KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
98. Nico Franzlan Duke


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, Pagi-pagi Viona dan yang lainnya sedang berada di bandara. Mereka mengantar Tuan Jack dan Momy Jeny, dan baru saja pesawat lepas landas.


Liburan mereka dibatalkan, karena tiba-tiba Tuan Jack mempercepat ke pulangannya. Mungkin ada masalah di Perusahaan. Tidak jadi masalah, mereka bisa berlibur setelah kedua orang tuanya balik lagi, atau kapanpun mereka mau.


"Jangan bersedih, Dady dan Momy akan balik secepatnya!" Rian menenangkan Viona yang terlihat sedih. "Emm, Dek pulang dari sini, kamu langsung ke Restoran?" tanya Rian.


Siapa yang tidak sedih? Baru bertemu beberapa hari sudah ditinggal lagi. "Emm. Iya Kak, aku langsung ke Restoran.


"Oh ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati, tidak usah ngebut! Kakak juga mau pergi ke kantor sama Bang Raka. Karena mulai hari ini aku dan Tomi resmi menjadi pegawai di V.L Company."


"Heheh Kak Rian ada-ada saja. Oh iya Aku pergi, kalian juga hati-hati!" balas Viona dengan melambaikan tangan.


Seperti biasa, melihat jalan yang sudah macet. Viona akan melalui jalan pintas. Apalagi jam tujuh pagi, waktunya orang-orang berangkat kerja, sekolah dan yang lainnya.


Viona hanya mampir sejenak, dia mempercayai Leo dan Thea mampu mengurus Restoran tanpa dirinya. Dia ingin pergi menemui Mira yang sempat tertunda.


Dia mendapat pesan ke pada anggotanya, jika beberapa hari ini, ada seseorang yang memata matai bangunan itu, tapi orang itu tidak melakukan tindakan yang berbahaya, makanya mereka hanya diam saja, berpura-pura tidak melihatnya.


"Apa kau meminta bala bantuan? Percuma! Karena meskipun kalian bisa pergi dari situ, tidak ada yang bisa mengobati luka di badan yang membusuk itu. Kecuali buah ajaib milikku" gumam Viona yang terlihat fokus mengemudi.


...----------------...


Di kediaman Duke, Momy Lidya terlihat sering melamun sepulang dari pesta itu. Wajah seseorang terus terbayang di dalam pikirannya.


"Mom kenapa? Dady perhatiin akhir-akhir ini sering melamun, banyak diam, ada masalah?" tanya Tuan Bas setelah menyeruput secangkir kopi di pagi hari.


"Hah" membuang nafas berat. "Emm itu, apa Dady kenal teman lelaki Viona di malam pesta itu?" Momy lidya bertanya balik sebelum menjawab.

__ADS_1


"Teman lelaki?" bingungnya sambil mengernyitkan dahi. "Oh lelaki itu! Viona sempat memperkenalkannya ke pada Dady, kalau tidak salah namanya Leo. Ada apa dengannya Mom? Em apa jangan-jangan Momy tidak suka ya kalau dia dekat-dekat dengan Viona?"


"Bukan begitu Dad, ya wajarlah, kan Viona gadis yang cantik, pasti banyak lelaki yang ingin dekat dengannya!"


"Terus masalah Momy di mana?" tanya Tuan Bas lagi.


"Saat pertama kali melihatnya, Momy tiba-tiba teringat Adiknya Ray, apalagi saat dia tersenyum tulus, akan terlihat dimplenya di bagian bawah sudut bibir, itu terlihat sangat mirip. Hati mami saat itu langsung sesak!" jelasnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tuan Bas menggenggam tangan istrinya dan berkata. "Mom, Nico sudah tenang di alam sana, mungkin Momy hanya merindukannya, lagian ada banyak yang memiliki bentuk senyum seperti itu. Atau mungkin juga hanya kebetulan."


"Ternyata kamu juga merasakannya, Kirain cuman dady. Tapi Dady hanya diam, karena itu tidak mungkin" lanjutnya dalam hati.


Tuan Bas mengusap air mata Momy Lidya yang sudah mengalir, memeluk dan menenangkan sang Istri. "Jangan terlalu bersedih! Nanti kita kita pergi ke makamnya!"


Nico Franzlan Duke, Adik lelaki Ray yang meninggal karena mengalami kecelakaan bersama kedua orang tua Tian. Masih ingat dengan Tian? sahabat Ray dari kecil yang sekarang menjadi Dokter pribadinya.


...----------------...


Viona berjalan, tapi berhenti lagi. Dia baru sadar jika mobil Mira yang dipakainya waktu itu masih ada di dalam rumah itu. Dia membuka pintu mobil dan melihat isinya.


Viona menemukan tas Mira, dan mengeluarkan semua isinya. Terlihat ponsel Mira juga berada di situ, Viona mangambilnya dan memasukkan ke dalam tasnya.


Segera masuk ke dalam, dan membuka pintu ruangan. Dan saat itu juga bau busuk yang sangat menyengat langsung masuk ke indra penciuman bagi siapapun yang berada di situ.


Entah terbuat dari apa masker yang Viona pakai, dia sudah tidak mencium bau apapun lagi. Berjalan masuk dan melihat dua tahanannya yang sudah makin tak terbentuk dan juga makin kurus.


"Apa kabar kalian berdua? Oh iya apa kalian masih mengingatku? Atau kalian sudah lupa?" tanya Viona sambil duduk di kursi yang sudah disediakan oleh anggotanya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak langsung membunuh kami saja? Kenapa kau menyiksa kami seperti ini?" tanya Mira balik dengan suara yang melemah.


"Oh apa kalian belum sadar juga? Jika saat ini saya sudah membunuh kalian. Tapi, secara perlahan!" menekan diakhir ucapannya.


"Dan kenapa saya menyiksa kalian? Anggaplah sebagai pembelasan. Karena kau, sudah memisahkan Ibu dan Anaknya selama bertahun-tahun, dan kau yang yang merencanakan kecelakaan itu sampai Ibu Laras meninggal, dan kau juga sudah menyiksaku selama ini."


"Tolong ampuni Aku dan Ibuku Vio, biarkan kami pergi dari sini, kami sudah tidak kuat lagi!" sela Sisil sambil memohon ampun.


"Sisil, apa yang kamu lakukan Nak, jangan seperti itu! Kita pasti bisa keluar dari sini" tegur Mira tidak rela melihat Anaknya bersimpuh dan memohon seperti itu.


"Hahaha memafkan kalian? Bisa saja, asal kalian mampu bertahan hidup selama tujuh belas tahun lamanya! Kau ingatkan? Selama itu juga kau menyiksaku" tegasnya.


"Saya tidak punya banyak waktu, saya hanya datang untuk melihat kondisi kalian" ujarnya Viona sembari beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.


Sisil masih berusaha untuk meminta maaf ke pada Viona, dan minta dikeluarkan dari situ. Dia tidak peduli dengan larangan Nyokapnya yang hanya selalu mengatakan jika mereka akan keluar dari situ secepat mungkin.


Sebelum keluar ruangan Viona berbalik, tapi bukan membalas ucapan Sisil, tapi dia berkata. " Oh iya, saya melupakan satu hal untuk kau Mira. Tuan Jack menitip salam ke pada Wanita yang sedang hamil tua." tersenyum dan berbalik.


Deg.


Mira terkejut, karena Viona mengetauhui hal itu. "Tidak, tidak mungkin! Semua bukti sudah hilang, tidak mungkin mereka sudah bertemu secepat ini!" gumamnya pelan sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


...----------------...


"Kenapa kamu membohongiku Laras? kenapa kamu tidak memberitahuku? kenapa kamu melakukan semua itu? lihatlah apa yang terjadi sekarang? Aku menyiksa Anak itu sampai dia dewasa, pasti dia sangat membenciku, apa dia akan memafkanku jika aku meminta maaf? tidak Laras, tidak! Aku sudah menorehkan luka di hatinya, aku sudah sangat kejam kepadanya. jika kamu mengatakan sebenarnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


#Jangan lupa mampir di novel kedua outhor

__ADS_1


__ADS_2