KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
127. Desa Permai


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Viona mengajak Ray untuk bertemu, dia ingin meminta maaf dan mengatakan yang sebenarnya, dia tidak tau, jika Ray sudah mengetahuinya, dan keduanya berada di sebuah Restoran, sekalian untuk makan siang bersama.


"Ray maafkan aku, inilah yang aku takutkan terjadi, makanya saat itu aku sempat melarangmu untuk meminta waktu."


Ray tersenyum, walaupun hatinya masih merasakan sakit, "Jangan minta maaf! Tidak ada yang salah, karena kita tidak tau di mana hati kita akan berlabuh, jika kita sudah mengetahuinya dari awal barangkali saat itu aku mundur."


Viona menatap Ray, dia tau bagaimana perasaan Ray saat itu, berpura-pura senyum walau hatinya sakit.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku baik-baik saja. Setidaknya aku sudah berjuang, walau hasilnya tidak sesuai yang aku inginkan."


"Tapi aku mohon, tetaplah seperti ini! Tetaplah menjadi Ray yang aku kenal, jangan pernah berubah setelah kejadian ini."


Ray menggeleng, "Tentu, tidak akan ada yang berubah. Aku akan bahagia, jika kamu juga bahagia bersamanya."


Viona berpindah duduk di samping Ray dan langsung memeluknya. "Maaf! Dan tetaplah menjadi saudaraku!"


Ray membalas pelukan Viona, karena dia sadar mungkin itu pelukan terakhirnya. "Kita tetap saudara, dan di dilain waktu jangan pernah memelukku seperti ini lagi!"


Viona melepaskan pelukannya dan menatap Ray, "Kenapa?"


"Hey, sekarang kondisinya berbeda, kamu harus menghargai perasaannya! Meskipun dia tidak melihatnya."


Viona mengangguk, dia sangat salut dengan pola pikir Ray yang menerutnya sangat dewasa, dia bisa menerima kenyataan setegar itu.


...----------------...


Di sisi lain, di markas King Wolf. Di kamar Mutan yang menjadi Bora menemukan sebuah foto wanita dengan seorang Anak kecil. Terlihat background dalam foto itu adalah sebuah persawahan dan pegunungan.


"Siapa wanita ini? Apa wanita ini yang bernama Ariana? Hmm, pasti dia ada hubungannya dengan Tuan King. Jika tidak, kenapa fotonya berada di sini."


Bora keluar untuk memberikan foto itu ke pada Mira, tapi dia sedikit takut karena di luar ruangan ada CCTV. Tiba-tiba fotonya terjatuh dengan posisi terbalik. Bora tidak sengaja melihat tulisan, yang bertuliskan sebuah alamat. Dia segera menghubungi Mira, melalaui handsfreenya.


"Aku sangat yakin, wanita itu yang akan dicari nona Viona. Semoga dia bisa menemukannya secepat mungkin sebelum Tuang King melangkah lebih dulu" gumamnya setelah Mira mengirim pesan ke pada Viona.


Tok tok tok

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya sedikit terkejut, dia segera menyimpan foto itu ke tempatnya semula, lalu berjalan membuka pintu.


Ceklek


Pintu terbuka, dia melihat Sadow berdiri di depan kamarnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Kau di suruh menghadap Tuan King di ruang kerjanya. Saya harap! Kau menjaga sikap dan tutur katamu, jika tidak kau akan di penjara lagi atau bahkan langsung membunuhmu."


Bora tidak menanggapi, dia langsung pergi begitu saja, dia tidak takut sama sekali, jika Tuan King ingin membunuhnya, itu tidak akan bisa terjadi. Karena hanya Vionalah yang bisa melenyapkannya.


Sadow membulatkan matanya, dan sedikit kesal melihat sikap Bora yang mulai tidak menghargainya, dia juga pergi ke suatu tempat. Sebenarnya dia sangat penasaran kenapa Tuan King ingin berbicara empat mata dengan Bora.


Bora sudah berada di ruang kerja Tuan King. Dia melihat ruangan itu penuh alat-alat teknologi yang terhubung satu sama lain.


Seperti biasa, Tuan King akan membalakangi jika mengajak seseorang berbicara, "Saya tidak ingin basa-basi, saya hanya ingin bertanya, apa kau tidak ingin kembali dengan Mira?"


Bora heran kenapa tiba-tiba Tuan King bertanya soal pribadiya, dia berpikir sejanak, jangan sampai dia terjebak dalam rencana Tuan king kali ini. "Tidak Tuan, saya sudah nyaman sendiri. Lagipun, si Mira belum tentu mau."


Tuan King terlihat mengaggukkan kepalanya lalu berkata, "Saya bisa membantumu, soal Mira itu urusan yang mudah."


"Hmm baiklah, kau boleh pergi!" pintanya lalu mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Jika melihat peluang, lakukan segera!" ucapnya singkat lalu mematikan panggilannya.


Bora yang saat itu baru saja menutup pintu, tentu mendengarnya. Diapun kembali ke kamarnya, dia penasaran apa maksud dari ucapan itu, yang pasti akan terjadi hal yang buruk.


Tuan King tersenyun kecil, "Dia bukan Bora, jawaban yang dia berikan sangat berbeda. Jika itu Bora yang asli, dia akan sangat bahagia jika aku memintanya untuk kembali dengan Mira."


"Ternyata wanita licik juga. Tapi dari mana dia bisa melakukan semua itu? Apa ada seseorang di belakangnya?" gumamnya dengan tajam.


...----------------...


Di sisi Viona, dia sudah pulang dari pertemuannya dengan Ray. Dan saat ini dia berada di kamarnya yang baru saja menerima pesan dari Mira si Mutan.


"Kau bermain dengan kehidupan keluargaku, maka aku akan membuatmu merasakan hal yang sama. Aku akan mendapatkan mereka" ucapnya dingin.

__ADS_1


Viona keluar dari kamarnya, dan menuju ruang kerjanya. Tak lupa dia menghubungi Mira untuk mengirimkan gambar foto yang dia temui si Bora.


Ting


Ponselnya berdering, Mira sudah mengirimkan foto itu, entah bagaimana caranya Bora memberikan ke pada Mira, dia tidak bisa melakukannya, karena ponselnya rusak saat bertarung dengan penjaga waktu pertama kali datang.


"Desa Permai, di mana aku pernah mendengarnya?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri, karena meresa tidak asing lagi dengan nama Desa itu.


Seseorang mengetuk pintu, dia masuk setelah dipersilahkan. Terlihat Mbak Febi membawa semangkok buah apel dan semangka yang sudah di potong kecil. Dia melatakkan di atas tempat kerja Viona.


Tapi Mbak Febi tidak sengaja melihat foto yang berada di ponsel Viona, yang tiba-tiba membuatnya sedih, Viona yang merasakan ada yang aneh dia segera bertanya.


"Kenapa Mbak? Apa Mbak Febi tau orang yang ada di foto ini?"


Mbak Febi terkejut, karena Viona memergokinya yang sudah lancang melihat isi ponsel Viona, "Maaf nona, jika saya lancang melihatnya. Saya tidak tau siapa orang itu. Tapi saya tau di mana tempat mereka berfoto!"


Kali ini Viona yang terkejut lalu berkata. "Hmm tidak masalah. Ya, tempat itu di Desa Permai kan? Kamu tua Desa itu?"


Mbak Febi mengangguk. "Tentu nona, karena saya berasal di Desa itu. Di daerah persawahan itu memang seringkali orang sana menjadikannya tempat berfoto."


Viona baru mengingat, pantas saja merasa tidak asing lagi. Karena dia yang pernah mencari identitas Mbak Febi.


"Terus kenapa kamu bersedih setelah melihat foto itu?" tanyanya heran.


"Emm, saya merindukan kampung halaman nona!" jawabnya berusaha tegar.


Viona meretuk dirinya sendiri, kenapa dia malah bertanya seperti itu. "Kenapa kamu tidak pulang kampung? Bukannya kalian ada cuti bergiliran di setiap bulannya selama seminggu?"


"Ya nona waktu cuti saya diminta oleh Surti waktu itu. Karena orang tuanya sakit di kampung. Jadi dia mengambil cutinya double."


Viona mengangguk, dia memang memperbolehkan hal seperti itu. Tapi jika ada yang cuti atau minta ijin itu urusan Bi Yun. "Jadi untuk cuti berikutnya, giliran kamu yang double?"


"Ya nona, tapj nanti diakhir tahun! Karena Mbak Surti tidak mendapat Cuti lagi."


"Hmm tinggal sebulan, tidak lama lagi. Kamu harus besabar lagi"

__ADS_1


__ADS_2