KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
86. Yang Terjadi


__ADS_3

"Dek! Kamu ke mana saja? Kami semua mengkhawatirkanmu!" tanya Raka dalam pelukan Viona sambil menangis.


"jangan khawatir lagi, aku baik-baik saja! Nanti aku ceritakan apa yang terjadi" balas Viona dan melepas pelukannya sambil mengusap sisa air mata Raka.


Dia juga merasa bersyukur, karena masih di beri kesempatan untuk meilhat dunia, mungkin dia tidak ada lagi jika tanpa cincin itu.


Semuanya merasa legah, karena Viona dan Rian selamat dari ledakan bom itu. Tapi Rian masih terbaring lemah belum sadarkan diri.


Saat tiba di ruangan Rian, Mereka langsung masuk dan melihat Viona yang sedang memainkan ponsel yang baru saja dia aktifkan karena kehabisan daya. Viona ingin menelpon Raka tapi ternyata orangnya sudah ada di depannya dan langsung memeluknya.


Tomi duduk di samping brangkar Rian, dia menatap sendu temannya itu. Tapi lebih baik begitu daripada tidak selamat. Banyak pertanyaan di benaknya, tapi masih di tahannya untuk tidak bertanya ke pada Viona.


Leo juga menghampiri Viona, menatapnya dengan bahagia melihat Viona baik-baik saja, dia ingin memeluk tapi merasa ragu, takut mereka salah paham.


Viona yang mendengar keinginan Leo, langsung saja memeluk Leo terlebih dahulu. Leo sedikit terkejut, tapi dia tetap membalas pelukan Viona dan berbisik "Jangan melakukan hal seperti itu lagi! Aku sangat mengkhawatirkanmu.


Viona tidak membalas ucapan Leo, dia malah mempererat pelukannya, mencari kehangatan dan kenyamanan.


Raka tidak menegur atau mempermasalahkannya, bahkan dia senang dan memalukminya, kerena Leo juga sama sepertinya, sangat mengkhawatirkan Viona. Raka bisa melihat dari pandangan Leo yang berbeda, kalau Leo menyangi Viona lebih dari teman. Tidak jadi masalah, siapa saja boleh mencintai dan menyangi Viona, tapi jangan kecewa atau marah ke pada Viona jika dia tidak bisa membalas cinta itu. Raka juga tidak bisa menebak bagaimana dengan Viona.


Dokter gus sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi, tapi dia tidak ada hak untuk bertanya, dia cuman bertanya apa yang terjadi ke pada Viona apa yang terjadi terhadap Rian saat Viona membawanya dalam keadaan tidak sadar.


Beberapa menit berlalu mereka berkumpul dan duduk di sofa setelah Dokter Gus pamit, semuanya sangat penasaran, dan menunggu penjalasan dari Viona.


~Flasback On


Detik-detik sebelum bom meledak ternyata Viona berhasil memotong semua kabel dan langsung membuangnya ke sembarang arah.


Dia mengira bom itu tidak akan meledak jika semua kabel sudah terputus, tapi dia mendapat bisikan kalau bom itu juga bisa di kendalikan menggunakan remot kontrol setelah waktunya habis, Dan.


Duaarrrr, duaaar, duuaaarrr, duaaarr.


Bersamaan dengan meledaknya semua bom Viona sudah menghilang, dia membawa masuk Rian ke ruang dimensinya, tidak ada waktu lagi untuk berlari keluar.


Viona menghela nafas panjangnya, mengatur detak jantungnya yang berdebar sangat kencang, karena mengira dirinya dan Rian tidak bisa selamat tapi ternyata dia belum terlambat.


"Huff, hampir saja kita tidak selamat" ucap Viona sambil membaringkan Rian di atas tempat tidurnya.


Viona menatap Rian intens, dia baru menyadari kalau dia dan Rian memiliki sedikit kemiripan.


"Nona!" sapanya dari arah belakang.


Viona sedikit terkejut, dia berbalik dan melihat, ternyata Puput yang menyapanya, "Put kamu di sini?"

__ADS_1


"Hm, apa nona lupa? Terakhir masuk bersama nona waktu itu aku tidak ikut keluar," jawabnya tapi pandangannya ke pada Rian yang terbaring.


"Oh iya, aku melupakannya! Dia temanku Put, aku terpaksa membawanya masuk karena kondisi kami sangat darurat, mungkin jika tidak ada dimensi ini, aku dan dia tidak lagi ada" jelas Viona yang mengerti tatapan Puput kepada Rian.


Puput terbang mendekat ke arah Viona dan berkata, "Aku tau, karena aku melihat bagaimana nona menyalamatkannya" ternyata Puput sudah mengetahuinya. "Kan semua kebaikan yang nona lakukan di luar sana dapat dilihat dari sini."


"Astaga aku juga melupakan itu" ujar Viona dan duduk di kursi menyandarkan bokongnya.


"Tidak masalah nona! Mungkin nona kelelahan. Dan dia bisa masuk ke dimensi ini, berarti teman nona orang yang baik dan memiliki hati yang bersih.


Viona menatap Rian dan tersenyum, "Ya kamu benar Put, dan dia orang pertama yang aku bawa masuk ke sini, tapi dalam kondisi tidak sadar"


Setelah mengatakan itu, Viona hampir melupakan Rian yang harus segera di obati, barangkali dia mendapat luka dalam, yang membuatnya tidak sadar sampai sekarang.


"Put tolong, ambilkan buah ajaib yang berwarnah merah!" perintahnya dan beranjak memeriksa denyut nadi Rian yang sudah melemah.


"Nona tidak bisa memberikannya! Orang-orang yang tau kejadian tadi akan bertanya jika melihat dia baik-baik saja, tidak ada luka sama sekali" terangnya.


"Astaga ada apa dengan diriku! Jadi apa yang harus aku lakukan Put?" belum bisa berpikir dengan baik, jadi dia bertanya dengan Puput untuk langkah selanjutnya.


"Emm, lebih baik nona membersihkan sedikit wajahnya, dan bagian yang terlihat kotor itu. Lalu nona membawanya ke Rumah Sakit, tinggal membayangkan saja Rumah Sakit mana yang mau nona tuju."


Viona melakukan apa yang di katakan Puput dengan sedikit tergesa-gesa, membersihkan wajah Rian yang kotor dan terlihat banyak luka. Entah apa yang Bora lakukan sampai Rian tidak sadarkan diri.


Tepat setelah dia membaringkan Rian di brangkar, seorang Dokter yang bertugas malam lewat dan melihat Viona.


"Astaga apa yang terjadi kenapa tidak meminta bantuan?" tanya Dokter.


"Dok tolong, dia sudah tidak sadarkan diri sejak tadi!" mohon Viona dan mengabaikan pertanyaan Dokter, yang tak lain adalah Dokter Gus.


"Ya, mari kita bawah ke UGD terlebih dahulu!" balasnya yang sudah mendorong brangkar."


Viona menunggu di luar, duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Dia kembali memikirkan perkataan Tomi.


"Astaga Tomi, bagaimana dengannya? Apa dia baik-baik saja? Hah, semoga kamu tidak kenapa-kenapa" ucapnya yang baru mengingat akan keselamatan Tomi.


Viona ingin menghubungi dan memberi kabar ke pada orang-orang, karena dia yakin saat ini semua orang sedang mengkhawatirkannya dan juga mencarinya.


Tapi ponselnya ke tinggalan di ruang dimensinya, dia merabah telinganya, dan ternyata handsfreenya yang berbentuk anting itu sudah tidak ada lagi.


Pantas saja Zoya kehilangan kontak dan tidak bisa melacaknya, Handsfreenya terlepas sebelum dia masuk ke dimensinya, dan ponselnya tentu tidak bisa dilacak jika berada di ruang dimensi.


Beberapa menit berlalu Dokter Gus keluar dengan seorang perawat. Menghampiri Viona dan berkata. "Kakakmu baik-baik saja, dia tidak sadarkan diri karena mengalami kekerasan di bagian kepala. Tapi kamu tenang saja tidak ada luka dalam."

__ADS_1


Viona menghelas nafas legah, "Terima kasih Dok untuk yang kesekian kalinya" ucap Viona yang hampir setiap saat bertemu Dokter Gus.


"Hmm sama-sama itu sudah jadi kewajiban saya. Tapi kalau boleh tau apa yang terjadi? Dalam sebulan ini sudah tiga kali dia masuk Rumah Sakit dan pasti mengalami luka."


Viona hanya tau dua kali, saat Rian terkena tembakan sama yang sekarang. "Emm, itu Dok dia habis di culik, dan mungkin si penculik itu melakukan kekerasan, dia tidak bisa melawan karena penculik itu berkelompok."


"Astaga nona, apa kamu sudah lapor ke polisi?" tanya Dokter lagi.


"Sudah Dok, mungkin mereka sudah tertangkap!" balas Viona berkilah, dia tidak akan pernah melaporkannya, dia sendiri yang akan mencari si Bora.


"Hmm baguslah, ya sudah kamu ikut denganku tanganmu juga terluka."


Viona melihat tangannya, darahnya sudah mengering. Dia mengikuti Dokter Gus dan melakukan pengobatan, sampai tangannya mendapat jahitan dan lilitan kain kasa.


"Emm Dok! Kenapa Dokter bisa tau kalau lelaki itu Kakak saya?" tanya Viona yang mendengar Dokter Gus kalau Rian Kakak Viona.


Dokter Gus tersenyum, dan menjawab. "Bagaimana saya tidak mengetauhuinya, waktu kamu melakukan donor darah dengannya, saya sempat melihat hasil dari Lab, 99% kalian berdua Kakak beradik. Padahal saya sempat mengira kalau kalian berdua sepasang ke kasih yang sedang bertengkar sampai kamu tidak ingin dia tau kalau kamu mendonorkan darah untuknya, tapi ternyata kalian berdua bersaudara.


Deg, jantung Viona berdebar kencang, ini seorang Dokter yang mengatakan, dan itu hasil DNA. Apakah dirinya di pertemukan dengan cara seperti ini? Apa ini yang di namakan musibah membawa berkah? Dan selama ini Orang lain sudah mengetahuinya.


"Jadi apa yang dikatakan Tomi adalah kebenaran" ucap Viona dalam hati.


"Oh kirain Dokter tau dari siapa, soalnya saya belum pernah mengatakannya sama Dokter, kecuali dengan Kakak saya yang kemarin."


Setelah berbincang sebentar dan Viona juga sudah melihat hasi tes itu. Dia pamit untuk ke ruang rawat Rian yang sudah dipindahkan di ruang VVIP 1 atas perintah Viona.


Viona duduk di samping Rian, "Kakak, jangan terlalu lama tidur!" ucapnya dan tidak sadar membaringkan kepalanya di samping Rian dan ketiduran.


Saat itu sudah pukul empat pagi. Viona tertidur sampai siang menjelang dalam posisi duduk, terpaksa Dokter menunda untuk melakukan pemeriksaan sampai Viona bangun.


Bangun dan meraskan semua badannya pegal-pegal, beranjak dan masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, dan masuk ke ruang dimensinya sejenak untuk mengambil ponselnya. Saat keluar, Dokter juga sudah selesai melakukan pemeriksaan.


Viona keluar untuk membeli makanan. Dia tidak membeli di kantin rumah sakit, dia menyebarang jalan yang terlihat warung makan pecel lele. Dia hanya membeli untuk dirinya sendiri. Sambil menunggu pesanan Viona mangambil ponsel di sakunya.


"Ya kok mati? Apa daya baterainya habis?" gumamnya tapi berusaha menghidupkannya.


Ponsel Viona aktif, tapi baru saja membuka polanya, ponselnya kembali mati. Padahal dia ingin memberi kabar, terpaksa dia tunda lagi.


Kembali ke ruangan Rian, Viona langsung mengisi daya ponselnya, dan makan makanan yang dia beli. Tidak ada terpikir olehnya, untuk meminjam telpon Rumah Sakit.


Setelah daya ponselnya penuh, dia segera mengaktifkannya, dia ingin menelpon Raka terlebih dahulu, tapi baru saja ingin melakukan panggilan, orang yang ingin dia hubungi masuk ke dalam ruangan dan langsung memeluknya.


~Flasback Off

__ADS_1


Viona menceritakan apa yang terjadi, tapi tidak dengan ruang dimensinya, dia mencari sebuah alasan yang sedikit masuk akal.


__ADS_2