KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
97. Pujian


__ADS_3

Semua para tamu undangan sudah pulang. Kecuali keluarga Duke, dan juga Leo masih berkumpul di ruang tamu. Tapi Omah Jihan dan Bunda susan sudah balik terlebih dahulu, karena sang Omah sudah kelelahan. Kei dan Ayahnya tidak hadir, karena berada di luar kota, apalagi jika bukan mengurus pekerjaan.


Leo juga baru sadar, ternyata dia pernah melihat Ray dan keluarganya di Restoran, waktu itu juga bersama dengan Viona, ya dirinyalah saat itu yang menatap dari jauh, yang membuatnya tiba-tiba insecure.


"Momy cerita dong! Kok kalian semua bisa saling kenal?" tanya Viona ke pada Momy Jeny.


"Nak! Kami bertiga sudah berteman sejak di bangku SMA sampai kami menikah dan punya Anak. Ya namanya juga Anak muda pasti sering keluar nongkrong dan bawa pacar masing-masing, Nah dari situlah mereka juga berkawan karena keseringan bertemu."


"Benar yang dikatakan Momymu Nak! Tapi karena suatu masalah, Momymu pergi meninggalkan kami tanpa kabar" ucap Momy Lidya.


"Husss, jangan di bahas itu sekarang! Aku pasti menceritakannya ke pada kalian" balas momy Jeny tidak ingin bercerita. Karena jika dia mengingatnya, akan membuatnya bersedih dan jadi bad mood. Dia tidak ingin, dia harus tersenyum dan berbahagia sebelum dia pergi meninggalkan Anaknya lagi.


"Huff baiklah kami menunggu cerita dan penjelasanmu! Jadi apa rencanamu selanjutnya Jen?"


"Kami akan balik ke negar X, untuk mengurus sesuatu."


"Jadi kalian mau pergi lagi? Apa Viona juga ikut?"


"Tidak, makanya aku ingin minta tolong, menitipkan anak-anakku ke pada kalian, selama aku dan Dadynya pergi."


"Baiklah, selesaikan urusan kalian itu! Jangan khawatir! Anak kalian berarti anak kami juga. Pasti kami akan selalu menghibaunya" Sela Tuan Bas. Dia sudah tau sebelumnya, karena dia sempat diberitahu oleh Tuan Jack.


Mereka berbincang, tertawa jika mengenang masa lalu yang juga penuh perjuangan. Viona mulai bosan, dan baru sadar jika Leo sudah tidak ada lagi dikumpulan itu. Dia pikir Leo sudah pulang, tapi itu tidak mungkin, karena pasti Leo akan berpamitan ke padanya atau ke pada yang lainnya.


Viona pamit ke belakang, dia bertemu dengan Nora dengan bola di tangannya. "Dek kamu dari mana?"


"Ini Kak, aku dari ambil bola di kandang Lan, aku mau bermain dengan Frisli di halaman samping."

__ADS_1


Kandang kedua harimau itu dipasangkan sebuah tirai, agar tidak ada orang lain lagi yang melihatanya, cukup mereka saja yang sudah tau. Takutnya mereka mengambil foto dan menyebar luaskan di media sosial.


"Hmm, ya sudah pergilah! Tapi jangan terlalu lama, besok kamu sekolah" ucap Viona memperingati. "Oh iya Dek, apa kamu melihat Kak Leo?"


"Mungkin masih di belakang sana Kak! Tadi Kak Leo yang nemanin aku ambil bola. Ya sudah Kak pergi dulu ya? By by" ujarnya dan pergi dengan berlari kecil.


"Di belakang, nemenin ambil bola? Berati Kak Leo sudah melihat kedua kucing itu." gumam Viona sambil berjalan ke arah kandang.


Dia melihat tirai terbuka dan juga pintu kandang itu. Viona mengintip dan tak melihat siapa-siapa di dalamnya. "Kemana mereka?"


"Nona ngapain di sini?" tanya Mbak Febi yang kebetulan lewat.


"Eh Mbak Febi, oh iya mbak ke mana Lan dan Lin?" malah bertanya balik.


"Oh mereka tadi keluar saat non Nora masuk ambil bola. Kebetulan ada Tuan Leo, jadi saya minta tolong untuk mengikutinya, karena saya tadi masih ada pekerjaan. Maafkan saya nona sudah lancang!" sesalnya.


"Tidak apa-apa kok Mbak! Baiklah aku menyusul mereka dulu" kata Viona santai, itu bukan masalah baginya. Apa salahnya jika meminta tolong.


Leo berjalan mengikuti Nora, sambil menatap sekeliling, ternyata masih luas ke belakang sana. Dia berhenti saat Nora membuka sedikit tirai yang menjulang tinggi ke atas dan membuka sebuah pintu kandang.


Mata Leo membulat sempurna, melihat dua ekor hewan buas yang sangat besar. Baru dia ingin melarang Nora untuk masuk, tapi Nora sudah berada jauh di dalam sambil mengambil bolanya.


"Makasih Kak Leo, sudah temenin Nora. Kakak di sini saja main dengan harimau itu! pasti mereka senang punya teman" ujar Nora dan berlalu pergi tanpa menutup pintu kandang itu kembali.


Leo bingun harus ngapain, baru pertama kalinya melihat hewan buas sedekat ini. Dia ingin mengunci pintunya tapi keburu, kedua harimau itu sudah berjalan ke luar. "Astaga harimau itu pergi ke halaman belakang!"


"Tuan Leo!" panggil seseorang dari arah belakang. "Kok Tuan di sini? Cari siapa?"

__ADS_1


"Eh Mbak Febi, untung kamu datang! Itu tadi Nora masuk ke situ, tapi dia lupa menutup pintunya kembali, jadi dua harimau itu keluar dan berjalan ke arah sana. Apa itu tidak berbahaya?"


"Ohh, non Nora memang kebiasaan seperti itu, lupa tutup pintunya kembali. Tuan Leo tidak usah khawatir! Harimau itu sudah jinak, mereka akan balik sendiri ke kandangnya. Dan kalau boleh saya minta tolong, lihat kemana perginya harimau itu, saya masih ada kerjaan."


"Hmm baiklah. Oh iya Mbak, aku kan sudah pernah bilang, jangan panggil aku Tuan lagi! Sangat tidak pantas, aku bukan Tuanmu dan juga bukan siapa-siapa. Ok?"


"Baik Leo!"


"Nah, itu lebih baik. Ya sudah aku ke sana dulu!" ujarnya dan berlalu pergi.


Mbak Febi tersenyum, dan berkata. "Nona jangan sia-siakan lelaki seperti dia. Sekarang sangat susah mencari lelaki yang benar tulus mencintai pasangannya" tiba-tiba dia teringat akan masa lalunya dengan lelaki yang membuatnya patah hati.


Tidak ingin mengenang masa lalu terlalu jauh, dia kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi sampai di dapur di melupakan sesuatu dan akhirnya balik lagi, di situlah dia bertemu dengan Viona.


Leo melihat kedua harimau itu sedang duduk di depan taman bunga, dia memberanikan diri untuk mendakat. Sedikit takut, jangan sampai harimau itu merasa terganggu akan keberadaannya dan melihat orang asing menghampirinya.


Dia ingin membuktikan omongan Mbak Febi, yang katanya kedua harimau itu sudah jinak. Leo berjalan dan berdiri dihadapannya.


"Waahh, benar-benar jinak. Haii, kalian baru melihatku kan? Jangan takut, aku orang baik kok seperti Tuan kalian."


"baru kali ini aku melihat harimau sedekat ini. Kalian berdua sangat gagah, otot kalian sangat besar, dan warnah bulu kalian itu sangat indah" pujinya dengan takjub.


"Oh iya namaku Leo, pasti kalian berdua juga punya nama kan. Sayang sekali aku tidak mengerti bahasa binatang" ucapnya yang sudah duduk di atas rumputan hijau.


"Geeerr.. Tapi kami mengerti bahasamu Tuan!" balas Lan meraung kecil, tapi percuma Leo tidk bisa mendengarnya.


"Geerrr... Kak! Baru kali ini ada yang melihat kita tapi tidak ketakutan. Dan juga tadi dia memuji kita, aku sangat senang mendengarnya.

__ADS_1


"Ya kamu benar, biasanya jika pertama berjumpa mereka akan ketakutan dan badannya bergetar. Dan juga, kita tidak pernah mendapat pujian, nona Viona saja mengatai kita seekor kucing yang sangat menggemaskan."


Begitulah obrolan kedua harimau itu, yang tak dapat di mengerti oleh Leo. Merasa senang mendapat pujian darinya. Ternyata bukan cuman kasih sayang yang mereka inginkan. tapi juga sebuah pujian.


__ADS_2