KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*MENGHINDAR*


__ADS_3

Viola dan meta tak hentinya menatap Neta, meminta penjelasan. Kenapa Neta gelagatnya aneh gitu, gak kayak biasanya santai.


Saat Neta ingin mengambil buku, Neta sadar kalau dirinya sedang di tatap sama sahabatnya. "A... Apa?" Tanya Neta sambil terbata-bata.


"Siap-siap Lo bakal kita sidang." Ancam meta dan di angguki oleh Viola, tanda dia sependapat dengan meta.


"Astaga," Neta hanya bisa pasrah, karena memiliki sahabat yang super bawel dan kepo.


Jam mengajar Aditya sudah hampir selesai, Aditya terus menatap Neta yang sedang tertunduk, entah apa yang dia pikirkan tentang Aditya. Atas apa yang Aditya lakukan tadi pagi.


Aditya ingin menjelaskan kejadian tadi pagi, tapi dia belum menemukan waktu yang tepat. Setiap kali Aditya memberi kode, Neta selalu acuh dan tidak peduli. Sehingga beberapa kali Aditya melakukan Kesalahan dalam mengajar.


"Dasar bocah, kenapa dia tidak paham dan malah menghindar gitu. Yasalam, bakal susah ini caranya." Batin Aditya yang kelihatan wajahnya sangat stress.


"Kamu bisa keruangan saya sekarang." Tunjuk Aditya ke arah Neta, semua anak murid terdiam, Aditya memberi perintah kepada ke tua kelas agar Neta mengikuti Aditya.


Ketua kelas yang mengerti, langsung menganggukkan kepalanya sebelum Aditya keluar kelas.


"Dia bertanya apa memberi perintah sih, Gak sopan gitu." Gumam Neta, yang mendengar apa kata Aditya, tapi dia tidak melihat siapa yang di tunjuknya.


Semua orang yang ada di dalam kelas menatap Neta. "Apa?" Tanya Neta yang tidak paham, karena Neta tadi sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya.


"Kamu di minta ke ruangan pak Aditya."


"Aku?" Tanya Neta memastikan apakah dia salah dengar apa gak. Sambil menunjuk dirinya sendiri, dan semua orang mengangguk. Neta mengerjapkan matanya untuk mencerna semuanya. "Benarkah? Aku... Diriku? Aish... Sekarang apa lagi coba." Neta berdecak kesal, selalu saja dirinya yang di panggil.


Neta segera bangun dari tempat duduknya dan hendak keluar. Tapi di tahan oleh Ferly. "Apa?" Tanya Neta Menepis cengkraman Ferly.


Semua orang mulai berbisik dan ada juga, menyiapkan cemilan untuk menonton pertunjukkan di dalam kelas. "Semoga berhasil." Ucap Ferly keluar dari kelas dengan tersenyum. Semua anak-anak yang ada di dalam kelas terdiam sejenak. Untuk mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


Neta terkejut bukan main, entah ada angin apa, sampai Ferly mengatakan itu ke Neta. Dan memberi semangat.


"Apakah matahari terbit dari barat, tadi pagi? Atau angin dari arah mana yang berhembus kencang." Ucap Neta menatap ke arah meta dan viola.

__ADS_1


"Kayaknya dia kerasukan deh, Entah setan mana yang sedang merasuki tubuh dia." Sahut meta yang tak kalah heran.


Semua orang yang ada di dalam kelas langsung acuh lagi. "Gak ada tontonan deh, gak asik." Ucap salah satu siswa dan teman-temannya. Mereka semua langsung keluar dari kelas.


"Di kira lagi ada topeng monyet apa, emang di sini pasar jadi ada pertunjukan." Ketus Neta yang mendengar ucapan siswa tadi.


"Kalian berdua mau kemana?" Tanya Neta kepada kedua sahabatnya, yang katanya sangat setia.


"Kalian... Gak mungkin kan, ini... Atau emang seperti yang gue fikirkan?" Viola dan meta hanya cengar-cengir gak jelas.


"Neta sayang.." Meta langsung memeluk Neta dan menatap Neta dengan memegang kedua bahunya.


"Kami berdua laper, Bukannya kami gak setia, bukan loh. Cuman cacing di dalam perut perlu asupan, agar dia bisa berkembang dengan baik. Jadi... hehehe... Kamu sendiri aja yah kesannya, ingat!! Kalau kamu butuh apa-apa berdo'a saja oke. Jangan sebut nama aku dan ibu mu karena kami tidak akan bisa datang menolong mu." Ucap meta yang mencari alasan. Neta hanya memutar bola matanya, tanda dia tidak perduli lagi.


"Cepetan kesana, nanti kamu telat, Abis kesana. Jangan lupa susul kita. Kita berdua di tempat biasa nya." Sambung viola dan menarik tangan meta agar segera keluar dari kelas.


Neta menatap kepergian kedua sahabatnya. "Ck... Dasar gak setia, alasan cacing perlu asupan. Di kira punya gue gak perlu juga apa." Neta menghentakkan kaki sebelah kanannya dan keluar kelas. Dalam perjalanan Neta terus berfikir, apakah dia telah melakukan Kesalahan sampai di panggil ulang.


"Neta." Panggil seseorang dari arah samping. Neta langsung menatap orang tersebut.


"Gila, ternyata masih ada cowok tampan di sekolah ini. Tapi kenapa dia tau dengan ku? Apakah pemilik tubuh ini kenal dengannya."


"Kau memanggilku?" Tanya Neta dengan menunjuk dirinya.


"Kalau kau bertanya ke aku, lalu aku bertanya ke siapa?" Menatap Neta.


"Coba tanya ke rumput yang bergoyang." Jawab Neta, lelaki itu malah tertawa mendengar jawaban Neta.


"Maaf aku lagi ada urusan, kalau kamu ingin bertanya, minta tandatangan, dan foto. Sebaiknya kamu urungkan saja itu, karena aku orang yang sangat sibuk." Neta bergegas meninggalkan pria yang sedang mencerna ucapan Neta barusan.


"Hah!! Apakah dia tidak tau siapa aku?" Pria itu tercengang, baru kali ini dia berhadapan dengan wanita yang tidak tertarik dengan dirinya. "Sangat menarik." Ucapnya yang terus menatap kepergian Neta.


**** **** **** ****

__ADS_1


Neta sekarang berada di depan pintu Aditya. "Tenang Neta, dia juga manusia, sama-sama makan nasi cuman seleranya aja beda. Dan sama-sama keluar dari situ juga, jadi tenang oke." Neta tarik nafas dalam-dalam lalu memegang gagang pintu.


CEKLEKKK...


Neta segera masuk dan langsung duduk di hadapan Aditya tanpa permisi. Jantung Neta berdetak kencang, saat melihat Aditya sedang fokus melihat file dengan kacamata terlihat sangat tampan.


"Sangat tampan, tapi sayang sifatnya bertolak belakang dengan wajahnya. Sungguh sia-sia ciptaan tuhan kepada mahkluk yang satu ini." Gumam Neta yang terus menatap Aditya.


"Saya tau kalau saya tampan, jadi berhentilah menatap saya. Kalau tidak..." Aditya melepaskan kacamata dan menutup berkas, segera dia menatap dengan tatapan yang tidak Neta pahami.


"Kenapa dengan gaya melepas kacamata saja dia tampan, apa lagi yang lain. Gak kuat gue bayangin." Batin Neta.


"Apa?" Tanya Neta yang merasa resah karena ketangkap basah oleh Aditya kalau dia terus menatap dirinya.


"Kalau tidak... Kamu akan jatuh cinta pada saya" Tersenyum kecil.


"Heleh... Bapak tuh yang sudah suka sama saya, bukti nya bapak mencium saya tadi pagi."


Seketika ruangan sepi hanya ada bunyi jam dinding dan suara orang di luar sana. "Gila... Kenapa gue harus mengungkit itu sih, jadi canggung sekarang. Dasar bodoh... bodoh... bodoh." Neta merutuki dirinya sendiri dan terus memukul mulutya yang asal ceplos tanpa rem.


"Baguslah kalau kamu mengungkit masalah itu. saya panggil kamu kesini, cuman mau bilang. Itu adalah kecelakaan dan anggap saja semuanya tidak pernah terjadi." Ucap Aditya dengan nada dingin.


JLEBBBB...


Nusuk, terasa sakit, saat mendengar. "Anggap saja tidak pernah terjadi." Ada bagian yang tidak bisa Neta terima, karena itu adalah ciuman pertama Neta.


Wajah Neta langsung kesel, Neta mengigit bibir bawahnya. Agar tidak keluar kata-kata yang tidak pantas dia ucapkan. "Hufffttttt... Hemmm..." Neta langsung berdiri dan ingin Keluar dari ruangan Aditya.


Aditya bingung, kenapa Neta tidak berbicara sepatah kata pun. Sebelum Neta benar-benar keluar dari sana, Neta membalikkan badannya dan menatap Aditya. Aditya yang masih menatap Neta terkejut dengan tatapan Neta, yang sangat dingin.


"Apa aku melakukan Kesalahan?" Batin Aditya yang bingung dengan tatapan Neta.


A.

__ADS_1



__ADS_2