
Setelah puas Rika memamerkan perhiasan, Rika pun menelpon seseorang yang terlambat datang.
Kringgg.... Kringg...
Rika mendengar nada yang tak asing bagi Rika, Rika pun berbalik badan dan menatap seseorang yang kini tersenyum merekah. "Kenapa lama sekali?" Tanya Rika menatap penuh selidik.
"Hehehehe.... Maaf yah aku telat say... Aku kesini gak sendiri loh, kalian masih ingat kan. Teman yang aku ceritakan waktu itu, akhirnya dia mau bergabung dengan klub kita," Duduk di samping Rika.
"Astaga, semoga dia gak menyesal masuk klub ini. Karena orang-orang di sini kurang garam dan kebanyakan micin," Batin Rika pura-pura tersenyum bahagia.
"Nyonya sini!!" Melambaikan tangan, semua orang menatap takjub. Karena yang hadir adalah istri yang paling di hormati selain keluarga EUGINUS.
"Duduk sini GINA," Menarik tangan Gina, Rika terus menatap Gina. Rasa tidak percaya kalau itu adalah orang yang paling dia rindukan.
Rika tersenyum kearah Gina, dan Gina menatap Rika tanpa berkedip. Dia tidak percaya kalau mereka di pertemukan lagi, setelah sekian lama akhirnya mereka berjumpa. Rika berdiri dan langsung memeluk tubuh Gina, Dan Gina pun membalas pelukan Rika.
"Rika, ini beneran Rika kan? yang waktu sekolah nakalnya minta ampun itu? Benarkan Rika yang itu?" Menatap Rika tidak percaya.
Rika menganggukkan kepalanya. "Tapi gak usah di sebut juga kali nakalnya," Protes Rika tapi akhirnya mereka tertawa tanpa menghiraukan orang-orang yang sedang menatap mereka.
Mereka adalah teman masa SMA, Sudah 8 tahunan mereka tidak bertemu, saat itu Gina pindah ke luar kota. Dan sejak itu mereka tidak pernah saling mengasih kabar dan sebagainya.
"Ya ampun, kalian saling kenal? Tanya nyonya Lyla , Rika dan Gina tersenyum hangat.
"Aku sempat berpikir, orang bodoh mana yang mau bergabung di klub ini, ternyata itu kamu." Bisik Rika.
"Ya, dan orang bodoh ini bertemu dengan teman bodohnya yang dulu," Ucap gina tak mau kalah.
"Astaga!!" Rika geleng-geleng kepala, ternyata sifat sahabatnya ini tidak pernah berubah sedikit pun.
Semuanya lanjut berbincang, setelah Gina memperkenalkan dirinya kepada nyonya-nyonya di sana.
"Nyonya wendi, Menantu kamu sudah hamil?" Tanya nyonya Mila dengan nada mengejek.
"Ya seperti itu lah, dia pemalas, cuman bisa dandan dan shopping, gak pernah mau olahraga dan cek kesehatan." Meminum teh dengan mengacungkan jari kelingking ke depan.
__ADS_1
"Kalau itu aku, pasti udah aku seret dia, yah kalau menantu ku sih. Menurut apa kata aku, jadi aku gak perlu repot," Membanggakan menantunya.
"Kau sangat beruntung, Tapi apakah menantu kamu sudah bisa masak, kalau menantu ku itu gak perlu di pertanyakan lagi kemampuan."
"Ehemmmm... Kalau itu, Yah menurut aku sih, dia gak perlu belajar, tuh. Ada koki juga, ngapain harus bisa masak, iya kan nyonya Gina?" Mencari pembilaan.
Gina hanya tersenyum, Ternyata ini alasan Rika bilang, kenapa ada orang bodoh yang mau masuk klub ini.
Gina melirik Rika, dengan santainya Rika menyaksikan pertunjukan dan tersenyum melihat kelakuan nyonya-nyonya itu.
"Kalau nyonya Gina anaknya sudah menikah?" Tanya nyonya wendi, nyonya Lyla langsung melotot ke arah Wendi.
Wendi langsung terdiam, mengerti kode yang di berikan nyonya Lyla. "Belum," Jawab gina melirik ke arah Rika. Rika yang mulai kesel akhirnya membuka suara.
"Lagian aku heran sama kalian, emang kalian tidak malu apa? menjelek-jelekkan orang lain, tanpa menyadari kekurangan diri sendiri. Apa lagi itu adalah menantu kalian, Seolah-olah mereka itu barang atau piala bergilir, di saat kalian ingin memujinya maka kalian akan memuji, dan di saat kalian ingin merendahkannya kalian akan merendahkan." Ucap Rika menatap tajam ke nyonya Manda.
"Kalau anak kalian tau, orang yang dia cintai di jelek-jelekin sama seseorang. Pasti dia langsung marah, apa lagi orang yang menjelekkan itu tak lain adalah orang yang melahirkannya. Kalau kalian tidak suka dengan menantu kalian, lebih baik bicarakan bukan di umbar-umbar seperti barang obral." Semua orang terdiam mendengar ucapan Rika.
"Bilang aja kamu iri Rika, kalau anak kamu belum ada yang menikah," Seorang wanita yang umurnya 45 tahun, rambut pendek, badan Langsing, kulit putih. mungkin dengan umurnya, di bilang sudah Tua. Tapi kalau di lihat seperti 20 an dan masih kencang.
"Buat apa saya iri, kalau anak saya saja masih muda. Lagian banyak yang mau sama anak saya, bahkan mereka sukarela naik keranjang anak saya. Termasuk PUTRI KAMU yang tak ada harga dirinya," Tersenyum penuh kemenangan.
Semua orang terdiam, mereka tau kalau Rika dan nyonya Della tidak pernah akur. Tapi tetap saja di undang, bagi mereka itu adalah pertunjukkan yang wajib di tonton apa lagi gratis. "Saya permisi dulu nyonya-nyonya, karena saya tidak ingin menghabiskan waktu saya secara cuma-cuma." Berdiri dari tempat duduknya.
"Saya juga," Rika dan Gina memberi salam sebelum pergi dari restoran.
Della menatap kepergian Rika dengan kebencian yang mendalam. "Tunggu saja nanti."
"Hemm... kita sampai di mana yah tadi?" Ucap Wendi memecahkan ketegangan.
"Rika tunggu!!" Gina berjalan cepat menyamai langkah Rika.
Rika yang sudah sampai di ambang pintu mobil. Berbalik menatap Gina dan berusaha menahan tawa, melihat Gina ngos-ngosan menyamai langkah Rika.
"Ada apa?" Berjalan ke arah Gina.
__ADS_1
"Bentar aku mengatur nafas dulu," Setalah nafas Gina stabil, Gina langsung mengadahkan tangannya. Rika tidak paham maksud Gina dengan menautkan kedua alisnya.
"Ponsel kamu mana, astaga... cepetan!!"
"Ah.." Rika langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menyerahkan ke Gina.
"Nanti aku telphon, oke?" Gina langsung pergi menuju mobilnya yang kebetulan baru datang. Dan meninggalkan Rika yang masih bingung.
"Nyonya?" Panggil supir Rika dan berhasil menyadarkan Rika dari lamunannya.
"Iya! Dasar tidak pernah berubah," Rika tersenyum setelah sadar kalau Gina tidak ada di depannya lagi. "Pulang sekarang!!" Perintah Rika. "Baik nyonya," Rika langsung pulang dengan perasaan yang campur aduk.
Di rumah Sanjaya.
"Assalamualaikum pah, eh!! ada anak bunda tersayang," Duduk di samping suaminya.
"Wa'alaikumsalam," Jawab barengan.
Setelah itu papah Dimas dan Aditya melanjutkan kegiatannya yaitu main PS. Tanpa mempedulikan kehadiran bunda Gina yang bersemangat ingin bercerita. "Anak sama bapak sama aja," Ketus bunda Gina pergi ke dalam kamar, papah Dimas melirik Aditya, Aditya mengangkat bahunya kalau dia tidak tau juga.
Bunda Gina keluar lagi setelah berganti pakaian. Dan melihat kedatangan Reza yang kini bergabung dengan Papah Dimas dan Aditya.
"Reza kapan kamu datang?"
Mama Gina berjalan ke arah dapur, dan kembali lagi membawa cemilan. Di taruh nya di depan mereka bertiga.
"Baru Bun, dan langsung di ajak main sama papah," Jawabnya Yang Fokus dengan game.
Bunda Gina memainkan ponselnya, lalu menekan nomor seseorang. "Assalamu'alaikum," Ucap Gina.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Jawab papah Dimas, Aditya dan Reza.
Bunda Gina melirik mereka bertiga dengan tajam. Dan mereka bertiga malah menjawab kompak. "W.A.J.I.B bunda!!" Menatap Gina dengan senyuman dan itu membuat Gina kesel. Gina langsung pergi menjauh dari 3 IBLIS dan menuju ke arah taman.
Bagi Gina, kalau mereka bertiga sudah berkumpul, maka akan keluar jiwa IBLIS mengerjai bunda Gina. Dan itu membuat Gina darah tinggi dengan ke somplak mereka bertiga.
__ADS_1