KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
107. Apel Malam


__ADS_3

Braaakkk


"Cepat buka ikatannya!" pintah Sadow ke pada yang lain.


Sadow dengan para anak buah yang lain sudah berada di ruangan tempat Mira berada. Terlihat Mira dan Sisil tidak lagi seperti tengkorak hidup, semuanya kembali seperti semula, hanya di wajahnya ada luka lebam dan bercak darah di bagian tangan yang terikat serta bajunya yang sudah lusuh penuh debu. Dia langsung menuju bangunan tua itu setelah melihat Viona, beserta keempat bawahannya pergi.


"Sadow Akhirnya kau datang juga!" kata Mira setelah ikatan dan penutup matanya terlepas.


"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?"


"Entar kita jelasin, kita harus pergi dari sini segera sebelum mereka kembali" sela Sisil cepat dengan raut wajah ketakutan.


"Tidak usah takut! Kalian akan aman bersama kami. Kalian berdua keluarlah ikut dengan mereka! Aku akan menyusul"


Tidak berpikir panjang Mira dan Sisil segera keluar dari ruangan yang hampir setahun mereka tempati, tempat yang menjadi kenangan buruk.


Sadow berkeliling di ruangan bau itu. Bau yang menyengat juga sudah menghilang dengan sembuhnya kedua orang itu. Hanya tercium bau bangkai. Matanya tertuju di sebuah benda kecil dan bulat, dia jalan mendekat dan brak, dia memukul benda itu sampai rusak.


"Brengsek! ternyata mereka cerdik juga. Aku harus pergi dari sini sebelum mereka kembali, kerena tahanannya berhasil dikeluarkan."


Benda kecil itu adalah sebuah kamera tersembunyi, Viona sengaja memasangnya menghadap ke pintu dan juga terlihat menonjol dia ingin orang itu tau jika Viona mengetahui aksinya, dan juga dia ingin melihat wajah orang itu.


Di sisi Viona dia sedang menonton melalui ponselnya yang terhubung dengan kamera tersembunyi itu, Dia tersenyum kecil saat Sadow mengetahuinya.


Keberadaannya saat ini masih dalam perjalanan pulang, dan juga anak buahnya yang mengikut dari belakang.


"Sadow! di mana aku pernah mendengar nama itu?" gumamnya bertanya dalam hati. "Hoo, dia seseorang yang berada dalam surat itu. Seseorang yang miliki banyak rahasia dengan si Mira.


...----------------...


Malam tiba Viona berada di bawah ruang penjara bawah tanah. "Apa kalian suka tempat baru kalian?"


"Bukannya kau bilang ingin membebaskan kami? Kenapa sekarang malah kami dikurung di dalam jeruji besi seperti ini?"


"Ya, apa kalian tidak mendengarkan dengan baik apa yang saya katakan? Saya mengeluarkan kalian dari bangunan tua itu bukan berarti kalian bebas dari genggamanku."


"Dasar licik kau, bebaskan kami dari sini!" teriaknya.


"Jangan mimpi, kalian sebenarnya harus bersyukur karena saya sudah menyembuhkan kalian dari penyakit itu. Jika kalian berisik saya akan membuat kalian seperti kemarin!"


"Jangan Viona! Biarkan kami seperti ini. Kami tidak tahan jika harus mengalami hal itu lagi. Mah, Kumohon! dengarkan ucapan Viona!" ucap Sisil menyela.


"Nah, patuh begini kan enak. jadi adem gitu" sahut Viona.

__ADS_1


"Sisil kamu apa-apaan sih? Mama tidak ingin berada di sini selamanya. Mama ingin bebas."


"Saya akan membebaskanmu, jika kau menjawab pertanyaanku dengan jujur!"


"Saya tidak akan lagi percaya denganmu, Kau sudah menipu kami!"


"Tanyakan Vio, saya akan menjawabnya" sela Sisil lagi.


"Siapa Sadow?" tanya Viona singkat dengan mata menyelidik melihat reaksi keduanya terkejut setelah melontarkan pertanyaan itu.


"Sadow! dia adalah,,?"


"Tidak Sisil. Jangan memberitahunya!" sahut Mira membekap mulut Sisil yang hampir saja mengatakan sebenarnya.


"Tidak apa, jika kalian tidak ingin memberitahuku, aku akan mencarinya sendiri dan membawanya ke sini. Karena saya yakin dialah orang yang kau perintahkan untuk menyabotase rem mobil mendiang Ibuku."


Mira sedikit terkejut, karena Viona sudah mengetahui rahasia itu, yang hanya ada di dalam surat perjanjian, berupa bukti jika dia dan Sadow memiliki banyak rahasia.


"Hahaha baguslah jika kamu sudah mengetahuinya. Dan saya yakin kau tidak akan bisa menemukannya."


"Hee, kenapa kau sangat yakin jika saya tidak bisa menemukannya, itu bukan hal yang sulit. Karena saya sudah melihat wajahnya."


"Tidak mungkin, dia tidak akan pernah menampakkan wajahnya."


Viona heran melihat Bora, yang seperti orang linglung, yang membenturkan kepalanya di tembok. "Dia kenapa? Apa yang dilakukannya? Dia tidak menegurku sama sekali"


Bora menatap Viona lalu tertawa, menatapnya lagi dengan tatapan tajam, "Pergi! jangan kalian pernah muncul di hadapanku!" ucapnya tapi terlihat menahan sakit di bagian kepala.


Viona makin bingun melihat reaksi Bora. Padahal kemarin dia baik-baik saja. Dia pergi meninggalkan ruangan itu kembali ke Menssionnya.


Viona melangkah ke dapur, dia merasa kehausan berada di ruangan penjara cukup lama. "Mbak minuman buat siapa?" tanyanya setelah melihat maid membuat minuman dingin.


"Buat tamu nona!" jawab Mbak Febi heran, kenapa Viona tidak mengetahuinya, padahal tamu itu datang untuk menemuinya.


"Oh ada tamu, siapa Mbak?" tanya Viona lagi.


Kan, Viona benar-benar tidak mengetahuinya. "Tuan Ray nona!" balas Mbak Febi, lalu pamit untuk mengantarkan minumannya.


Viona menepuk jidatnya lalu berkata, "Astaga kenapa aku bisa melupakannya? Ray kan sudah menelponku tadi sore kalau dia ingin datang kemari. Huff beginih kan jadinya, kalau ada aja masalah."


Viona bergegas keluar menuju ruang tamu. Terlihat para jomblo sedang berkumpul sambil berbincang. Apalagi yang mereka bahas jika bukan masalah pekerjaan.


"Malam semua!" sapa Viona sambil duduk di samping Kakaknya Rian.

__ADS_1


"Malam Dek, kamu dari mana? Bibi tadi dari kamarmu, tapi kamu tidak ada."


"Emm aku dari belakang Kak, ada kerjaan sedikit sama Zoya" balas Viona berdusta. "Sudah dari tadi Ray?" beralih ke Ray yang sedari tadi menatapnya.


"Belum kok," jawab Ray singkat.


Yang lainnya saling kode untuk meninggakkkan Ray dan Viona berdua. Walaupun mereka jomblo, tapi mereka bisa mengerti situasi.


"Ya, sudah kalian ngobrol saja. Kami ingin ke ruang kerja sebentar!" ucap Rian sambil beranjak dari duduknya dan diikuti yang lainnya.


Viona tersenyum melihat tingkah para Kakaknya. Padahal mereka tidak perlu melakukan itu. Berbeda dengan Ray dia malah bersorak gembira dalam hatinya.


"Vio, bagaimana kalau kita kehalaman samping? Kayaknya enak ngobrol di sana."


Viona mengangguk, dia beranjak kemudian berjalan menuju halaman samping yang ada kolam renangnya, dan juga taman bunganya. Tak lupa dia menyuruh ke pada maid untuk mengantar minuman dan juga cemilannya.


"Bagaimana kabar Rara?" tanya Viona setelah keduanya duduk di bangku.


"Baik, dia akan balik minggu depan. Dia akan mengambil job dalam kota karena sudah tidak tahan berjauhan dengan Momy."


"Heheh dia memang sedikit manja. Tapi aku salut dengannya, dia berjuang sendiri untuk memulai karirnya tanpa bantuan kalian atau embel-embel keluarga Duke."


"Ya, aku juga sama. Dia tidak pernah meminta bantuanku sedikitpun. Dia benar-benar membuktikannya kepada kami semua. Aku sangat menyangi Adik keduaku itu."


"Adik kedua? kamu punya dua Adik? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Viona heran, karena dia baru mengetahuinya.


"Dia sudah tenang di alam sana!" balas Ray dengan tersenyum.


Viona langsung meminta maaf karena mengungkit sesuatu yang sedikit sensitif. "Maaf, aku membuatmu mengingatnya."


"Tidak apa kok Vio, aku akan menceritakannya ke padamu" balas Ray santai. "Adikku pertamaku itu cowok, Namanya Nico. Dia meninggal saat berumur satu tahun. Kecelakaan mobil bersama orang tuanya Tian. Mobil masuk kejurang dan meledak. Mereka meninggal di tempat"


Viona terdiam, mendengar cerita Ray mengingatkannya dengan kejadian yang juga menimpanya beberapa tahun yang lalu. Tapi dia dia masih bisa selamat.


"Hmm aku turut berduka. Jika dia masih hidup pasti sekarang dia juga sudah dewasa menjadi lelaki yang tampan sepertimu!" puji Viona agar suasana jadi tidak melow lagi.


Ray tersenyumlah kecut mendengar pujian Viona, Dia tau itu hanya sekedar hiburan agar dirinya tidak bersedih setelah bercerita tentang Adiknya.


"Kalau boleh tau siapa Tian? Sekarang dia tinggal dengan siapa? Pasti dia sangat kesepian!"


Raypun menceritakan siapa Tian, dan bagaimana dia di besarkan oleh Momy Lidya dan Tuan Bastian sampai dia berhasil mendapatkan gelar Dokter.


Viona terharu mendengar kisah Tian, yang berjuang untuk mencapai impian kedua orang tuanya. Dia juga tau perasaan Tian yang sebenarnya, berusaha tegar agar tidak terlihat lemah dan tidak dikasihani.

__ADS_1


__ADS_2