KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
123. Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Silahkan diminum Nak!"pintahnya. "Syukurlah Nak, kamu sudah sehat kembali, Ibu sangat senang saat mendengar kamu sadar dari koma!"


"Makasih Bu! Maaf sudah merepotkan" balas Viona lalu meminum seteguk, "Iya Bu, saya juga sangat bersyukur masih diberi umur yang panjang!" lanjutnya.


"Tidak apa Nak, emm sekarang sudah jam lima, pasti Leo baru pulang kerja, apa kamu mau menunggunya Nak?"


Viona jadi bingung, karena saat meninggalkan Perusahaan dia menuju Restoran untuk bertemu Leo, tapi kata Thea, dia ijin karena kurang sehat. Jadi dia bergegas ke rumahnya.


Baru ingin menanyakan keberadaan Leo, tapi Ibu Nur sudah berkata jika dia akan pulang, yang berarti Leo pamit dengan Ibunya tadi pagi untuk bekerja.


"Emm aku ke Restoran saja Bu, soalnya hari ini aku tidak masuk kerja, tiba-tiba teringat Ibu jadi aku ke mari" sedikit beralasan.


"Hmm, terima kasih Nak. Masih mau berkunjung ke Rumah Ibu, ya sudah Nak, kamu hati-hati di jalan!"


"Iya Bu sama-sama, aku pamit dulu!" balas Viona lalu beranjak ke luar.


Ibu Nur mengantar Viona sampai teras depan, "Jika Nak Viona sudah memaafkanmu, Ibu harap kamu tidak melakukan kesalahan lagi Nak!" katanya dalam hati.


Viona hanya tersenyum mendengarnya, ternyata Ibu Bur mengetauhui permasalahan mereka, dia pamit sekali lagi lalu pergi dengan kecepatan sedang.


"Kak Leo ke mana ya? Dia tidak ada di Restoran, tapi Ibunya bilang dia belum pulang kerja. Huff apalagi yang kamu lakukan Kak?" Gumam Viona.


Tiba-tiba dia menepikan mobilnya, mengambil ponselnya di dalam tas, "Ck, kenapa aku tidak melakukannya dari tadi?" dia melupakan jika dia bisa melacak keberadaan Leo.


"Pantai? Hmm tempat itu lagi! Apa sekarang dia hoby ke pantai?" tanyanya pada dirinya sendiri. Kembali menyimpan ponselnya lalu melajukan mobilnya.


...----------------...


Di maskar King Wolf, telihat Sadow berjalan memasuki ruang penjara. Dia membuka gembok dan mempersilahkan tahanannya keluar.


"Kalian sudah dibebaskan, tapi ingat jangan membuat kesalahan lagi. Dan kamu Mira, jangan membuatku malu di depan Tuan King."


"Terima kasih" ucap mereka serempak.


"Hmm, baiklah. Kalian bisa tinggal di sini untuk sementara, karena Pak Doni sudah masuk penjara, kalian tidak bisa lagi tinggal di rumah itu."


Mira pura-pura terkejut, lalu berkata. "Appaa! Di penjara? Aku tidak akan balik ke rumah itu lagi, takutnya polisi mencariku juga."


"Ya, dan kau Bora! juga tinggal di sini. Tuan King tidak membiarkanmu berkeliaran di luar sana, jangan sampai kau ditangkap oleh keponakanmu lagi lalu kamu menceritakan semuanya."

__ADS_1


Bora juga sedikit berakting, "Tidak, tidak saya tidak ingin tinggal di sini, biarkan mereka tahu yang sebenarnya. Untuk apa saya patuh kepadanya lagi, dia saja tidak menepati janjinya ke padaku."


Sadow menatap Bora tajam, "Kau pilih mati di tangannya atau di tanganku?" tanyanya.


"Sudalah Bora, apa susahnya kau menurut! Mending kau di sini bersama kami, aku yakin mereka sedang mencarimu!" timpal Mira menyela.


"Aku belum ingin mati, Huuff baiklah, di mana kami harus tinggal?" tanyanya dengan pasrah, benar-benar akting yang sempurna, padahal itulah yang mereka inginkan tetap tinggal di situ untuk menjalankan tugas dari nonanya.


"Ada dua gudang di belakang sana, kalian bersihkan dan tinggal di situ. Ingat jangan membuat kesalahan lagi!" balasnya dan meniggalkan mereka bertiga.


Mereka saling tatap lalu tersenyum sangat kecil, karena mereka masih terpantau CCTV. Kemudian pergi mencari gudang yang di maksud.


...----------------...


Viona sudah tiba di pantai yang sama, dia turun setelah memarkirkan mobilnya, terlihat suasana cukup ramai, lebih banyak pengunjung di hari sebelumnya. "Hmm pantas saja, ini hari sabtu. Waktunya mereka malam mingguan."


Viona berjalan ke bibir pantai, tapi dia belum menemukan keberadaan Leo, "Kamarin di sini, tapi sekarang tidak ada. Apa Kak Leo di tempat lain ya? Kerena melihat suasananya sangat ramai" gumamnya.


Dia melanjutkan berjalan, menyusuri pinggir pantai. Setelah lima belas berjalan akhirnya dia melihat punggung Leo yang sedang terduduk di atas pasir. Dia menoleh kebelangkang "Pantas saja tidak kelihatan, terhalang batu besar itu."


Viona mendekat, sekarang jarak keduanya sisa satu meter lagi. Viona makin yakin, jika orang itu adalah Leo, karena jaket yang dia pake saat itu pemberian darinya.


Viona menghela nafas, tiba-tiba dia merasa gugup dan juga deg-degkan. "Kak Leo!" panggilnya.


Viona masih memasang wajah datarnya dan jalan mendekat, dia melihat makin jelas mata Leo yang memerah menandakan jika dirinya baru saja menangis, dan juga wajahnya yang sangat pucat.


Leo menatap ke arah lain, dia sangat tidak kuat melihat wajah Viona seperti itu. Mending tidak melihatnya sama sekali daripada harus melihat wajah dingin Viona.


"kamu di sini Li? Sama siapa?" tanyanya berusaha menguatkan hatinya jika Viona masih mengabaikannya.


Viona tidak menjawab, dia malah menjulurkan tangannya ke wajah Leo, dan menyentuh keningnya. Dia sangat terkejut karena badan Leo sangat panas, "Kak kita pulang sekarang! Atau kita ke Rumah Sakit saja, badan Kak Leo sangat panas."


Leo memberanikan menatap Viona, tampaklah wajah Viona yang sudah berubah jadi khawatir, dia maju selangkah dan.


Buughh


Leo memeluk Viona, memeluk wanita yang di cintainya, mau bagaimanapun dia berusaha untuk melupakan perasaanya, tidak terlihat hasilnya sama sekali, tapi malah makin bertambah. "Kumohon, biarkan begini sejenak!"


Jantung keduanya berdebar lebih cepat, untung ada suara ombak jadi mereka tidak bisa mendengarnya.

__ADS_1


Viona memabalas pelukan Leo, pelukan yang sangat dia rindukan, pelukan yang sangat nyaman, di mana sering kali membuat jantungnya berderbar tak karuan. yang tidak dia rasakan dipelukan orang lain termasuk dipelukan Ray atau para Kakaknya. Cuman rasa nyaman itu yang dia dapatkan.


Leo melepaskan pelukannya, dia menatap mata Viona lalu menggeleng. "Kenapa?" tanyanya sambil mengusap sisa air mata Viona.


Viona juga menggeleng, dia tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya benar-benar menemukan sesuatu yang hilang. Dia juga mengusap air mata Leo yang tiba-tiba menetes.


Buugghh


Kali ini Viona yang masuk ke dalam pelukan Leo. Memeluknya dengan erat, menggelamkan kepalanya di dada bidang Leo, Seakan-akan dia melepaskan semua kerinduannya.


Leo tidak ingin menyianyiakan kesempatan, dia membalas pelukan Viona, dia tidak ingin membuat kesalahan lagi, untuk masalah perasaannya itu urusan belakang. "Maaf!" ucapnya setelah beberapa menit.


Viona melepas pelukannya, terlihat matanya juga sudah memerah. "Jangan minta maaf lagi Kak! Biarkan itu berlalu, jagan mengungkitnya lagi!" balasnya.


"Tapi aku harus tetap meminta maaf Li" ujarnya.


"Minta maaf buat apa Kak, apa ada kesalahan yang lain?" tanya Viona.


Leo terdiam, dia berpikir sejenak, mungkin saatnya dia harus jujur tentang perasaannya. "Aku tidak tau ini subuah kesalahan atau bukan!"


"Katakan!"


"Maafkan aku yang sudah memiliki perasaan lebih dari rasa sayang, maafkan hatiku karena aku tidak bisa menahannya. Aku mencintaimu Li, aku mencintaimu."


Deg


Jantung Viona berdebar lebih cepat lagi, akhirnya Leo mengungkapkan perasaannya langsung, meskipun dia sudah mengetahui atau sudah mendengarnya tapi kali ini rasanya berebeda.


Melihat Viona hanya diam, Leo melanjutkan ucapannya. "Karena itulah aku menjahauimu, aku ingin melupakan perasaanku, bukan aku tidak ingin berteman denganmu lagi. Dan sebelumnya aku tidak berani mengatakannya, karena aku takut kamu kecewa"


Viona merasa sedih, karena ternyata apa yang dikatakan Raka adalah suatu kebenaran. Mendengar ucapan Leo langsung, sangat berbeda di saat Raka berkata seperti itu. Saat ini dia mersakan sakit. "Apa Kak Leo mau mendapatkan maaf Dariku?"


Leo mengangguk cepat, siapa yang tidak ingin dimaafkan oleh orang dia cintai, dia akan melakukan apapun itu.


"Jangan melakukan hal itu lagi, jangan menjauh dan jaga jarak ke padaku! Dan aku mohon jangan pernah punya niat untuk melupakan perasaan itu. Karena,, karena aku juga mencintaimu Kak!"


Deg


Leo mematung, dia kembali menatap Viona, terlihat air matanya sudah menetes. Dia tidak mungkin salah dengar, pendengarannya masih sangat stabil.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Kak!" ulangnya memperjelas. "Jangan memandang dari status ekonomi! Karena aku tidak peduli."


Leo kembali memeluk Viona, entah apa yang dia rasakan saat itu, semuanya bercampur aduk menjadi satu.


__ADS_2