KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
114. Kecelakaan


__ADS_3

Setiba di Rumah Sakit, mereka langsung menanyakan ke pada Resepsionis, betapa terkejutnya saat salah satu pegawai mengatakan jika korban kecelakaan yang baru saja tiba berada di ruang oprasi.


Mereka pergi mencari dengan sedikit berlari. Tiba depan ruangan mereka melihat Leo terduduk di lantai sambil memeluk lututnya.


"Leo!" panggil Raka, dia heran melihat Leo yang tidak menyadari keberadaannya.


Leo mendongakkan kepalanya, terlihat jelas matanya yang sembab, menandakan jika dirinya baru saja menangis. "Bang! Lilie,, " dia tidak bisa meyelesaikan ucapannya, dadanya sesak.


Raka menuntun Leo untuk duduk di kursi tunggu. Sebenarnya dia ingin menyerbu Leo dengan banyak pertanyaan, tapi melihat kondisi Leo seperti itu, dia harus sedikit bersabar. "Tenangkan dirimu! Lalu ceritakan apa yang terjadi! Kenapa Viona harus di oprasi?"


"Leo! Katakan jika Viona baik-baik saja!" Sela Rian yang sudah berlinang air mata. Perasaannya makin kacau melihat kondisi Leo, belum lagi baju Leo berlumuran darah."


~Flasbac On


Leo langsung tancap gas setelah melihat Viona mengendari mobilnya, jarak keduanya sedikit jauh karena jalanan padat di jam pulang kerja.


Tapi Leo berhasil menyalip, dia tiba dua mobil di belakang Viona. Lampu merah, dia berharap bisa mengejar Viona setelah lampu hijau. Tiba-tiba para pengendara lainnya membunyikan klakson secara serempak, dan juga ada yang berteriak untuk berhenti. Leo heran, dia menengok kedapan sambil memiringkan kepalanya karena dia berada tepat di belakang mobil orang lain, jadi dia sedikit terhalang.


Leo turun dari motornya dan berlari setelah melihat ke depan, "Liliiiiiiie berhenti! Liliiiiiiie" teriaknya berharap Viona mendengarnya.


Tiba-tiba seseorang menghalanginya, untuk tidak mendekat. Karena nyawa Leo juga akan menjadi taruhannya, dia tidak peduli dia menarik paksa tangannya hingga terlepas.


Berlari kembali sambil berteriak. "Liiii kumuhon berhenti!" tapi takdir tidak bisa dihindari kecelakaan itu terjadi tepat di depan matanya.


Braaaakk, braaaakk braaaakk.


Melihat dengan jelas bagaimana mobil Viona bergelinding sampai mentok di tiang listrik.


"Tidaaaaaak! Liliiiiiiie" dia segera berlari menghampiri Viona, dia tertegun melihat kondisi mobil Viona, dia membuka pintunya dan melihat Viona yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajahnya yang sudah penuh dengan darah.


Leo mengangkat Viona keluar dari mobil, karena mobil Viona sudah mengeluarkan banyak asap. Kebetulan Polisi dan Ambulance sudah tiba.


Di dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Leo terus mengatakan. "Li kamu harus kuat, sebentar lagi kita tiba, kamu pasti bisa menahannya."


Tiba di Rumah Sakit Viona segara di bawa ke UGD. "Maaf Mas, Anda tidak bisa masuk, silahkan tunggu di luar!" ucap sang perawat.


Leo menurut, dia tidak ingin mengganggu agar para Dokter bisa menangani Viona dengan baik. Dia duduk dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Selang beberapa menit, Dokter keluar. "Apa Anda keluarga pasien?" tanyanya.


Leo tersentak, kenapa dirinya bisa lupa memberitahu keluarga Viona. "Bukan Dok, saya hanya temannya, emang kenapa Dok, teman saya baik-baik sajakan?"


"Segera hubungi keluarganya! Korban harus dioprasi sekarang, kepalanya terbentur cukup keras sampai mengalami pendarahan yang cukup parah."


Deg


Leo mematung, badannya bergetar. "Dok lakukan sebaik mungkin! Aku yang akan bertanggung jawab, aku akan menghubungi keluarganya." Leo harus melakukan itu, jika menunggu yang lainnya itu akan terlambat, nyawa Viona bisa melayang.


Dokter mengajak Leo untuk mengurus data dan menandatangani sebagai wakil Viona atas persetujuan oprasi dilakukakan.


Setelah itu dia baru menghubungi Raka, dan memberitahu apa yang sudah terjadi, beberapa menit suara Rian juga terdengar, kembali Leo menjelaskan. Tapi, belum sempat dia mengatakan jika Viona sudah barada di ruang oprasi panggilannya sudah terputus.


~Flasback Off


"Maafkan aku jika sudah bertindak tanpa memberitahu kalian!" sahut Leo setelah mengakhiri penjelasannya.


Raka sudah bisa paham, kenapa kondis Leo lebih down daripadanya. Karena Leo melihat langsung bagaimana kecelakaan itu terjadi. Dia menepuk pundak Leo lalu berkata. "Kamu tidak perlu minta maaf, kamu sudah melakukan yang benar"


"Hmm, benar apa yang dikatakan Bang Raka. Jika kamu menyuruh Dokter untuk menunggu kami, itu sudah sangat terlambat" timpal Rian.


Semuanya duduk, dengan persaan campur aduk. Mereka menunggu para Dokter yang sedang berjuang, dan berharap oprasinya berjalan dengan lancar.


Berita kecelakaan tersebar dengan cepat, apalagi jaman sekarang internet makin canggih. Sudah tersebar di media sosial sampai trending topik.


...----------------...


Di kediaman Duke, terlihat mereka sedang berkumpul, karena Rara baru saja tiba dari luar kota. Momy Lidya sangat bahagia, akhirnya sang anak lebih memilih mengambil job di dalam kota. Ray juga sama, karena dia kasihan melihat Momy nya yang kesepian.


Tiba-tiba Riki datang dan ikut bergabung, karena ada urusan yang lain. Tapi terlihat wajahnya sangat panik dan juga cemas. "Maaf mengganggu!"


"Kenapa katakan?" tanya Tuan Bas.


Ray yakin sesuatu sudah terjadi, "Apa yang terjadi? Kenapa kamu,,?"


"Nona Viona megalami kecelakaan!" ucapnya memotong ucapan Ray. "Sekarang dia berada di Rumah Sakit."

__ADS_1


"Appaa? Viona kecelakaan?" tanya Momy Lidya dengan berteriak.


"Riki aku akan membunuh jika kau berbohong" gertak Ray yang sudah berdiri di depan Riki.


"Ray sabar dulu! kamu tidak boleh begitu!Kita dengar dulu penjelasan Riki sampai selesai" sahut Tuan Bas menegur Ray karena sikapnya terlalu cepat emosi.


Riki menyodorkan ponselnya, dan memperlihatkan beritanya ke pada Ray, "Aku juga sudah mencaritahunya, dan benar, itu mobil nona Viona. Dan saat ini dia sudah di Rumah Sakit dengan keluarganya."


Ray segera berlari keluar, dia ingin pergi melihat kondisi Viona, "Riki susul dia, jangan biarkan dia mengemudi!" pinta Tuan Bastian.


Riki langsung berlari mengejar Ray, untung kunci mobil masih berada di tangannya, jadi dia yang mengambil alih, dia tidak peduli jika Ray mengamuk.


"Dad! Ayo kita menyusul mereka!" Nyonya Lidya juga tidak tahan. Dia merasa bersalah, karena orang tua Viona sudah menitipkan mereka ke padanya.


Tanpa berpikir Tuan Bas mengambil kunci mobil, tak lupa berpesan ke pada Rara agar tetap tinggal untuk menemani Omahnya. Merekapun pergi ke Rumah Sakit di mana Viona berada.


...----------------...


Di Rumah Sakit, oprasi belum selesai juga. Mereka berempat masih setia menunggu. Tiba-tiba ponsel Rian berdering, dia melihat sang Dady menelponnya. Dia beranjak dan mencari tempat yang lain untuk menerima panggilan.


"Halo Dad!"


"( ...... )"


Rian sudah menebak, jika orang tuanya sudah mengetahuinya melalui berita yang beredar. Dia menjelaskan apa yang terjadi, karena bagaimanpun mereka berhak tau.


Setelah paanggilan berakhir, dia kembali ke tempatnya semula. Tak lupa juga Rian memberi kabar ke pada Bi Yun atas perintah Raka, dan berpesan jangan sampai kedua harimau itu mendengarnya. Karena dia akan mengamuk dan berubah jadi hewan buas yang sesungguhnya.


Leo sebenarnya heran, kenapa kedua harimau itu tidak boleh mendengarnya, dia tidak akan mengerti, kerena cuman seekor hewan pikirnya. Tapi dia hanya bisa menurut. Dia tidak tau jika harimau bisa mengerti bahasanya.


"Siapa?" tanya Raka setelah Rian kembali duduk di sampingnya.


"Dady! Mereka sudah OTW" balas Rian. Karena saat menelopon tadi sang Dady sudah berada di bandara.


...----------------...


"Hahahah, jadi keponakan si Bora mengalami kecelakaan? itu yang aku mau. Membuat mereka semua menderita, karena aku tidak ingin melihat keluarga itu bahagia. Belum juga aku betindak, tapi dia sudah celaka lebih dulu. Jadi saat ini aku bersantai. Karena aku yakin mereka sedang menangis darah hahahaha."

__ADS_1


__ADS_2