KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
105. King Wolf


__ADS_3

Ketiga para jomblo itu sudah berada di salah satu Restoran yang ada di Mall, Rian memutuskan untuk makan siang bersama di situ, semua menu makanan sudah tersaji tinggal menunggu Viona yang katanya sudah OTW, tapi tak kunjung sampai juga.


"Nah, akhirnya sampai juga!"ucap Rian setelah melihat Viona di pintu masuk.


"Kayaknya, dia terjebak macet juga!" sela Raka.


"Huff di mana-mana macet, apalagi jam makan siang begini" timpal Tomi.


Viona langsung duduk di samping Raka, dan menghabiskan segelas jus tanpa jeda. "Maaf sudah membuat kalian menunggu, tunggu apa lagi ayo kita makan!"


"Kamu habis apa Dek? Sampai kehausan!" tanya Rian setelah suapan pertamanya.


"Tadi, sebelum kemari aku dari Rumah Sakit Kak" balasnya.


"Rumah Sakit? Ngapain? Siapa yang sakit Dek?" tanya Raka.


"Em ada Kak, salah satu karyawanku di Restoran, Adiknya masuk Rumah Sakit. Katanya korban tabrak lari. Mungkin kepalanya kena benturan sampai harus dioprasi. Dan yang bikin aku jengkel, pihak Rumah Sakit tidak ingin bertindak jika belum melunasi semua anggarannya."


"Huff, mau di apa Dek? Itu sudah aturannya. Jadi kamu ke sana untuk melunasinya?"


"Ya begitulah Kak."


"Ck, aku paling jengkel dengan orang yang sudah bersalah tapi malah lari dari tanggung jawabnya" sela Tomi.


"Hmm, jadi apa dia sudah melaporkannya ke polisi?" tanya Rian yang juga mulai emosi.


"Sudah Kak, tapi polisinya tidak mendapatkan bukti atau jejak. Katanya CCTV rusak saat kecelakaan terjadi. Tapi mereka masih berusaha mencarinya."


"Emm, itu akan susah. Oh iya Dek, bukannya ada kartu sehat, kenapa masih kamu yang melunasinya?"


"Ternyata dia karyawan baru Kak, Thea sudah memberitahuku, tapi mungkin aku lupa saking sibuknya."


~Flaback On


"Tika! Kamu duluan saja, aku ingin mengurus Administrasinya agar Adik bisa dioprasi secepatnya."


"Baik nona!" Tika berjalan menuju ruang rawat Adiknya.


Beberapa menit berlalu, Semuanya sudah beres. Viona melunasi semuanya sampai biaya pengobatan. Dia menyusul Tika di ruang rawat. Di rungan itu terlihat ada beberapa pasien.


"Tik, ikut aku!" pintahnya untuk ikut keluar, dia ingin menanyakan sesuatu.


Melihat Adiknya yang masih tidur, Tika beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan, dia sangat tidak enak hati ke pada Viona, karenanya Viona harus masuk di ruangan itu.


Keduanya duduk di ruangan, "Besok pagi, Adikmu akan di oprasi. Kamu tidak usah memikirkan biayanya. Kamu fokus saja dengan kesembuhannya!"


"Terima kasih nona, maaf sebelumnya sudah merepotkan. Saya tidak tau lagi harus minta tolong ke pada siapa"

__ADS_1


"Tidak masalah, karena kamu bekerja denganku jadi itu menjadi tanggung jawabku. Oh iya apa kamu tidak dapat kartu kesehatan?"


"Saya karyawan baru nona, belum cukup sebulan aku kerja. Kata nona Thea, aku akan mendapatkannya segera."


Viona terdiam, dia baru mengingat jika Thea pernah meminta untuk di buatkan kartu kesehatan. Karena stok yang dia punya sudah tidak ada lagi.


"Ah gitu yaa, nanti aku akan memberikanmu. Kalau boleh tau, apa kamu sudah lapor polisi?"


"Sudah nona, tapi belum ada hasil. Katanya sedikit susah kerena tidak ada bukti yang akurat, CCTV juga katanya rusak. Cuman ada saksi mata yang bilang, pelaku menggunakan mobil warna hitam dengan stiker gambar serigala di bagian belakang mobil"


"Emm ya sudah, kamu jangan bersedih lagi. Pasti mereka akan ketangkap. Dan kamu tidak usah kerja dulu."


"Nona memecat saya?"


"Ehh, kapan aku bilang memecatmu. Maksudku untuk sementara tidak usah masuk kerja, kamu rawat Adikmu sampai dia sembuh. Kamu tenang saja gaji tetap jalan."


"Hiks hiks, makasih banyak nona" ucapnya yang sudah menangis terharu, karena masih ada orang yang mau menolongnya.


"Hmm sudah, jangan menangis lagi. Ngomong-ngomong orang tua kalian di mana?"


"Kami anak yatim piatu nona!"


~Flasback Off


Semuanya makanan sudah habis, tapi mereka masih belum meninggalkan tempat itu. Terdengar mereka berbincang membahas cinta segitiga.


"Aku tidak memberinya harapan Kak, aku sudah bilang kok, agar mundur dari sekarang. Karena belum tentu aku bisa membalas perasaanya. Tapi katanya, dia minta waktu selama tiga bulan!"


"Bagaimana dengan Leo? Dia juga menyukaimu kan?"


"Hmm, tapi Kak Leo tidak ingin mengatakannya langsung" balas Viona dalam hati.


"Heheh kayaknya gitu sih Kak! Tapi Kak Leo tidak bilang apa-apa"


"Hadeeh,, tanpa mengatakannyapun sudah sangat jelas kalau dia menykaimu Dek. Tapi dia kuat loh, menahan persaannya daripada mengungkapkannya."


"Karena dia lebih memilih mencitaiku dalam diam" batin Viona lagi.


"Kakak harap, secepatnya kamu bisa memilih. Jika tidak ada yang kamu pilih, segera katakan! Jangan membuat mereka sakit terlalu dalam" sela Raka.


"Baik Kak, ya sudah ayo kita pulang!" ajak Viona ke pada yang lainnya.


"Dek temanin aku beli sesuatu dong!" pintah Rian.


"Ohh pantasan Kak Raka makan di sini. Ternyata pengen belanja. Mau beli apa Kak, kenapa mesti ditemenin?"


"Masalahnya ini urgen. Kakak sudah membuatnya marah, dan harus membujuknya dengan sesuatu barang."

__ADS_1


"Hmm benar tu Vio, dia sudah membuatnya ngambek" timpal Tomi.


"Lah, siapa? Pacar Kakak?"


"Hahaha Vio Vio. Dia tuh jomblo sejati mana ada pacar. Teman cewek saja nggak punya apalagi pacar" ejek Tomi.


"Kalau sama-sama jomblo jangan saling mengejek! Seharusnya kalian itu harus bekerja sama"


"Hahaha dengar tuh Tom! Jomblo kok teriak jomblo!"


"Hus sudah! jadi siapa yang ngambek?" tanya Viona lagi.


Rianpun menceritakan masalah yang tadi pagi. Yang mana membuat Raka dan Viona tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, makanya nurut Kak, jangan keras kepala! kan jadi artis dadakan dibuat para si bocil."


"Ya, Kakak kan cuman penasaran. Ternyata oh ternyata, aku mendapat Doorprize. Berhenti ketawanya Dek! Temenin Kakak cari sesuatu yang meluluhkan hati si bocil."


Merekapun berpisah, Raka dan Tomi balik ke kantor terlebih dahulu. Viona menemani Rian keliling Mall mencari sesuatu untuk menyogok.


...----------------...


Malam tiba, Viona berada di ruang kerjanya sambil mengotak atik ponsel milik Mira yang baru saja aktif karena dayanya sudah terisi.


"Dia mengirim pesan SOS melalui apalikasi. Tidak semua orang bisa menggunakan ini, Siapa yang mengajarinya? Dan dia mengirimnya saat dia baru tiba di bangunan tua itu. Hmm dia meminta bantuan ke pada seseorang, dan orang itulah saat ini yang sedang mengintai" diakhiri senyum smirknya. Tapi Viona sudah membuka cardnya sebelum ponsel itu aktif.


Viona keluar dari kamarnya, turun ke bawah dan menuju Paviliun Melati. Dia ingin menyuruh Zoya untuk melacaknya.


Rian sudah selesai dengan masalahnya. Tidak semudah apa yang dia bayangkan, Nora menolak pemberian Rian, mainan yang harganya sampai jutaan. Ternyata itu tidak mempan, Nanti Viona menyarankan untuk membelikannya ice cream. Barulah Nora tersenyum sumringah, apalagi Rian membelinya seember.


"Zoya! tolong kamu lacak! Ke pada siapa pesan SOS itu di kirim, pake kode yang aku berikan!" pintahnya setelah berada di ruang kerja Zoya. "Dan kamu Aiden cari kecelakaan yang terjadi seminggu yang lalu, di Jalan Sudirman!"


"Baik nona!"


Aiden dan Zoyapun mulai menggerakkan tangannya dengan lincah, entah tombol apa semua yang dia ketik.


Hanya beberapa menit, Zoya sudah berhasil melacaknya. "Nona pesan SOS itu dikirim ke pada Klen Mafia, dan aplikasi itu hasil ciptaannya."


"Mafia? Apa nama klennya?"


"Tidak ada namanya nona, hanya ada gambar serigala yang berbulu emas"


"King Wolf. Aku sudah pernah bertemu dua kali dengan anggotanya, di tengah jalan dan saat aku mendaki, Aku tidak menemukan siapa pemimpinnya. Dan si Mira selalu meminta bantuan klen itu."


"Nona ini rekamannya, ada seseorang yang sudah mengapusnya!" lapor Aiden memperlihatkan ke pada Viona.


"Stiker srigala! Berarti orang yang sama. Pantasan saja pergi tanpa bertanggung jawab, kerena memang dia penjahat. Dan mengahapus bukti agar tidak berurusan dengan polisi!" gumam Viona.

__ADS_1


"Retas semua rekaman CCTV! Dan lihat kemana perginya mobil itu! Aku tunggu laporanmu besok pagi"


__ADS_2