KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
EMOSI ADITYA.


__ADS_3

MAAF YAH, BARU BISA UP NOVELNYA. KARENA SAYA JUGA PUNYA KEGIATAN LAIN, TAPI AKAN SAYA USAHAKAN, AKAN UP 2 HARI SEKALI. KARENA SAYA TIDAK BISA UP TIAP HARI, MOHON PENGERTIANNYA DAN TETAP BACA YAH.


Sesampai di kelas, Neta. Langsung duduk dan memandang ke arah jendela, Neta masih memikirkan ingatan yang suka datang kepadanya. Dan bermimpi tentang pemilik tubuh ini. Yang sepenuhnya samar tentang kejadian-kejadian masa lalu, Neta penasaran siapa yang menyelamatkan dia setelah insiden itu. Meskipun pemilik tubuh ini sudah tidak ada.


"Aku harus mencari tau sendiri." Batin Neta.


Neta terus melamun, dan dia tidak menyadari, kalau jam pelajaran hampir berakhir. Yang Membuat Aditya kesal, Sejak Aditya masuk, sampai jam pelajaran dia hampir selesai. Pandangan Aditya tidak luput dari Neta, yang terus melamun dan itu membuat Aditya geram.


Viola Menendang kaki Neta agar dia melihat kedepan. Tapi Neta terus melamun, tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya yang sedang seram.


"NETA EUGINUS DETRAS!!" Teriak Aditya tepat di hadapan Neta.


"IYA!!" Langsung berdiri dari tempat duduknya, semua orang yang ada di dalam ruangan tidak berani bersuara atau berbalik untuk menonton. Mereka lebih memilih fokus kedepan dan menatap papan tulis yang penuh tulisan.


"Selesai ini, kamu keruangan saya." Ucap Aditya, yang berusaha menahan amarah.


"Buat apa?" Tanya Neta, dengan polosnya. Neta tidak menyadari kesalahan dia, Aditya yang mendengar jawaban Neta sekuat tenaga menahan amarah. Akhirnya Aditya lepas kendali juga.


"Tunggu sejak kapan dia ada di sini, dan ini sudah jam berapa? kok aku tidak menyadarinya."


Mata Neta Melotot, saat melihat jam 10, berarti 2 jam dia melamun. Wajar saja kalau Aditya marah kepadanya, dan betapa bodohnya Neta, bertanya buat apa? Habis lah sudah.


Neta langsung cengengesan di hadapan Aditya dan sudah tau apa yang akan dia dapatkan akhirnya.


"Rasakan itu." Batin Ferly, yang senang melihat Neta di marahi oleh Aditya, apa lagi di tempat umum.


Aditya langsung memegang pergelangan Neta, dan membawa Neta keluar kelas, menuju ruangan pribadi dia. Seperjalanan, Aditya tidak melepaskan genggaman nya. Neta hanya bisa pasrah, sambil mengikuti langkah Aditya yang menurut Neta itu sangat cepat.


"Pak bisa pelan sedikit, saya tidak bisa berjalan terlalu cepat. Karena saya memakai rok pendek dan itu terombang-ambing pak, dan genggamannya sangat erat itu sangat sakit, bapak menyiksa saya ini namanya."

__ADS_1


Neta berusaha menepis tangan Aditya, tapi genggaman Aditya terlalu erat. Dan Aditya pun tidak menghiraukan apa kata Neta, dia terus berjalan cepat malah semakin cepat. Sampai-sampai Aditya tidak menyadari kalau mereka menjadi bahan tontonan.


CEKLEKKK... Aditya langsung melepas genggaman tangan Neta. Setalah mereka sampai ruangan, tangan Neta langsung memerah dan berbekas, ada rasa sakit. Tapi Neta tahan, dia tidak mungkin menangis di hadapan guru killernya.


"Apa kamu tau kesalahan kamu?" Tanya Aditya yang kini duduk di hadapan Neta.


"Pak, kalau saya tau apa kesalahan saya, mungkin saya tidak akan berakhir di sini." Jawab Neta yang pura-pura tidak tau padahal dia tau apa kesalahan dia.


Neta melipat kedua tangannya di dada, dia pura-pura sok cool. Padahal dia sekarang lagi kesakitan, bukan hanya malu di depan umum tapi juga dapat memar di lengannya.


"Baru pertama ini gue di permalukan di depan umum, setelah yang terjadi di kehidupan aku dulu." Batin Neta yang terus menatap Aditya.


5 menit, mereka berada di dalam ruangan, tapi tidak ada yang mau memulai percakapan. Aditya yang ingin memulai percakapan, tiba-tiba melihat Lengan Neta yang berbekas. Mencoba menenangkan diri, agar tidak emosi, saat berhadapan dengan gadis di hadapannya ini.


Baru pertama kali Aditya marah dengan cewek dan itu adalah gadis di hadapannya ini. Entah sihir apa, Aditya tidak bisa mengontrol emosinya kalau berhadapan dengan gadis ini.


Neta terus mengibas-ngibas tangannya ke wajah dia, karena merasa gerah dan membuat wajahnya merah.


Aditya bingung melihat kelakuan aneh Neta, yang tidak bisa diem dan terus bergerak.


"Apakah, di sini panas atau AC nya mati? Aku rasa tidak, malah. Pas suhunya, kenapa nih anak merasa kepanasan." Batin Aditya dan mengecek suhu ruangan.


"Aku mau bertanya sama kamu?" Memandang serius ke Neta.


Neta segera memperbaiki cara duduknya. "Iya, silahkan pak." Sahut Neta yang kini menatap wajah Aditya.


DEG...


Pacuan jantung Neta berdetak kencang, seperti habis lomba maraton, saat mata mereka bertemu. Ada rasa nyaman dan pernah kenal, tapi di mana? Neta tidak tau, tatapan mata itu, tidak asing bagi Neta. Entah itu di dunia Neta dulu atau yang sekarang. Neta masih bingung.

__ADS_1


"Hai!!" Ucap Aditya mengibaskan tangannya ke wajah Neta yang mulai melamun.


"Kau begini lagi." Ucap Aditya yang menyilang kakinya.


"Kau terus melamun, saat jam pelajaran di mulai sampai berakhir. Apakah ada masalah? Atau... Kau tidak suka dengan pelajaran saya?" Lanjut Aditya karena Neta sudah mulai merespon.


"Bukan itu." Jawab Neta.


"Lalu?" Menaikan alisnya.


"Pak apakah kita pernah bertemu, di suatu tempat gitu?" Neta langsung berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke aditya.


"Gini yah pak, aku merasa tidak asing dengan bapak, seperti pernah bertemu di mana gitu?" Lanjut Neta, dan semakin memajukan wajahnya, sangat dekat. Tinggal 2 inci, maka mereka akan berciuman. Dengan refleks Aditya memundurkan tubuhnya, dan tangan Aditya, menahan wajah Neta. agar tidak maju lagi.


"Bisakah kau mundur dulu." Ucap Aditya, Neta langsung kembali duduk seperti semula.


"Apa yang gue lakukan tadi, sampai naik ke atas meja, dan tadi... kami hampir saja." Batin Neta yang sudah menyadari kelakuan yang memalukan tadi.


"Kita sebelumnya tidak pernah bertemu, dan kita bertemu hanya di sini dan beberapa kali di luar. Itu saja ."


Neta masih belum puas mendengar jawaban Aditya, Neta nyakin kalau mereka pernah bertemu. "Akan aku selidiki." Pikir Neta.


"Maaf pak, saya melamun dari kelas bapak, saya sadar. Kalau saya salah, jadi bapak bisa menghukum saya, saya akan terima dengan lapang dada." Ucap Neta yang langsung mengakui kesalahannya, karena Neta sudah tidak tahan lagi satu ruangan dengan Aditya.


"Apa kau tidak ingin cerita?" Tanya Aditya, Aditya hanya ingin menjadi wali kelas yang baik. Karena tidak ingin namanya di coreng, dan di ejek papahnya, kalau dia menjadi Wali kelas yang tidak becus.


Neta menggeleng kepalanya, kalau dia tidak ada masalah apa pun, lagian. Neta tidak mungkin membongkar rahasia dia ke orang lain bisa berabe.


__ADS_1


__ADS_2