
"Eh Viona kamu di sini juga Nak?" tanya dari salah satu rombongan keluarga Kei. Beranjak dari duduknya dan menyambut Viona.
Viona tersenyum melihat orang yang menyapanya, "Momy! Lama tidak berjumpa" balasnya sambil berpelukan.
"Ohh ternyata kalian sudah saling kenal ya!" Sahut Kei yang melihat Viona berpelukan dengan Bibinya, terlihat sudah sangat akrab sampai Viona memanggilnya Momy.
"Iyalah kami saling kenal, Viona kan temannya Ray! Kamu sendiri kenal di mana dengan Viona?" tanyanya.
Sesorang yang memeluk Viona adalah Nyonya Lidya sekaligus Bibi Kei. Karena Ayahnya dan Momy Ray Kakak beradik. Kebetulan saat ini mereka lagi ngumpuIl di Restoran Viona untuk makan siang bersama.
"Momy! Kan kami satu kuliah juga sama Rara. Tentu kami saling kenal dan berteman baik" jawabnya sopan dengan menyebut Momy. Begitupun Ray, dia memanggil Bibinya dengan Bunda.
"Siapa wanita cantik itu Nak?" Bisik Bunda Kei yang juga baru pertama kali melihat Kei mempunya teman dekat seorang wanita.
"Viona kenalin ini Bunda sama Ayahku!" Tidak menjawab pertanyaan sang Bunda, malah memperkenalkannya.
"Halo Tante, Om! Saya Viona. Temannya Kei waktu kuliah" Sapa Viona memperkenalkan diri dengan berjabat tangan.
Viona hanya berkenalan dengan Ayah dan Bundanya Kei. Dia tidak menyangka ternyata Kei adalah sepupunya Ray. Dia memang tidak sempat membaca semua data keluarga Duke.
"Hm Kei! Ternyata kamu sepupunya Ray. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu?" tanya Viona memulai obrolan setelah mereka memesan makanan.
Kei tidak sempat menjawab, keburu oleh seseorang yang baru datang. "Eheem siapa yang menyebut namaku?" tanyanya dengan suara baritonnya.
Semuanya menatap sang pemilik suara. Ternyata orang yang di tunggunya sejak tadi. "Nak akhirnya kamu sampai juga! Kenapa lama sekali?"
"Momy lihat ini jam berapa? Waktunya makan siang. Mana mungkin tidak macet" balasnya sambil melihat arlojinya.
"Tadi aku mendengar kamu menyebut namaku, kenapa hm? Oh apa kamu merindukanku?" Tanya Ray tak kalah percaya dirinya.
Ya Ray lah yang baru datang itu. Karena dia mendapat telpon dari sang Momy untuk makan bersama dengan Bibinya. Tapi dia sedikit heran saat dia tiba, melihat Viona yang juga sedang berkumpul dengan keluarganya.
Viona menggelengkan kepalanya, "Kalian berdua memang sangat cocok saling bersaudara!" sahutnya tidak menjawab pertanyaan Ray.
"Maksudnya apa Nak?" Sela Tuan Bastian penasaran apa maksdud dari omongan Viona barusan.
__ADS_1
"Eh tidak ada maksud apa-apa kok Dad! Itu, tadi aku heran, Ray sama Kei sama-sama memiliki sikap percaya diri. Ternyata mereka sepupuan.
Semuanya tertawa, tapi mereka juga membenarkan apa yang di katakan Viona. saling ngobrol, dan tidak lama pesanan mereka datang. Viona duduk di antara para pria tampan, tidak ada yang ingin mengalah terpakas Viona duduk di tengah biar mereka puas. Makan siang bersama berlangsung dengan bahagia karena kedatangan Viona.
"Wajah itu!" batin Bunda Kei yang sudah memperhatikan Viona sejak tadi. "Kenapa wajahnya sangat mirip!" Bingung ingin bertanya dengan siapa, jadi dia hanya bergumam dalam hati.
Viona terdiam, dia menghentikan suapan terakhirnya dan menyimpan kembali di atas piring setelah dia mendengar hal seperti itu lagi. Tapi, dengan orang yang berbeda.
"Apa memang wajahku semirip itu dengan seseorang orang? Siapa orang itu? Atau jangan-jangan? Ah tidak mungkin, itu sangat mustahil jika mereka mengenalnya" kata Viona juga dalam hatinya.
"Vio! Kamu kenapa?" tanya Ray sambil menepuk pundak Viona pelan. Karena Ray mengajaknya bericara tapi tidak ada respon dan ternyata Viona sedang melamun.
Viona tersentak, "Ehh tidak kenapa-kenapa kok! Tadi kamu tanya apa Ray? Maaf tadi kurang fokus heheh" kilahnya.
"Tadi aku nanya, bagaimana liburan kalian kemarin?" tanya Ray mengulang kembali pertanyaannya.
"Apa kamu yakin ingin mendengarnya? Itu akan membuatmu menyesal tidak ikut liburan bersama kami" canda Viona.
"Wahh kamu dari liburan ya Vio! Kenapa tidak mengajakku saja? Jika Ray menolak!" sela Kei yang masih belum selesai makan. "Aku juga pengen berlibur."
"Bagaimana aku bisa mengajakmu? Kita tidak pernah ketemu dan juga lost kontak. Ya sudah lain kali kita pergi liburan bersama, tapi harus cari waktu yang renggang."
"Setuju, aku sangat bosan yang setiap harinya harus berhadapan data-data, atau file di kantor" sahutnya sambil melirik sang Ayah.
Viona menceritakan liburanya, karena Ray tetap memaksa. Dia menceritakan semua kegiatan yang dia lakukan selama liburan.
Semuanya ikut mendengar, mereka tersenyum melihat Viona yang berbicara dengan antusias, seperti anak kecil yang di bawah liburan sekolah oleh orang tuanya.
Mereka tidak tau saja, itu adalah liburan pertamannya setelah kepergian Ibunya, liburan di masa kecil? Mana ada dia mengingatnya lagi, apakah dia pernah pergi berlibur atau tidak dengan Ibunya.
Viona melupakan sejenak masalahnya. Berkumpul dengan orang-orang yang menyayanginya. Membuatnya berpikir, apakah orang tua kandungnya juga menyayanginya? Apakah mereka mencarinya? Apakah mereka merindukannya? Semua belum terjawab.
Semua gerak gerik Viona, ada sepasang mata yang memandangnya. Dia tersenyum melihat Viona bahagia seperti itu. Apalagi ada dua pemuda tampan di sampingnya yang terlihat sangat akrab dengan Viona.
"Wajarlah jika banyak pria tampan yang mendekatinya. Dia wanita yang cantik, baik dan juga mandiri. Aku? Apa aku pantas seperti itu? Yang bagaikan langit dan bumi."
__ADS_1
Dia pergi dari tempatnya, dia tidak ingin melihatnya lagi. Mencari pekerjaan lain agar melupakan pekirannya yang selalu membuatnya minder.
Viona menoleh kesamping. Dia merasakan seseorang yang sedang menatapnya dari jauh. Tapi dia tidak menemukan siapa-siapa.
...----------------...
"Dok bagaimana kondisi teman saya?" tanyanya sembari berjalan mendekat setelah melihat Dokter keluar dari ruang UGD.
"Temanmu baik-baik saja. Hanya ada luka kecil di bagian tangan dan kakinya" balas sang Dokter dengan ramah.
Dia sangat senang mendengarnya "Syukurlah Dok, jadi apa dia perlu di rawat?" tanyanya Lagi. Berharap temanya tidak perlu menginap.
"Hm ya, dia perlu menginap. Jika lukanya membaik besok dia bisa pulang! Tunggu saja, dia akan di pindahkan ke ruang perawatan."
"Oh begitu ya Dok? Em terima kasih sebelumnya!" Lebih baik sehari daripada seperti sebelumnya hampir seminggu yang hampir membuatnya setres.
Beberapa menit berlalu, di dalam ruang perawatan VIP lagi-lagi pemuda yang sama terbaring di atas brangkar. Kalau di lihat, dalam dua minggu ini dirinya sudah dua kali masuk Rumah Sakit.
"Tom! Apa aku tidak bisa pulang saja?" tanyanya. Dia sungguh bosan berada di dalam ruangan yang baunya pasti ada bau obat.
"Tidak Rian! Aku sudah berbicara dengan Dokter tadi. Besok kamu pulang jika lukamu lebih baik dan tidak ada yang infeksi."
"Huff ada-ada saja hal seperti ini. Seakan akan aku di persulit dalam misi pencarian adikku!" sahutnya dengan sedih.
"Ehh bro, jangan begitu dong. Mana Rian yang dulu, katanya apapun yang terjadi kamu tidak akan pantang menyerah! Anggaplah ini rintangan dalam misimu."
"Siapa juga yang menyerah, aku kan tidak bilang seperti itu. Hanya saja jika terus terjadi seperti ini aku takut Momy dan Dady khawatir di sana."
"Ya terserah kamu sajalah Rian. Nah itu lagi, apa yang harus kita katakan jika Tuan Jack menelpon nanti? Mareka tidak pernah absen dalam sehari pasti menelpon."
Rian juga bingung alasan apalagi yang harus dia katakan. Keduanya terdiam memikirkan hal yang sama. Tapi mereka terkejut saat ada yang mengetuk pintu.
"Selamat siang! maaf mengganggu!" kata sang perawat setelah Tomi membuka pintu sambil berjalan mendekat. "Ehh Tuan! Kita bertemu lagi di sini!" lanjutnya yang masih mengingat wajah Rian yang belum lama bertemu.
"Selamat Siang Sus! Anda masih mengingat wajah saya ternyata" jawab Rian sedikit malu karena ada yang mengenalinya.
__ADS_1
"Saya selalu mengingat wajah pasien yang sering datang kemari" balasnya. Padahal Rian baru masuk Rumah Sakit itu dua kali. "Oh iya saya hanya mengantarkan obat, untuk segera di minum setelah makan nanti."