KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
132. Kencan


__ADS_3

Di salah satu ruang private terlihat seorang Ibu dan Anak sedang makan siang bersama, Tidak ada percakapan di antara keduanya sampai makanan mereka habis.


"Tumben Ibu mau datang ke kota? Biasanya kalau aku ajak, pasti Ibu tidak mau!" tanya sang Anak setelah mengusap mulutnya dengan tisu.


"Nak! Apa kamu tidak tau jika Ayahmu sudah tiada?" Ibunya malah bertanya balik.


Sang Anakpun terkejut, "Ibu ngomong apa sih? Jangan bercanda seperti itu! Beberapa hari yang lalu aku masih berkirim pesan dengan Ayah dan masih sempat bertemu kemarin malam"


"Ibu tidak bercanda Nak, Ayahmu sudah meninggal kemarin siang, makanya Ibu datang. Apa Ayahmu tidak berpesan apa-apa ke padamu?"


Dua orang itu adalah Istri Tuan King dan juga Anaknya yang bernama Arlan Lamino, dia bekerja di kota itu, tapi Ibunya tidak tau Anaknya bekerja apa dan di mana.


Ariana menelpon Anaknya untuk bertemu dan itu atas perintah Viona. Dia ingin tau apakah selama ini Anaknya juga ikut dalam misi balas dendam. Ibunya sangat berharap jika Arlan tidak terlibat, dia tidak ingin Anaknya bernasib sama seperti Ayahnya.


"Ayah tidak bepesan apa-apa Bu, tapi kenapa sangat mendadak, padahal Ayah baik-baik saja."


"Nak! Yang namanya takdir tidak ada yang tau. Sakit atau sehat, tua atau muda pasti akan mati."


"Terus kenapa Ibu baru memberitahuku?" tanyanya yang merasa sedih kehilangan sosok Ayah.


"Maaf Nak, kemarin Ibu sangat syok, dan sangat sedih jadi baru sekarang Ibu memberitahumu. Oh iya Nak, apa kamu tau apa pekerjaan Ayahmu?"


Arlan terdiam sejenak, "Emm Ayah memiliki Perusahaan sendiri Bu, tapi Ayah melarangku bekerja di sana" jawabnya sedikit gugup.


Dia berpindah ke samping Ibunya lalu memeluknya. "Ibu jangan bersedih lagi, aku yakin Ayah sudah tenang di alam sana."


"Kayaknya Arlan tidak tau apa-apa!" gumamnya dalam hati.


"Jadi Ibu mau balik ke Desa? Kenapa tidak tinggal bersama denganku saja Bu!" tanyanya setelah melepas pelukannya.


"Iya Nak, Ibu harus pulang. Nenekmu sendiri di sana. Dia harus di awasi, karena seringkali pergi tanpa memberitahu Ibu."


"Hmm, padahal aku ingin Ibu tinggal bersamaku. Ya sudah, sebelum pulkam kita ke makam Ayah Bu."


"Kenapa Arlan terlihat sangat santai mengetahui Ayahnya sudah tiada? Apa dia juga terlibat?" gumam Ariana dalam hati yang membuat hatinya kembali bersedih.


Setelah obrolan berakhir, keduanya meninggalkan tempat itu, lalu menuju di mana makam Tuan King berada.

__ADS_1


...----------------...


Jam menunjukkan pukul lima sore, Viona baru meninggalkan Menssion setelah mendapat pesan jika Leo sudah menunggunya.


Tak butuh waktu lama Viona tiba di pantai. Dia yang meminta bertemu di situ, di mana mereka saling mengungkapkan perasaan. Dia berlari kecil setelah melihat Leo yang memandangi lautan biru.


Viona langsung memeluk Leo dari belakang, dia sangat merindukannya padahal baru dua hari tidak bertemu. Leo tidak terkejut, karena dari jauh bauh parfum Viona sudah tercium.


Leo melepas pelukannya lalu berbalik menatap Viona, dia melihat pipi Viona yang merona, "Kenapa hm?"


Viona sedikit malu dengan tindakannya itu, dia bingung dengan dirinya jika berdekatan dengan Leo pasti dirinya yang sangat agresif.


"Apa Kak Leo tidak merindukanku?" tidak menjawab, dia malah melontarkan pertanyaan.


Leo tersenyum manis, yang mana dimplenya terlihat sangat jelas. "Li makanya aku ingin bertemu, karena aku merindukanmu!"


Hati Viona berdebar debar, dia sangat bahagia karena ternyata alasan Leo ingin bertemu karena merindukannya. "Emm ternyata pandai ngegombal. Belajar dari mana?"


"Harus dong, tidak perlu belajar! Ikuti kata hati saja" balasnya sambil menarik hidung Viona.


"Jadi mau gombalin cewek lain?" tanya Viona kesal.


Yang tadinya kesal kembali berbunga-bunga. Sebenarnya dia ingin menanyakan status hubungan mereka itu seperti apa. Tapi di urungkannya, Viona ingin bersabar sedikit lagi. Dia yakin, pasti Leo akan menjelaskannya.


"Aku mencintaimu Kak!"


Leo langsung menarik Viona ke dalam dekapannya, "Aku lebih mencintaimu" balasnya sambil mencium pucuk kepala Viona.


Viona membalas pelukan Leo, setelah mendengar kata hati Leo yang ingin memperjuangkannya. Dia merasa sangat beruntung bisa di cintai dengan tulus dari laki-laki seperti Leo.


Leo kembali melepas pelukannya, membuka jaketnya dan memakaikan ke Viona. "Kenapa jaketnya dilepas lagi? Angin laut sangat kencang."


"Heheh memang dari rumah aku tidak pake, kan ini sudah pake baju lengan panjang!"


"Iya, tapi di mobil adakan? Tapi tetap saja beda"


Keduanya malah berdebat tentang jaket. Tapi itu hanya candaan, karena mereka bingung harus ngobrolin apalagi. Setelah beberapa menit Leo mengajak Viona ke salah satu stan minuman.

__ADS_1


...----------------...


Di malam hari Viona berkumpul dengan para Kakaknya di ruang tengah setelah makan malam bersama.


"Dek gimana kencanmu?" tanya Raka di sela obrolan.


Viona menatap Raka sambil tersenyum, "Emm gimana ya Kak, kalau aku ceritaiin nanti kalian iri loh."


"Ck, emang kamu pikir kami tidak pernah pacaran hmm?" sela Rian bertanya sambil menjewer telinga Viona.


"Heheh canda loh Kak, ya kencanku tadi baik-baik saja Kak, lancar tanpa kendala" balas Viona.


"Kenapa Leo tidak datang di sini saja?" tanya Raka lagi.


"Em Kak Leo sebenarnya ingin datang, cuman aku mintanya bertemu di luar, di sinikan banyak pengganggu"


Mendengar ucapan Viona, ketiganya langsung menatap tajam. Karena tentu mereka langsung tersinggung dengan sendiran Viona itu.


"Ck, berarti kalian memang pengganggu, kan aku tidak menyebut nama kalian"


Obrolan terhenti, saat Tuan Jack ikut bergabung. "Kalian kenapa?" tanyanya yang melihat wajah masam mereka.


"Biasalah Dad, orang jomblo hehe!" balas Viona lalu berlari berpindah duduk di samping Dadynya, karena Rian pasti akan menjewernya lagi.


"Hah makanya , kalian itu harus cari pacar segera, masa kalian mau kalah sih sama Adikmu" ucap Tuan Jack membela Viona.


"Dad! Cari pacar yang setia itu susah loh!" balas Rian yang menyebutkan alasan mengapa dia bisa jomblo sampai sekarang.


"Kak Rian saja yang pemilih!"


Semuanya malah mengangguk membenarkan ucapan Viona, karena itu memang benar adanya.


"Oh iya Dek, kamu tau kalau Ray lagi sakit?" tanya Raka lagi dengan pembahasan yang berbeda. Dia tidak ingin berbicara soal pacar jika ada Tuan Jack.


Viona terkejut, pantesan Ray tidak pernah ada kabar "Aku tidak tau Kak, Kak Raka tau dari mana?"


Raka langsung menjawabnya "Kan tadi kami rapat di Perusahaan Duke, tapi malah Tuan Bas yang pimpin rapat, yang biasanya kan Ray. Jadi aku tanya sama Riki, dan katanya Ray lagi sakit.

__ADS_1


Viona termenung, dia beranggapan jika Ray sakit karena terlalu memikirkan masalah sebelumnya, dia tiba-tiba tidak enak hati. "Begitu yah Kak, besok aku akan pergi menjenguknya."


__ADS_2