KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*SADIS*


__ADS_3

Happy Reading...


Gadis itu meminta anak buahnya menyiram Neta dengan air, dan dia mengambil kayu balok yang tidak jauh dari badanya dia terus memain-mainkan kayu itu. “Hemm..” Neta tersadar, terasa perih di wajahnya akibat sayatan dari belati tadi.


BRUKKK...


Setalah Neta sadar, tanpa ampun Meta memukul kepala Neta dengan kayu balok tadi, membuat Neta terjatuh dan mengeluarkan darah di kepalanya dan membuat dia pingsan lagi. “Meta!!” Teriak Petra, dia tidak menyangka kalau Meta senekat itu melakukan kepada sahabatnya. Meta menatap Petra dengan tatapan tidak suka, dia menghentakkan kakinya dan membuang kayu itu ke sembarang arah.


“Apa?” tanya Meta dengan nada ketus, Petra memijat Pelipis hidungnya, dan meminta anak buah membangunkan Neta. “Apa kamu ingin membunuhnya?” tanya Petra dengan nada lembut. Dia tau kalau meta tidak bisa di bentak dan juga di marahi jadi dia memilih dengan nada lembut.


“Iya,” Jawab Neta dengan nada santainya, dia mengantungkan tangannya di leher Petra. “Kenapa?” tanya Petra menarik pinggang Meta dengan sangat dekat, tidak ada celah di antara mereka berdua. “Kan aku sudah bilang, kalau aku sangat membenci dirinya,” kata Meta, dia berjinjit Kakinya agar bibirnya bisa menyentuh bibir Petra.


Petra langsung melepaskan pegangannya dan menjauhkan Meta dari dirinya, wajah Meta langsung cemberut karena Petra tidak ingin di Ciumannya. Petra membuka penutup mata Neta.


Deg..


Jantung Petra berdetak kencang, Petra tertekun melihat gadis cantik di hadapannya ini tidak berdaya. “Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama,” Batin Petra membelai luka di wajah Neta, dan menjilat jarinya yang terkena darah Neta tadi. “Darahnya pun sangat manis,” Gumam Petra dengan senyum licik.


“Apa yang kalian lakukan, cepat bangunkan dia!!” Teriak Ferly yang baru datang, Ferly menatap meta yang penuh senyum puas. Para pengawal langsung membangunkan Neta.


Pengawal itu ingin membangunkan Neta, tapi melihat Petra yang sedang menatap wajah cantik Neta Meraka menundanya. tidak ingin terkena masalah.


“Dia sangat SADIS bahkan tidak ada kata kasihan untuk sahabat nya sendiri,” Gumam Ferly, dia tidak menyangka kalau Meta akan setega itu terhadap sahabatnya sendiri, sahabat masa kecil dan sahabat baiknya sendiri. Dan dia tega melakukannya sendiri bahkan ingin membunuhnya, Ferly rasa kalau Meta mempunyai kelainan jiwa.


Neta masih tidak sadarkan diri, meskipun dirinya di pukul dan pipinya di tepuk-tepuk beberapa kali tetap tidak sadarkan diri, Ferly memeriksa nafasnya dan merasa lega kalau Neta masih hidup. “Apakah dia sudah meninggal, kalau dia secepat itu, seharusnya aku siksa lebih parah lagi,” Gerutu Meta dengan mengerucutkan bibirnya.


“Apa kamu tidak ada rasa kasihan Meta, bagaimana pun dia adalah sahabat kamu sendiri,” ujar Ferly menatap Meta dengan heran. “Justru dia sahabat aku sendiri, aku tidak tega kalau tidak menyiksanya,” Kata Meta duduk di kursi samping.

__ADS_1


Ferly menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa kalau Meta bukan manusia melainkan binatang, bahkan lebih rendah dari pada itu. “Petra apa yang kamu lakukan?” pekik Ferly melihat Petra yang ingin mengelus paha mulus Neta.


“Aku hanya ingin bersenang-senang,” jawab Petra dengan menjilat lidahnya. Meta langsung berdiri dari tempat duduknya dan ingin membawa Petra keluar dari sana. “Lepaskan Meta, bukankah kamu ingin membunuhnya biarkan aku menikmatinya dulu,” pinta petra yang sangat bergairah melihat tubuh Neta yang berisi itu.


“Kamu jangan macam-macam yah Petra!!” Teriak Meta, dia menatap tajam ke arah Petra tanpa rasa takut sama sekali.


PLAKKKK...


Petra mendaratkan tangannya ke wajah Meta, Sampai sudut bibir Meta mengeluarkan darah. “Berani-beraninya kamu berteriak padaku?” Mencengkram dagu Meta sampai meta meringis kesakitan. Sedangkan Ferly dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dia membangunkan Neta dan meminta Neta untuk pergi.


“Bagus Meta, alihkan perhatian dia,” Gumam Ferly membuka ikatan Neta.


Neta membuka matanya dengan perlahan, meskipun sekarang kepalanya sedang keluar darah, dengan memaksakan diri Neta menatap orang-orang yang terlihat buram. Neta melihat 3 lelaki dan 2 wanita, satu sisi wanita itu sedang berdebat dengan lelaki itu, dan satu sisinya membantu Neta berdiri.


“Dengar yah Meta, aku membantu kamu karena kamu yang memintanya, dan itu terserah aku mau melakukan apa pun terhadap dia,”


“Pergilah,” bisik Ferly di telinga Neta, sebenarnya dia tidak tega dengan Neta yang keadaannya seperti ini. Dan dia juga merasa kalau Neta tidak ada salah sama sekali pada dirinya. Hanya saja Ferly terhasut dengan omongan Meta, sampai-sampai dia ikutan membenci Neta.


Neta mengangguk meskipun suara Ferly tidak jelas dan penglihatan yang tidak jelas, tapi Neta merasa kalau dia di mintanya untuk pergi dari sini, sebelum Neta pergi. Neta sempat menatap Ferly meskipun tidak jelas. “Terima kasih,” ucap Neta dengan tersenyum, Neta langsung berdiri dan berjalan dengan sempoyongan.


“Di saat seperti ini kamu masih bisa berterima kasih dan tersenyum Neta, kamu sungguh luar biasa,”


Ferly menatap dua pengawal agar tidak menghentikan Neta, kalau ada yang berani kalian langsung mati di tangan saya, Ferly memperagakannya kepada kedua pengawal itu, dan pengawal itu langsung menurut. Mereka lebih baik memilih mati di tangan Petra dari pada Ferly, karena Ferly lebih sadis di bandingkan Petra.


“Apa yang kamu lakukan Ferly,” teriak Petra mendapat Neta tidak ada lagi dalam ruangan. “Apa Kamu gila Petra, Aku hanya ingin membantu kamu mengurangi dosa, jangan macam-macam dengan gadis itu, dia bukan gadis biasa.” Ucap Ferly dengan nada meninggi dari Petra. “Seharusnya kalian tau, sekarang kalau kita ketahuan kita juga tidak akan selamat, lebih baik kita membunuh dia langsung,” Ujar petra menatap meta dengan tajam.


“Atau kita jual saja dia,” Sambung Meta dengan tersenyum menyeringai, Ferly mengerutkan alisnya kalau dia tidak mengerti jalan pemikiran Meta.

__ADS_1


“Lebih baik kau jual dia padaku,” Usul Petra, wajah Meta langsung merah padam. “Ingat yah Petra, kamu jangan macam-macam dengannya, atau kamu,” Ancam Meta, dia mengambil pistol yang ada di tangan Petra, dan menodongkan pistol itu di kepalanya. “Apa yang kamu pikirkan meta, jangan melakukan hal konyol,” Kata Petra dengan nada khawatir. Petra memberi isyarat kepada anak buahnya agar mengejar Neta. “Kalian berdua kalau ada yang berani mengejarnya, akan aku pastikan keluarga kalian akan sengsara sampah 7 turunan,” Ancam Ferly dan Meta mulai menekan pistolnya.


Neta sekarang berada di depan parkiran, Neta sudah tidak tahan lagi akhirnya dia tidak sadarkan diri dan terbaring di tanah. “Tu... Tuan.. ada, ada hantu tuan,” Kata sopir itu dengan nada ketakutan, lelaki paruh baya itu melihat Neta tidak berdaya di sana.


“Kau sudah tua masih saja takut, cepat periksa apakah dia benar-benar manusia apa bukan,”


“Tapi tuan, kalau dia bukan bagaimana? Apa lagi sekarang lagi malam Jum’at tuan,” lelaki tua itu turun menemani sopirnya yang penakut itu, dengan berbagai argumen Akhirnya dia mau menemaninya. Meskipun sekarang sang sopir berjalan di belakang majikannya dan majikannya hanya bisa menerima fakta kalau sopirnya sangat-sangat mengecut.


“Coba kamu periksa dia,” Perintah lelaki tua itu, akhirnya sang sopir memberanikan diri dan menyibakkan rambut Neta, sopir itu langsung bersembunyi setelah melihat wajah Neta yang di penuhi darah.


Lelaki paruh baya itu berjongkok, dan menatap Neta dengan sangat lekat, dia memeriksa Neta masih bernafas apa tidak. “Dia masih hidup, cepat bawa dia ke dalam mobil,” Kata lelaki paruh baya itu, sang sopir dengan terpaksa mengangkat Neta dan memasukkannya ke dalam mobil.


Dia melihat dari keluarga mana dia berasal. Lelaki tua itu menelpon seseorang di seberang sana. “Coba kamu selidiki apakah di sekolah kita ada yang melakukan kekerasan atau pembullyan,” Perintahnya setelah itu dia langsung memutuskan panggilan.


Dia menatap nama dada di baju Neta. “Euginus, sejak kapan keluarga itu mempunyai anak perempuan?” Batinya, terus menatap Neta yang terbaring di pangkuannya.


“Bawa dia di kediaman Euginus,” Serunya dan mobil pun langsung melaju di kediaman Euginus.


Di rumah Neta.


“Mah apa Neta belum pulang juga?” Tanya papa Bagas yang sedang membaca koran, mama Rika duduk di samping papa Bagas.


“Belum pah, tapi Neta tadi mengirimkan pesan ke mama, kalau dia pulangnya agak malaman lagi ada tugas katanya,” Ucap mama Rika, meskipun merasa ada yang janggal karena selama ini Neta tidak pernah mengirim pesan ke mama ya, pasti menelpon lewat telpon rumah.


“Tapi Pah, perasaan mama tidak enak yah Pah, sedari tadi pagi sampai sekarang,” Ucap mama Rika tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat keras, Rika terkejut saat kedua anaknya membawa seorang gadis dan bajunya terpenuhi darah. Dan orang itu tidak lain adalah Neta anaknya sendiri.


“Ne... Neta!!” Teriak Rika, semua keluarga panik dan segera menelpon dokter keluarga sedangkan mama Rika pingsan karena shock.

__ADS_1


__ADS_2