
Rasa yang tidak dia ketahui sangat membingungkan, dia bahkan tidak peduli pandangan orang lain yang melihat dia sekarang. “Apa aku harus mencari dia ke rumah dia saja?” Aditya terus berpikir kadang pikiran dan hatinya berlawanan.
“Ada apa dengan dia?”
Reza berjalan dengan cepat dan sekarang mereka berdua berdampingan, Reza terus menatap Aditya dengan tatapan terheran-heran, Aditya terlihat cemas dan hawa dingin di sekitar dirinya.
TING...
Kini mereka berdua berada di dalam lift, Reza masih ragu-ragu untuk bertanya, apa lagi sekarang ini hawa yang di pancarkan Aditya sangat menakutkan.
TING..
Pintu lift terbuka, Aditya langsung keluar dan menuju ruangan kerjanya, para staf langsung berdiri dan memberi hormat. “Sttttt... Sttttt... Ada apa?” Tanya sekretaris Aditya yang merasa mood Aditya lagi jelek, Reza memberi isyarat diam dengan menaruh jari telunjuk ke bibirnya. Dia sendiri juga bingung dengan Aditya yang tidak pernah seperti ini.
“Lo kenapa Dit?” tanya Reza memberanikan diri, saat mereka sedang berdua di dalam ruangan, mereka akan berbicara informal tapi kalau ada orang lain mereka berbicara formal selayaknya pegawai dan atasan. Meskipun para karyawan tau hubungan mereka berdua tapi Reza tetap berlaku seperti itu.
Aditya mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku juga tidak tahu, aku sendiri merasa kesal dengan seseorang,” Jawabnya, Reza Langsung mendekat ke Aditya karena merasa kalau ini sangat menarik. “Seorang Wanita?” Tanyanya lagi dan tanpa Aditya sadari dia langsung mengangguk. Reza paham dengan perubahan Aditya Sekarang, sejak dia mengajar dia menjadi orang yang berbeda.
“Aku gak tau apa aku boleh mengatakan ini ke kamu dit,”
Aditya menaikkan satu alisnya. “Katakan saja,” Reza menghela nafasnya dan menatap Aditya dengan tatapan yang tidak bisa Aditya pahami. “Apa?” terheran-heran, Reza seperti orang yang berbeda. “Lo kayaknya sedang jatuh cinta deh dit,”
BRUKKK...
__ADS_1
Buku melayang di kepala Reza. “Apa saat ini saatnya untuk bercanda?” Reza memanyunkan bibirnya dan mengelus puncuk kepalanya. “Gila Lo yah, gue Cuma mau bilang, sebagai pakar dalam urusan perasaan gue ahlinya, urusan patah hati gue juga ahlinya. Gue ahli dalam segala hal,”
Aditya menatap Reza dengan tatapan dingin. “Iya ahli neraka Lo juga,” Sarkas ya tanpa memperdulikan reaksi Reza yang melongo menatap Aditya. “Enak aja ngatain gue ahli neraka, gue yang kalem diam dan Sholeh gini di bilang begitu, wah gak terima gue, benar-benar gak terima yah. Tarik ulang ucapan Lo tadi,” melipat kedua tangannya di dada, dia bahkan tidak menatap Aditya yang sedang menatapnya.
Aditya menumpang dagu dengan kedua tangannya di atas meja. “Yasalam, kalem dari mana lo, yang naudzubillahimindzalik kalem dari mana itu, sifat bar-bar gak cocok di bilang kalem.”
Reza berdiri dari tempat duduk dan dengan wajah yang memerah menahan amarah kepada Aditya. “Heleh, asem Lo ngatain gue begitu, waktu kecil Lo dulu naksir gue kan, kalau gue waktu itu gak bilang kalau kita sama-sama punya bu*ung, Lo pasti udah kekeh, kalau udah besar nanti mau nikahin gue,”
“Sialan Lo ungkit begituan, siapa suruh Lo rambut panjang, suka pakai, pakaian wanita. Orang yang buta sekali pun bakal menyangka kalau Lo cewek,” Kilah Aditya, iya. Dulu Aditya pernah ungkapin perasaan dia ke Reza saat umur 6 tahun, karena waktu itu Reza seperti anak cewek lainnya. Berbeda dengan kebanyakan anak cowok, yang suka main bola dan sebagainya dia memilik main seperti anak cewek.
_________ _________
Waktu itu mereka sama-sama sedang bermain dan saat itu Aditya mendekati Reza, karena dia tidak tau kalau Reza adalah cowok. “Hai Za, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” Aditya menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
Reza menautkan alisnya tanda dia tidak paham, kenapa Aditya mengasih setangkai bunga mawar kepada anak laki-laki. “Kalau aku sudah besar nanti, aku akan menikahi kamu, dan aku akan berjanji membuat kamu bahagia selamanya, tidak akan aku biarkan air mata keluar dari mata kamu yang indah ini, jadi. Maukah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak?” Menyerahkan setangkai bunga.
Reza membuang bunga itu setelah dia mengambil bunga mawar dari tangan Aditya. “Aku masih normal, dan aku masih suka wanita yah, baik itu sekarang atau di masa depan, aku akan menikah dengan wanita!!” berdiri dan pergi meninggalkan Aditya yang masih bingung.
Orang tua Aditya yang melihat kelakuan anaknya tertawa termasuk orang tua Reza. Bunda Gina membelai lembut kepala Aditya dan menatap dengan senyuman. “Dia bukan wanita sayang, tetapi dia pria yang akan jadi teman kamu kelak,” ucap Gina sambil terkekeh geli.
“Belum apa-apa sudah di tolak, dan yang menolak kamu pria bukan wanita,” ucap papah Dimas tertawa terbahak-bahak, melihat Aditya yang masih linglung belum paham dengan keadaan sekarang.
“Reza kamu minta maaf sama tuan muda, dia kelak akan menjadi atasan kamu nanti,” Reza yang awalnya bersembunyi di belakang ayahnya langsung keluar dan menuruti perintah ayah Reza. Dia berjalan ke arah Aditya dan mengulurkan tangannya. “Maaf tuan muda, sebenarnya saya pria bukan Wanita, saya benar-benar suka wanita, jadi mohon maaf, saya tidak bisa membalas perasaan anda,” Papa Dimas tertawa mendengar ucapan Reza, dan wajah Aditya langsung memerah karena telah salah sangka terhadap Reza.
__ADS_1
Flashback off.
Reza semakin tertawa mengingat kejadian itu. “Apa jangan-jangan kamu masih suka dengan aku dit?” Ledek Reza Aditya langsung melepaskan sepatunya dan melemparnya ke arah Reza. Beruntung Reza refleks bisa menghindar sepatu itu.
“Sialan Lo, keluar sana!!”
Reza langsung keluar dengan tawa yang masih pecah, dan masih bisa di dengar. “Kenapa dia harus mengungkit masalah itu, astaga!!” Menepuk jidatnya sambil tersenyum geli kalau mengingat kejadian itu.
“Dasar gila,”
Aditya langsung mengalihkan pikiran dengan bekerja, siapa tau dengan bekerja dia bisa melupakan bocah nakal itu.
***** ***** *****
Di rumah sakit Seno dan viola masih menunggu Neta sadar, dengan rasa cemas membuat Viola gelisah dan mundar-mandir gak Karuan. “Apa sebaiknya aku panggil dokter lagi?” Tanya Viola dengan nada cemas.
“Air,” kata Neta dengan nada pelan, Seno yang mendengar langsung memberikan Neta air putih. “Pelan-pelan,” ucap seno, dia terus menatap wajah adiknya yang pucat tidak berdaya itu.
Ada rasa bersyukur akhirnya Neta sadar kembali setelah dia pingsan tadi. Seno menangis dia langsung memeluk tubuh Neta dengan sangat erat. “Aku baik-baik saja, Kaka tidak usah khawatir seperti itu,” Nada bicara Neta sangat lemah, Neta bahkan tidak ada tenaga sama sekali untuk bergerak, tidak hanya kakinya yang terkilir tapi seluruh badannya terasa remuk.
“Bagaimana aku tidak cemas dengan adikku satu-satunya yang paling berharga bagiku,” Seno menghapus air matanya dan mencium kening Neta. “Aku akan panggil dokter, kalian nikmati saja waktunya,” Viola mengangguk dan segera menggenggam tangan Neta, dia terus menangis dan mencium punggung tangan Neta berulang-ulang kali.
“TERIMA KASIH SUDAH MAU HIDUP KEMBALI, hiks... Hiks...”
__ADS_1
Ucap viola dalam Isak tangisnya dia, bingung harus Bagaimana kalau tidak ada Neta di sisinya nanti, Neta berusaha bergerak dan ingin menghapuskan air mata di pipi viola, viola mendekatkan wajahnya agar Neta bisa menjangkaunya. “Terima kasih kembali, karena kamu mau menjadi sahabat terbaikku.” Tersenyum hangat. Viola malah menangis sekencang-kencangnya mendengar kalimat yang Neta lontarkan tadi.