KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
73. Flasback II


__ADS_3

Wanita itu segera masuk, setelah Dokter pergi. Tidak lupa dia mengunci pintu dari dalam untuk berjaga-jaga. Dia jalan mendekat di mana Laras berada, yang sedang duduk dengn posisi bersandar.


"Maaf Anda siapa?" tanya Laras. Dia tidak kenal dengan wanita itu. "Ohh mungkin Anda salah masuk ruangan!" lanjutnya.


"Perkenalkan nama saya Mira Arola! Saya tidak salah masuk kamar. Maaf sebelumnya jika saya lancang masuk tanpa ijin dari Anda" jelasnya.


"Oh iya tidak apa-apa! Tapi untuk Anda masuk kemari?" tanya Laras lagi.


"Tadi pas saya lewat depan ruangan, saya mendengar seseorang menangis. Kedengaran soalnya pintu terbuka sedikit. Dan maaf sekali lagi, bukan maksud saya mau nguping perbicaraan Anda" ujarnya sedikit berkilah. Padahal ruangan itu memang tidak kedap suara, jadi siapa saja yang lewat pasti akan mendengarnya.


"Ahh iya mungkin Asisten saya tidak sadar kalau pintu tidak tertutup rapat. Dan ya itu tadi saya, saya juga minta maaf jika sudah menggangu kenyamanan Anda" balas Laras.


"Saya turut berduka, atas kejadian ini!" katanya sambil jalan mendekat lagi.


"Terima kasih. Oh iya silahkan duduk! jangan berdiri terlalu lama, tidak baik untuk Ibu hamil belum lagi Anda menggendong bayi.


"Ah iya makasih" balasnya sambil duduk di kursi yang tersedia di samping brankar Laras. Dan saya kesini ingin minta tolong, mungkin juga sekaligus bisa membantu Anda."


"Minta tolong? Tapi apa yang bisa saya bantu dalam keadaan seperti ini?" tanya Laras sedikit bingung mendengar hal itu. "Dan bisa membantu saya! bagaimana makudnya?"


"Saya ingin minta tolong, untuk merawat bayi ini!" katanya sambil menatap baby girl yang dia gendong. "Bayi ini anak teman saya, dia menitipkannya kepadaku dalam kondosi yang hamil tua begini. Dengan adanya bayi ini mungkin suami Anda pasti tidak jadi marah atau kecewa."


Laras sedikit terkejut, memang dia sangat menginginkan sosok anak. "Kemana pergi orang tua bayi? Dan apa alasannya dia menitipkannya? Kenapa bukan mereka yang merawatnya?" tanya Laras. Dia harus tau semuanya, jangan sampai itu hanya penipuan.


"Teman saya namanya Jack! Istrinya tidak selamat saat melahirkan kemarin. Karena masalah biaya dia ingin pergi merantau keluar negri untuk bisa menghidupi anaknya. Baru saja dia pergi setelah dia mentipkan anaknya kepadaku. Aku tidak bisa menolak, daripada bayi ini terlantar di luar sana mending saya yang merawatnya sebisa mungkin. Makanya saya meminta bantuan kepada Anda, siapa tau mau merawat bayi ini!"


"Tapi bagaimana dangan Ayahnya, pasti dia akan marah jika anaknya tinggal sama saya" Laras mulai luluh dengan bayi itu.


"Mana mungkin dia marah, jika dia tau anaknya di rawat dengan baik. Anda tenang saja, katanya dia akan mengirimkan uang bulanan jika dia sudah mulai kerja.

__ADS_1


Laras tidak masalah dengan uang. Dia sanggup untuk menghidupinya hingga dewasa. Tapi yang jadi masalah bagaimana kedepannya nanti.


"Tapi bagaimana jika suatu hari nanti suami saya tau. Atau ayah dari bayi ini balik dan mengambilnya dari saya. Apa yang harus saya katakan dengan suami saya? Pasti dia sangat marah!"


"Itu urusan belakang, yang penting saat ini suami Anda bahagia." masih berusaha membujuk. "Bagaimana? Soalnya saya harus pergi suami saya pasti sudah menunggu di parkiran.


"Baiklah, tapi aku mau kedapannya kita bertemu lagi" ucap Laras yang meminta pertemuan selanjutnya.


"Tentu, aku akan mencarimu. Berikan kartu namamu!" balasnya sambil menjulurkan tangannya.


Laras mengambil kartu namanya yang berada di dalam tas. "Ini, silahkan hubungi saya di nomor itu!" perintahnya sambil meletakkan di telapak tangan Mira.


"Maaf dan terima kasih sebelumnya" sahutnya sembari memberikan bayi itu pada Laras. "Dan di dalam tas itu ada beberapa perlengkapannya. Dan saya harap Anda merawatnya dengan baik!"


"Ya sama-sama. Anda tenang saja! Saya akan menganggapnya seperti anak kandung saya sendiri" jawabnya dengan tersenyum.


"Ya Anda hati-hati di jalan, dan sampai berjumpa lagi" kata Laras pengertian.


Mira segera keluar dari ruangan itu. Ketika dia membuka pintu, Yuni juga baru keluar dari kamar mandi. Mira menutup pintu dengan cepat tanpa menoleh, dia tidak ingin melihat orang yang baru keluar dari kamar mandi itu.


"Nona siapa orang itu? Dia bukan orang jahatkan? Astaga, bayi siapa ini?" tanya Yuni beruntun. Dia sangat terkejut melihat seorang bayi yang berbaring di samping Laras.


"Yun, kita pulang sekarang, nanti aku akan menjelaskan setelah kita sampai di rumah" perintahnya, jangan sampai Dokter masuk di ruangan itu lagi.


"Huff baiklah, aku harap nona tidak melakukan sesuatu hal yang membuat nona menyesal di kemuadian hari" kata Yuni sambil bersiap-siap pulang. Karena sebelumnya dia sudah membereskan semua barang-barang dan memasukkan dalam tas.


"Yun tolong bantu aku pindah di kursi roda!" Dia tidak ingin berjalan, bekas jahitan masih terasa sedikit perih.


Yuni membantu Laras, setelah dia duduk dengan baik baru dia mengambil bayi itu dan memasukkannya dal tas besar dengan resleting yang terbuka setengahnya.

__ADS_1


Keduanya keluar. Yuni mendorong kursi roda dengan sedikit cepat. Barang-barang lainya sudah di bawah oleh Pak Sopir yang sudah stand bay sejak tadi.


Sampai di mobil, Laras baru mengeluarkan bayi itu. Sopir heran kenapa bayi itu di simpan dalam tas. Tapi dia tidak punya keberanian untuk bertanya.


"Selamat nona, atas kelahiran nona muda!" ucap Sopir memberi selamat. Dia tidak tau kalau bayi Laras sudah meninggal.


"Terima kasih kang! Ya sudah kita pulang sekarang!" dia tersenyum bahagia, walaupun itu bukan anak kandungnya, tapi setidaknya dia akan menjadi sosok Ibu.


Yuni hanya diam, dia belum tau apa yang terjadi. Tapi dia juga merasa senang melihat Laras tersenyum bahagia.


Sampai di rumah, mereka di sambut meriah dengan para pelayan. Apa jadinya jika Laras pulang tanpa seorang bayi. Laras terharu di perlakukan seperti itu.


"Selamat datang nona! Selamat datang nona muda" sambut mereka semua dengan bahagia.


Mata Laras berkaca-kaca, "Terima kasih semuanya! Kalian sudah repot-repot buat semua ini!" sambil menatap dekorasi minimalis yang warnanya serba merah muda.


Beberapa menit berlalu Laras sudah berada di kamarnya bersama dengan Yuni, terlihat juga kamar itu sedikit ada beberapa hiasan.


Keduanya duduk di atas tempat tidur, sambil melihat sang bayi tertidur dengan nyenyak, yang habis menyusui. "Nona apa yang terjadi?" tanya Yuni.


Laras menoleh, kemudian menceritakan semuanya. Tidak ada karangan atau cerita yang di lebih-lebihkan.


Yuni yang mendengar penjelasan Laras, sebenarnya sedikit takut jika Pak Doni mengetahuinya. Tapi dia berusaha meyakinkan dirinya, tidak akan terjadi sesuatu. Tapi entah kenapa malah hatinya makin gelisah.


"Selamat nona, jadi sekarang nona tidak boleh bersedih lagi. Jangan membuat Pak Doni curiga" Yuni memperingati.


"Hmm kamu tenang saja Yun! Aku tidak akan pernah bersedih di hadapannya" balasnya tanpa ragu.


Nikmatilah hal-hal kecil yang ada dalam hidup, sebab suatu hari nanti kamu akan melihat ke belakang dan kemudian menyadari bahwa itu adalah hal-hal besar. Dan kemana pun diri kamu pergi, lakukanlah segala sesuatu dengan segenap hati.

__ADS_1


__ADS_2