KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
Kecantikan mama Rika


__ADS_3


Sesampai di rumah Neta duduk di kursi dan menatap langit-langit rumah. Dia masih terngiang atas jawaban aditya tadi. Meskipun dia sadar mau dia berjuang atau tidak tetap saja perjodohan ini akan berlangsung. Seketika Neta terbangun dari tempat duduknya. “Tapi kalau Tuhan berkehendak lain gimana dong?” Gumam Neta dengan raut wajah cemberut.


“Gimana apanya?” Tanya Seno yang baru datang, entah ada angin apa Seno pulang jam segini. Biasanya dia pulang malam atau gak pulang pagi. Sejak perjodohan Neta di tentukan Seno dan jino sering pulang di saat Neta pulang, mereka selalu pulang tepat waktu dan pasti tau jadwal Neta pulang.


“Kaka kapan datang?” tanya Neta yang baru menyadari kehadiran Seno. Seno duduk tepat di samping Neta berdiri. “Tidak lama sebelum kamu masuk, aku juga datang.” Jawab Seno sambil makan Snak di depannya.


“Oh iya apa kamu hari ini ada janji?” Tanya Seno mengesampingkan badan, Neta duduk di samping Seno sambil memanyunkan bibirnya. “Iya, hari ini aku ada janji. Kenapa?” tanya Neta balik.


“Dengan siapa?”


“Meta dan Vio,”


Seketika wajah Seno langsung tersenyum girang, setidaknya tidak dengan Aditya. “Hampir saja aku memutar otak agar Neta tidak pergi,” Gumam Seno dengan wajah yang senang. “Kaka ngomong apa tadi?’’ tanya Neta yang tidak terlalu jelas mendengar apa kata Seno. Karena Volume tv lebih besar dari pada perkataan Seno.


“Tidak begitu penting. Jam berapa ke sana?”


“Jam 16.00 sore kak, oh iya kak Jino mana. Tumben dia belum datang, biasanya di mana kak Seno berada pasti di situ ada kak Jino.”

__ADS_1


“Kamu kira kita dou sejoli apa, apa-apa selalu bersama,” ketus Seno. Neta tertawa mendengar Jawaban dari Seno. “Yakan siapa tau gitu,” ledek Neta dengan nada suara kurang percaya dengan jawaban Seno.


“Aku masih normal yah Neta, enak aja sama sayur sawi layu gini.” Jawab Jino dari atas. Neta yang mendengar jawaban Jino tertawa terbahak-bahak dan spontan mukul paha Seno sampai Seno mengaduh kesakitan.


“Sawi layu katanya kak. Hahaha... Layu katanya,” ucap Neta tanpa sadar air mata Neta keluar karena tertawa terlalu lama. “Aduh... Aku mau kencing jadinya kan. Kak Jino sih,” ucap Neta salahin jino.


“Lah kok aku yang kena, kamu yang kencing malah aku yang di salahin.” Ujar Jino yang tidak terima di salahin oleh Neta yang tiba-tiba mau kencing.


“Udah ah, pokoknya kak Jino yang salah. Kek Seno aku ke kamar dulu sekalian mau mandi, kencing di celana dikit.” Bisik Neta di depan Seno takut para pelayan atau pengawal mendengar kalau Neta kencing di celana. Kan malu jadinya, masa sudah besar masih ngompol apa kata dunia ntar.


Seno yang mendapat pengakuan dari adiknya tertawa dan mengiyakan Neta untuk pergi ke kamarnya. Neta yang mendapat jawaban Langsung berlari menuju kamar takutnya ketahuan oleh sang ibu apa lagi pelayanan. “Yang bersih yah Neta.” Teriak Seno setelah Neta berhasil menaiki anak tangga.


Jino yang kesel mendengar tawa Seno. Mengambil jeruk Mandarin lalu memasukkan ke dalam mulut Seno agar dia tidak menertawakan Neta lagi “Buset dah, mau bikin gue mati heh?!” ketus Seno yang hampir ketelen jeruk tadi. Jino tidak menghiraukan perkataan Seno, dia memilih pergi ke kamarnya sebelum sang adik tercinta selesai mandi.


“Cih, dasar beruang kutub Utara+ selatan. Bagaimana bisa aku punya Kaka dinginnya naudzubillah min dzalik begitu, sedangkan aku yang masyaallah dan subhanallah ini bisa seperti itu. Emang kata orang kalau kita berada dalam suatu lingkungan Pasti ada yang bersifat malaikat dan iblis.”


“Siapa malaikat dan iblis?” tanya mama Rika yang mendadak bertanya ke Seno. “Astagfirullah, mama ya salam. Aku kira setan mah, lain kali pake suara bukan kek gini. Untung aja gak aku siram pake air Yasin.” Ucap Seno sambil mengelus dadanya yang berdebar karena kaget.


“Lebay banget, gitu doang kaget. Dan kamu benar-benar yah.” Kata mama Rika menjewer kuping Seno dengan sangat keras. “Aaaa... Ampun mah, ampun!!” Teriak Seno yang merasa kesakitan.

__ADS_1


“Kamu kira mama kamu setan heh?! Pake mau siram pake air Yasin lagi!!”


“Ampun bidadari surga ku. Ampun tadi refleks mah, seriusan. Mana mungkin aku mau siram pake air Yasin, orang cantik seperti Yuni Shara, cerdas seperti Ayunda. Langsing seperti Olla Ramlan. Duh pokok perfect banget deh.” Puji Seno agar mama Rika berhenti menjewer kupingnya.


“Lain kali akan mama gantung yah kamu, bukan karena mama luluh mendengar pujian seperti itu. Hanya saja mama tidak tega.” Ucap mama Rika yang wajahnya ingin tersenyum. Seno yang tau sifat mama Rika langsung memeluk dari samping. “Iya mama ku, tapi mah, yang aku katakan tadi bohong.” Kata Seno langsung lari ke kamarnya, takut mendapat amukan sang mama Rika.


“SENO!! Awas aja kamu yah?!” Teriak Rika yang kesel dengan kelakuan anak satunya itu. Ada-ada saja kelakuan yang bikin dia sehari tanpa emosi.


Neta yang dari kamar mandi berasa mendengar teriakan langsung mematikan showernya. “Perasaan ada yang berteriak deh, tapi suara apa yah. Kek ngeri sekali sampai ke sini.” Gumam Neta yang langsung menyudahi mandinya dan bersiap-siap ingin ke rumah Vio.


Neta yang sudah berdandan cantik seperti biasanya turun ke bawah, dan di lihatnya kosong. Tidak ada anggota keluarganya yang duduk, ataupun melakukan seperti biasa mereka lakukan. Yaitu santai di depan televisi. “Yang lain Ke mana?” tanya Neta kepada pelayan yang lewat.


“Mereka ada di kamar nona muda.” Jawab pelayan itu dengan lemah lembut. Neta menatap pelayan yang terus menundukkan kepalanya ke bawah. “Apa muka saya ada di bawah?” tanya Neta yang heran dengan pelayan muda ini. Pelayan itu gelagapan dan langsung bersimpuh memohon ampun kepada Neta. “Mohon ampun nona muda. Saya tidak berani,” Neta yang melihat kelakuan pelayan itu pun kebingungan.


Sampai ada pelayan lain yang Melihat dan segera berlari ke arah Neta. “Mohon maafkan nona muda jika saya lancar, dia pelayan baru. Jika dia melakukan kesalahan mohon di maafkan.” Kata pelayan itu menunduk. Neta hanya bisa terpaku terdiam. Dia ingin tertawa tapi dia seperti orang bodoh sekarang.


“Sudahlah kembali ke tempat kerja masing-masing. Dan kau,” Tunjuk Neta ke pelayan baru itu. Neta menghela nafasnya. “Tidak jadi, kalian boleh pergi.” Ucap Neta menatap ke dua pelayan itu pergi.


“Ada-ada saja, aku rasa mereka masih gak percaya dengan perubahan aku ini. Yah wajar sih kalau gak percaya. Orang yang biasa cuek tiba-tiba perhatian kan membingungkan.” Gumam Neta yang berangkat menuju rumah Viola dengan di Anter oleh yang supir pribadi.

__ADS_1


__ADS_2