
Sintia menatap tajam ke Lian dengan penuh kebencian. “Aku akan hilang, jadi bersabarlah untuk beberapa jam.” Ucap Lian, Lian tersenyum ke arah Rika lalu memeluk pinggang Rika dengan sangat erat. Sintia langsung keluar dengan membanting pintu sangat keras. Dia bersandar di balik pintu sambil memukul dadanya yang sesak sambil menangis.
“Hiks... Maafkan mama sayang, maafkan mama.” Gumam Sintia dengan air mata yang deras, setelah itu dia pergi bergegas sebelum ada yang melihat dirinya menangis. “Kamu tidak apa-apa sayang?” tanya Rika membelai puncuk kepala Lian.
“Gak apa-apa mah, aku sudah biasa dengan ini Semua. Aku mau istirahat sebentar kalian bisa keluar,”
Neta memberi kode kepada Rika dan Viola kalau dia ingin sendirian. “Baiklah, kalau ada apa-apa telepon kami yah.” Lian mengangguk Rika tersenyum mencium kening Lian. “Kami pergi dulu, “ pamit Neta dan Viola, Lian hanya tersenyum dan langsung membaringkan tubuhnya ke samping.
Gina, Dimas dan Aditya masuk ke rumah sakit, setelah bertanya kamar yang di tuju arah mana. Aditya hanya mengikuti langkah kedua orang tuanya yang berjalan satu arah, meskipun mereka bingung kok bisa mereka menuju ruangan yang sama dan berharap Gina dan Dimas menentukan menantu yang Sama. Itu yang ada di benak Dimas dan Gina masing-masing.
Gina melihat Sintia yang duduk di kursi sendirian dengan menutupi wajahnya. “Sintia kamu Kenapa?” tanya Gina, Sintia kaget dan langsung menatap orang yang memanggil namanya. “Gina,” gumam Sintia langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu Kenapa?” tanyanya dengan nada hati-hati. “Gak apa-apa, kamu ke sini ngapain kok gak bilang-bilang sih kalau mau ke sini?” Gina tersenyum malu-malu dia menatap Dimas yang menatapnya terheran-heran apa lagi Aditya menatap Gina dengan tajam.
“Aku mau melihat anak kamu, sekalian ada yang ingin aku katakan sama seseorang.” Tawa pelan Gina. “Ya sudah mari ikuti aku, “ ucap Sintia berjalan menuju kamar Meta atau Lian yang saat ini, Gina, Dimas dan Aditya mengikuti Sintia Dimas juga penasaran dengan menantu pilihan istrinya ini.
“Pah, aku rasa bunda gak kasih tau ke Tante itu deh kalau dia mau ke sini,” Bisik Aditya, Dimas mengangguk kepalanya tanda apa yang di katakan Aditya benar, mereka sudah sampai di ruangan Meta, Sintia ingin masuk tapi pintunya di kunci oleh Lian dari dalam.
Lian memandang Sintia yang memberi perintah untuk membuka pintunya, tapi Lian tidak peduli dia malah mengalihkan pandangannya keluar jendela. Aditya terkejut melihat salah satu anak muridnya berada di rumah sakit. “Apa ini yang membuat dia tidak masuk, tapi di mana duanya lagi?” batin Aditya yang kebetulan tirainya tidak tertutup dengan rapat.
Tiba-tiba Aditya teringat akan calon menantu yang di katakan bundanya ini. “Jangan-jangan?!” Gumam Aditya Menatap bunda Gina dengan tatapan terkejut, Gina hanya tersenyum menanggapi Aditya, apa yang Aditya pikiran Gina tidak bisa menjelaskannya sekarang, karena melihat Sintia yang panik pintu kamar anaknya belum terbuka Juga.
“Lebih baik kamu minta perawat membuka pintunya, biar lebih cepat.” Saran Gina berusaha menenangkan Sintia agar dia tidak panik. Dimas berbisik ke Aditya. “Lebih baik kamu memilih calon menantu papah, di jamin kamu suka sama dia.”
__ADS_1
“Pah, astaga...”
Tak habis pikir dengan keadaan seperti ini sempat-sempatnya Dimas membujuk Aditya. Di kamar Neta Rika dan Bagas saling senyuman-senyum tidak jelas. “Kalian Kenapa?” tanya Neta terheran-heran melihat kedua orang tuanya senyum-senyum gak jelas.
“Gak apa-apa, anak mama kok cantik banget sih!!” mencubit pipinya dengan gemas, Viola yang Melihat keharmonisan keluarga EUGINUS sangat iri. Kapan keluarganya seperti itu.
Tok... Tok...
Bagas bergegas membukakan pintu dan langsung memeluk sahabat lamanya. “Apa kabar?” melepas pelukan dan masuk ke dalam kamar Neta. “Sangat baik, kamu sendiri apa kabar? Lama tidak bertemu. Kamu ternyata tambah tua aja yah,” candanya Rika tersenyum dan memeluk Lelaki itu. “Kaka apa kabar?” tanya Rika dengan nada sedikit sedih, dia sangat merindukan orang yang ada di hadapannya sekarang ini.
“Sangat baik, ternyata kamu semakin cantik aja yah Rika,” melirik Bagas, Bagas segera menarik lengan Rika dan memeluk dengan sangat erat. “Cih, aku sudah lama move on dari dia, apa kamu pikir aku masih menyukainya?”
“Kalau begitu berhentilah menatap dia, atau kau tau akibatnya sendiri.”
Hubungan mereka sangatlah rumit, cinta segitiga tiga dulu, antara papah Bagas, Rika dan Dimas pada masa muda dulu. Tapi bersyukur hubungan mereka baik-baik saja tanpa perlu banyak drama kayak di sinetron sekarang.
“Oh aku lupa, aku ke sini tidak sendirian, Nak masuklah. Temui calon istri kamu.”
Deg..
Jantung Neta berdegup kencang. “Calon istri?” batin Neta, apa lagi orang yang masuk itu adalah orang yang sangat menyebalkan bagi dirinya. “Kamu?!” barengan mereka terkejut satu sama lain. “Bagaimana bisa?” Neta meminta penjelasan kepada orang tuanya.
Viola masih tidak paham apa yang mereka maksud, tiba-tiba Rika menggenggam tangan Neta setelah dia menyuguhkan minuman kepada Dimas dan bagas. “Neta sebenarnya waktu kecil kamu sudah di jodohkan oleh Kakek kamu dulu dengan sahabatnya,” jelas Rika dengan nada lembut membuat Neta agar Mengerti.
__ADS_1
“Tapi mah, masa Sam om-om sih!!” tunjuk Neta ke Aditya dengan tatapan tidak suka. Aditya menunjuk dirinya. “Siapa yang om-om heh?!” sarkas Aditya dengan tidak suka dia bahkan menatap Dimas papahnya meminta penjelasan kepada dirinya.
“Iya siapa lagi sih kalau bukan Lo, udah tua juga masa belum nikah sih.” Cerucus Neta dengan memutar bola matanya. “Heleh, Aku masih 28 yah, lagian siapa juga yang mau nikah sama bocah ingusan kayak Lo.”
“Apa Lo bilang?!”
“Kenapa gak terima? Emang benarkan kamu bocah ingusan.”
Semua keluarga tertawa melihat perdebatan mereka berdua. “Pokoknya aku gak mau nikah sama Om itu!!” rengek Neta dengan memanyunkan bibirnya, sebaliknya Aditya membujuk ayahnya agar perjodohan mereka di batalkan. “Pah ini bukan zaman Siti Noor Bayah atau apa lah itu main jodoh-jodohan pah,”
“Tidak bisa, lagian perjodohan ini sudah terjadi zaman Kakek kalian jadi kalian harus menerima perjodohan ini apa pun itu. Lagian kalian bukannya sudah saling suka yah?”
“Kata siapa, gak pah. Batalkan perjodohan ini pah,” bujuk Aditya dengan memohon dan Neta juga membujuk sang ayah dan mamanya.
“Pertunangan kalian akan di lakukan 1 bulan lagi jadi bersiap-siap lah, tidak ada bantahan lagi!” sahut seseorang lelaki tua dengan wanita yang menggandeng lengannya. “Kakek, mamah?!”
“Sayang, menantu yang mama maksud yah dia. Dan mama juga gak tau kalau menantu yang papah pilih adalah dia juga.”
“Jadi yang tadi?”
“Yang tadi hanya menjenguk saja.” Senyum Gina setelah itu dia memeluk Rika karena akhirnya mereka jadi besan juga. “Astaganaga.” Gumam Aditya menatap Neta yang juga menatap Aditya dengan tatapan tidak suka.
Hai, akhirnya season pertama sudah tamat, saya akan buat season ke-dua di apk .... akan jauh lebih menarik dan tulisan akan lebih rapi lagi, biar saya tidak bolak-balik ke sini dan ke sana jadi saya memutuskan buat season ke duanya di sana. saya gabung dengan novel saya yang di sana agar saya bisa up tiap minggunya juga. Terima kasih sudah mau meluangkan waktunya membaca novel saya ini.
__ADS_1