
Berbagai akting Neta lakukan mulai dari pura-pura sakit perut, sakit kepala, sampai dia hampir jatuh di ranjang. Dan Viola sudah tidak tahan lagi dengan ide gila Neta, akhirnya dia menyetujui permintaan Neta. Dengan satu syarat Neta harus meminum obatnya dengan rutin, Neta tidak ada pilihan selain menyetujui syarat itu.
“Kenapa kamu gak mau minum obat itu dengan rutin Neta?” Membantu Neta duduk di kursi rodanya. “Pahit banget Viola, rasanya gak enak Banget... Huekkk, kalau bayangin itu rasanya mau muntah aku,” jawab Neta yang sudah duduk di kursi roda. Viola mendorong kursi roda keluar kamar Neta, sekarang ini sudah mau sore dan jam di mana hampir semua pasien jalan-jalan.
Tok... Tok... Tok...
Bisa di lihat Meta hanya duduk memandang keluar jendela, dia hanya seorang diri tidak ada orang rumah yang menemani dirinya, Viola membuka pintu saat tidak ada jawaban dari Meta.
“Kenapa kalian ke sini?”
Viola terkujut bagaimana dia tau kalau itu mereka, padahal dia tidak menoleh sama sekali. “Meta,” bertapa terkejut dia kalau itu Berliana bukan Meta. “Tidak usah terkejut seperti itu.” Ucapnya menatap wajah Neta dan viola dengan ekspresi terkejut. “Keluarlah, aku ingin sendiri.” Usirnya dengan suara dingin, viola ingin menarik kursi roda Neta ke belakang dan ingin berputar, tapi Neta tahan dan mendongak kepalanya menatap Viola. Memohon agar tetap di sini.
“Apa kamu baik-baik saja Berliana Malia Yuan?” Tanya Neta yang tidak tau bagaimana dia bisa menyebut nama seseorang dengan yakin kalau itu namanya, seolah-olah itu sudah terbiasa dia ucapkan. Berliana menatap Neta dengan air mata yang mengalir di pipinya, dia sangat rindu dengan nama itu tidak ada orang yang tau nama Berliana yang sebenarnya sebelum nama Meta ada.
“Apa kamu baik-baik saja Berliana Malia Yuan?” tanya lagi Neta dengan mendorong kursi rodanya agar mendekat. “Bagaimana kamu tau Neta? Maksudku kamu ingat dengan namaku?” Tanyanya, tatapan mulai sandu dia tidak menyangka kalau ada yang mengingat namanya dan orang itu adalah orang yang pernah dia celakai.
“Apa kamu kira aku lupa itu Lian, kamu adalah teman masa kecilku, saat aku tidak sengaja mematahkan boneka yang kamu sayangi, dan saat itu sikap kamu berubah Lian.” Lian adalah panggilan Berliana waktu kecil, hanya orang terdekat saja yang bisa memanggil sebutan itu.
Lian menangis dia ingin seperti dulu, dia ingin menguasai tubuh yang seharusnya dia miliki, tapi demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya dia rela menghilang dari muka bumi ini. “Apa kamu tau net? Tidak ada seorang pun yang menginginkan kehadiran aku, seolah-olah aku adalah kutukan bagi keluarga ku sendiri, kau lihat sendiri bukan, bahkan kakiku di borgol agar tidak bisa keluar dari sini.” Kata Lian menatap Neta, Neta bisa rasakan kepedihan yang di rasakan Lian.
__ADS_1
Betapa rindunya dia akan kasih sayang orang tuanya, tapi kehadiran dirinya tak pernah di anggap bahkan bertindak kalau itu bukan anaknya. Lian tersenyum kecut. “Aku pengin Neta hidup normal seperti kalian, aku pengin merasakan kasih sayang orang tuaku sekecil pasir pun aku tidak masalah Neta. Asal mereka ada rasa sayang sama aku, tapi apa? Mereka bahkan mengacuhkan aku, dan menganggap aku adalah parasit yang bersarang di tubuh ini.” Neta memeluk tubuh Lian dan menepuk-nepuk punggung Lian.
“Aku hanya ingin kasih sayang yang dulu mereka berikan Neta, apa itu salah.. hiks...?” tanyanya dengan Isak tangisnya, terasa pilu dalam tangisnya, bagaimana di umur Lian yang dulu sampai sekarang dia merasakan pahitnya kehidupan. Tidak ada perubahan yang bisa membuat kenangan indah untuk dirinya.
“Lian kenapa kamu tidak bisa menyatu dengan meta saja?” Lian menggeleng, dulu dia pernah berusaha keras agar menyatu dengan Meta tapi tidak berhasil. “Mungkin aku tidak di takdirkan Neta.”
“Hanya harapan kecil untuk dirinya bisa bertemu dengan orang tuanya, dan saat harapan itu tercapai hanya ada penderitaan yang dia dapatkan, Lian. Mungkin ini yang terbaik buat kamu, dunia ini tidak seindah warna pelangi yang kamu lihat saat hujan panas selesai. Hanya ada rasa sakit dan warna hitam putih seperti kertas fotocopy.”
Neta memberikan pelukan yang saat ini Lian perlukan. “Berhentilah menangis, air mata ini akan kering nanti.” Mengusap air mata Yang ada di pipi Lian. “Tenang air mataku banyak sungainya.” Sahut Lian sambil bercanda.
“Tidak aku sangka kamu bisa bercanda.”
“Iya, aku jahat maka dari itu bisakah kalian menjauh dari penjahat ini?”
“Hiks... Kamu jahat Lian, kenapa? Kenapa kamu gak bisa cerita ke kami, apa kamu tau betapa bingungnya aku saat melihat perubahan kamu yang drastis itu.?”
Viola menatap wajah Lian dengan tatapan penuh kerinduan. Entah rasa bencinya tertutupi dengan rasa sayang dan juga rindu yang mendalam. “Bukankah aku pernah bilang, berhenti menangis kamu sungguh sangat jelek.” Menuyur kepala Viola.
“Biarin, aku jelek di hadapan kalian bukan di depan semua orang.” Ketus viola, Neta yang melihat viola bercanda dengan Lian merasa lega akhirnya viola bisa membuka hatinya untuk memaafkan Lian.
__ADS_1
Rika mengetuk pintu kamar lian, dari awal dia datang dan masuk ke dalam kamar Neta tidak ada seorang pun Yang ada di dalam kamar. Membuat Rika khawatir takut Neta kenapa-kenapa. “Mamah.” Gumam Neta menunduk kepalanya takut membuat Rika marah dan berceramah panjang lebar nanti.
Rika masuk dan mengusap puncuk kepala Lian dengan sangat gemas. “Tante, ma...” Belum sempat Lian berbicara Rika sudah menahan bibir Lian dengan telunjuknya. “Mama bukan Tante, oke?!” Lian mengangguk dengan air mata. Dia tidak menyangka kalau dia bisa di terima dengan senang hati oleh Rika bahkan dia dianggap anak olehnya.
Tiba-tiba senyuman itu menghilang dan menatap Neta, mata Lian terbuka lebar melihat ekspresi Neta hanya tersenyum lembut. “Hiks... Kenapa kalian semua baik sekali, aku jadi ingin egois, hiks...” ucap Lian mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
“Tidak boleh,”
Tiba-tiba Sintia datang dengan tatapan tidak suka terhadap Lian, Rika mengerutkan alisnya dia tidak mengerti kenapa Sintia bisa sekejam itu terhadap anaknya sendiri. Lian tersenyum kecut. “Bahkan di detik-detik terakhir pun, kamu masih menganggap aku parasit.”
“Kau bukan parasit, melainkan monster yang pembawa sial dalam keluarga ini.”
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, bukan parasit melain monster bagi Sintia. “Hemmm, anak monster lalu apa ibunya monster juga?” Lian mencengkram seprai dengan sangat kuat, dia berusaha menahan amarah agar tidak mencelakai siapa pun sekarang.
“Kamu apa-apaan Sintia, bagaimana pun dia anak kamu Juga!!”
Rika memeluk tubuh Lian yang gemetaran menahan amarahnya sekarang, Lian terkejut Rika melindunginya bahkan menutup kuping Lian agar tidak bisa mendengarkan apa kata Sintia. “Tante apa Tante sadar apa yang Tante ucapkan itu bisa melukainya?” tanya Neta memegang tangan Lian seolah-olah artinya kamu tidak sendirian Lian, sekarang ada kami yang menyayangi kamu dengan tulus.
“Keluar Lian!!” teriak Sintia yang sudah mulai kehabisan kesabaran ya. “Keluar ke mana?” tanya Lian pura-pura bodoh.
__ADS_1
Maaf atas keterlambatan upnya 🙏 tolong baca juga novel saya yang lainnya "I LOVE YOU BOS" tentang novel ini harus 18+ yah karena mengandung konten dewasa dikit 🤗 terima kasih.