
Beberapa hari berlalu ternyata Lucas masih berusaha untuk menemui Jeny, dia menunggu tepat di depan kampusnya. Dia tidak mendengarkan ancaman Tuan Ambar, dia mengira itu hanya sebuah gertakan.
"Kumohon jangan menemuiku lagi, demi kebaikan kita semua!" ucap Jeny yang menghampiri Lucas secara diam-diam, dia takut jika ada Anak buah Ayahnya.
"Jen! Aku tidak bisa, aku selalu memikirkanmu. Kenapa kamu tidak ingin memperjuangkan cinta kita?"
"Maafkan aku, bukannya aku tidak ingin berjuang bersama, tapi aku sangat mengenal sikap Ayahku, yang selalu teguh dengan pendiriannya" balas Jeny dengan raut wajah sedih.
"Jadi, kita putus begitu saja? Aku tidak bisa Jen, aku akan menumui Ayahmu, jika perlu aku akan bersujud di hadapannya!"
Jeny terkejut mendengar ucapan Lucas yang sangat serius. "Jangan menjatuhkan harga dirimu! Jika kita memang berjodoh, pasti kita akan kembali bersama. Dan untuk sekarang, kita turuti kata Ayahku, aku tidak mau dia berbuat jahat ke padamu!"
Lucas menggeleng lalu berkata, "Pokoknya aku tidak ingin putus denganmu, aku tidak takut dengan ancaman Ayahmu"
Mendengar hal itu membuat Jeny sangat khawatir, karena Lucas terlihat tidak peduli dengan kesalamatannya "Kumohon untuk terakhir kalinya, jangan menemuiku lagi!" lalu meninggalkan Lucas, karena dia merasa ada seseorang yang menatapnya dari jauh.
Lucas sangat kecewa, dia mengepal tangannya dengan kuat, "Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap ingin memperjuangkanmu, aku pastikan Ayahmu merestui hubungan kita" ucapnya percaya diri.
...----------------...
Ke esokan harinya, Jeny disuruh menghadap ke pada Ayahnya. "Ada apa Ayah?" tanyanya.
Tuan Ambar menyodorkan sebuah tiket "Besok pagi kamu harus berangkat! Aku sudah memperingatimu untuk tidak bertemu dengannya. Tapi kamu malah mengabaikan ucapan Ayah"
"Aku tidak ingin keluar negri Ayah, bagaimana dengan kuliahku? Ya kemarin aku tidak sengaja bertemu dengannya. Ayah tidak usah khawatir! Aku sudah memintanya untuk tidak menemuiku lagi."
"Ayah tidak ingin mendengar bantahan! Dan kuliahmu yang tinggal satu semester lagi bisa kamu lanjutkan di sana. Dan juga lelaki itu, menganggap remeh ancamanku"
Merasa tidak ada pilihan lagi terpaksa dia hanya menurut, "Aku akan menuruti kemaun Ayah, dengan satu syarat. Jangan mengancam atau melukai Lucas!"
Tuan Ambar tidak menjawab, dia langsung beranjak meninggalkan Jeny yang sudah menangis tersedu-sedu.
...----------------...
Di pagi buta, Jeny sudah berada di bandara yang diantar oleh Ayah dan Kakaknya, daripada melihat orang yang dicintai terluka, lebih baik dia pergi. Dia merasa sangat yakin, dengan kepergiannya semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Setelah kepergiannya, Tuan Ambar dengan Bora pulang dengan menggunakan mobil masing-masing. Dia merogoh ponselnya, lalu menelpon seseorang.
"Lakukan!" ucapnya singkat lalu mengakhiri panggilannya tanpa mendengar balasan dari lawan bicaranya.
Di sisi Bora, dia juga sedang menelpon ke kasihnya, yang mengatakan jika dirinya tidak bisa bertemu untuk beberapa hari kedepan, dia hanya berjaga-jaga takutnya sang Ayah meminta seseorang untuk memata-matainya.
Di kantor saat setelah makan siang Tuan Ambar meminta Bora untuk menemuinya, dia ingin menceritakan suatu hal yang penting.
"Ada apa Ayah, apa ada masalah?" tanyannya sedikit takut. Takut Ayahnya menanyakan hal pribadinya.
Tuan Ambar terdiam sejenak lalu menatap Bora, "Ayah hanya ingin minta satu hal ke padamu! Jaga Adikmu, meskipun dia tidak berada di dekatmu. Umur Ayah sudah tidak muda lagi, aku ingin kamu menjaganya meskipun nyawa taruhannya."
"Kenapa Ayah berkata seperti itu? Meskipun tanpa Ayah minta, aku akan selalu menjaga Jeny, dia Adikku satu-satunya"
"Entahlah, Ayah hanya ingin mengingatkanmu saja. Oh iya kenapa kamu tidak memperkenalkan kekasihmu ke pada Ayah?"
Bora sangat terkejut karena ternyata sang Ayah sudah tau jika dirinya memiliki kekasih, tapi karena dia takut tidak di restui, makanya dia tidak pernah mengajak sang kekasih bertemu dengan Ayahnya.
"Kamu pikir Ayah tidak tau? Meskipun Ayah sangat sibuk, tapi Ayah selalu memperhatikan keseharian kamu dengan Jeny. Kamu pasti mengira jika Ayah tidak terlalu memperdulikanmu, karena selama ini Ayah hanya fokus mengurus pekerjaan."
"Tapi kamu takutkan jika Ayah tidak merestui hubunganmu? Bagaimana Ayah menentang hubungan Jeny dengan pria itu!" ucapnya memotong perkataan Bora.
Bora hanya bisa mengangguk, karena memang begitulah kenyataannya, Ayahnya seakan-akan mengetahui isi pikirannya.
"Ayah akan merestui hubunganmu dengan satu syarat. Kamu lindungi Adikmu apapun yang terjadi di masa depan."
Mata Bora membulat saking tak percayanya, "Apa Ayah serius? Ayah sudah taukan identistasnya!"
"Hmm, Ayah sudah tau sejak lama. Kamu pasti akan bertanya lagi, kenapa Ayah tidak merestui hubungan Jeny?"
Bora segera mengangguk, dia sangat bingung dan juga penasaran, kenapa Ayahnya tidak adil dalam bersikap.
Tuan Ambar menghela nafas beratnya "Hah, sebenarnya Ayah tidak melarang kalian ingin berpacaran dengan siapa, Ayah juga tidak mempermasalahkan masalah status."
Bora makin bingung, karena dia sendiri yang melihat dan mendengar apa yang dikatakan Ayahnya saat meminta Lucas untuk menjahui Jeny.
__ADS_1
"Ibunya Lucas adalah cinta pertama Ayah, tapi cinta Ayah bertepuk sebelah tangan. Di mana saat itu Ibunya menolak perasaan Ayah di depan umum, mempermalukan Ayah sampai dia membuang ludah tepat di depan wajah."
"Ayah sangat sakit hati, jika memang ingin menolak katakan saja tidak, jangan menyakiti hati yang tidak bersalah, mulai saat itu Ayah menaruh dendam ke padanya, dan mulai bekerja keras agar tindak di pandang rendah lagi. Dan di saat itu juga Ayah bertemu dengan Ibumu, Yang membantu dan selalu ada di samping Ayah"
Bora hanya diam menyimak, dia bisa merasakan sakit hati Ayahnya saat itu, dipermalukan depan umum tidak beda jauh dengan pembullyan.
"Makanya Ayah melarang keras Jeny berhubungan dengan Lucas, meskipun bukan dia yang bersalah, tapi pasti Ibunya juga bisa merasakan sakit hati Anaknya, dan dia bisa tau betapa sakitnya jika di tolak karena masalah ekonomi."
Bora jadi bingung untuk menilai, apakah yang dilakukan Ayahnya sudah benar atau salah "Jadi kenapa Ayah mengirim Jeny ke negara X? Kenapa Ayah tidak menjelaskan ke padanya agar dia tidak salah paham."
"Karena anak itu tidak bersalah, makanya Ayah memberi dia satu kesempatan. Ayah ingin lihat, sampai mana kesetiannya, apakah dia bisa menunggu Jeny selama setahun atau malah memilih wanita lain."
Bora sudah mengerti, "Maafkan aku yang sudah berburuk sangka ke pada Ayah, dan untuk syarat yang Ayah minta, aku pastikan untuk menepatinya.
"Tidak masalah Nak, karena beginalah sikap Ayah yang selalu tegas, jadi banyak orang berpikir jika Ayah adalah orang yang jahat."
"Hmm, jadi apa aku boleh membawa ke kasihku bertemu dengan Ayah?" tanyanya.
"Ya, Ayah ingin berkenalan dengannya. Semoga dia memiliki sikap yang baik sebagaimana informasi yang aku dengar, agar dia juga bisa membantumu untuk menjaga Jeny."
Bora tersenyum cerah, "Terima kasih Ayah, dia pasti sangat senang mendengarnya. Ayah tenang saja, karena aku menjamin informasi yang Ayah dengar itulah faktanya.
...----------------...
Ke esokan harinya, Tuan Ambar dan Bora tiba-tiba mendapat kabar, jika Ibunya Lucas meninggal dunia, yang mana membuat mereka syok.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ayah?" tanya Bora seakan dia menuduh Ayahnya.
Tuan Ambar tidak marah, memaklumi jika Bora bertanya seperti itu, "Ayah tidak pernah membunuh, mau bagaimanapun dendam atau bencinya Ayah ke pada seseorang. Paling tidak hanya luka kecil sebagai gertakan."
Bora menghela nafas legah mendengarnya, dia tidak ingin berurusan dengan polisi. "Maaf jika aku sempat mencurigai Ayah!"
"Tidak apa Nak, Ayah sudah meyuruh seseorang untuk menyelidikinya. Dan kemarin Ayah hanya memerintahkan Anak buah Ayah untuk memata-matai bagaimana keseharian Lucas setelah dia tau kepergian Jeny."
"Apa Jeny memberitahunya, jika dia pergi?"
__ADS_1
"Ayah yang mengirimkan foto ke padanya, tapi entahlah, dia sudah melihatnya atau belum."