap Meta dalam Isak tangisnya.


“Tidak sayang, semuanya sudah terjadi, biarkan itu menjadi pelajaran untuk kita semua,” Ucap Rika menatap mata meta yang terlihat sendu. Meta menggunakan tangannya mendorong kursi roda, sedangkan Alifin melepaskan dan membiarkan meta berjalan ke arah Neta.


Rika menatap punggung meta yang bergetar, meta bisa melihat, banyak bekas sayatan kecil di pergelangan tangan dan ada juga gurisan sedikit di wajah Neta, meta pikir hanya tangan dan paha Neta saja, ternyata di lihat dari dekat begitu banyak lukanya.

__ADS_1


“Neta... Hiks... Hiks... Maafkan aku Neta, seharusnya kamu biarkan saja, aku mati... Hiks...hiks..” Meta memegangi tangan Neta dan menyematkan jarinya di sela jari-jari Neta, dia terus mencium punggung tangan Neta.


“Ini semua salah aku, mana ada seorang sahabat melukai sahabatnya sendiri,” Kata Meta, semua orang yang melihatnya ikut menangis, Rika yang sudah tidak tahan melihat semuanya, berbalik badan dan ingin keluar dari sana.


“Dan sahabat mana yang mau sahabatnya celaka?” Ucap Neta. Mama Rika langsung berbalik badan dan menatap ke arah Neta, apakah tadi ilusi Rika saja.


“Apa kamu bisa menghapus ingus mu itu?” Semua orang terkejut ternyata mereka tidak salah dengar kalau Neta sudah sadar.


Meta menatap Neta yang melengkungkan bibirnya dan membuka mata secara perlahan. “Neta!!” teriak semua orang. “Astaga, bisakah kalian tidak berteriak begitu keras, itu membuat kupingku sakit,” Mama Rika mendekat dan langsung memeluk Neta. “Syukurlah sayang, mama Sangat takut, hiks...”


“Oh... Uhuk... Uhuk... Uhuk... Udah mah, lepaskan, yang ada aku mati di dalam pelukan Mama. Aku gak bisa nafas nih,” Menepuk-nepuk punggung mama Rika.


Jino langsung panik melihat keadaan Neta. “Aku panggil dokter sekarang juga,” Ucap Jino hendak keluar. “Ih... Kak jangan, ini sudah jam berapa coba, besok aja lah,” Ucap Neta yang tidak ingin di periksa. “Tapi,” Kata Jino yang keberatan. “Hemmmm, besok aja yah,” wajah Neta memelas, Jino dengan berat hati mengabulkan permohonan Neta.


“Dan kamu! Liat tangan aku jadi kena ingus kamu kan,” Ucap Neta dengan tersenyum.


“Anak ini yah, benar-benar deh,” ucap mama Rika yang ngemes sama kelakuan Neta. Meta menangis sejadi-jadinya, dia tidak memperdulikan penampilannya sekarang. “Neta,” ucap meta dalam tangisannya dan menjadikan tangan Neta sebagai lap ingus dia.


Neta langsung menarik kembali tangannya. “Apa?” Menaikkan aslinya, meta langsung memeluk Neta, viola juga tidak mau kalah, dia bangkit dari tempat duduknya dan langsung ikut memeluk kedua sahabatnya itu.


“Saya minta maaf Sintia karena telah menampar kamu, waktu itu aku dalam keadaan marah,” Rika menyesali perbuatannya waktu itu, Sintia tanpa pikir panjang langsung memeluk tubuh Rika. “Tidak perlu minta maaf, aku mengerti dan aku juga minta maaf Rika,” Rika membalas pelukan Sintia, setelah selesai maaf-maafan mereka sekeluarga memutuskan ke kantin meninggalkan anak-anak.


“Kenapa tidak cerita?” Tanya viola dengan nada dingin, Neta menatap meta yang tertunduk, baru kali ini meta mendapat perlakuan dingin dari Viola.


“Maaf,” Hanya itu yang bisa meta katakan, Neta ingin bergerak tapi terasa sakit di pergelangan kakinya. “Shttt...,” Ringis Neta dengan nada pelan.


“Kenapa Neta?” Tanya viola dengan nada khawatir, Neta menggeleng kepalanya dia hanya ingin duduk, tapi saat dia mengerakkan kakinya terasa nyeri. “Aku rasa obat biusnya sudah mulai hilang,” ujar Neta, meta menatap kaki Neta yang di tutupi selimut, Neta yang melihat ekspresi langsung tersenyum.


“Dengar yah Meta, aku gak akan menyesal dan tidak akan pernah menyesal, dan aku akan melakukan hal yang sama jika itu terulang lagi, meskipun sampai aku tertusuk pecahan kaca, atau masuk ke dalam kubaran api sekali pun, aku tidak akan pernah menyesalinya. Jadi!! Jangan kamu tunjukkan ekspresi seperti itu, Bahkan jika aku harus kehilangan nyawa sekalipun demi menyelamatkan sahabat sendiri, aku tidak akan menyesalinya,”


Meta meneteskan air matanya, dia terharu dan sekaligus senang mempunya sahabat yang benar-benar peduli padanya. Mereka bertiga berpelukan dan menangis tersedu-sedu. “SEKARANG AKU TIDAK SENDIRI LAGI,” gumam Meta. Viola langsung menjitak kening Meta. “Bodoh,” Hanya itu yang keluar dari mulut Viola, mereka terus berpelukan sampai mereka bertiga tertidur dalam keadaan saling berpelukan satu sama lain.


Biarkan lah hari ini mereka menangis, besok dan seterusnya tidak ada lagi air mata kesedihan, yang ada hanya air mata kebahagiaan.


Setelah semua orang kembali dari kantin, Semuanya terkejut melihat pemandangan yang begitu mengharukan, mereka tertidur dengan kondisi saling berpelukan, meta yang masih duduk di kursi rodanya, dan viola duduk di sisi lain memeluk Neta yang sedang berbaring.

__ADS_1


Seno tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dia mengambil ponselnya dan langsung memfoto mereka bertiga, kadang dia juga ikut berfoto, keluarga yang lain tidak mau kalah sama Seno, langsung mengeluarkan ponselnya dan berfoto bareng.


“Gak ada yang benarnya,” ucap Jino menepuk jidatnya, setelah itu dia mengeluarkan kamera dan ikut berfoto. Orang yang bilang dia paling benar, ternyata dia yang paling banyak berfoto, sampai semua keluarga tercengang.


“Sungguh indah persahabatan Mereka,” kata Jino tersenyum lembut dan melihat-lihat gambar yang dia ambil tadi.


Di sisi lain.


“Kenapa dit?” tanya Reza yang kini mereka berdua sedang ada di bar, salah satu tempat favorit Reza dan Aditya, karena ini adalah milik temannya, jadi mereka sesuka hati datang tanpa harus di periksa.


“Gak apa-apa,” ucap Aditya, tapi sebenarnya dia terus gelisah, entah kenapa dia selalu kepikiran Neta. Apa yang sebenarnya membuat dirinya tidak karuan dan mempunyai firasat kalau Neta tidak baik-baik saja.


“Maaf gue baru bis gabung soalnya tadi ada masalah sedikit,” Salah satu pria tampan datang menghampiri Aditya dan Reza.


“Santai aja bro, lama juga gak apa-apa,” Ucap Reza memeluk sahabat baiknya, yaitu Daffein Edwin Arvis, keluarga terkaya di Asia setelah keluarga Aditya dan Neta.


“Oh yah, terus kenapa dengan nih bocah?” Tanya Daffein mengangkat gelas dan meminum vodka yang baru saja dia tuang. “Biasa ABG labil,” Jawab asal Reza, Aditya menatap tajam ke Reza. “Apa?” tanya Reza tapi pandangannya ke arah lain. Entah kenapa bagi dia kalau Aditya menatap dirinya dengan tajam rasanya mati seketika serangan jantung.


“Ayulah berhenti menatap Reza, atau Lo akan jatuh cinta dengannya,” Ujar Daffein melirik ke arah Reza, yang mati rasa di tatap tajam Aditya. “Kalian berdua yah!!” Ucap Aditya berdiri, dan menjewer telinga mereka berdua secara bersamaan.


“Ampun... Ampun... Gak bakal jail lagi ibu, gak janji,” Menyatukan kedua tangan, memohon kepada Aditya. “Apa-apaan ibu?” Aditya semakin jengkel di buat sahabatnya ini.


Daffein dan Reza terkekeh geli memanggil Aditya dengan sebutan ibu. “Siapa suruh, jadi pria tercantik di dunia ini,” kata Daffein yang kini bersikap seperti biasanya. “Jangan salahkan aku, salahkan ibuku yang melahirkan anak super ganteng,” Kata Aditya dengan nada dingin.


“Ih seriusan, rasanya pengin gue tampol Lo, dengan nada dingin bilang super ganteng,” Canda Daffein dan mereka bertiga malam ini di penuhi canda dan tawa.


Jino menggendong viola dan membawanya ke dalam kamar sebelah yang tidak jauh dari kamar Neta. Sedangkan meta di gendong Seno dan membawanya kembali, baru saja Seno meletakkan tubuh meta keranjang tiba-tiba meta berkata. “Maaf Neta,” ucap meta dalam tidurnya yang pulas dan air mata yang masih mengalir.


“Terima kasih nak Seno,” Seno hanya mengangguk lalu keluar dari kamar Meta, dan masuk ke dalam kamar Neta.


“Mama sama papah pulanglah, biar aku dan Jino yang menjaga Neta,” Ucap Seno menghawatirkan kondisi Rika. “Tidak, mama mau tetap di sini, mama tidak ingin meninggalkan Neta sendiri sedetik pun,”


Jino yang baru datang membawakan makanan dan bergabung bersama keluarganya, dia meletakkan makanan di hadapan kedua orang tuanya. “Setidaknya makan lah, apa mama tidak akan makan sedetik pun?” Goda Jino memperlihatkan makanan yang baru saja dia beli.


“Kalau urusan makanan, pasti mama bakal makan,” ketus mama Rika membuka kotak makan dan Langsung melahapnya. “Kan mama kamu, raja makan, eh. Maksudnya ratu makan,” Canda papa Bagas, mama Rika langsung melotot dengan mulut yang di penuhi makanan.

__ADS_1


Seperti apa pun masalah yang kamu hadapi, cukup tersenyum, berusaha. Dan di iringi dengan do'a insyaallah semuanya akan di permudahkan.


__ADS_2