KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
95. Pesta


__ADS_3

Menssion sudah terlihat ramai, tamu yang datang kebanyakan teman kerja Raka dan juga Viona, sengaja mengundang beberapa orang yang dikenalnya agar suasana pesta lebih meriah lagi.


Keluarga Duke juga sudah hadir, merekalah yang hampir memenuhi ruang tamu. Karena tamu yang lainnya lebih memilih menikamti pesta di lahaman samping tidak jauh dari kolam renang.


Terlihat makanan dan minuman ada di setiap sudutnya, berjejer rapi dengan aneka ragam. Dan juga berbagai macam varian rasa minuman.


Tuan rumah baru saja turun dari lantai atas. Menuju ruang tamu, ikut bergabung dengan yang lainya. Viona maju untuk memperkenalkan keluarganya ke pada keluarga Duke.


Deg


Betapa terkejutnya mereka saat melihat satu sama lain. Mereka mematung, dan terlihat mata sudah berkaca-kaca yang bertanda mereka sudah kenal satu sama lain.


"Mbak Lidya! Mbak Susan, kalia di sini?" tanya Momy Jeny ke pada keduanya.


Keduanya tidak menjawab, mereka menghampiri Mony Jeny dan langsung memeluknya.


"Jen Kamu ke mana saja? Kenapa tidak pernah memberi kami kabar? Kami sangat merindukanmu!"


Momu Jeny tidak langsung menjawab, karena tidak mungkin bercerita di tengah keramain seperti itu.


"Maafkan aku, aku juga sangat merindukan kalian. Banyak yang terjadi, nanti aku menceritakannya."


Para sang suami juga sangat terkejut bisa bertemu teman lama di pesta itu. Puluhan tahun menunggu kabar tapi satukalipun tak mendapatkannya.


"Tuan Bastian senang bisa berjumpa denganmu lagi" ucapnya berjabat tangan.


"Jangan seperti itu Jack, dan kau kemana saja selama ini? Asal kau tau, aku sudah menunggumu sampai menua seperti ini. Jika tidak mengingat pesanmu, aku sudah mencari kalian sampai kelubang semut!"


"Kau tidak berubah Bas, masih saja setia kawan. Aku salut denganmu" sambil menepuk bahu Tuan bastian.


Mereka malah melepas rindu, dan berbincang satu lama lain membuat sang anak terbengong dan tak percaya jika mereka sudah saling kenal.


Sama halnya dengan Viona, dia baru tau akan jawaban di mana dia sering mendengar jika wajahnya mirip dengan seseorang dan ternyata tak lain adalah Momynya sendiri.


"Tapi Mbak, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Momy Jeny ke pada Momy Lidya dan Bunda Susan.


"Oh iya, itu Viona kemarin datang dan mengundang kami, karena mengadakan pesta kecil-kecilan."

__ADS_1


"Viona? Apa kalian mengenal Viona anakku?" tanya Momy Jeny lagi.


"Anak? Maksudmu Viona Lilie Jacklin?" tanya Momy Lidya balik dengan wajah terkejutnya.


"Ya, dia anakku Mbak. Itu juga panjang ceritanya"


"Jadi Ibunya yang meninggal itu?"


"Ya dia juga Ibunya, dia yang merawat Viona waktu masih bayi. Nantilah Mbak sekalian aku ceritakan semuanya. Kita nikmati pestanya terlebih dahulu."


"Ah iya, ayok kita bergabung dengan yang lain" ujarnya dan berjalan ikut bergabung dengan sang anak.


"Aku tidak menyangka Momy Lidya mengenal Momy Jeny. Dunia benar-benar sempit" ucap Viona menatap keduanya.


"Iya Nak, pantasan saat pertama kali melihat wajahmu, mengingatkanku dengan Momy mu Jeny. Terlihat begitu mirip, dan ternyata kalian berdua memang sedarah."


"Heheh, ya sudah cerita masa lalunya nanti saja! Mari kita nikmati pestanya" ajak Viona mengajak semuanya untuk ke halaman samping tempat di mana acara akan di mulai.


Semua para tamu sudah duduk di tempatnya masing-masing. Tuan Jack menyambut mereka dan memberi sedikit sambutan dan menjelaskan tujuan diadakannya pesta itu.


Viona malah sibuk celingukan mencari keberadaan seseorang yang belum dilihatnya sejak tadi.


"Cari Kak Leo, apa Kak Raka ada melihatnya?" tanya Viona balik juga dengan berbisik.


"Tidak Dek, aku belum melihatnya! Apa kamu yakin sudah mengajaknya?"


"Sudah Kak, hmm aku ke depan dulu mencarinya Kak, kalau ada yang mencariku bilang saja aku ke kamar mandi"


Raka mengangguk, sebenarnya dia sudah curiga jika keduanya terlibat dengan perasaan yang berbeda. Tapi dia tidak mau ikut campur dengan urusan pribada Viona. Dia juga setuju jika Leo bisa meluluhkan hati Viona.


Mana mungkin dia lupa mengajaknya. Malah Leo lah orang pertama yang Viona undang saat dia datang bertamu ke rumah Leo.


Tapi kenapa belum terlihat sama sekali, biar cuman batang hidungnya juga tak nampak. Viona mencari ke dalam Menssion terlebih dahulu.


"Mbak sini!" panggilnya ke pada maid yang sedang mengumpulkan gelas yang sudah kosong.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya maid yang tak lain adalah Mbak Febi.

__ADS_1


"Eh tidak Mbak, aku cuman mau nanya, apa Mbak tidak melihat Kak Leo?"


"Tuan Leo? Emm tadi aku melihatnya di depan non, sedang berbincang dengan Bang Gondrong. Tapi aku tidak melihatnya lagi."


"Hm ya sudah Mbak, aku ke depan dulu mau mencari Kak Leo."


"Baik nona, atau nona mau saya bantu untuk mencarinya?"


"Tidak perlu Mbak. Silahkan lanjutkan pekerjaannya!" pintah Viona.


...----------------...


"Kenapa tidak masuk ke dalam Nak?" tanya Pak Satpam ke pada Leo, yang hanya melihat duduk di pos penjaga bersama Bang Gondrong.


"Sebentar Pak, aku masih menunggu seorang teman" balas Leo beralasan. Karena sebenarnya tidak siapapun yang orang yang dia tunggu.


Leo yang baru pertama kalinya datang ke Menssion Viona sangat terkejut, ternyata lebih besar daripada apa yang dia bayangkan. Dia juga melihat semua tamu yang datang rata-rata mengendarai mobil, dan juga menggunakan pakain yang mahal. Dia membayangkan jika dirinya barada di antara mereka tidaklah sepadan. Mau bagaimanapun rasa minder itu pasti ada, dan juga rasa malu untuk ikut merayakan pesta itu.


Makanya dia lebih memilih duduk bersama para penjaga yang bertugas di pos. Mungkin itu lebih baik jika dirinya langsung pulang.


"Memang bagaikan langit dan bumi" gumamnya pelan sambil melihat bangunan yang megah itu.


Di situ juga sudah tersedia makanan dan minuman, agar mereka tidak perlu ke sana ke mari jika merasa lapar dan haus.


"Kak Leo!" panggil Viona yang sudah tidak jau darinya


Leo menoleh, jantungnya berdebar saat melihat Viona yang sangat cantik dengan rambut yang di sanggul. Dia beranjak dan menghampiri Viona.


"Kenapa tidak masuk ke dalam Kak? pestanya sudah dimulai!" tanya Viona.


"Emm kayaknya aku di sini saja Li" masih menatap Viona, tapi kali ini tatapan itu terlihat sendu.


"Lah, kenapa Kak? Oh Iya Ibu mana, kok tidak ikut?"


"Emm Ibu tidak bisa ikut, tiba-tiba tadi merasa pusing, jadi aku ke sini sendiri."


"Emm sayang sekali, padahal aku mau kenalkan sama yang lainya. Ya sudah Kak, mari kita masuk!"

__ADS_1


Mau tidak mau, Leo terpaksa masuk ke dalam menssion. Keduanya menaiki mobil golft yang dikemudikan oleh Thea. Karena berjalan kaki lumayan cukup jauh dan memakan waktu.


__ADS_2