
Bruukkk
"Maafkan saya!" ucapnya Momy Lidya cepat, merasa besalah sudah menabrak punggung seseorang karena berjalan sambil melamun.
"Tidak masalah Nyonya!" balasnya sopan lalu tersenyum.
Momy Lidya terkejut, orang yang di tabraknya adalah lelaki yang dia lihat di pesta itu. Lelaki yang membuatnya merasakan kehadiran Anaknya yang sudah tiada.
"Kamu!"
Loe bingung, karena orang yang menabraknya mengetahuinya. "Nyonya mengenal saya?" tanyanya menunjuk diri.
"Hmm, saya sempat melihatmu di pesta Viona malam itu!" jawab Momy Lidya yang tak melepas pandangannya menatap wajah Leo.
"Oh iya, Mungkin saking banyaknya orang jadi saya tidak bisa melihat Nyonya. Emm kalau begitu saya pamit ingin melanjutkan pekerjaan."
"Ah iya silahkan! Maaf sekali lagi!" ujar Momy Lidya, padahal dirinya masih ingin berbincang.
Leo mengangguk, dan melanjutkan jalannya menuju belakang. Entah kenapa hatinya tiba-tiba menghangat.
"Oh dia bekerja dengan Viona, pantesan dia ada di pesta itu. Kamu selalu mengingatkanku dengan Nico" gumam Momy Lidya tersenyum. Hatinya merasa plong, seakan sesak di dada menghilang begitu saja.
Dia kembali berkumpul dengan keluarganya dengan wajah ceria, yang mana membuat yang lainnya heran.
"Momy kenapa? Kok senyum-senyum habis dari toilet?" tanya Ray.
"Ehh itu, Momy tadi bertemu dengan Viona di luar. Tapi tidak lama, karena dia sibuk membantu melayani para customer" sedikit berdusta.
"Anak itu bukan cuman cantik dan baik. Dia juga pekerja keras, sampai harus turun tangan menjadi pelayan" sela Tuan Bas.
"Viona! Ray apa dia?" tanya Tian meminta penjelasan karena dia hanya pernah mendengar nama itu tapi tak kunjung bertemu. Wanita yang yang tidak sama sekali tertarik dengan Ray, wanita yang pertama kali melelehkan hati yang sudah membeku, itulah menurut mata pandang Tian.
Ray hanya mengangguk, Tanpa menjelaskan. Dan mereka melanjutkan makannya sampai habis. Karena setelah itu dia ingin menemui Viona menanyakan suatu hal.
Setelah makanan semua habis dan berbincang sejenak. Mereka bergegas keluar dan pulang, Ray menemui Viona sejenak yang berada di kasir sekalian untuk membayar pesanannya.
Viona mengajak Ray untuk ke ruangannya, karena pekerjaannya juga sudah selesai. Sebelum dia membuka pintu ruangan, seseorang telah membukanya lebih dulu dari dalam.
Ray terkejut melihat Leo yang keluar dari ruangan Viona. Dia langsung bertanya ke pada Viona "Siapa?" pura-puranya tidak tau, padahal Raka sudah memberitahunya.
"Kak Leo! Kenalin dia temanku Ray!" ujar Viona cepat melihat situasi tiba-tiba menjadi canggung.
__ADS_1
Keduanya berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing. Karena di pesta waktu itu memang keduanya tidak berkenalan, entah siapa yang menghindar untuk tidak bertemu. Apa mungkin Ray? Karena saat itu hatinya lagi memanas terbakar api cemburu.
Leo pamit ke ruangannya, dia tidak ingin mengganggu obrolan keduanya. Dia bukannya tidak pekah, Ray menatapnya Seakan-akan mengibarkan bendera perang, melihatnya tidak suka saat berada di samping Viona.
"Apa dia bekerja di sini?" tanya Ray setelah dia duduk di ruangan Viona.
"Hmm kenapa?"
"Tidak kenapa kok! Oh iya aku mau nanya kapan kamu ada waktu senggang? Aku ingin mengajakmu makan di luar. Aku mohon kali ini kamu tidak menolak!"
Viona berpikir sejenak, sebenarnya dia punya banyak waktu. Itu cuman alasan saja karena Ray sering mengajaknya di waktu yang tidak tepat.
"Em malam minggu gimana?" tanya Viona balik.
"Ok, aku jemput ya? Titik" ucap Ray cepat sebelum Viona menolak.
"Huff, terserah kamulah Ray. Ingat aku paling tidak suka yang namanya menunggu! Kalau kamu membuatku menunggu berati batal" gertak Viona bercanda. Dia yang akan membuat Ray menunggunya.
"Aku bukan wanita yang suka ngaret" beritahunya, jika dia lelaki yang disiplin, selalu on time.
"Ck, tidak semua wanita begitu, hanya sebagian besar" tentu Viona tidak terima jika Ray menyama ratakan sikap wanita yang suka telat.
"Ya sudah aku balik dulu, sampai ketemu malam minggu!" ujar Ray sambil mengacak rambut Viona dan segera berlari.
Viona melempar Ray bantal sofa tapi tidak mengenainya. "Raaaaaaaaaaay,, awas kamu" teriaknya kesel karena rambutnya sudah berantakan.
Ray yang sudah berada di luar malah tertawa, dia paling suka membuat Viona kesel apalagi sampai manyun-manyun. Dia segera turun, karena yang lainnya masih menunggunya di mobil.
Di dalam ruangan Leo, dia termenung memikirkan Ray. "Kenapa dia sering menatapku seperti itu? Sangat berbeda jika menatap yang lainya. Apa aku ada salah dengannya? Tapikan kami baru berapa kali bertemu. Emm atau dia memang tidak suka melihatku dekat-dekat dengan Viona? Dan dia cemburu dan merasa tersaingi. Huff kamu tenang saja! Aku bukan sainganmu. Aku sudah kalah jauh, mau dilihat dari segi manapun aku tidak ada apa-apanya. Tapi, apa aku salah jika aku mencintainya?"
Jika ada yang bertanya seperti itu jawabannya tidak, sekali lagi tidak. Cinta tidak pernah salah, Yang harus dipertanyakan adalah: Apakah kamu siap menerima risikonya? Jika cintamu tidak terbalaskan. Apakah kamu siap menanggungnya? Jika cintamu bertepuk sebelah tangan. Apakah kamu sudah siap patah hati? Jika cintamu malah mencintai hati yang lain.
Itulah yang harus dipertanyakan ke pada orang yang sedang jatuh cinta. Karena yang namanya sakit tak berdarah itu benar-benar sangat sakit sampai sulit diucapkan dengan kata-kata. Dan juga sangat berbahaya, bisa saja membuat orang jadi setres jika tidak bisa menerima semua itu. Bahkan, saking sakitnya sampai nekat bunuh diri.
**Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika**.
...----------------...
"Kak Rian! Aku mau nanya boleh?" ijin Viona yang terlihat santai tapi terdengar serius.
__ADS_1
"Hmm, nanya apa Dek? Kok pake ijin segala? Kaya mau nanya sama orang lain saja!"
"Hehehe siapa tau Kak Rian lagi malas ngomong gitu, atau lagi irit bicara, jadi tidak ada salahnya aku ijin dulu. Jangan sampai aku sudah bertanya malah di kacangin!"
"Astage Dek, kamu ini ada-ada saja! Emang mau nanya apa hm?" tanya Rian balik.
Saat itu Viona sedang berkumpul di ruang tengah setelah makan malam dengan para Kakaknya, termasuk Tomi. Dia ingin menanyakan hal yang serius.
"Apa Kak Rian ingin melakukan balas dendam ke pada paman Bora?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga
Wajah Rian berubah jadi serius, Raka dan Tomi langsung menoleh menatap Rian setelah Viona bertanya seperti itu.
"Apa Momy sudah menceritakan semuanya?" Lagi-lagi Rian bartanya balik.
Viona mengangguk. Baru kali ini dia melihat wajah sang Kakak jika sedang marah atau dalam suasana serius.
"Dek! tidak mungkin aku tinggal diam setelah semua masalah yang dia perbuat. Menghancurkan keluarga kita, membuat Momy menangis hampir setiap malam" jelasnya. "Dia harus mendapat balasannya, dan satu lagi jangan panggil dia paman, dia tidak pantas mendapat julukan seperti itu."
"Baik Kak, oh iya aku juga sudah bertemu dengannya!"
Semua terkejut, kapan kiranya Viona bertemu dengan si Bora. Apa si Bora sudah berakasi lagi, membuat masalah dikehidupan keluarganya.
"Kamu bertemu dengannya di mana Dek? Apa dia melukaimu? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Rian beruntun.
Viona memperlihatkan telapak tangannya yang masih terlihat bekas luka yang memanjang. "Dia yang memberiku goresan ini!"
"Apaaaa?"
Semuanya kaget, berarti saat ledakan itu. "Kenapa baru mengatakannya sekarang? Agar aku segera mencarinya."
"Tapi kenapa aku tidak melihatnya sama sekali di rumah itu?" sela Tomi bingung, karena tidak melihat si Bora.
"Dia sudah lari sebelum ledakan itu! Kamu tidak melihatnya Tom, karena kamu masih di luar saat itu mewalan para penjaga."
"Ck, ternyata dia juga takut mati" cibir Rian emosi karena teringat kembali saat si Bora menyiksanya, memukul dan menendangnya sampai dia tidak sadarkan diri.
"Jadi, Kak Rian ingin membalas seperti apa jika sudah menangkapnya. Apa Kakak Ingin membunuhnya atau?"
"Kenapa tidak? Dia tidak pantas hidup!" ucap Rian dengan tegas.
Viona tersenyum sangat kecil. "Ternyata kita memiliki ke inginan yang sama Kak!" katanya dalam hati.
__ADS_1
Raka hanya menjadi pendengar setia. Karena dia tidak tau harus berbuat apa, dia hanya akan selalu mendukung dan membantu apa yang mereka lakukan.
"Tapi Kak, kita harus tanyakan ke pada Momy dengan Dady terlebih dahulu!"