KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
80. Saya Bukan Anakmu


__ADS_3

"nona! Apa Anda sudah punya janji sebelumnya dengan Pak Doni untuk bertemu?" tanya sang Resepsionis kepada Viona yang datang tiba-tiba meminta bertemu.


"Tidak. Telpon dan katakan padanya! Seseorang yang bernama Viona ingin bertemu dengannya" pintahnya. Jika dia ingin, dia bisa saja langsung ke ruangan Pak Doni. Tapi, dia masih punya etika.


"Baik, harap nona tunggu sebentar! Semoga Pak Doni mengangkat ponselnya, karena tadi beliau sedang rapat dengan para Klien.


Panggilan terhubung, Pak Doni yang baru saja keluar dari ruang rapat mesaraskan ponselnya bergetar di dalam saku. Dia menerima panggilan setelah melihat no kantor yang menghubunginya.


Dia terkejut saat mendengar kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya, dan orang itu bernama Viona, Dia langsung mengatakan untuk mengantar ke ruangannya, dia penasaran untuk apa Viona datang menemuinya. Dia sudah tau jika itu Viona setelah melihat CCTV.


Tak butuh waktu lama Viona sudah berada di depan ruangan Pak Doni. "Terima kasih, kamu boleh pergi!" perintahnya, dia tidak ingin diantar sampai ke dalam ruangan.


Tanpa mengetuk pintu Viona langsung membuka pintu dan masuk berjalan dengan santai, tapi dia menatap tajam orang yang ada di dalam ruangan itu, siapa lagi kalau bukan Pak Doni.


"Wahh lama tidak bertemu! Apa kamu hidup liar di luar sana sampai tidak memiliki sopan santun lagi?" tanya Pak Doni. Sebenarnya dia terkejut melihat penampilan Viona yang sangat berbeda, sekarang Viona terlihat wanita yang berkelas.


Dia sangat penasaran bagaimana Viona hidup di luar sana, dia tidak bisa melacak keberadaannya. Sempat Pak Doni berpikir, kalau Viona hidup dalam kesusahan. Tapi, jika dilihat dari penampilannya saat ini Viona hidup dalam kemewahan.


"Tidak usah banyak bacot! Saya kesini hanya ingin menanyakan suatu hal. Jika tidak, saya tidak sudih menginjakkan kaki di sini dan melihat wajah kau itu."


Brakk. "Kurang ajar kamu! Dasar anak pembawa sial" umpatnya emosi. "Katakan apa maumu? Saya juga malas melihatmu!"


"Pak Doni yang terhormat! Apa selama ini kau sudah tau, kalau saya bukan anak kandungmu dengan juga Ibu Laras? Apa karena itu kau merundungku? Menindasku, membenciku bahkan kau menuduhku pembunuh istrimu" tanya Viona dengan suara meninggi.


Deg, Pak Doni sangat terkejut. Dia tidak tau apa maksud dari ucapan Viona, "Apa maksudmu bertanya seperti itu ha? Tentu Kau anakku dengan mendiang Istriku Laras. Apa begini caramu berterima kasih?"


Viona menatap wajah Pak Doni lekat, terlihat sangat bingung dan juga emosi. Yang berarti Pak Doni belum tau apa-apa, "Apa kau yakin aku di lahirkan dari rahim Ibu Laras? Apa kau melihatnya?"


Deg, jantung Pak Doni makin berdebar. Memang dia tidak ada di saat Istrinya melahirkan, dia lebih memilih keluar kota saat itu karena pekerjaan.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Dan memang saat itu saya tidak ada di samping Istri saya saat melahirkan, terus masalahnya di mana?"

__ADS_1


"Ternyata kau sangat bodoh, saking bodohnya kau sangat mudah di tipu. Anak itu, bayi itu adalah diriku, asal kau tau aku tidak di lahirkan oleh Ibu Laras, bayi kalian sudah meninggal sebelum mendiang melakukan persalinan."


Pak Doni menggelangkan kepalanya, dia tidak percaya. Mana mungkin mendiang Istrinya Laras membohonginya. "Tidak mungkin! Kamu pasti mengarang cerita untuk balas dendam kepada saya kan?"


"Untuk apa saya berbohong, tidak ada gunanya. Balas dendam? Memang saya datang kemari ingin balas dendam. Tapi, ternyata kau belum tau apa-apa jadi saya mengurungkan niatku, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah memberiku tempat tinggal."


"Saya katakan sekali lagi, saya bukan Anakmu yang pembawa sial ini. Ibu Laras mengambilku dari seseorang dengan tujuan agar kau tidak kecewa karena anak kalian meninggal sebelum melihat dunia. Apa begini caramu berterima kasih? dengan menindasku? Sangat lucu sekali."


Pak Doni tidak bisa berkata apa-apa. Dia belum bisa mempercayai sepenuhnya, bisa saja Viona membohonginya.


"Kenapa Diam? Masih belum percaya? Kau bisa tanyakan kepada Istrimu Mira! Dia mengetahui semuanya" jelas Viona. "Padahal saya datang kemari ingin mencari informasi, tapi ternyata kau tidak tau apa-apa."


Braakk. Pak Doni menggebrak meja sangat keras sampai orang di luar bisa mendengarnya. "Kamu jangan memfitnah Istriku yang tidak-tidak! Dia tidak mungkin menipu atau membohingiku. Kamu pergi dari sini! Dasar anak pembawa sial" Dia tidak bisa menahan amarahnya dia meras tidak terima.


Suasana jadi sunyi, tidak ada lagi terdengar obrolan dari keduanya. Pak Doni sedang melamun, dia merasa kecewa dan di bodohi jika memang benar adanya, kenapa istrinya tidak memberitahu yang sebenarnya kenapa mesti berbohong seperti itu. Dia tidak tau saja Ibu Laras melakukan semua itu karena sangat mencintai dirinya. Belum lagi Mira yang mengetahui semuanya, bagaimana bisa diakan cuman pendatang.


Tanpa di usirpun Viona memang sudah ingin pergi. Tapi tiba-tiba ponsel Viona berdering dan langsung menerima panggilan itu. Dia pergi keluar tanpa berpamitan, terlihat sangat tergesa-gesa. "Aku akan kesana! Tahan dia jangan sampai pergi" ucapnya pada seseorang yang menelponnya.


Viona pergi dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Yang menelponya adalah seorang mutan yang menyamar sebagai Mira.


...----------------...


Di salah satu Restoran di mana Mira dan Tomi berada, Mira sengaja mengajak Tomi untuk keluar dari kediaman Wijaya, karena menurutnya ini ada hal yang penting untuk nonanya.


Karena Tomi bertanya perihal bayi tujuh belas tahun yang lalu, di mana Viona juga sedang mencari orang tua kandungnya. Dia tau semuanya karena dia bukan Mira yang asli.


Dia menelpon Viona untuk segera menemuinya di Restoran itu. Karena Tomi sudah menunggu sejak tadi jawaban darinya. Dia bingung harus berkata apa, jadi dia hanya mengatakan akan memanggil bayi itu kemari yang sudah beranjak dewasa.


Tomi makin senang, dia tidak sabar lagi. Saking senangnya dia tidak sadar kalau ponselnya dalam mode sailen. Entah sudah berapa panggilan dari Rian yang tidak dia jawab.


Viona sudah tiba di Restoran, dia menuju ruang VIP di mana Mira dan Tomi menunggunya. Masuk dan melihat suasana yang canggung.

__ADS_1


Tomi tidak berkedip melihat Viona yang sangat cantik, tapi merasa pernah melihat wajah itu, lamunannya buyar saat Viona menyapanya.


"Selamat siang! Maaf membuat kalian menunggu" ucap Viona dan duduk di hadapan Tomi.


Nah Tomi makin yakin jika pernah bertemu dengan wanita yang ada di hadapannya, saat mendengar suara Viona. "Selamat siang nona!" balas tomi dan Mira bersamaan.


Viona dan Tomi saling memperkenalkan diri sambil berjabat tangan. Belum ada yang memulai obrolan, mereka hanya diam sambil menikmati makanan yang sudah di pesan Mira terlebih dahulu.


Sama halnya dengan Viona, merasa tidak asing lagi dengan Tomi. Dia menatap Tomi dan berkata "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Viona.


Tomi tersenyum "Nona! Ternyata Anda merasakan hal yang sama, semenjak ada masuk tadi saya sudah merasa tidak asing lagi Wajah nona"


Tentu Viona sudah tau, karena dia mendengar batin Tomi yang sangat penasaran dengannya. "Panggil saja Viona!" pintahnya "Hmm kayaknya kamu pemuda dalam penyerangan malam itu" kata Viona sudah mengingatnya terlebih dahulu.


Tomi tersentak, "Sungguh, apa Anda? Ehh maksud saya apa kamu wanita yang sama di malam itu?" Tomi semakin bersorak, seakan mendapatkan hadiah double.


Viona hanya mengagguk"Hmm, tapi kenapa kamu sesenang itu?" tanya Viona bingung melihat ekspresi Tomi yang berubah ubah.


"Astaga, aku sudah lama mencarimu! Aku dan temanku ingin mengucapkan terima kasih Karena sudah meolong kami. Waktu itu kami tidak sempat, karena kamu sudah menghilang tanpa jejak"


"Sama-sama. Jadi bagaimana kabar teman kamu? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Viona lagi


Tomi syok, dia lupa memberi kabar kepada Rian. Nanti sekalian saja pikirnya, dan dia hampir melupakan tujuan utamanya karena keasyikan ngobrol.


"Dia sudah sehat kok! Oh iya apa aku bisa bertanya sesuatu?"


Viona juga bingung kenapa dirinya malah asyik ngobrol. "Astaga! Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa kamu menemui Ibu Mira?" tanya Viona dengan sebutan yang sopan. Tapi jika itu Mira yang asli jangan harap dia mau sesopan itu.


Tomi menghela nafas sejenak. "Aku sudah bertanya kepada Mira, tapi katanya jawabannya ada sama kamu. Jadi aku tanya ulang sekarang! Di mana bayi yang di titipkan Tuan Jack?" sambil menatap Mira dan secara Viona bergantian.


Deg, jantung Viona berdebar kencang. Ternyata ada orang lain yang tau hal itu. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menanyakan bayi itu?"

__ADS_1


"Panjang ceritanya! Ya, karena aku ada di negara ini untuk mencari bayi itu dan mungkin saat ini dia sudah dewasa. Dan kata Mira dia akan mempertemukanku dengannya, apa kamu bayi itu?"


#Mampir di Novel kedua


__ADS_2