KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*OPERASI*


__ADS_3

Setelah sampai ke rumah sakit, Neta dan Meta langsung di bawa masuk ke ruangan Operasi, dokter yang melihat banyak bekas darah di baju sang pasien dan walinya pasien. langsung memberi perintah kepada suster lain membawanya tanpa prosedur. Viola yang sadar dari tadi ingin masuk ke dalam ruangan tapi di tahan oleh suster. “Mohon tunggu di luar,” ucapnya menutup pintu dan tak lama Lampu merah tanda Operasi di mulai.


Alifin terus mundar-mandir tidak karuan, sedangkan Sintia berdo’a agar di berikan kemudahan dalam operasi ini. “Aku... Aku akan menelepon mama Rika,” Ucap viola dan di angguki oleh Sintia dan Alifin. “Aku mengabari keluarga besar dulu,” Ucap Alifin yang ingin menekan nomor seseorang. “Apa kamu ingin di marahi mereka semua dan mengatakan kalau kita orang tua tidak becus?” Alifin langsung terdiam dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Lebih baik kita kasih kabar nanti saja, setelah dia berada di rumah,” ucap Sintia menatap Alifin dengan pandangan yang sayu.


Alifin berjongkok di hadapan Sintia dan menggenggam tangannya. “Apakah kamu tidak bisa mempertimbangkannya lagi?” Sintia menepis tangan alifin dan berdiri dari tempat duduknya, Alifin ikut berdiri. “Apa ini waktu yang tepat membicarakan semua itu, setelah apa yang terjadi heh? Kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri Alifin, kamu itu terlalu egois.” Ucap Sintia dengan nada tinggi.


“Apa yang kalian lakukan, ini rumah sakit, kalau ingin bertengkar sebaiknya lakukan di luar atau di rumah,” Ucap suster yang kebetulan lewat. “Maaf,” ucap Alifin menatap Sintia.


“Halo?” Kata seseorang di seberang sana, yang sedang membawa kopi panas untuk suaminya.


PRANKK..


Gelas kopi jatuh dari tangan Rika, Rika langsung menutup mulutnya. Mendengar kabar kalau Neta masuk rumah sakit dan sekarang sedang di Operasi. “Ru... Rumah sakit mana?” Isak tangis Rika.


“Baikalah, segera ke sana Sekarang,” Kaki Rika terkulai lemas, tubuhnya bergetar hebat. Apa lagi mendengar kalau Neta di operasi.


Seno, Jino dan Bagas yang mendengar suara benda pecah, langsung berlari melihat apa yang terjadi. “Ada apa mah?” tanya mereka barengan. “Mamah kenapa?” Tanya lagi Bagas mendapat istrinya hanya menangis saja. “Neta Pah.. Neta, hiks” teriak mama Rika menangis dalam pelukan papah Bagas. “Iya Neta kenapa mah?”


“Neta masuk rumah sakit dan sekarang di operasi!!”


“Apa!!" kaget mereka dengan serentak.


Mereka bertiga separuh tidak percaya, padahal Neta masih baik-baik saja saat dia ada di rumah. “Mama yakin?” Tanya Seno yang masih tidak percaya, apa lagi Neta habis buat keributan di jalanan tadi. Mama Rika mengangguk. “Viola tadi nelphon mama, Pah... Kita ke sana Sekarang!!” rengek mama Rika.


“Kami ikut,” Bagas langsung mengiyakan, Seno, Jino, Rika, dan papah Bagas. Langsung menuju rumah sakit tanpa berganti pakaian, padahal saat ini mereka sedang menggunakan pakaian tidur.


Mama Rika tak hentinya menangis, dan setiap lampu merah Rika selalu mengomel. “Kenapa harus lampu merah sih, gak tau apa orang lagi kesulitan.” Mengoceh Rika, di sepanjang jalanan kadang Seno dan Jino jadi sasaran empuk buat melepaskan kekesalan Rika.

__ADS_1


Tiba-tiba jalanan macet Karena pohon tumbang di jalanan dan itu pohon besar. “Astaga apa lagi ini!!” mama Rika turun dari mobil. “ Minggir, minggir.” Masuk dalam kerumunan. “Yasalam,” ucap mama Rika dengan nada sendu.


Seno keluar dari mobil dan mencari mama Rika. “Astaga!!” Seno menepuk jidatnya melihat mama Rika mendorong pohon sendirian. “Apa yang kalian lihat, cepat bantu dorong!!” teriak seno, semua orang yang ada di sana langsung membantu dan ada juga yang turun dari mobil membantu mendorong. Mama Rika tersenyum ke arah Seno. “Kalau bersama-sama baru bisa selesai,” ucap Seno dan di angguki mama Rika dalam tangisannya.


“Dorong lagi!!” Mama Rika berteriak keras. “Dorong!!” teriak Semua orang, sampai pada akhirnya pohon itu ke samping jalan. Semua orang bersorak gembira, Seno menatap mama Rika dan memeluknya. “Kau adalah ibu yang terbaik mam,” ucap Seno mama Rika membalas pelukan Seno.


Tit.... Tit....


Rika dan Seno langsung masuk ke dalam mobil dan mobil langsung melaju. Papah Bagas takjub dengan istrinya yang begitu strong.


“Makin cinta papah,” Seno dan Jino yang mendengarnya pura-pura muntah. “Tolong di kondisikan yah, kasihan mata dan telinga kami tidak sanggup menahan yang begituan.” Ucap Seno dengan nada mengejek.


“Seorang ibu pasti akan melakukan apa pun demi anaknya. Apa lagi keadaan sekarang, sebanyak apa pun rintangannya pasti seorang ibu mampu melewati semuanya demi anaknya sendiri,” menatap papah Bagas dengan senyuman.


“Tolong... Tolong..”


Mama Rika melirik Seno dan Seno langsung terdiam, sedangkan Jino menahan tawa melihat Seno langsung ciut nyalinya.


Setiba di rumah sakit, mereka sekeluarga langsung menuju ruang operasi yang kebetulan rumah sakit itu milik keluarga EUGINUS. Orang dan staf yang ada di sana langsung kaget, melihat pemilik rumah sakit datang malam-malam begini belum lagi pakaian yang mereka kenakan, hanya baju tidur dan juga sendal rumahan.


“Viola,”


“Mama!!” Viola langsung memeluk Rika dan menangis tersedu-sedu. Rika yang melihat pakaian viola berlumuran darah Tubuhnya langsung bergetar hebat. Rika ingin bertanya tapi dia tidak sanggup mendengar jawaban yang akan viola ucapkan.


“Apa belum selesai?” viola menggelengkan kepalanya yang masih dalam pelukan Rika.


“Kalau meta sudah selesai mam, tapi Neta, hiks..” viola tidak sanggup melanjutkan ucapannya dia terus menangis dalam pelukan Rika. “Semuanya pasti baik-baik saja,” gumam Rika mencium puncuk kepala Viola.

__ADS_1


Setalah keadaan tenang, viola menceritakan semuanya kepada mama Rika, Seno, Jino dan papa bagas hanya mendengarkan saja. Rika terlihat marah mendengar semua kejadian itu, apa lagi dia merasa kasihan kepada Meta.


“Maafkan saya Rika, gara-gara saya Neta begini,” ucap Sintia yang baru saja datang, Rika yang sedari tadi menahan amarah, tidak bisa lagi di bendung, Rika menatap Sintia dengan penuh kebencian.


PLAKKKK..


Rika menampar Sintia, semua orang tercengang bahkan viola sendiri terpaku.


“Mamah,” Bagas langsung menahan tangan Rika yang ingin menampar wajah Sintia lagi. “Ibu macam apa kamu heh!!” Rika Menepis tangan papa Bagas, dan mengguncang-guncang tubuh Sintia. Sintia hanya bisa menangis dia tidak bisa melawan karena emang dia yang salah.


“Kau.. Hiks,"


Tiba-tiba Rika tidak sadarkan diri, beruntung papa Bagas refleks dan segera menahan tubuh Rika. Jadi tidak jatuh ke lantai. “Bagaimana dok?” Tanya papa bagas yang sudah membawa Rika ke dalam ruangan pasien.


“Beliau hanya kelelahan dan juga stress, Setelah beliau istirahat sebentar, semuanya akan membaik,” Jawab dokter itu setelah memeriksa Rika.


“Baiklah, terima kasih dok,” Papa bagas berada di ruangan dan menemani Rika, Bagas membelai punggung tangan istrinya dengan lembut sesekali mencium tangan Rika. “Istirahatlah,” Ucap Bagas mendapati istrinya yang sudah sadar. “Tapi Pah,” wajah papa Bagas langsung berubah, dia paling tidak suka perkataannya di bantah dan Rika tau itu.


Setelah lama menunggu akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan operasi. “Bagaimana dok keadaan adik saya?” tanya Jino dengan nada khawatir.


“Semuanya lancar, sekarang kita menunggu dia sadar saja. Kalau saja dia terlambat di bawa kemari mungkin nyawanya sudah tidak tertolong lagi, beruntung Tuhan masih sayang dan memberikan dia kesempatan menikmati dunia ini lagi.” Jawab dokter itu, tubuh Jino langsung lemas mendengar perkataan dokter itu. Sudah dua kali dia hampir kehilangan adiknya.


Setelah selesai operasi, Neta langsung di pindahkan keruangan yang emang di khususkan untuk pemilik keluarga rumah sakit, awalnya mereka menolak karena merek tau kalau Neta tidak suka di beda-bedakan tapi demi kesembuhan Neta, merek terpaksa menerimanya. “sus, kenapa adik saya belum sadarkan diri juga?” tanya Seno yang mencemaskan keadaan Neta.


“Karena pasien banyak kehilangan darah, dan hampir saja arteri pahanya putus jadi agak lama sadarnya dan sekarang pasien lagi kritis. kita do’akan agar dia cepat sadar.” Jawab suster itu setelah dia memasang infus dia langsung keluar dari kamar Neta, dan membiarkan keluarganya menemaninya.


“Sebaiknya kamu pulang viola ini sudah malam, pasti mama kamu lagi mencemaskan keadaan kamu,” ucap Jino menatap viola yang berusaha menahan kantuk. Viola menggeleng. “Aku sudah menelepon orang rumah, jadi Kaka tenang saja.” Ujar viola. “Seno pesankan makanan dan pakaian pasti Viola belum makan sama sekalikan?” kata Rika yang baru saja masuk.

__ADS_1


“Mama tidak apa-apa?” Tanya Seno, mama Rika mengangguk dan duduk di samping Neta. ‘Kamu harus segera sadar sayang.” Gumam Rika dalam Isak tangisnya.


Seno langsung menuruti perintah Rika, dan memesan makanan serta pakaian untuk Viola. “Secepatnya,” Seno langsung memutuskan panggilan dan menatap Rika yang terus menangis.


__ADS_2