
Mereka bertiga berjalan berbarengan, viola yang mendorong kursi roda Neta, sedangkan meta membawa tas milik Neta. Mereka bertiga sesekali tertawa dengan mengenang masa lalu mereka yang lucu, mereka tidak menghiraukan tatapan semua orang. Biarlah mereka berkata apa, toh mereka gak tau kejadian yang sebenarnya, mereka hanya tau dan percaya apa yang mereka ingin ketahui dan mereka percayai.
“Wah... Wah... Wah..., siapa ini? Upss! Kasian cacat. Ih canda cacat,” ejek seseorang yah siapa lagi kalau bukan Anggi, yang selama ini selalu iri dengan Neta dan dia juga masih ada dendam dengan permainan bola voli kemarin.
“Maksud Lo apa hah?!” Geram meta mencengkeram kerah baju Anggi, Anggi tersenyum miring. “Kenapa hemm? Jangan sok bela dia deh, pada akhirnya Lo sendiri yang membuat keadaan dia seperti itu. Kenapa? Gak bisa ngelak kan Lo? Jadi orang jangan sok baik di depan yah, tapi di belakang kelakuan kek Dajjal aja.” Meta yang tak tahan dengan apa yang di katakan Anggi dia ingin menampar muka Anggi yang songong itu, tapi di tahan oleh Neta.
“Jangan menghakimi orang lain, pada dasarnya kamu pun juga sama dengan dia. Kamu hanya tau dia seperti apa karena mendengar di sisi lain saja, tapi tidak mendengar di sisi satunya, jadi STOP melakukan hal yang akan membuat kamu terlihat jahat di mata orang lain. Buktinya kami masih berteman toh, tidak meninggalkan temannya meskipun seperti apa dia. Karena kami tau apa yang tidak kalian ketahui,” jawab Neta dengan membelai punggung tangan meta. Agar amarahnya mereda Neta tau itu akan berdampak seperti ini, maka nya Neta sekuat tenaga meyakinkan Meta, kalau dia sudah tidak mempermasalahkan kejadian kemarin.
“Jadi buat kamu Anggi, jangan menilai seseorang dari kejahatan yang belum tentu kejahatan itu dia yang melakukan sendiri. Kadang orang yang melakukan kejahatan tapi kita yang kena imbasnya, kamu itu bukan bocah yang mudah ke makan dengan gosip di luar sana, punya akal kan? Jadi gunakan akal itu sebelum mencerna semuanya. Kalau tidak bisa juga, lalu buat apa tuhan memberikan akal ke manusia. Tapi akal itu tidak di gunakan,” Neta menepuk tangan vio, memberi tanda ayo pergi. Vio yang peka langsung mendorong kursi roda dan meninggalkan Anggi seperti patung.
Anggi terdiam seperti patung, dia mendapat nasehat sekaligus mengatakan kalau dirinya tidak punya akal sama sekali. “Maksud kamu apa?!!” teriak Anggi yang tidak terima, pas tau lawan yang di ajak bicara sudah pergi dari hadapannya. Langsung Anggi Menghentakkan kakinya dan marah-marah tidak jelas ke semua orang. “Apa liat-liat? Mau gue congkel itu bola mata!!”
*Di kediaman Aditya*
__ADS_1
“sayang ini bekal buat kamu yah,” ucap Gina dan di angguki oleh Aditya, tapi saat melihat kotak makannya ada dua. Aditya mengernyitkan alisnya, Gina yang paham tersenyum manis. “Ini buat calon menantu bunda, kamu serahin ke dia yah?”
“Tapi bun,”
“Gak ada tapi-tapi, kamu serahin ke Neta, kasian dia pasti bakal ke sulitan makannya.” Aditya yang mendengar itu pun menatap heran ke bundanya ini. “Tapikan yang sakit itu kakinya Bun, bukan tangannya.” Jawab Aditya dengan nada sedikit kesel, bagaimana bisa kaki yang sakit tidak bisa makan. Apa hubungannya coba? Aditya semakin bingung dengan pemikiran orang tuanya ini.
“Yaelah kamu ini dit, cuman kasih makan ke dia aja mesti malu gitu,” kata Gina dengan menyerahkan kedua bekal kepada sang putra kesayangannya. Mau tak mau Aditya terpaksa mengikuti kemauan sang bunda tercinta.
“Aku pamit dulu Bun, assalamu’alaikum.”
Aditya hanya mengangguk dan setelah dia mencium Gina, bergegas dia pergi dari sana dari pada ntar di suruh bawakan air untuk calon menantunya itu. “Lagian bunda kenapa coba main jodoh-jodohan, di kira aku gak laku apa?” gerutu Aditya sambil menyetir dan sesekali dia melirik kotak bekal berwarna biru itu. Ternyata bundanya itu tau, kalau warna kesukaan Neta berwarna biru, semenjak Gina tau kalau Neta adalah calon menantunya, dia mencari apa saja yang di sukai dan tidak di sukai Neta.
Sesampai di sekolah tepat di parkiran Aditya melihat Neta dan sahabatnya itu berpelukan. Aditya hanya menatap datar lalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang terhanyut dalam suasananya. Jam pelajaran pun di mulai dan jam pertama adalah bahasa Indonesia, Neta beruntung yang ngajar bukan Aditya. Kalau Aditya entahlah apa yang akan terjadi mengingat mereka di jodohkan satu sama lain, tentu itu membuat Neta merasa canggung dengan status mereka yang sudah bertunangan.
__ADS_1
“Syukur-syukur,” gumam Neta, vio yang paham hanya bisa tersenyum melihat wajah Neta yang terlihat lega. “Kenapa, apa kamu takut yang bakal masuk pak Aditya?” goda viola dengan menaik turunkan alisnya.
“Berisik kamu,” jawab Neta dengan wajah memerah, Vio yang melihat hanya berdecak tidak percaya. “Atutututu... Ternyata bisa malu juga yah, biasanya malu-maluin.” Canda vio dengan cekikikan.
“Viola apa yang kamu ketawain?” tanya pak Indra dengan tatapan mengintimidasi viola, viola yang mendapat tatapan itu langsung duduk sigap, takut-takut penghapus melayang ke arahnya, karena pak Indra ini beda dari yang lain, dia tidak memandang gender dan status. Kalau salah ya salah, dan akan mendapat ganjaran, guru seperti ini yang patut di hormati. Bukan guru yang pilih kasih di mana yang pintar di sayang dan mana yang bodoh udah gitu yah Kalian pasti tau lah.
“Maaf pak,” jawab viola dengan wajah bersalah, kalau dia jawab dengan senyuman itu muka bisa aja jadi arang ntar. “Baiklah kita lanjutkan pelajaran yang di tunda tadi.”
Jam istirahat berbunyi, selama tiga jam pak Indra mengajar rasanya nyawa tidak ada di tempat. Karena dia mengajar sangat serius saking seriusnya saat ada anak murid yang mulai mengantuk pak Indra langsung mengetuk meja dan memberikan pertanyaan. Dan itu adalah hal paling mengerikan bagi mereka.
“Akhirnya, aku berasa hidup lagi. Setelah sekian lama bertahan dengan susah payah aku bebas juga,” ucap viola yang matanya langsung segar keluar dari kelas, Karena sedari tadi dia berusaha menahan kantuk yang menghantuinya.
“Iya parah banget ih, itu pak Indra gak kira-kira jam ngajar dia hari ini 3 jam mau mati rasa.” Keluh meta dan di angguki oleh Neta yang setuju apa pendapat kedua sahabatnya ini.
__ADS_1
“Neta,” panggil seseorang yang Neta rasa tidak asing dengan suara itu. Dan benar saja, suara yang membuat dia darah tinggi mengingat kejadian kemarin.
“Apa?” ketus Neta tidak suka dengan orang yang ada di hadapannya ini.