
Tuan King yang saat itu masih ada di ruang kerjanya di buat bingung, karena chip itu tiba-tiba koneksinya terhubung kembali. Chip memiliki sebuah remot kontrol dalam bentuk ukuran kecil dan dari situlah dia bisa mengetahui apa yang Bora pikirkan atau apa yang dia ucapkan.
Tuang King menekan tombol, dia tersenyum saat mendengar suara teriakan kesakitan Bora, yang berarti saat ini Bora masih hidup. Tapi seketika dia terkejut melihat titik lokasi chip itu, yang tidak jauh dari markasnya.
"Apa yang dia inginkan sampai datang kesini? Bukannya saat ini dia jadi tahanan keponakannya sendiri?" gumamnya bertanya.
Dia segera menghubungi Sadow, agar menunggunya di pintu gerbang. Karena dia sudah sangat yakin, Bora datang untuk menemuinya.
Sadow yang sedang melakukan pelatihan bersama anggota yang lainnya juga terkejut setelah dia mendapat kabar dari Tuan King. Dia segera berlari kedepan, untuk menanyakan banyak hal.
Setibanya di pintu gerbang, dia melihat anak buahnya beradu mulut dengan Bora yang ingin menerobos masuk, dia menghampiri lalu berkata.
"Biarkan dia masuk!" ujarnya dengan suara suara tegas, dengan pandangannya menatap Bora ngeri, melihat banyak luka di badannya.
Bora menoleh, lalu berlari menghampiri Sadow. "Mana Tuanmu? Biarkan aku bertemu dengannya! Berani-beraninya dia ingkar janji. Dia tidak pantas jadi pemimpin mafia" sarkasnya.
Itulah ajaran Viona, agar Mutan yang mirip dengan Bora memancing kemarahan Tuan King, Viona sudah tau dari rekaman CCTV di dalam penjara pamannya saat dia kesakitan. Yang mengatakan jika Tuang King tidak menepati janjinya.
"Jaga mulutmu tua bangka! Kau bisa mati jika Tuan King mendengar ucapanmu itu" Ucap Sadow sedikit kesel, karena Bora mengatakan sesuatu yang tidak pantas.
"Mati? Hahaha aku tidak takut mati. Keluar kau Tuang King! Jangan kau hanya bersembunyi dibalik topengmu itu, tunjukkan dirimu, dasar pengecut!" Lagi-lagi Bora mengeluarkan ucapan pedas.
Sadow makin naik pitam, dia tidak tahan lagi. Dia menyeret Bora masuk kedalam ruangan yang biasa di jadikan tempat untuk mengeksekusi para musuh.
"Aaaaaargh,, sakit" tiba-tiba Bora berteriak kesakitan, "Hahaha apa kau hanya bisa melakukan ini? menyiksaku lewat alat-alat canggihmu itu. Jika kau merasa kuat, keluar! lawan aku."
"Jika kau tidak ingin merasakan sakit, kau harus diam. Kau sudah membuat Tuan King marah" sahut Sadow.
__ADS_1
"Marah? Seharusnya aku yang marah ke padanya, karena tidak menepati janjinya. Padahal aku sudah menuruti perintahnya."
"Kau belum melakukan semua yang aku inginkan!" Tiba-tiba suara bariton terdengar dari arah pintu, yang tak lain adalah Tuan King.
Dia merasa terhina, saat Bora mengatakan jika dirinya hanya bersembunyi di balik tompeng dan juga alat-alat tempurnya.
Keduanya menoleh melihat Tuan King yang menggunakan jubah kebesarannya. Dia berjalan dengan gagah menghampiri Bora.
Bora tersenyum kecil, akhirnya Tuang King menampakkan diri, walau matanya tertutup sebelah, tapi dia berharap nonanya sudah bisa melihatnya dengan jelas.
"Hahaha akhirnya, sekian lama tak berjumpa kita bertemu kembali Tuan King" ucap Bora sambil tertawa. "Dan apa maksudmu jika aku belum melakukan semua yang kau inginkan?"
Tuan King tidak lansung menjawab, dia malah pergi duduk di sebuah kursi yang telah disediakan Sadow dan berkata. "Ya, kau belum melakukannya!"
Bora jalan mendekat dan menggelengkan kepala. "Apa yang belum aku lakukan ha? Aku sudah membuat keluargaku sendiri hancur. Seperti yang kau inginkan."
"Ya, itu dulu. Tapi apa kau tidak lihat sekarang? Mereka sudah berkumpul dan hidup berbahagia! Sedangkan hidupku tak lagi bisa hidup dengan bahagia karena perlakuan Ayahmu."
"Hahaha mereka menemukannya pasti atas bantuanmu."
"Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu? Selama ini kau memantau semua yang aku lakukan, dan sekarang kau menuduhku."
"Jika kau tidak ingin melakukannya! Maka aku yang akan turun tangan untuk bertemu Adikmu Jeny, hahahah aku juga sudah sangat merindukannya."
"Jangan berani kau melukai Adikku! Ternyata kau pria yang sangat licik. Aku tidak akan membiarkanmu untuk kali ini"
Tuang King menatap Bora dengan tajam, "Kau bukan lawanku Bora, tapi kayaknya kau haru mati karena aku sudah tidak membutuhkanmu lagi."
__ADS_1
Bora hanya berekspresi santai, tidak terkejut atau takut. berbeda dengan Sadow, yang sedikit tidak terima apa yang dikatakan Tuan King. Dia berjalan dan membisikkan sesuatu.
Tuan King tersenyum mendengar bisikan Sadow yang masuk akal, jika dia tidak perlu membunuh Bora, hanya perlu mendajikan tahanannya saja, sebagai umpan agar Viona datang menemuinya, lalu menahannya juga. Agar Jeny makin menderita, itulah yang dia inginkan.
"Hmm, baiklah bawa dia ke dalam penjara bertemu dengan mantan Istri dan Anaknya. hahaha keluarga bahagia dalam penjara."
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Aku datang kemari ingin melawanmu, kenapa kau hanya selalu memberi perintah" ucap Bora yang tangannya sudah diikat oleh Sadow.
"Diam!" pintahnya dengan berteriak. "Bawa dia segera! Jangan sampai aku benar-benar membunuhnya."
Sadow membawa Bora masuk ke dalam penjara, di mana Mira dan Sisil berada. Mereka tidak tau saja, jika ketiga orang itu adalah Mutan yang diperintahkan Viona untuk mencari informasi.
Di ruang kerja Viona, dia berusaha menahan amarahnya melihat hasil pertemuan antara Bora dengan Tuan King. Apalagi saat Tuan King ingin keluarganya menderita selamanya. Makin terkejut lagi saat mendengar jika Mira adalah mantan Istri Bora, Ayah kandung Sisil.
Tapi dia bingung, dengan perkataan Tuan King jika hidupnya juga tak lagi bisa bahagia karena perlakuan Ayah Bora, yang berarti orang yang dia maksud adalah Kakeknya.
"Hah, kenapa semuanya saling terhubung begini? Apa yang sudah dilakuakan Kakek ke pada Tuan King sampai semarah itu? Sangat jelas dia ingin melakukan balas dendam, tapi karena Kakek sudah meninggal, jadi dia lampiaskan semua amarahnya ke pada Anak dan Cucunya."
Viona hanya bisa mendapat jawaban dari pamannya, tapi dia harus menunggu pamannya sadar, karena dia yakin jika sang Momy tidak tau apa-apa.
Viona meninggalkan ruangan kerjanya, dia ingin pergi mencari suatu tempat untuk menenangkan pikirannya, berharap semua masalah menghilang sejenak.
Viona melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia hanya berputar-putar dalam kota, setelah merasa lelah, dia baru menepikan mobilnya di sebuah pantai yang tak jauh dari pinggir jalan.
Viona segera turun, dan berjalan ke bibir pantai. Menginjakkan kakinya di pasir tanpa menunggunakan alas. Menatap luas kedepan dengan deruhan ombak.
Dia merentangkan kedua tangannya, menghirup udara sebanyak mungkin, membiarkan angin menerpa wajahnya, sampai rambut panjangnya terbang manari-nari.
__ADS_1
"Aaaaaaaahhh. Kapan semua ini berakhir?" teriaknya sekencang mungkin.
Agar tidak putus asa dalam menghadapi masalah, lihatlah bahwa semuanya wajar dan bisa diupayakan menjadi lebih baik. Sabar adalah cara yang harus digunakan untuk menyelesaikan masalah apa pun. Seberat apa pun, akan cepat diselesaikan dengan kesabaran.