
Meta terus menangis dan tidak ingin melepas pelukannya di kaki Alifin. “Apa yang kamu lakukan Meta!!” Teriak Alifin berusaha membangunkannya Meta, tapi meta bersikukuh memeluk kaki Alifin. “Meta mohon pih, untuk terakhir kalinya, kabulkan permintaan Meta. Hiks...” Alifin tidak tau kalau Meta memegang pecahan beling.
Alifin berusaha menahan air matanya, semua pelayan yang melihat kejadian itu, tidak bisa menahan air mata mereka, apa lagi sampai Meta memohon seperti itu. “Untuk terakhir kalinya meta mohon kabulkan permintaan Meta,” Ucap meta dan mendongak melihat Alfin.
Alifin menggelengkan kepalanya, Meta menangis dan langsung berlari ke kamarnya dan mengunci dari dalam, sampai dia menggunakan gembok.
Sintia yang melihat darah berceceran mengikuti darah itu berasal.
“Meta!!”
Teriak Sintia berlari menuju kamar Meta.
“Meta Yuan Berliana, hiks... Mami mohon jangan lakukan hal gila sayang,”
Alifin yang menyadari kalau itu darah Meta, langsung mengendur-ngendur pintu kamar. “Meta, buka sayang!! Papah mohon buka!!” Alifin langsung menangis melihat darah berceceran begitu banyak.
“Aku akan cari kunci cadangan,” Alifin langsung mengangguk.
“Mah, pih,” Mendengar Meta berbicara langkah Sintia berhenti, dia meminta pelayan mengambil kunci cadangan.
“Ya sayang, papa dan mami di sini,”
“Meta sayang kalian berdua, maaf selama ini meta menyusahkan kalian berdua, maaf jika meta hanya beban buat kalian,” Ucap meta di balik pintu sana.
“Tidak sayang, kami tidak pernah berpikir seperti itu, buka pintunya sayang, papah mohon,” Alifin mendobrak pintu kamar Meta.
“Kalian tidak akan bisa membuka pintu ini, karena aku kunci dari dalam dan aku gembok juga,” ucap meta dalam tangisannya. “Tidak sayang, mami mohon buka pintunya,” Sintia mendengar perkataan anaknya, tidak tahan dan menangis tersedu-sedu, jangan sampai anak kesayangannya kenapa-kenapa.
“Ah!! Hiks... Hiks.. Sakit ini tidak seberapa mam, di bandingkan rasa sakit yang mami rasakan. Kelak, saat kalian punya kehidupan masing-masing dan mempunyai anak, meta mohon... Hiks .. mohon jangan pernah kalian mengabaikan mereka, dan sayangi mereka dengan sepenuh hati, jangan biarkan mereka berpikir seperti apa yang Meta pikirkan.” Ucap Meta, yang mengiris pergelangan tangannya dengan pecahan beling tadi.
Alifin memberi kode kepada pelayan untuk menghubungi kedua sahabatnya. Dan pelayan itu langsung mengerti dan menghubungi Neta dan viola.
#Flashback off
__ADS_1
“Meta apa kamu bodoh, buka pintunya sekarang juga!!” Teriak viola.
“Iya buka met,”
Meta terkejut ternyata kedua sahabatnya datang. “Untuk kali ini biarkan aku memilih jalanku sendiri.” Gumam Meta yang terus mengiris pergelangan tangannya.
Argghhh
Neta bergabung dengan Sintia, Alifin dan viola. “Bagaimana?” Tanya Sintia dan Alifin, Neta menggeleng kepalanya, Dia sudah berusaha keras dan berbagai cara tapi tetap saja gagal.
“Hiks... Ini salahku, aku bukan ibu yang baik,” Sintia terus menangis dan menyalakan dirinya sendiri.
“Mih, apa kamar Meta terhubung dengan taman yang ada di samping rumah, dan di sana ada jendela atau kaca besar?”
“Ada Meta,” Jawab Sintia dengan sendunya.
Neta langsung berlari keluar dan segera mencari kamar Meta, tidak terlalu sulit bagi Neta menemukan kamar Meta yang dekat dengan taman.
“Beruntung, bukan lantai dua, bisa terkuras tenagaku manjat nanti,” Gumam Neta yang ngos-ngosan.
“Apa dia berusaha memotong urat nadinya?”
Neta buru-buru mencari batu dan melemparnya ke dalam. Tanpa Neta peduli risiko apa yang akan terjadi padanya, yang penting sekarang keselamatan Meta.
“Hati-hati Neta,” Ucap viola yang baru saja datang. “Apa kamu yakin masuk ke sana?” Menunjuk ke arah lubang yang tidak sesuai dengan ukuran Neta. Neta mengangguk tidak ada pilihan lain, hanya batu kecil yang Neta dapatkan. “Aku akan baik-baik saja,” meyakinkan viola kalau dia baik-baik saja.
Neta masuk dengan pelan-pelan. “Aaa!!” Tanpa sengaja Neta memegang pinggiran kaca yang tajam, sehingga membuat tangan Neta teriris dan keluar darah. “Hiks.. Neta!!” Viola menutupi mulutnya agar dia tidak berteriak histeris.
"Aku baik-baik saja," Ucap Neta dengan nada yang bergetar.
Saat Neta melanjutkannya lagi, dan memasukkan kaki kanannya terlebih dahulu, malah tergores kaca yang ada di bawah. Yang emang hujungnya lancip, Neta yang menggunakan celana jeans pendek jadi, sangat mudah terluka. “Neta!!” Separuh sadar Meta, saat melihat paha Neta bercucuran darah.
Neta berusaha menahan sakit dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, bukan rasa sakit di tangan dan di pahanya. Tapi rasa sakit melihat meta yang tidak berdaya seperti sekarang.
__ADS_1
Meta menggeleng kepala, dengan tenaga yang tersisa, meminta Neta agar tidak melanjutkannya lagi. “Arghhh,” separuh badan Neta berhasil masuk, walaupun sekarang ini pergelangan kaki Neta terkilir untuk menahan ke seimbang badannya.
“Aku mohon bertahan lah,” gumam Neta.
Tangan, kaki, dan paha Neta yang berlumuran darah, tidak ada artinya sama sekali bagi dirinya, Neta tetap memaksakan tubuhnya untuk masuk ke dalam. “Hiks.. Neta, aku mohon!!” Viola tidak hentinya berdo’a, agar kedua sahabatnya ini tidak terjadi apa-apa.
Meskipun kaca itu besar seperti 2 pintu, karena Neta buru-buru, Neta hanya melempar batu sedang seperti genggaman tangannya. Sehingga membuat lubang Separuh badannya saja.
Akhirnya Neta berhasil masuk, Neta berbalik dan mengacungkan jempol kepada viola tanda kalau dia baik-baik saja, meskipun dirinya berlumuran darah sekarang, viola menganggukkan kepalanya, dan tersenyum dalam Isak tangisnya.
“Kerja bagus Neta, kerja bagus,” Ucap viola dengan nada bergetar, Neta segera membuka pintu agar viola bisa masuk, semua pelayan yang melihat perjuangan Neta, sangat menyayat hati mereka masing-masing. Betapa indahnya persahabatan mereka tidak peduli seperih apa luka yang Neta alami, dia tetap berusaha menolong sahabatnya, kalau suatu saat, salah satu di antara mereka yang berkhianat apakah persahabatan mereka masih utuh.
“Meta... Meta.. bangun!!” Neta menepuk-nepuk pipi Meta.
Neta melihat tangan Meta. "Syukur tidak putus," Ucap Neta, dengan merobek baju bawahnya, lalu membaluti luka di pergelangan tangan Meta.
Tiba-tiba..
Kepala Neta terasa berat dan pandangan terlihat tidak jelas semuanya.
“Hai!! Apa yang kalian lihat, cepat bawa meta keluar, sedangkan kamu Net,” Ucap viola membalikkan badannya.
“Neta!!” teriak viola melihat sahabatnya pingsan. “Tidak... Tidak!! Aku mohon sadarlah. Hemm... Neta aku mohon,”
Alifin dan Sintia kaget, melihat anak-anak Semua berlumuran darah. “Cepat bantu saya bawa mereka ke rumah sakit!!” Teriak Alifin dan menggendong tubuh Meta, sedangkan Neta di gendongan pelayan rumah.
Tangan viola bergetar hebat, kakinya tidak sanggup berdiri lagi, air mata yang terus mengalir. Dia takut kalau kedua sahabatnya tidak akan bisa bangun lagi, terlepas banyaknya darah. Sintia memeluk tubuh viola yang menangis tersedu-sedu. “Kita ke rumah sakit sekarang, oke?” Viola hanya menganggukkan kepalanya, dan dia tidak sadarkan diri. Bersama kedua sahabatnya.
“Vi, Vi?
“Pelayan bantu saya bawa viola ke mobil,” Ucap Sintia, dan mereka semua di larikan ke rumah sakit.
**Tambahan.
__ADS_1
🌺*Sahabat adalah seseorang yang bisa menerima kita apa adanya, baik kaya, miskin, cacat, normal. Baik dan buruknya kita, dia akan menerimanya dengan ketulusan. Jangan pernah menganggap masalah kita adalah beban, justru dia akan senang bisa membantu masalah kita, itulah gunanya sahabat. susah senang selalu bersama, (a true friend is a friend who is always there for us) 🌺
"Menurut kamu sahabat itu seperti apa***?"