KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
110. Chip


__ADS_3

Viona sudah tibah di ruang penjara bawah tanah, banyak pengawal mengikutinya karena mereka heran melihat nonanya datang dengan tiba-tiba dan terlihat sangat terburu-buru. Takut terjadi sesuatu hal tidak diinginkan makanya mereka berinisiatif sendiri.


Betapa terkejutnya mereka melihat, kondisi Bora. Padahal kemarin dia terlihat baik-baik saja. Kenapa sekarang wajahnya sudah penuh dengan darah.


Viona mengambil Kunci, dan membuka gembok pintu itu, dan harus menggunakan sidik jarinya jika ingin pintu itu terbuka lebar. "Paman apa kau masih mendengarku?" tanya Viona setelah dia berada di dekat Bora.


Bora berusaha membuka matanya, dia melihat Viona lalu menggelengkan kepala sambil menunjuk pintu. Yang menandakan Jika Bora memintanya jangan mendekat, dan keluar dari situ.


Viona mengeluarkan botol yang berisi jus. Dia tidak tau, itu akan berhasil atau tidak. Karena sudah sangat terlambat jika dia harus melakukan oprasi untuk mengeluarkan chip itu. "Kau harus bertahan Paman! Kau tidak boleh mati sebelum menjelaskan semuanya ke padaku!"


Bora menggeleng lagi, sudah tidak ada waktu lagi. Tapi dia membuka mulutnya saat Viona memberikan jus itu, entah dia haus atau bagaimana, dia meminumnya tanpa ragu.


"Aaaaaargh,, Aaaaaargh" Bora merasakan sakit dua kali lipat. Kemudian dia tidak sadarkan diri.


Viona merasa was-was. Dia menyentuh nadi melalui tangan Bora dan masih merasakan sedikit denyutan. "Apa aku bisa melakukannya? ini sudah sangat lama aku sedikit ragu!" ucap Viona.


Dia sangat yakin, chip itu ditanam di kepala Bora. Kerena organ tubuh itu yang terluka paling parah. "Baik aku akan melakukannya."


Viona meminta ke pada para pengawal untuk memindahkan Bora di dalam kamar yang tersedia, dia akan melakukannya sendiri.


Viona menyiapkan semua alat perlengkapannya, lalu membersihkan darah yang sudah mengering di wajah Bora. Dan menggunting semua rambutnya sampai botak. Agar lebih mudah mengetahui letak chip itu.


Viona melihat ada dua bekas jahitan di kepala itu. "Astaga, orang itu memasang dua chip, yang berarti selama ini dia bisa mendengar apapun yang dikatakan Paman.


Viona sudah mulai, mendekatkan pisau bedahnya, tangannya sedikit bergetar. Pisau sudah menempel di kulit kepala dan.


"Aaaaaargh," Bora tiba-tiba berteriak, karena merasakan sakit lagi.


Viona sedikit terkejut, padahal dia belum melakukan apapun, dan Bora sudah merasakan sakit kembali. Dia makin terkejut saat melihat darah kembali mengalir di bagian bekas jahitan itu.

__ADS_1


Viona mengambil lap dan membersihkannya, tiba-tiba dia melihat benda kecil berbentuk panjang keluar dari kepala Bora, dia mengucek matanya berulang-ulang untuk memastikannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa chip itu bisa keluar sendiri? Apa karena jus buah tadi? Sungguh luar biasa, jadi aku tidak perlu merobeknya, tinggal menjahitnya saja."


"Aaaaaargh," sekali lagi Bora berteriak. Viona langsung melakukan apa yang dilakukannya tadi.


Di tempat Mira dan Sisil malah memperdebatkan, siapa pemilik suara itu. "Sil tidak mungkin itu suara Papahmu, banyak orang yang memiliki suara yang mirip."


Sisil sebenarnya juga sedikit ragu, tapi hatinya mengatakan Ya, jika suara itu adalah suara sang Papah, Ayah biologisnya. "Huff iya ma, jikapun benar! Apa yang dia lakukan di sini? Vionakan tidak mengenalnya.


Malam tiba, saat ini Viona berada di dalam ruang dimensinya. Dia butuh ketenangan, untuk menyimpulkan semua bukti yang dia dapat. "Paman hanya dijadikan sebagai kambing hitam, dia berada di bawah tekanan yang bernama King itu. Entah apa yang terjadi di masa lalu, sampai menimbulkan masalah besar sejauh ini.


"Semoga paman cepat sadar, agar dia bisa menjelaskan semuanya. Dia bukan biang masalah, tapi masih ada pakarnya lagi. Semoga dia yang terakhir, tidak adalagi biang kerok selanjutnya.


Kerena si Bora tidak sadarkan diri, Viona meminta ke pada para pengawal membawanya ke Rumah Sakit, untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Dia tidak lagi memberi jus itu. Biarkan pamannya sembuh melalui tim medis. Dan tak lupa berpesan, untuk tidak memberitahu keluarganya yang lain.


Viona juga ingin membuat seorang Mutan yang mirip dengan pamannya. Untuk pergi ke markas serigala itu. Agar orang itu tidak curiga dan mencari keberadaan Pamannya.


...----------------...


Sadow memberanikan diri untuk bertanya "Tuan King! Apa yang terjadi? Kenapa Anda sangat marah seperti ini?"


"Lihat itu! Tiba-tiba tidak bisa terjangkau!" balasnya, sambil memperlihatkan layar komputernya.


Sadow jalan mendekat, untung dia mengerti sedikit apa arti dari tulisan-tulisan di komputer itu. "Bukannya hanya Tuan King yang bisa memutuskan koneksinya? Selain chip itu dikeluarkan."


"Ya, kau benar Sadow, tapi siapa yang mengeluarkan Chip itu, saya tidak mendengar dia berbicara apapun. Jikapun dikeluarkan membutuhkan waktu yang lama. Tapi apa, koneksinya menghilang hanya beberapa detik saja."


"Emm, atau ada sesuatu yang lain, bisa membuat koneksinya terputus?" tanya Sadow.

__ADS_1


"Saat dia mati!" balasnya singkat.


"Apaaa? Mati. Jadi saat ini mungkin dia sudah mati!" ujar Sadow terkejut.


"Dia tidak mati, chip itu akan meledak jika dia mati. Tapi saat ini chip itu masih ada, dan posisinya masih sama, di mana Bora berada."


"Mungkin terjadi sesuatu di sana King! Kita tidak tau kan bagaimana hebatnya gadis itu, jangan sampai dia memiliki ilmu yang lebih luas dari King!"


"Apa kau berusaha mengatakan jika diriku bodoh?" tanyanya dengan suara tegas.


"Tidak Tuan, saya tidak berani. Itu hanya perumpamaan saja. Buktinya wanita itu tiba-tiba jadi kuat setelah dia keluar dari rumah itu. Dan selama ini si Bora sangat susah untuk mencarinya."


Tuan King membenarkan ucapan Sadow. "Hmm ucpanmu sedikit masuk akal, jadi untuk saat ini jangan lakukan apapun, wanita itu tidak bisa kita remehkan lagi."


Sadow mengusap dadah legah, karena Tuan King tidak jadi mengamuk, "Emm Tuan, bolekah saya memohon agar Adik saya dan Anaknya dilepaskan."


"Sadow! Apa kau ingin melanggar aturan? Salah ya tetap salah, siapa suruh dia berani menguping pembicaraanku, terima saja akibatnya. Bebaskan dia setelah satu bulan!"


Sadow tidak bisa berkata apa-apa lagi, daripada Tuan King mengamuk, mending dia menurut saja. "Baik Tuang King."


...----------------...


Viona sudah selesai membuat Mutan yang sangat mirip dengan pamannya. Tapi Mutan ini versi bonyok, banyak luka di wajah dan bagian tubuh lainnya. Agar lebih nyata lagi, dia memasangkan chip itu kembali sama persis di bagian kepala Bora. Tapi itu sakitnya hanya sebatas gigitan semut.


Viona tersenyum melihat hasil karyanya. "Perfect. Namamu saat ini adalah Bora!" ucap Viona.


Viona menjelaskan semua apa yang harus Mutan itu lakukan, dan juga memberitahu nama-nama siapa saja yang akan dia temui.


"Paman! jika kau merasakan sakit, berteriaklah Seakan-akan Paman merasakan sakit di tusuk seribu belati."

__ADS_1


"Baik nona, di mengerti"


__ADS_2