
Beberapa Minggu yang lalu, peristiwa penculikan Neta. Saat pulang sekolah seperti biasanya Neta pasti di kurung di gudang sekolah, tapi sebelum di kurung dia di siksa terlebih dahulu.
“Enaknya kita apakan dia?” Tanya Anggi menarik rambut Neta, dan Amanda yang mencengkram dagu Neta membuatnya meringis kesakitan.
Amanda tersenyum. “Hari ini gue ulang tahun, apa Hadiah yang Lo berikan Neta?” Mencengkram dagu Neta dengan sangat kuat. “Apa yang ka.... Kamu inginkan?” Tanya Neta, Amanda meminum air dan langsung menyemprot air yang ada di mulutnya ke wajah Neta.
Amanda memberi kode kepada Anggi dan Dian, setelah itu dia melepas Cengkeramannya dari Neta. Anggi dan Dian tersenyum licik, Neta menatap mereka dengan penuh ketakutan. Anggi mendorong tubuh Neta sampai Neta tersungkur dan terbentur dinding, Neta hanya diam dia tidak berdaya dan tidak akan pernah bisa menang melawan mereka.
Anggi menumpahkan tepung di atas kepala Neta, sedangkan Dian melempari Neta dengan telur yang sudah busuk. “Hiks... Hiks... Sebenarnya kenapa kalian melakukan ini?” tanya Neta memberanikan diri, meskipun sekarang tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan tapi dia tetap berani bertanya.
“Lo ingin tau kenapa kami bisa berbuat begitu ke elo?” Amanda mengambil bekas air pel yang baru selesai. Dia berjalan mendekati Neta dan menumpahkannya ke tubuh Neta. “Karena Lo emang pantas mendapatkan itu semua,” menaruh ember di kepala Neta.
“Hiks... Hiks... Aku... Aku mohon hentikan sekarang!!” teriak Neta melempar ember itu ke sembarang arah.
Plakkkk..
“Berani Lo teriak hah!!” Menarik rambut Neta dan berjalan memasuki gudang yang lebih dalam lagi. Dengan tangan yang masih berada di kepalanya, membuat Neta mengikutinya dengan terhuyung-huyung.
“Ah, mau... Mau ke mana kita?” Tanya Neta yang kini tubuhnya sangat lemah. Anggi dan Dian membuang tas Neta ke tong sampah dan membakarnya.
“Kau akan tau nanti Neta,” Ujar Amanda dia melepaskan genggamannya dengan kasar sampai Neta terbentur dinding.
“Lo masih ingat Neta, saat Lo bilang kalau gue mencuri kalung milik Lo di depan umum?” tanya Amanda sambil mengikat tubuh Neta di kursi.
“Ta... Tapi itu kan emang kenyataannya,” jawab Neta menatap Amanda. Amanda mengitari Neta setelah itu di berhenti di titik awal dia berdiri.
PLAKKKK..
Tangan Amanda mendarat di wajah Neta. “Itu balasannya dan saat gue tau Lo masuk sekolah di sini. Lo tau gak?” Ucap Amanda sambil mencengkram dagunya. “Gue berpikir, ini adalah nasib sial Lo, karena Lo bertemu dengan kami.” Ujar Amanda dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
“Ceh,” Neta meludah ke wajah Amanda, dia sudah mulai berani menatap Amanda. Meskipun di dalam hatinya dia selalu berdo'a agar seseorang datang menyelamatkan dia.
Amanda langsung membersihkan wajahnya dengan tisu, dia menatap Neta penuh ke marahan.. “Beraninya Lo!!” Teriak Amanda dan menendang Neta sampai kursinya jatuh.
BRUKKK...
“Ah, uhuk... Uhuk... Apa dengan begini kalian puas menyakiti gue, apa tidak sekalian kalian bunuh gue heh!! Hiks.... Hiks... Gue lelah Amanda, tiap hari gue seperti di neraka. Apa kalian senang melihat gue menderita, hanya gara-gara masalah itu. Kalian, kalian... Tega melalukan ini ke gue.” Ujar Neta dengan tatapan yang dingin. Niat Amanda hanya ingin menyakiti Neta tanpa harus membunuh, karena akan ada lagi orang yang akan menyiksanya. Tapi karena Neta berani melawan jadi Amanda terbawa emosi.
“Kau bilang hanya itu, apa Lo gak tau gara-gara masalah itu, perusahaan orang tua gue hampir bangkrut, dan Lo bilang hanya itu Neta,”
"Neta... Neta... Lo gak tau kan? Kalau ada orang di luar sana ingin Lo mati di tangan dia," Ucap Amanda, dia menginjak pergelangan tangan Neta.
"Dan Lo tau gak Neta? Dia adalah orang terdekat Lo," Ucapnya dengan mengerakkan kakinya, agar Neta semakin merasa sakit.
"Siapa? Siapa orang yang ingin melenyapkan aku?" Batin Neta, tangannya membiru langsung tergores dan menguarkan darah, karena di injak Amanda dengan sepatu berhak tinggi 1 cm.
"Lo gak usah berpikir keras, yang ada itu hanya membuat Lo menderita," Ujar Amanda yang langsung terbaca melihat ekspresi Neta.
Amanda meletakkan sebalah kakinya di wajah Neta dan menekannya agar Neta merasa ke sakitan. “Ah... Hiks... Hiks... Tolong.... Tolong...” Teriak Neta dengan suara yang pelan dan nada bergetar.
“Percuma, gak akan ada yang mau menolong Lo Neta, dasar orang miskin,” Ucap Dian berjongkok di hadapan Neta. Dia menekan kakinya yang kini menginjak jari Neta.
“Salah Lo sendiri cari gara-gara sama gue, bahkan Lo gak bisa bedain kawan mana lawan.” Ucap Amanda berlalu meninggalkan Neta, tapi sebelum itu dia memberi perintah ke Anggi menuangkan air dan menutup mata Neta dengan kain hitam.
“Tolong lepaskan gue, hiks... Hiks... Gue dari keluarga EUGINUS , gue bakal memberikan apa pun pada kalian asal kepada gue, hiks..” Ucap Neta ketakutan, dia rela membuka identitasnya asal dia di bebaskan. Tapi sayang, Amanda tidak percaya dengan perkataan Neta.
“Dia kira kita bodoh apa, keluarga EUGINUS tidak ada anak perempuan,” gumam Manda Menutup pintu gudang.
Sebenarnya banyak yang tidak tahu, kalau Euginus mempunyai anak perempuan karena Neta yang memintanya agar dirinya tidak di publikasikan, bagi Neta itu sangat merepotkan, bakal banyak orang yang mau berteman dengannya tapi bukan berteman yang tulus. Melainkan modus mereka agar perusahaan mereka dapat bekerja sama dengan keluarga Neta.
__ADS_1
Neta sudah tidak tahan lagi, dia begitu kelelahan dan ingin tidur. Tiba-tiba seorang lelaki tampan datang, dengan berpakaian jas hitam, dan beberapa pria bertubuh besar yang ada di samping dia.
"Jadi dia oranya?" Gumam Petra, bisa Petra lihat dari poster tubuh Neta, kalau dia adalah wanita yang cantik.
“Petra,” Panggil seorang gadis cantik dan menghampiri Petra. Petra tersenyum kearah gadis cantik itu, lalu memberi perintah anak buahnya membangunkan Neta.
“Kenapa suara wanita itu seperti pernah dengar?” Batin Neta, Petra duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh anak buahnya. Sedangkan gadis itu duduk di pangkuan Petra.
“Apa kita bawa dia pergi atau di sini saja kita menyiksa dia?” Tanya Petra kepada gadis yang duduk di pangkuan dia.
“Mau... Mau... Apa kalian? Jangan coba macam-macam yan, atau... Atau...” Ucap Neta terbata-bata, dia berpikir kalimat apa yang cocok untuk mengancam mereka.
Gadis itu berjalan dan memainkan belati di hadapan Neta, dia membelai wajah Neta dengan belati itu. “Atau apa?” Tanyanya menekan belati ke wajah Neta. “Ah... Atau.. hiks... kalian semua akan menyesalinya, hiks...” ucap Neta merasakan sakit di wajahnya, belati itu berhasil menggores wajah cantik Neta.
“Biarkan penyesalan itu datang Neta,” Bisik gadis itu, Neta mencium bau parfum yang sangat dia kenal, orang yang sangat Neta percayai. Tapi Neta berusaha menepis ke curigaan dia ke salah satu sahabatnya, Neta berpikir mana mungkin dia melalukan itu terhadap orang terdekat dia.
Gadis itu memainkan rambut Neta yang panjang sepinggang, dan gadis itu memotong rambutnya dengan sembarangan. “Hiks... Kenapa kalian berbuat seperti ini?” Tanya Neta, di merasakan kalau rambutnya di potong. “Apa salah saya? Apa heh?” teriak Neta yang sudah ke habisan kesabaran.
“Tidak ada, kami hanya ingin bersenang-senang saja,” Jawab gadis itu dengan tertawa puas melihat Neta menderita.
PLAKKKK...
“Itu adalah balasan Karen Lo lahir di keluarga yang menyayangi Lo,”
PLAKKKK...
“Itu adalah balasan karena Lo selalu dapat yang Lo inginkan!!”
PLAKKKK...
__ADS_1
“Karena gue benci lo,” ucapnya setelah dia menampar Neta beberapa kali, dan Neta pingsan karena tamparan, gadis itu tersenyum puas tapi dia tidak akan semudah itu melepaskan Neta begitu saja.
"Apa yang sebenarnya membuat dirinya begitu membenci orang itu?" Petra bertanya-tanya. baru kali ini teman masa kecilnya meminta bantuan dia untuk memberi seseorang pelajaran.